FeniFine's Motto
"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi
Senin, 09 Januari 2012
Speedy Sahabat Pelajar Kritis
Minggu, 08 Januari 2012
Internasional dan Internet untuk 2012
ini resolusiku,, apa resolusimu? :)
Minggu, 23 Oktober 2011
Pilihan Tempat TOEFL ® ITP di Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengen ikut IELSP Cohort 10, karena diharuskan punya skor TOEFL ® ITP, aku pun cari-cari info tempat-tempat tes TOEFL ® ITP di Jogja beserta jadwal tes TOEFL ® ITP terdekat,, dan ini hasilnya..
PB FEB UGM
1) Sampai saat ini, dari info yang sudah saya dapatkan, biaya tes TOEFL ® ITP di PB FEB UGM adalah yang paling murah yaitu:
Biaya : US$ 27 (harga disesuaikan dengan kurs dollar pada waktu pembayaran)
Belakangan kurs dollar berada kurang lebih di taraf Rp 8.900,-
Jadi kira-kira US$ 27 pada saat kita mendaftar untuk jadwal tes terdekat kurang lebih sama dengan Rp 240.000,-
2) Waktu: Minggu, 20 November 2011
3) Deadline pendaftaran: seminggu sebelum tes.
4) No. Telp: 0274 548510-515, pes.250
5) Hasil bisa diambil pada 10 hari kerja setelah tes.
*Tetapi untuk dapat terlaksana, minimal harus ada 15 orang yang sudah mendaftar untuk tes TOEFL ® ITP sebelum deadline.
Web= http://feb.ugm.ac.id/id/pelatihan-bahasa.html
CILACS UII
1) Biaya : Rp 275.000,00
2) Waktu: Kamis, 5 dan 12 November 2011
3) Tempat: Jalan Demangan Baru No. 24, Yogyakarta
4) No. Telp: (0274) 540255
ELTI
1) Biaya : Rp 300.000,00
2) Waktu: Kamis, 18 November 2011
3) Deadline pendaftaran: sebelum kursi penuh.
4) Tempat: Kotabaru, dekat Perpustakaan Kota Yogyakarta dan SMA Stella Duce I
5) No. Telp: (0274) 561849
6) Hasil bisa diambil pada: 2 pekan setelah tes.
PPB UGM
1. Biaya : Rp 300.000,00
2. Waktu: 11, 14, dan 16 November 2011
3. Tempat: Jl. Kaliurang Barat Graha Sabha Pramana, timur Fakultas Kedokteran Gigi UGM
4. No. Telp: (0274) 549431
5. Hasil bisa diambil pada: 10 hari setelah tes.
Semoga Bermanfaat !!! :)
*isi bisa berubah sewaktu-waktu sesuai update info yang saya dapat dari IIEF dan tempat tes yang bersangkutan.
*update terakhir pada tanggal 4 November 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
Evaluasi Tanggap Bencana Pemerintah
Indonesia rawan bencana, hal ini sudah kita ketahui sejak lama, terutama pemerintah. Namun setiap ada bencana pemerintah selalu gagap. Pemerintah selama ini cenderung reaktif (lawan dari proaktif) dalam menanggapi bencana yang terjadi, pemerintah baru benar-benar bergerak jika sudah ada korban, itu pun dengan mendadak dan kurang persiapan. Pemerintah tidak melakukan tindakan proaktif yang seharusnya dilakukan jauh-jauh sebelum bencana terjadi.
Terus menyalahkan tindakan reaktif pemerintah memang sangat tidak baik, karena bencana sudah terjadi dan butuh penanganan ekstra cepat maka yang sudah dilakukan saat ini memang masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Hanya saja mengingat ancaman bencana alam selalu mengintai Indonesia, akan lebih baik jika sebagian melakukan tanggap bencana alam untuk bencana yang saat ini sedang terjadi, dan sebagian yang lain melakukan upaya-upaya proaktif tanggap bencana sejak saat ini untuk bencana yang kemungkinan terjadi di masa yang akan datang. Ada empat langkah proaktif yang bisa dilakukan pemerintah dalam upaya tanggap bencana.
Pertama menentukan kemungkinan zona-zona rawan bencana di kawasan rawan bencana (misalnya penentuan kemungkinan zona rawan di kawasan sekitar Merapi). Kedua adalah memasang detektor bencana (seperti detektor tsunami), selama ini saya rasa pemerintah sudah cukup memasang detektor bencana alam, hanya kurang perawatan dan penjagaan pada pemasangan detektor di beberapa tempat.
Ketiga adalah mempersiapkan lokasi-lokasi yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian masyarakat. Lokasi pengungsian ini dipilih yang mampu memuat masyarakat yang ada, harta benda masyarakat yang memungkinkan dibawa mengungsi termasuk ternak beserta pakannya. Lokasi-lokasi yang akan dijadikan tempat pengungsian ini harus fleksibel, terutama dari segi jumlah, karena jumlah masyarakat selalu bertambah. Lokasi pengungsian ini juga harus mendukung kemudahan penampungan dan pendistribusian bantuan. Selain itu penetapan koordinator di tiap-tiap lokasi pengungsian harus dilakukan sejak lama. Sistem koordinasi dan pendistribusian bantuan juga sebaiknya mulai disiapkan agar ketika bencana kembali terjadi tidak terjadi kesemrawutan.
Langkah keempat ini adalah yang paling penting, yaitu memahami karakter masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Pemerintah sebaiknya bekerja sama dengan sosiolog dan antropolog. Langkah keempat ini penting untuk mengetahui apakah ada hambatan kultural yang harus diatasi ataukah tidak. Jika ada maka upaya untuk mengurangi hambatan itu secara bertahap harus dilakukan. Contoh akibat dari hambatan kultural yang tidak diatasi pemerintah (yang harusnya dilakukan sejak lama) dapat kita lihat dalam kasus letusan Merapi. Dalam bencana letusan Merapi, hambatan kultural menjadi penyebab utama banyaknya korban tewas, luka-luka, dan kehilangan harta benda yang tidak sedikit. Ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah menjadikan masyarakat lereng Merapi tidak bersiap-siap mengungsikan diri dan harta bendanya sejak Merapi berstatus “siaga level 2,” akibatnya ketika bencana benar-benar di depan mata mereka tidak sempat membawa lari harta benda mereka ke pengungsian, bahkan nyawa selamat pun sudah untung. Selain itu meskipun sudah jatuh banyak korban, beberapa warga di zona rawan bencana masih saja ada yang merasa aman di rumah mereka, pemerintah menjadi terpaksa untuk memaksa mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman, dengan berbagai cara, padahal yang namanya paksaan biasanya tidak enak.
*Sumber: Rubrik Suara Mahasiswa, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi 1 Desember 2010, Penulis: Feni Tri Utami.
Rabu, 31 Desember 2008
tentang tulisan sebelum ini

Tulisan di bawah itu karyaku yang ketiga. Sebelumnya aku dua kali ikut lomba nulis. Dulu pas kelas satu nyoba ikut pertama kali dapet peringkat 15 dari sekitar 45 peserta SMA tingkat Yogyakarta. Di lomba yang kedua aku ga tau peringkat ke berapa, yang jelas ga masuk 10 besar :’D. Soalnya cuma diumumin yang 10 besar utk maju ke babak final.
Awalnya
Pertama kali guruku Bahasa Indonesia ngumumin kalo ada lomba menulis dengan tema persepsi remaja tentang produk Telkom, aku males banget ikut. Apalagi waktu itu guruku bilang kalo tu lomba tingkat nasional en hadiahnya gede banget (5 juta utk juara pertama), langsung mengkeret deh aku, pasti susah tuh menangnya, jadi pemberitahuan guruku waktu itu cuma tak anggap angin lalu, orang menang tingkat kota aja belum, mosok dah ikut lomba tingkat nasional
Beberapa waktu kemudian guruku ternyata malah mewajibkan semua siswa kelas XI buat ikut tuh lomba. Guruku yang satu ini memang terkenal suka ngasi tugas ikut lomba. Guruku nugasin kelompok, 1 kelompok 4 anak, maka muncullah kebiasaan teman-temanku, kalo ada tugas kelompok kayak gini yang ngerjain cuma salah satu dari anggota kelompok. Yaudahlah mending ditenani (diseriusin), karena syarat lombanya adalah tulisan merupakan karya individual maka ketika temen-temenku pada ga ada ide dan ga semangat ngerjain tugas aku justru semangat, okeh aku serius ikut lomba.
Proses Munculnya Ide
Ide-ku mengangkat flexi yang kurang diminati pelajar kota Yogyakarta bermula dari pengalaman pahitku (lebay..) selama menggunakan flexi. Ceritanya gini, sejak kelas X SMA aku ga cuma berteman dengan teman satu SMA tetapi aku juga sudah punya banyak teman dari berbagai SMA terutama SMA Negeri di lingkungan kota Yogyakarta, aku sering ikut acara antar SMA dan di akhir kelas X aku ikut menjadi panitia Silakbar (Silaturahmi Akbar) Farohis Jogja. Butuh pulsa ekstra untuk berhubungan dengan teman-temanku lewat hape, karena flexi hanya menawarkan harga murah untuk berhubungan dengan sesama flexi, padahal hampir ga da teman-temanku yang pake flexi, kalaupun ada biasanya punya ortunya atau nomor flexi rumah itu pun sangat sedikit (hufft). Temannya teman-temanku di SMA masing-masing pun juga sama juarang buanget (hampir ga ada) yang pake flexi.
Proses Penyelesaian Tulisan
Dalam proses penyelesaiannya aku konsultasi ma temenku yang sudah berpengalaman membuat tulisan, dua anak UNY (mbak Titis n mbak Eni) dan Ketua FLP Yogyakarta (mbak Iwul), aku bikin, trus minta mereka ngomentari karyaku. Pede-ku bertambah buanyak ketika tulisanku tak suruh baca mbak Iwul, katanya tulisanku udah bagus, hanya masih banyak salah ketik. Kalo mbak Titis waktu itu komentar aku harusnya punya bukti (misal hasil survei) kalo pelajar Yogyakarta emang bener-bener ga minat ma flexi. So, aku perbaiki tulisanku dan buat angket, trus disebarin.
Dalam penyebaran angket, dari empat anggota kelompokku hanya satu anak saat itu yang mau mbantuin aku, namanya Massaria. Proses penyebaran angket dan pengisian angket oleh responden tidaklah berjalan mulus. Ada beberapa angket yang tidak laik dipakai menjadi sumber data karena pengisian yang kurang tepat. Aku pun pake 25 angket yang laik. Hasilnya terbukti kalo hanya sedikit pelajar yang pakai flexi
Selama penyebaran angket aku minta do’a sama para responden biar aku menang, targetku juara kataku. Meski sebelum diwajibkan aku sempat minder, tapi setelah diwajibkan dan aku punya ide yang menurutku lumayan apalagi dinilai bagus oleh mbak Iwul yang ketua FLP Jogja aku jadi pede abis.
Pengumuman
Sepulang dari nginep semalam di pondok tempat kakak alumniku (Mbak Fifi) nyantri, aku dikasi tau Ibu-ku kalo kemarin sore si Dita (temenku SMA) datang ngasi kabar kalau karya aku ma dia masuk final 4 besar, dia tau dari e-mail panitia yang dikirim panitia. Spontan aku senang biyanget waktu itu. Pokoke senang biyanget lah, tingkat nasional bo, hadiahnya pun gede. Aku juga ngecek e-mailku yang tak pakai buat ngirimin karyaku, ternyata disana juga ada e-mail dari panitia (Pak Hikmat) yang menyatakan bahaw dari SMA 9 ada 2 karya yang lolos final, karyaku ma karya Dita.
Menuju presentasi 4 besar aku coba latihan sendiri ga jelas dan ga efisien, geje abis, ga tek guno hihi... . Pengen latian di depan temen-temen tapi ga kelaksana-kelaksana juga. Tapi aku emang sempet disuruh presentasi di depan kelas, dasare aku ga pinter ngomong, ya jelek lah hasile, dasare aku nervous-an
Dan, hari “H” final aku dan Dita berseragam lengkap pakai jas almamater SMA, boncengan ke kantor Telkom Yogyakarta, disana aku ma Dita di bawa kalo ga salah ke lantai dua apa tiga ya lupalah yang jelas ga di lantai satu, di suatu tempat semacam tempat rapat. Ditemani sekitar dua orang dari Telkom aku ma Dita presentasi di Jogja melalui telekonferens, jurinya ada di Bandung. Kami ga liat wajah jurinya, hanya dengar suaranya, kami pun presentsinya sambil duduk. Aku merasa beruntung saat itu karena yang disuruh presentasi pertama kali si Dita, aku pun di suruh keluar nunggu dulu. Di luar ada snack, aku di persilakan untuk mencicipi, tapi aku malah deg deg an. Tibalah saatnya presentasi, meskipun ga terbata-bata tapi suara di Bandung terdengar gemeteran. Habis itu aku di puji-puji ma bapak karyawan Telkom yang nemenin aku ma Dita, wah aku jadi yakin menang nih. Kami sih berharap juara semua, sehingga bisa pergi ke Bandung berdua.
Menunggu waktu pengumuman aku dan Dita ga sabar. Hari “H” pengumuman yang dijanjikan tidak ditepati panitia. Telat satu hari panita baru mengumumkan hasilnya, karena ga sabar, kami pun minta tolong Pak Guru Pkn yang saat itu membawa laptop ke kelas untuk menonton pengumuman, tapi si bapak tidak mau, hanya mau kalo beliau sudah berada di ruang guru, sesampainya di ruang guru kami pun melihat hasilnya. Membuncah rasanya, pas aku liat kalo aku juara I, gila!!! sedangkan si Dita Juara III!!! Kami jadi ke Bandung berdua!!!. Spontan guru-guru di sekolahku jadi heboh. Berita kemenanganku otomatis cepat tersebar di seantero sekolah khususnya siswa kelas XI
Beberapa hari berikutnya, kami harus ke Bandung bersama bapak guru bahasa Indonesia. Perjalanan menuju Bandung kami tempuh menggunakan travel. Sesampainya disana kami bertiga sudah disediakan 2 kamar hotel, satu untuk bapak guru, satu untuk aku dan Dita. Saat makan pagi di Hotel Topaz kami juga melihat mbak Meutia Hafidz yang juga sedang sarapan, siangnya dia akan menjadi moderator dalam salah satu rangkaian acara silaturahmi karyawan BUMN. Penyerahan hadiah untuk kami juga pada acara yang sama, tetapi penyerahan hadiah tersebut berada di awal acara. Sebelumnya kami sempat diwawancarai oleh koran harian lokal setempat mengenai kemenangan kami, hihihi.. baru kali ini aku diwawancarai koran. Si bapak guru bahasa Indonesia pun berperan sebagai tukang potret sampai-sampai kami lupa memotret si bapak saat menggantikan pak kepala sekolah menerima penghargaan dari Sekar Telkom (untuk SMA 9 sebagai Juara Umum).
Flexi Kurang Diminati Pelajar SMA/sederajat Kota Jogja

Surga Dunia yang Baru
ilustrasi: istockphoto.com Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...
-
Jadi, angkatanku menjadi angkatan pertama yang merasakan kebijakan wajib magang dari Jurusan Manajemen UNY. Dan kewajiban magang tersebut ...
-
Pengen ikut IELSP Cohort 10, karena diharuskan punya skor TOEFL ® ITP, aku pun cari-cari info tempat-tempat tes TOEFL ® ITP di Jogja bese...
-
Saya sekarang ada pada usia dimana menurut orang-orang ya harusnya dah punya anak, tidak hanya menikah. Kenyataannya? Masih single. Begitu ...