Senin, 05 Desember 2016

Mentoring Bisnis

Anak-anak muda yang berniat menjadikan entrepreneur sebagai profesi biasanya ingin sekali punya mentor bisnis. Termasuk saya, sudah lama sekali ingin punya mentor. Dalam bayangan saya punya mentor itu enak, ada masalah bisnis apa langsung punya tempat konsultasi yang kompeten.

Suatu ketika saya mendengarkan acara Kongkow Bisnis, Radio Geronimo. Tema yang sedang dibahas adalah mentoring bisnis. Saya sering dengar si A berhasil jadi mentee pengusaha B, dsb. Sudah dapat beberapa tips agar berhasil mendapatkan mentor bisnis. Tapi semua tidak ada yang tuntas membahas soal bagaimana caranya agar seorang mentee tidak membuat mentornya illfeel. Makanya di acara tsb saya request agar dibahas juga soal etika yang harus diketahui seorang mentee selama proses mentoring. Jawabannya adalah komitmen.

Pada acara itu disebutkan bahwa menjadi mentee itu bukanlah hal yang mudah. Acara itu dipandu oleh seorang penyiar radio dan pebisnis yang ketika itu pernah menjadi mentor bintang tamu. Si bintang tamu sempat kabur selama beberapa saat ketika mentoring karena tugas-tugas yang diberikan mentor, meskipun kemudian balik lagi. Ya, ternyata mentoring itu tidak seindah yang dibayangkan, ada tugas dan laporan. Menjaga komitmen bukanlah hal yang mudah.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/stevendepolo/4498182031
Hingga akhirnya 2 hari setelah siaran radio itu aku resmi dapat mentor. Tugasnya memang gila-gila sih. Diantaranya sampai membuatku dipandang aneh sama orang-orang. Diolok orang-orang. Dirasani orang-orang. Orang-orang yang tidak dikenal untungnya, hehe.

Tugas-tugas lainnya tidak sepele juga, tapi efeknya ke aku kena banget sih. Salah satu yang paling aku syukuri ya tugas-tugas dari mentorku ini bikin aku bisa ikut wisuda akhir November kemarin. Tapi yang namanya perubahan ternyata ya memang butuh proses.

Mentoring ini belum selesai dan aku masih sering galau tidak jelas. Tapi sudah banyak efek positif yang aku bisa rasakan sendiri terkait perubahan-perubahanku. Aku akui memang banyak sekali yang harus aku perbaiki dari kepribadianku. Meskipun belum terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Tapi perubahanku sudah aku rasakan dan nyata buatku.

Mentoring belum usai. Aku harap aku semakin bisa disiplin dan manfaat yang kuambil semakin kesini semakin maksimal. Karena aku masih sering galau tidak jelas sehingga berpengaruh pada pengerjaan tugas aku sempat bertanya, "Apa aku sebenarnya belum siap menjadi seorang mentee?" "Apa aku terlalu cepat mendapatkan mentor?" Tapi kemudian aku jawab, tidak. Aku sudah mendapat banyak manfaat dan aku sudah merasakan perubahan-perubahan yang berarti buatku, salah satunya berhasil membuatku bisa ikut wisuda November 2016. Ya meskipun perubahan itu baru bisa aku rasakan dan tidak kasat mata oleh orang lain. Bukankah penilaian orang lain itu tidak penting? Jauh lebih penting penilaian Allah. Penerapan bagaimana tidak mementingkan penilaian orang lain memang tidak mudah, padahal kalo sudah mikirin bagaimana penilaian orang lain itu riya ya. Ya begitulah, memang tidak mudah, salah satu cara untuk melatihnya yaitu dengan meletakkan rasa malu di tempat yang tepat.

Jangan malu kelihatan miskin dsb. Tapi malu kalau suka nunda-nunda mengerjakan hal-hal yang harus segera dikerjakan. Malu kalau kurang bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri. Malu kalau sedikit-sedikit galau.