FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Selasa, 25 September 2018

Keputusan-keputusan di 2017

Pada kondisi tertentu, kalau lagi mood buat bikin rencana, saya suka sekali bikin rencana. Setelahnya? Bye! Haha. Iya rencana seringkali tinggal wacana. Saya suka berpikir tapi suka malas merealisasikan. Lebih suka berpikir daripada bekerja. Lebih suka mengarahkan daripada diarahkan, hehe.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/30851170@N05/4724901399/

Akhirnya di tahun 2017 kemarin saya mencoba memberanikan diri untuk merealisasikan rencana-rencana saya meskipun menurut saya sebenarnya waktunya belum cukup sempurna. Ada satu kesalahan fatal sih memang. Benar-benar diluar dugaan. Membuat saya berpikir bahwa jika bisa melakukan sendiri buat apa minta tolong ke teman meskipun dia menawarkan diri. Meskipun posisinya cukup strategis, tapi yang namanya strategis itu, kalau strategis untuk merealisasikan apa mimpi indah kita berarti juga strategis untuk merealisasikan mimpi buruk kita. Hati-hati saja sih.

Diluar itu, saya membuat keputusan-keputusan lain yang membuat saya belajar banyak. Tidak banyak keputusan sih. Tapi ya tidak apa-apa seenggaknya ada kemajuan, meskipun kemajuannya bukan dari sisi yang cukup kasat mata. Lebih ke kemajuan yang ada di dalam diri.

Hanya satu keputusan yang saya sesalkan sih, yang membuat rencana hidup saya jadi cukup berantakan. Gara-gara teman yang tidak amanah. Menawarkan bantuan, eh ternyata setelah kita bercerita apa yang jadi ketakutan kita dia malah berusaha bersama dengan yang lainnya mewujudkan ketakutan saya. Tapi ya tidak apa-apa sih, toh kan ada 1000 jalan menuju Roma. Maksudnya ketika ada tahapan dalam hidup yang harus kita lewati dan orang lain menjauhkan kita untuk melewati tahapan itu, tenang saja, masih banyak jalan lain untuk merealisasikan tahapan hidup yang ingin kita lewati tersebut.

Salah satu yang luar biasa adalah keputusan saya untuk magang di sebuah start up yang hampir 100% berisi generasi milenial. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Mengingat setelah 2 tahun jadi mahasiswa yang tidak pernah ngampus, lanjut mencoba bekerja di sebuah toko kecil, tiba-tiba bertemu dengan sesama generasi milenial dalam jumlah puluhan, ya bisa dibilang seukuran satu kelas lah, ya ada senangnya ada sedihnya.

Kalau dibandingkan pengalaman magang saya waktu kuliah dulu, di sebuah bumn, ya senangnya, di start up tsb isinya anak2 muda. Untuk komunikasi tidak ada hambatan berarti, karena jarak usia mayoritas teman-teman disana masih satu digit lah ya. Sangat jarang yang sampai 2 digit.

Tapi bukan berarti mudah untuk berteman dengan mereka untuk seorang introvert seperti saya. Saya belajar banyak sih. Jadi tahu kesalahan saya selama ini yang kalau tidak disana mungkin sampai sekarang saya masih belum sadar kalau itu kesalahan. Juga belajar untuk memaklumi orang lain. Belajar untuk lebih jasa sikap dan lebih berhati-hati juga sih.

My Quarter Life Crisis

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/vandertramps/8098705908
Quarter life crisis itu emang luar biasa ya. Saya mengatakan seperti itu karena sedang mengalami. Mungkin besok kalau sudah berkeluarga dan memiliki anak bakal bilang lagi, berkeluarga itu luar biasa ya. Lalu jika diizinkan berumur panjang, bisa jadi waktu merasakan usia 60 tahunan, bakal keluar juga kata, merasakan usia kepala 6 itu luar biasa ya? Hehe. Bisa jadi, keluar kata luar biasa karena baru saja merasakan apa yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Jadi ngerasa, ternyata seperti ini, dulu tidak pernah terlintas dalam bayangan, hehe.

Dulu, waktu masih sekolah, masih remaja, kebayang hidup saya ke depan ya mulus-mulus aja jalannya. Saya kira bakal lulus cepat waktu kuliah, kurang dari 4 tahun, lalu setelah lulus cita-cita tercapai. Ternyata setelah merasakan jadi anak semester akhir, kok keenakan jadi mahasiswa, tidak mau lulus cepat-cepat. Eh, malah jadi nunda-nunda, terus ya keterusan, malesnya susah sembuh. Kalau tidak memaksa diri buat ke kampus, buat selesaikan kuliah, bisa jadi sekarang aku sudah di drop out dan tidak punya gelar S.E.

Flashback ketika saya berada tepat di usia seperempat abad. Saya merasa amat sangat buruk. Ketika mereka yang seumuran bahkan banyak juga yang lebih muda sudah mendapat cap "sukses" dari orang-orang, saya harus kenyang dengan caci maki (lebay) karena dianggap pemalas (iya sih). Seolah-olah belum jadi apa2 di usia 25 tahun adalah kegagalan besar.

Saat itu saya benar-benar terpuruk dan merasa melakukan kesalahan yang amat sangat besar. Saya sadar itu karena saya akrab dengan penundaan sehingga rencana hanya jadi wacana. Hingga suatu saat saya mengikuti sebuah pertemuan perdana coaching dengan seorang bunda Rita (yg mengadakan bukan bunda Rita, namun teman kakak saya). Meskipun akhirnya pertemuan perdana jadi pertemuan yang terakhir juga karena ya biasalah, orang bilang memulai itu bagian tersulit, tapi kenyataannya, konsisten seringkali lebih sulit daripada memulai. Contohnya banyak yang berhasil jadi mahasiswa namun berhenti di tengah jalan.

Bukan kegagalan konsistensi sebuah program coaching yg mau saya bahas. Petuah bunda Rita yang masih saya ingat serta membuat saya merasa jauh lebih baik saat pertemuan perdana itulah yang mau saya ceritakan. Inti dari petuah beliau saat itu adalah, soal uang dan angka serta, siapapun kita saat ini, kita sudah jauh lebih baik dari kita sebelumnya, kita sudah berjalan lebih jauh dari sebelumnya. Ingatan saya pun melayang ke zaman saya sekolah dan masih kuliah teori. Iya senang rasanya sudah berjalan sejauh ini. Senang rasanya sudah mendapatkan pencerahan demi pencerahan yang saya dapatkan sejak menjelang KKN dulu, berlanjut hingga mulai jadi tindakan jauh lebih nyata dibanding sebelumnya, di semester akhir.

Saya kembali merasa lebih baik ketika tahu bahwa pendiri KFC baru mendirikan usahanya ketika sudah jadi kakek2, sudah pensiun. Juga ada cerita kakek2 di China yang baru sukses jadi model justru ketika usianya sudah senja (namanya juga kakek2 xD. Lalu guru saya juga berpesan bahwa definisi sukses setiap orang bisa berbeda, maka, definisikan sukses versimu sendiri. Akhirnya saya kemudian menentukan definisi sukses versi saya disini: https://fenitriutami.blogspot.com/2017/06/definisi-sukses.html.

Rabu, 15 Agustus 2018

Kembali ke Surgaku

Pagi ini mendadak moodku bagus banget setelah menimbang dan memikirkan berbagai pilihan aktivitas yang ada yg bisa dilakukan hari ini dan akhirnya aku memutuskan. Ya, sumber bad mood salah satunya atau satu2nya? Adalah kegalauan yang didasari ketakutan2 kita gagal mendapatkan apa yg kita inginkan, yaitu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ketika dihadapkan berbagai pilihan aktivitas yg menguras energi dan waktu itulah yang bisa bikin kita, eh kok kita? aku sih, haha. Nah kalau kita sudah memutuskan kan berarti sudah gak bingung lagi, dan kita berpikir itu pilihan terbaik. Sehingga galau hilang, tinggal menjalankan dengan penuh suka hati karena setelah dipikir itulah pilihan terbaik, jadi bisa menjalaninya penuh syukur. Apalagi pilihan aktivitasku untuk hari ini adalah seharian di rumah!!! What a perfect heaven for me!!!

sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/freestocks/31512220131/
Iya, sekarang aku baru duduk diatas kursi, kaki silo (dingin bok kalo gak silo). Ngadep meja, dengan laptop yg LCD nya dah kembali oke 100% (sebelumnya LCD nya pecah, terakhir sebelum ganti LCD aku kira2 cuma bisa lihat layar 40%). Apalagi ya laptop pertamaku tu netbook, kecil kan layarnya, terus ganti yg 14" tahun kemarin apa ya, mulai rusak LCD nya terus merembet2 sampai sebelum ganti LCD kira2 aku cuma bisa lihat layar 40%. Jadi ya yang seneng banget sekarang. Buatku layar 14" sudah lebih dari cukup. Karena sebelumnya pakai netbook yg gak sampai 12" layarnya, terus ini laptop sempet rusak parah LCD nya. Jadi ya bahagia banget. Iya ya, kalo terbiasa hidup dengan keterbatasan jadi lebih mudah bersyukur. Lagi pula aku gak butuh layar yg super duper gede, hehe. Jadi pesan guruku, tentukan angka cukupmu, jangan mudah menaikkan angka cukup. Angka cukup terendah adalah angka cukup untuk bisa tetap bertahan hidup, tidak banyak keinginan macem2 yg gak penting2 amat, hehe.

Aku juga duduk dengan kursi dan meja didekat jendela. Posisi favoritku, kerja deket jendela. Apalagi samping rumahku halaman samping rumah sehingga kamarku bisa dapat cukup cahaya dan tidak dipakai lalu lalang orang yg suka kepo (maklum di tengah kampung ya, jadi suka gak nyaman kalo lagi kerja ada orang lewat liat2, hehe). Jadi kerasa privasinya. Sendirian ditemani burjo semangkuk sama secangkir cokelat hangat. Surga banget!!!

Jadi, kegalauan sejak Juli kemarin adalah aku diamanahi ngurus berbagai urusan properti keluargaku, yang mana itu butuh waktu yg gak sedikit. Aku juga menginginkan percepatan untuk bisnis yang aku kelola. Seperti kata guruku, dengan berpartner bisnis kita bisa tumbuh lebih cepat keuntungan yg didapatkan bisa lebih banyak. Lebih baik 10% tapi 1 Trilyun daripada 100% tapi 1 Milyar kan, gitulah kurang lebih pesan guruku. Asal manajemennya benar, berbagi justru tidak mengurangi, tapi bisa melipat gandakan berkali-kali lipat. Gaya banget ya, ngomongnya udah trilyun sama milyar. Padahal pegang uang 20 juta aja aku belum pernah, haha. Kata guruku, kita harus terbiasa bicara pakai bahasa milyar kurang lebih ya kata guruku biar jadi doa, terinternalisasi, sama gak kagetan sama uang besar.

Iya, Juli aku mulai hunting partner bisnis. Aku iyain temenku yg menawarkan diri, aku hubungi lagi temenku yg sudah menawarkan diri sebelumnya dan aku minta nunggu sampai sistemnya siap. Aku ajakin temen2ku yg potensial jadi partner. Akhirnya aku dapat beberapa teman, ada yg masih nunggu sistemnya buat mereka, ada yg sudah siap sistemnya jadi sudah jalan, ada juga proses pergantian personil. Iya aku cuma mau kerjasama sama mereka yg serius dan tipe deal done. Ketika kita salah pilih personil meskipun dia sudah menawarkan diri dulu gak cuma sekali, emang agak bikin galau ya. Bikin kita jadi mikir gantinya sebaiknya siapa, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan kerjasama. Tapi semuanya alhamdulillah berjalan lancar.

Ketika kita sudah merasa gak cocok sama partner, cara terbaik untuk menghentikan hubungan kerjasama adalah kata2 itu mereka keluarkan sendiri. Aku juga tipe yang kalau partner udah jual mahal udah sih mending udahan. Kalau udah diulur, mending tak lepas sekalian. Stok partner pengganti masih super duper banyak. Meskipun harus habisin waktu dan energi buat cari lagi. Tapi yang terjadi selama ini. Aku selalu dapet partner pengganti yang jauh lebih baik dibanding partner/calon partner sebelumnya.

Barusan aku juga dapet partner terbaik yg bahkan aku yang mengaku terakhir punya sahabat waktu SD. Aku bisa dengan PD aku sekarang sudah punya sahabat. Ritmenya yg cepat kadang bikin aku galau sehingga butuh meditasi lebih (tidur sambil mikir terus terlelap maupun tidak terlelap salah satu bentuk meditasi yg cukup efektif buatku). Tapi ya itu, ritmenya yg cepat bikin aku yg lamban dan selalu mencari waktu yg sempurna jadi memaksa diriku untuk lebih cepat. Iya aku butuh banget ini. Bagus banget buat kemajuan pribadiku. Apalagi seminggu kebelakang aku sering harus keluar rumah yg mana itu menguras energi banget buat introvert kayak aku. Kerjaan sempat terbengkalai lama, iya aku belum kerja lagi semenjak kamis lalu LCD nya bener.

Teorinya abis LCD nya bener kan aku harusnya super duper semangat kerja. Tapi seminggu kemarin banyak agenda keluar rumah dan bikin aku galau gimana ngatur waktunya, gimana biar aku tetep in good mood, kadang harus dihadapkan solusi2 yg nggak banget, bikin males dan bad mood. Ya gitulah. Baru sekarang ini aku lama ngadep laptop, ini pun cuma nge blog, belum balik kerja lagi. Pengen meluapkan kebahagiaan dulu. Rasanya belum siap kerja kalau belum cukup meditasi, ini salah satu bentuk meditasiku. Baru mau mulai kerja kalau dirasa kebutuhan meditasiku sudah bener2 terpenuhi sebelum mulai kerja lagi.

Ya begitulah. Alhamdulillah aku kembali punya seorang teman yg bisa aku sebut sebagai sahabat. Bener2 selalu ada dan aku juga berusaha untuk selalu ada buat dia. Gak nyangkanya, dia juga teman SDku dulu tapi beda kelas dan kita gak pernah main bareng dulu. Gak pernah istirahat bareng, berangkat bareng apalagi pulang bareng, karena gak se kampung juga sih sama aku, hehe. Dulu gak deket sekarang bisa deket banget dan bisa jadi solusi sama lain. Kita juga udah bener2 nyaman satu sama lain. Banyak kesamaan pilihan yg bikin kita gak galau untuk menjadi seperti apa setiap berinteraksi. Temenan lumayan deket dah  sekitar 9 tahunan. Sekarang yang sampai bener2 bisa dibilang kita adalah sahabat. Meskipun awal Juli lalu aku sempet menempelkan label fake friend dan marah sama dia, tapi dia bisa memperbaikinya dengan sempurna dalam kurun waktu seminggu ke belakang ini. Ya sampai aku bisa dengan PD nya bilang, dia adalah sahabatku. Kita adalah sahabat.

Aku gak mudah kasih label sahabat ke temanku. Apalagi kalau aku bukan temannya yang paling dekat meskipun dibanding teman yg lain aku paling dekat sama dia. Aku butuh cap dari orang diluar kita juga. Lagi pula aku sejenis introvert yg sudah lama gak membangun kualitas pertemanan yg cukup dalam, sehingga aku gak cukup PD untuk bilang si A, si B, si C itu sahabatku. Apalagi kalau masih ada canggung2an. Bener2 sahabat kalau tidak ada kecanggungan sedikitpun kan.

Ya, selain karena sudah bisa bilang aku sekarang punya sahabat! Kebahagiaanku terbesar saat ini adalah aku akhirnya memutuskan untuk di rumah terus tanpa gangguan, menghabiskan waktu dengan laptop, hp, kamar, dan berkas turun waris. Aku kira cucianku yg menumpuk bisa aku kerjakan besok. Motor mbakyuku yg harus segera dibengkelin lagi sehingga aku harus menunggu proses servis yg cukup lama bisa aku kerjakan di hari jumat. Sempurna kan. Toh aku juga gak kehabisan baju. Bajuku dikit, tapi alhamdulillah masih cukup kalo aku nyuci besok, wong hari ini juga aku mau dirumah terus, haha. Paling2 keluar cuma sebentar ke tetangga sebelah, masih satu RT.

Terus ya, yg cukup menguras energi adalah selain aku seminggu ke belakang banyak menghabiskan waktu keluar rumah cukup lama di hari2nya, Selasa dini hari ibuku lihat ular di dapur rumahku. Padahal ya gak ada sawah dekat sini. Gak ada kebon di dekat rumahku. Pohon2 di halaman rumahku gak rungkut alias jaraknya jarang2. Banyak tanah kosongnya. Jadi takut kan. Gak berani ke kamar mandi rumah, mana ularnya pagi2 cerah dicari tetangga sama iparku gak ketemu. Semoga udah pergi sih, semoga cuma jin sih, kemarin udah bilangin tak suruh pergi kalau misal itu ular jelmaan jin. Tadi tengah malem meskipun gak liat ularnya, aku bilang lagi di dapur, nyuruh pergi kalau misal2 jin yg menjelma ular ada di rumahku. Kan di Islam gitu, 3 hari kita suruh pergi seperti kita ngomong sama manusia karena jin paham bahasa kita. Kalau lebih dari 3 hari gak pergi berarti itu bukan jin baik atau bisa jadi ular beneran, baru boleh kita bunuh ularnya.

Sempat curhat di grup wa kemarin malem aku. Sempet tambah takut, tapi sekarang udah lebih berani. Katanya gausah takut dan jangan kagetan. Okedeh. Ya semoga dah gak di daerah rumahku sama tetangga2ku sih ularnya kalau itu ular beneran. Kalau itu ular jin, semoga gak memperlihatkan diri lagi di hadapan kami warga sekampung. Jangan menjelma ular lagi. Jadilah jin yg baik. Aaamiiin. Jin kan gak kelihatan, semoga tidak ada jin di kampungku yg suka memperlihatkan diri dan menjelma jadi hewan2 menakutkan. Aaamiiin.

Ya gitulah, setelah kemarin diteror sama ular. Aku sekarang sudah merasa lebih baik dan tidak sepenakut dulu. Januari tahun ini aku sendiri yg terancam soalnya. Lagi nangkring di WC dini hari ada ular masuk kamar mandi pas di pintu, otomatis aku gak bisa keluar sebelum ular itu pergi. Pas aku keluar tu yg ekornya masih keliatan pas itu ular pergi. Ular itu sempet jalan ke arahku, tapi terus balik. Untung masih dilindungi Allah. Dzikir di kamar mandi tu boleh asal nggak dilafalkan. Sepertinya ular itu gak jadi ke arahku setelah aku dzikir minta perlindungan kepada Allah SWT. Alhamdulillah masih diberi keselamatan oleh Allah SWT. Semoga gak ada ular lagi, meskipun aku bilang udah gak sepenakut sebelumnya. Jangan sampai lah ada ular lagi deket2 sini. Aaamiiin. Semoga surgaku hari ini. Seharian di rumah gak ada teror dalam bentuk apapun. Aku bisa tenang menikmati surga hari ini. Aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk jadi lebih produktif. Untuk percepatan bisnis juga untuk selesainya dan lancarnya urusan yg diamanahkan ke aku dari keluargaku. Mulai hari ini dan setelahnya. Aaamiiin.

Yeyeyey, Gogogogo!!!!

Selasa, 28 November 2017

Berkah di Sabtu Malam

Pada suatu hari di akhir 2016 ibuku minta aku buat nganterin beliau ke rumah saudaraku di suatu desa di Bantul pada Sabtu sore, lumayan jauh lah dari hiruk pikuk pusat kota. Sebenarnya aku lagi ada tugas dari mentorku yang mana itu tugas paling susah selama mentoring. Dan aku baru selesai gak ada 2% karena ya emang susah banget yang mana harus benar-benar keluar rumah dan butuh keberanian luar biasa. Aku selalu kepikiran buat selesain tugas itu.

Tapi yaudah deh aku tetap iyain permintaan ibuku. Barangkali ada kemudahan habis itu. Sebelum berangkat aku sempat keluar rumah bentar buat progress tugasku. Abis itu cus berangkat ke Bantul. Sampai sana hari belum gelap. Namanya ke rumah saudara kan kayaknya gak mungkin kalau ngobrolnya gak lama.

Aku bukan tipe orang yang suka ngobrol sih. Tapi kan ya mau gak mau kan ya nunggu kan ya. Soalnya selain sama ibuku, aku kesana juga sama bulikku. Bulikku dibonceng adek sepupuku yang bernama Nita. Aku ngebonceng ibukku waktu kesini ya sama nanti pas pulang, ya pastilah gak pakai ditanya, haha.

Daaannn seperti yang sudah ditebak, aku dapat kado spesial dari Allah. Salah satu dari apa yang aku inginkan selama ini yang mana aku kira gak bakal terkabul, terkabul juga. Aku akhrnya bisa lihat kunang-kunang secara langsung tanpa direncanakan sebelumnya!! Just like a suprise!!



Aku sama Nita pun bahagia tak terkira. Orang tua kami asyik ngobrol, aku sama Nita berburu kunang-kunang. Jadi rumah saudaraku ini kan kanan kiri belakang rumahnya sawah. Depan rumahnya jalan kampung di desa yang seingatku di semen apa ya.

Asal tau aja, kunang-kunang disana banyak banget nget nget nget nget!!! Gak bisa dihitung!!! Sampai masuk-masuk teras gitu. Bagus banget sumpah. Sejak pertama tau ada serangga terbang yang bisa memancarkan cahaya bernama kunang-kunang, sejak itu pula aku pengen lihat secara langsung tapi di sekitar rumahku gak ada. Bekas rumah mendiang kakek nenekku se kampung juga sama aku soalnya.

Lalu waktu SMP, waktu ada acara studi tour ke Bandung naik bis, aku duduk di dekat jendela. Berharap bisa melihat kunang-kunang waktu lewat sawah-sawah di malam hari. Dan aku gak lihat. Selanjutnya juga aku gak pernah setiap kali perjalanan keluar kota di malam hari, entah naik travel, bis, maupun kereta.

Rumah kakakku yang sudah berkeluarga juga mepet sawah di daerah Jombor, tepat di depannya ada sawah. Aku sudah sering tidur disana. Tapi tidak pernah lihat kunang-kunang. Aku googling dimana aku bisa lihat kunang-kunang di dekat-dekat Jogja. Aku dapatnya info bahwa kunang-kunang sudah susah dicari, sudah hampir punah, itu dari cerita di sebuah blog. Tidak ada info lain yang mengatakan di sebuah tempat atau di beberapa tempat masih terdapat kunang-kunang yang bisa kita lihat. Setelah itu aku pun sedih, dan menyerah. Mungkin memang aku kurang beruntung untuk bisa lihat kunang-kunang.

Hingga akhirnya di suatu sore di akhir 2016 aku mendapatkan fakta mencengangkan yang mana aku bisa lihat kunang-kunang yang jumlahnya tak terhingga mengerubungi rumah saudaraku di suatu daerah di Bantul. Ini hadiah yang luar bisa dari Allah. Sayangnya hp ku waktu itu gak bisa menangkap foto kunang-kunang dengan cukup jelas. Hp yang sekarang gak tau juga sih bisa nangkap gambar kunang-kunang atau enggak.

Akhirnya aku tangkap satu kunang-kunang buat aku bawa pulang. Pulang-pulang sudah malam, aku lanjutin keluar rumah buat kerjain tugas mentorku yang super duper susah itu. Daaannnn.... meskipun waktunya cuma sedikit karena memang aku membatasi diri untuk hanya keluar sampai jam 9 malam, alias jam 9 harus sudah pulang, tugasku ada progress menjadi 25% dan cara mendapatkan yang 25% ini gak sesulit mendapatkan yang gak sampai 2%. Kuasa Allah, berkah bantuin ibu sepertinya.

Sampai rumah, gak biasanya, aku yang entah sejak kapan lebih nyaman gak matiin lampu, saat itu aku matiin lampu. Biar bisa lihat kunang-kunang yang aku ambil tadi dari rumah saudaraku. Aku taruh kunang-kunang tersebut di atas kasur di sampingku. Senang rasanya bisa tidur ditemani kunang-kunang.

Senin, 27 November 2017

Surga Dunia

Surga dunia buat masing-masing orang bisa berbeda-beda. Begitu pula surga duniaku yang bisa jadi berbeda dengan teman-teman. Surga duniaku itu ya bisa sendirian di kamar tanpa ada orang lain, tanpa ada yang ganggu, tanpa ada yang kepo. Bebas menulis maupun oret-oret baik di atas kertas maupun di blog tanpa ada yang kepo aku nulis/oret2 apa.

Sempurna lagi kalau dari kamar itu kita bisa menyatu dengan alam, bebas buka jendela baik dengan atau tanpa korden dan tidak ada yang lihat. Dunia berasa benar-benar milik sendiri. Bekerja, menulis, maupun oret-oret sambil bebas lihat pepohonan di luar kamar, sambil lihat hujan, sambil lihat bintang di langit sendirian tidak ada yang ganggu, tidak ada orang yang melihat, tidak ada yang lewat. Apalagi sambil makan cemilan kesukaan dengan stok aman dan minum minuman kesukaan dengan stok aman. Surga!!!

Senin, 02 Oktober 2017

Achiever Squad

Saat ini aku punya beberapa teman tapi tidak ada yang benar-benar sangat dekat. Dan aku yakin dari sekian temanku itu tidak ada yang menjadikanku sahabat terdekatnya. Seingatku, aku baru sekali punya teman yang bertahun-tahun di sekolah maupun ngaji tpa hampir selalu barengan terus, ya hampir selalu berangkat pulang bareng berdua, duduk jarang nggak sebangku, istirahat hampir bareng terus, ngaji tpa juga, ya pas SD tok. Itupun kelas 5 kita mulai menjauh, berlanjut ke kelas 6, sampai akhirnya bener-bener jarang main bareng waktu SMP karena kami juga beda sekolah. Setelah itu aku gak punya teman dekat yang sedekat aku sama dia dulu.

ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/ngmmemuda/4335753179

Waktu semester akhir dulu aku sempat diajakin temanku buat ngajuin skripsi barengan, ngerjain barengan. Dia teman sekelas yg pertama aku kenal waktu jadi maba dulu. Kita sempat barengan kemana-mana jaman masih ospek dulu tapi lama kelamaan gak lagi, sampai akhirnya dia ngajakin skripsian bareng. Sayangnya pas diajak itu aku masih ogah-ogahan banget buat ngerjain skripsi karena niatnya emang pengen lulus 5 tahun.

Ketika akhirnya aku keterusan nundanya sampai gak berani ngampus, aku akhirnya sadar. Aku dulu salah besar. Harusnya aku iyain ajakan temenku itu. Karena kalau kita rutin ketemuan buat ngerjain bareng kan otomatis pasti skripsiku ada kemajuan. Urusan mau nunda lulus kan tinggal ditunda ngajuin sidangnya. Yang penting penelitian selesai dulu. Setelah keterusan nunda ngerjain skripsi kerjaanku pun cuma mikirin skripsi nggak dikerja2in, hehe. Coba dulu aku iyain ajakan temenku ya, progress kehidupanku bisa jadi lebih cepet.

Lama menyendiri sebagai mahasiswa abadi temanku pun lama kelamaan berkurang. Aktivitas utama galau di kamar mikirin gimana biar skripsi selesai, tapi cuma dipikirin, wkwkwk. Mau ketemu orang takut ditanyain sampai mana skripsinya. Aku juga introvert sih.

Semakin kesini aku merasa aku makin sering buang-buang waktu. Aku memang bukan tipe orang yang suka keluar main kesana kemari. Aku seorang yang gampang badmood. Aku seorang yang sebenarnya perfeksionis tapi gak kelihatan. Penampilanku sekedarnya sering malas setrika. Itu bukan karena aku bukan seorang yang tidak perfeksionis. Tapi karena perfeksionis aku jadi gampang badmood. Kalau sudah badmood magernya gila2an. Sampai setrika aja males. Kamar kayak tempat sampah gara-gara mager buat beresin.

Aku pengen segera keluar dari zona nyaman yang tidak nyaman, hehe. Zona malas mungkin lebih tepatnya. Kalau disuruh bikin Daftar Target Pencapaian aku bisaa.. Aku senang bikin rencana, meski kadang males nyatet juga. Aku dah punya list apa aja yang ingin aku capai selama hidup. Tapi aku juga mudah buat ngelupain Daftar Target Pencapaian yang udah aku bikin hanya karena bad mood.

Berbagai saran sudah aku dengar/baca. Tapi sepertinya buat aku yang paling ampuh dengan membuat Achiever Squad dengan member maksimal 3 orang. Setiap member harus sudah punya Daftar Target Pencapaian.

Masing-masing member wajib support member lainnya agar bisa mencapai Daftar Target Pencapaian masing-masing. Aku terbuka untuk siapapun yang baca postingan ini. Bagi yang tertarik untuk menjadi satu dari maksimal 3 member Achiever Squad silakan japri media sosial saya dengan menyertakan achievement wishlist-nya. Saya harap saya bisa mendapatkan teman yang bisa maju bareng, dan saling support dengan menghargai perbedaan pendapat, tidak suka memaksa/membuat kondisi tidak nyaman hanya karena perbedaan pilihan.

Jumat, 25 Agustus 2017

Iin, is that you?

Jaman saya TK SD, ada banyak anak-anak di sekitar rumah saya. Paling sering saya bermain dengan yang sebaya, meskipun begitu saya juga masih ingat beberapa anak dan wajahnya yang umurnya agak jauh dibawah saya meski jarang bermain bersama. Salah satunya adalah Iin. Seorang gadis kecil yang kalem dan tidak kakean polah. Biasanya kan di antara anak-anak ada yang nakal ada juga yang kalem, nah Iin ini kalem dan tidak nakal. Iin sangat cantik, diantara kami yang paling terkenal dari Iin adalah kecantikannya, dia mirip dengan ibunya.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/dickdotcom/30950675994/

Kenangan terakhir saya dimana disitu ada saya dan disitu ada Iin adalah saat saya masih SD. Seingat saya sejak SMP saya belum pernah ketemu lagi dengan Iin kecuali ketemu tapi tidak sadar kalau itu Iin. Saya ingat Iin gara-gara belum lama ini saat di rumah saya mendengar orang yang mengucap kata Iin.

Kenapa tiba-tiba jadi ingat Iin gadis cilik yang cantik itu? Karena di sebuah event yang saya ikuti saya sempat bertemu dengan seorang mahasiswi UGM yang mirip dengan Iin, dia duduk tepat di depan saya. Tapi saya waktu itu saya hanya ingat wajah Iin belum ingat namanya. Sejak saat itu saya sering berpikir keras siapa sih nama bocah cilik yang terkenal paling cantik di antara bocah-bocah lain di sekitar rumah saya waktu saya kecil dulu. Saya ingat wajahnya tapi lupa namanya.

Sampai-sampai pulang dari event tersebut saya tanya ke kakak saya, ingat nama bocah cilik cantik cucu almh. Bu Karti tidak? Tapi kakak saya tidak ingat. Itu loh yang cantik banget, dia tetap tidak ingat, lingkaran permainan kakak saya dan saya berbeda sih karena umur kita juga lumayan jauh jaraknya. Nah almh. Bu Karti ini dulu rumahnya cuma beda satu rumah dengan rumah saya, cukup luas dihuni oleh anak cucunya. Tapi tanah peninggalan almh. Bu Karti sudah lama dijual sehingga anak cucunya sudah lama tidak tinggal lagi disitu.

Setelah sekarang ingat nama si Iin saya pun lupa nama mahasiswi UGM yang dulu pernah mendatangi event yang sama dg saya. Padahal dulu ingat banget siapa namanya dan berusaha keras mengingat siapa nama bocah cilik yang terkenal paling cantik di antara para bocah di sekitar rumah saya. Giliran ingat nama Iin saya lupa nama mahasiswi UGM yang pernah mendatangi event yg sama dengan saya, dan mirip dengan Iin.

Entah kenapa dulu saat berada di event itu, lihat wajah dan tahu namanya kok aku curiga dia bocah cilik cantik yang tinggal di dekat rumahku. Kayaknya di event itu dia dipanggil Intan oleh beberapa orang yang mengenal dia. Intan bukan ya, kayaknya sih Intan. Gara-gara nama, wajah sama perawakannya itulah aku curiga dia bocah cilik cantik nan kalem cucu almh. Bu Karti.

Sejak berada di event itu aku berpikir keras mengingat-ingat si nama si Iin. Apakah dia Iin. Sehingga ketika ingat nama si Iin buatku merupakan kepuasan tersendiri, yeay Allah mengijinkan aku ingat nama si Iin, meskipun terus malah jadi lupa nama dia waktu di event itu. Jadi usaha saya berpikir keras sejak di event tsb sampai akhirnya ingat nama Iin jangan sampai terbuang sia-sia, menguap bagai keringat, hehe. Dan saya pun memutuskan untuk menulis disini biar tidak lupa. Tidak penting banget ya? Masalahnya saya sampai berpikir keras mengingat nama si Iin. Pokoknya jangan sampai lupa lagi! Ini harus diabadikan. Kalau asal catat di evernote atau note-note lainnya ada kemungkin keselip lupa lagi, kalau di blog insyaallah kemungkinan hilangnya kecil. Apalagi ini blog yang paling saya urus, hehe.

Mungkin teman-teman yang baca ini bertanya-tanya kenapa saya tidak langsung mengajak ngobrol mahasiswi UGM yang saya feeling saya bilang dia sepertinya Iin, lebih enak kita sebut sepertinya Iin saja ya, soalnya saya lupa di event itu dia dipanggil siapa sama temannya. Kayaknya Intan tapi saya kok lupa pastinya siapa. Kita sebut saja "Sepertinya Iin" yaa.

Saat itu "Sepertinya Iin" datang telat dan duduk di depan saya, peserta event hanya sedikit duduknya renggang-renggang dan tidak ada yang ngobrol sendiri. Jadi saya tidak bisa ngajak ngobrol "Sepertinya Iin" selama acara. Setelah acara selesai pun "Sepertinya Iin" langsung ngobrol dengan salah satu pengisi acara dan saya keburu ada agenda lain. So, rasa penasaran saya belum terjawab. Semoga di lain waktu saya bisa menemukan Iin yang sekarang sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Apakah Iin itu seorang mahasiswi UGM yang pernah mendatangi event sama dengan saya atau bukan. Sayangnya koleksi foto jadul jaman TK SD saya sepertinya tidak ada yang ada Iinnya, kalau bisa kan bisa saya tag ke IG @generasi90an biar bisa ketemu Iin, hehe.

Cerita seperti ini saja saya ngetiknya bisa panjang lebar ya, haha. Entah kekurangan atau kelebihan. Disyukuri sajalah. Belum tentu semua orang yang kalau disuruh ngetik cerita panjang-panjang bisa. Meskipun intinya hal remeh temeh seperti ini. Hehe. Inti cerita ini itu bisa dibahasakan dengan singkat. Tapi kok saya tidak mantap kalau cuma bilang singkat. Ingin menyampaikan seutuhnya tanpa ada yang kurang, biar tidak menyesal, hehe. Mbulet tidak sih? Muter-muter tidak sih. Mbuhlah yang penting saya ingin menulis ini dan keinginan saya tersebut sudah tertunaikan, hehe. Salam blogging!!! :)


Kamis, 15 Juni 2017

Definisi Sukses

Definisi sukses setiap orang bisa berbeda-beda. Tapi kebanyakan orang menganggap orang sudah sukses kalau kaya + terkenal, atau kaya + keluarga tampak sempurna. Itu umumnya ya, tapi guru saya selalu menyuruh untuk membuat definisi sukses sendiri.

ilustrasi: https://openclipart.org/detail/227186/success-graph

Rasulullah SAW adalah seorang hamba Allah yang sukses, namun meskipun pandai berdagang, Rasulullah memilih tidak hidup bergelimang harta. Rasulullah memilih untuk hidup sangat sederhana. Rasulullah pun justru memilihkan Fathimah seorang Ali sebagai suami  yang secara materi kekurangan. Saat Fathimah meminta bantuan dari Rasulullah berupa harta agar bisa meringankan bebannya, Rasulullah justru menyuruh Fathimah untuk berdzikir. Semakin banyak harta yang dititipkan Allah ke kita memang makin lama hisab kita di hari akhir nanti.

Jaman sekarang, siapa sih yang tidak ingin kaya? Saya juga ingin. Bukan berarti orang jaman dulu lebih banyak yang gak ingin kaya dibanding sekarang sih. Itu kan harus dibuktikan pake riset ya. Intinya seperti yang kita lihat kebanyakan orang ingin kaya. Lebih sering dengar orang ingin kaya kan daripada orang ingin miskin? Hehe. Seolah banyak masalah bisa selesai dengan harta. Padahal sebenarnya belum tentu juga. Bisa jadi kita belum dapat hidayah (petunjuk) saja dari Allah atas solusi yang belum tentu harta solusinya.

Mungkin kita belum dapat hidayah karena terlalu banyak dosa. Tiap istighfar, gak bisa khusyuk, sudah gak bisa khusyuk, belum dapet 10 kali udah gak bisa fokus. Istighfar memang banyak faedahnya, tapi susah buat ngejalaninnya dengan kontinyu dan penuh kekhusyukan. Rasulullah SAW, hamba Allah paling sempurna, istighfarnya lebih dari 70 kali per hari. Kita yang dosanya gak kira-kira boro-boro 1000 kali, 10% nya aja sudah kemajuan pesat. Eh kok kita terus sih ya? Padahal saya sendiri, bukan kita, iya saya yang sudah jelas parah ini, bukan teman-teman yang sedang baca tulisan ini, hehe.

Kalau buat saya sendiri, sukses itu bukan ketika orang-orang bilang kita sukses. Sukses itu ketika berhasil mencapai apa yang ingin kita capai. Belum tentu apa yang ingin kita capai tersebut berupa kekayaan dan keterkenalan.

Saya tidak bercita-cita untuk masuk forbes sebagai orang terkaya di dunia. Buat kalian yang ngerti posisi saya sekarang bisa jadi kebanyakan bakal bilang, "Yakali mbok yo yang realistis ah!" atau malah kasihan karena omongan saya ketinggian, gak lihat realita diri, hehe. Tapi tenang aja meskipun saya menyebut itu, seperti saya sebut diawal paragraf ini, itu bukan cita-cita saya. Saya sebut di awal karena pada umumnya orang kalau disuruh menggantungkan cita-cita setinggi langit ya cita-citanya seperti itu. Menjadi yang "paling" dalam bidang yang ia tekuni, misal jadi CEO perusahaan terbesar di dunia saat ini, mendapat nobel, menjadi presiden, menjadi sekjen PBB, dll.

Cita-cita saya adalah ingin mengentaskan kemiskinan dalam diri saya sendiri, keluarga dekat, dan daerah setempat. Tidak luas-luas, cukup daerah setempat. Setelah saya tulis, melihat usia saya sekarang ini dan usia rata-rata orang jaman sekarang ya waktu yang saya miliki sepertinya hanya cukup untuk program pengentasan kemiskinan di daerah saya.

Tapi saya ingin program kelak saya buat di duplikasi di daerah lain oleh orang lain. Saya juga ingin melatih generasi muda agar bisa terus melanjutkan program ini, hingga program ini berhasil mengentaskan kemiskinan dunia. Saya ingin punya pondok yang melahirkan kader-kader penumpas kemiskinan, yang tidak hanya menggerakkan diri sendiri tapi juga menularkan gerakannya kepada orang lain. Sehingga banyak gerakan serupa di daerah lain, bahkan belahan dunia lain. Dunia pun jadi lebih baik.

Mimpi saya sosial banget ya. Padahal posisi saya sekarang orangnya tidak cukup sosial. Tapi ya memang itu mimpi saya. Orang boleh pesimis karena kondisi saya sekarang ya memang seperti ini, hehe. Tapi meskipun saya sudah melewati usia seperempat abad, saya masih under thirty. Tidak boleh terlalu berkecil hati. Saya tidak terlalu terlambat. Orang Kapten Sanders aja baru sukses di usia kakek-kakek.

Seperti saya bilang sebelumnya, target pertama adalah pengentasan kemiskinan dari diri saya dahulu. Baru melebar ke keluarga dekat dan kemudian ke masyarakat. Mengajak orang lain melakukan hal yang sama serta mengkader generasi penerus agar tingkat kemiskinan masyarakat dunia bisa terus menerus berkurang. Selain mengajak orang lain dan mengkader generasi penerus saya juga ingin mereka yang saya ajak dan saya kader mampu mengajak dan mengkader orang lain untuk membuat dunia lebih baik. Orang-orang yang mereka ajak dan kader pun juga begitu, sehingga program ini terus meluas dan tidak pernah terputus. Hingga dunia ini terbebas dari kemiskinan terus dan terus, aaamiiin.

Sekarang soal keterkenalan. Meskipun saya ingin membuat sebuah program dan ingin program tersebut dikloning oleh banyak orang secara terus menerus tak putus-putus kecuali Allah menghendaki sebaiknya program tersebut putus (misal sudah mendekati kiamat), saya tidak ingin menjadi seorang yang terkenal. Saya kira bisa menyebarluaskan program positif tanpa harus kita menjadi terkenal terlebih dahulu.

Mmmm... caranya gimana yaa.. Bisa pakai sejenis nama pena. Contoh kongkritnya seperti salah satu guru saya, @motivatweet yang kerap disapa Bang Motty. Sampai sekarang belum terbongkar siapa @motivatweet sebenarnya. Meskipun begitu Bang Motty bisa menyebarkan virus-virus positif yang membuat orang-orang jadi lebih baik. Bisa kan sembunyi dibelakang nama pena atau apalah istilahnya yang lebih cocok, hehe.

Ketika seseorang menjadi terkenal, maka saat itulah orang-orang memakaikan baju putih padanya. Noda alias kesalahan sedikitpun akan sangat terlihat dan itu membuat seorang yang terkenal jadi tampak sangat buruk, sangat hina. Susah kan. Gampang mendapat pujian gampang pula mendapat cacian. Mudah melambung, tapi juga mudah jatuh hingga hancur.

Padahal kesalahan adalah sesuatu hal yang manusiawi. Susah menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan. Selain itu seorang yang terkenal juga rawan fitnah ketika dianggap mengancam kepentingan orang lain. Ada orang-orang yang ingin dunia lebih baik untuk semua orang, ada orang-orang yang serakah, tidak memedulikan orang lain dan alam. Ya begitulah ancaman-ancaman buruk untuk menjadi seorang terkenal. Mudah dipuji mudah dicaci. Lebih baik diam-diam di belakang layar.

Meskipun begitu, kadang terbersit keinginan untuk jadi terkenal. Agar banyak teman, dibilang keren sama orang-orang. Padahal saat kita terpuruk, mereka yang tetap mau bertemanlah mereka yang tulus. Sedangkan ketika kita terkenal bakal banyak teman yang mendekat, belum tentu mereka tulus dan masih tetap mau menemani kita ketika kita jatuh. Saya lebih percaya mempraktekan buku "How To Win Friends and Influence People" nya Dale Carnegie lebih banyak menghasilkan teman daripada menjadi seorang yang haus pujian ingin dibilang keren sama orang-orang.

Ya begitulah, lebih aman menjadi tidak terkenal. Menciptakan karakter baru seperti halnya @motivatweet. Daripada membuat diri sendiri menjadi terkenal lebih baik membuat suatu karakter yang terkenal. Karakter bisa bebas dari aib sedangkan manusia, apa ada orang-orang di sekitar kita sekarang yang tidak punya aib?

Menjadi terkenal itu belum tentu pilihan tetapi juga bisa karena takdir. Misal mbak-mbak tambal ban cantik, bisa jadi dia tidak ingin terkenal tetapi karena ada seseorang yang memposting foto mbak-mbak tambal ban cantik lalu postingan itu viral dan si mbak-mbak jadi terkenal sampai sering masuk tv, main sinetron dll, si mbak-mbak tambal ban cantik ini pun jadi terkenal tanpa dia rencanakan. Selain menjadi terkenal karena takdir bukan karena pilihan, sah-sah saja juga kalau seseorang ingin terkenal dan berusaha membuat dirinya terkenal. Tidak ada yang salah. Seorang yang terkenal bisa lebih cepat menularkan sisi positifnya ke orang banyak kan.

Mau menularkan sisi positif lewat menjadi orang terkenal atau tidak menjadi orang terkenal itu tidak masalah. Poin pentingnya adalah menularkan sisi positif. Membuat dunia menjadi lebih baik.

Akhirnya semoga cita-cita saya tercapai, dan saya tidak menjadi orang yang haus pujian alias ingin dibilang keren sama orang-orang. Ini definisi sukses saya. Bagaimana dengan definisi sukses teman-teman? Eh tapi seorang anak SMA yang ingin lulus UN, bisa dibilang sukses kalau dia lulus UN tanpa kecurangan (tanpa menyontek, membeli jawaban, dll). As simple as that. Kamu ingin jadi orang seperti apa ketika tercapai ya kamu sukses. Tapi itu menurut saya ding ya, bisa jadi teman-teman sependapat atau punya pendapat lain, sah-sah sajaaa.. 

Mencari Nasi Thiwul #4: Malah Dapet Sunset

Balik lagi ke 2014. Meskipun aku sudah membuat resume pencarian nasi thiwul kurang sreg rasanya kalau aku tidak menyelesaikan cerita pengalaman pencarian nasi thiwul yang sampai #5. Ya, meskipun ini sudah 2017. Tapi di #4 ini aku masih gagal makan nasi thiwul Gunungkidul, malah dapet sunset gara-gara mbakku ngotot pengen ke pantai, eladalah sesampainya di pantai malah keasikan sampai matahari mulai tenggelam. Ya inilah sunset pertamaku, dan aku belum pernah lihat sunset lagi habis itu. *kurang dolan*

Sunset di pantai wedi ombo, gunungkidul, yogyakarta

Meski awalnya berat ngeladenin permintaan mbakku yg ngotot, dikiranya pantai-pantai itu deket banget sama wonosari, dan ternyata rasanya lebih jauh dari jarak jogja-wonosari, aku lega juga akhirnya bisa nikmatin sunset. Ngerasain seremnya naik motor sendirian boncengin mbakku melewati perbukitan Gunungkidul, hutan-hutan Gunungkidul yang mana gelap dan cuma bisa memaksimalkan penglihatan, akal dan intuisi dari Allah buat bisa keluar dari Gunungkidul. Sempat mau nyasar di satu lampu merah sebelum akhirnya sampai Wonosari, diselamatkan oleh Allah lewat seorang warga yang baik hati nunjukin jalan ke Wonosari yang tinggal sedikit lagi. Hmmm.. untung Allah kasih pertolongan, kalau nggak, nangislah bingung nyasar, mending kalau nyasar di perkampungan yang ada banyak orang, lah kalau di hutan belantara?

Sampai rumah hampir jam 9 malam, alhamdulillah bisa sampai dengan selamat :)

Seneng sih pernah nikmatin sunset di pantai Gunungkidul, dan berangkatnya cuma pakai satu motor, boncengan sama mbakku. Soalnya ciwi2 suka pada ogah ke Gunungkidul kalau personil rombongannya cuma ciwi2 dan naik motor. Rombongan yang isinya ciwi2 semua aja pada ogah, apalagi kalo cuma berdua boncengan motoran ciwi semua. "Mustahil" kalau gak ngajak mbakku yg ngotot minta ke pantai, hehe. Sensasi naik motor malem2 gelap ngandelin intuisi dari Allah emang seru tapi sampai sekarang aku gak mau kalau suruh ngulangin, hehe. High risk. Pas itu kami bisa selamat sampai rumah tanpa gangguan + cuma nyaris nyasar sekali itu ya atas berkat pertolongan Allah SWT.

Kamis, 18 Mei 2017

13 Mei 2017

Iseng-iseng buka statistik blog aaahhh.. Eh kok ada pemandangan menarik, hampir aja aku telat taunya... Coba tau kemarin-kemarin ya, kan jadi tahu postingan mana yg bikin tampilan statistik blogku jadi kayak gini:


Ada lonjakan kunjungan di tanggal 13 Mei 2017. Kok bisa? Emang ada pesta? Kok mendadak jauh lebih rame? Halah bahasanyaaa.. lonjakaannnn... padahal angkanya recehnya receh, hehe

Btw blogku sepi ya, wkwkwk. Seribuan itu total views bulanan, bukan harian. Ga apalah. Ga jadi nomer satu jadi nomer dua juga sabiiii. Apa sih. Sok iya. Padahal aku tu lulus aja terakhir, lahir juga terakhir alias anak bontot. Tapi jangan macem-macem sama yang lulus akhir2 +  bontot loh ya, haha. karena mantan mahasiswa abadi yang lahir bontot itu "istimewa" *mendadak pake logat ceribel*

Akhir kata, terimakasih sudah membaca postingan dari blog receh ini. Sereceh apakah blogku? Ya kayak gini, rangking alexa aja gak punya:

Selasa, 09 Mei 2017

Keluar Quick Mode Acer Z520

Setelah terperangkap dalam Quick Mode Acer Z520 yang bikin kzl, akhirnya pagi ini aku dapat pencerahan. Ini dia langkah cepat keluar dari Quick Mode Acer Z520:

1. Geser layardari atas  ke bawah sekali aja nanti bakal keluar tampilan kayak gini:

2. Sentuh icon gear dipojok kanan bawah.

3. Jika diminta untuk memasukkan pin dan kamu belum pernah membuat pin, coba masukkan empat angka ini: "1111" saja tanpa tanda petik.

3. Setelah muncul tampilan seperti dibawah ini sentuh "Keluar dari Tampilan ..." yang ada di pojok kiri bawah.


4. Taraaaa... Acer Z520 kamu sudah kembali ke tampilan semula! :D


Rabu, 26 April 2017

Buang Gengsi

Guru saya selalu mengajarkan untuk buang gengsi. Meskipun mampu jalan-jalan ke luar negeri, guru saya tidak pernah pamer foto foya-foya di luar negeri. Beliau mengajarkan, kesuksesan bisnis itu bukan buat gengsi. Tetapkan angka cukupmu. Jangan mudah meningkatkan gaya hidup apalagi memaksakan gaya hidup di kala bisnis masih berproses, belum banyak menghasilkan. Sesuai kata ketika penghasilan naik tingkatkan sedekah, bukan tingkatkan gaya hidup. Kalo aku sih masih gini2 aja, masih kurang belum surplus, hehe.

Keputusan-keputusan anti mainstream yang memang kita anggap baik buat hidup kita itu bagus banget buat melatih membuang gengsi. Misal seperti guru saya yang memilih home schooling untuk anaknya. Meskipun banyak orang yang kontra. Kalau cuma mengikuti kata orang banyak tidak sesuai yang ada di hati ya susah, nanti jadi kayak kisah bapak anak yang bawa keledai. Udah kan ya ikutin kata hati aja.

Contoh keren lainnya adalah lulus S1 10 tahun lebih. Pada umumnya orang menganggap buruk para mahasiswa abadi. Tapi saya enggak, perjuangan mahasiswa abadi apalagi sampai baru lulus 10 tahun lebih itu keren loh. Apalagi untuk menghadapi masyarakat yang menganggap mahasiswa abadi sesuatu yang sangat buruk. Kalo saya sih gak ada keren2nya, kalah saya sama yang 10 tahun lebih, saya 7 tahun, itu pun cuma karena kebanyakan galau mikirin skripsi sejak semester 11 tapi cuma dipikirin gak dikerja2in XD.

Maksud paragraf sebelumnya bukan buat ngajak pembaca ikut-ikutan kuliah lama yaa... Kalau masih semester 7 8 ya mending segera dikelarin skripsinya. Saya juga sebenernya pengen lulus di semester 10, tapi ternyata saya gagal menggerakkan diri untuk segera menyelesaikan skripsi, hehe Sekalinya nyoba nunda2 ngerjain skripsi eh keterusan. Jadi susah menggerakkan diri buat gak nunda2 skripsi lagi, itu sih saya.

Saya cuma mengajak pembaca untuk jangan langsung judge negatif mereka yang gak lulus di semester 8. Apalagi pembaca masih semester 1-7, hati-hati kualat. Nasib orang gak ada yang tahu. IP 4 terus ambil sks maksimal terus gak menjamin seseorang lulus cepat. Bisa banget loh teori 3,5 tahun, skripsi 4,5 tahun. Godaan buat nunda ngerjain skripsi tu gede banget loh. Tapi ya gak semua yang lulus telat itu cuma gara-gara kebanyakan galau kayak saya, bisa jadi mereka punya alasan yang bikin pembaca manggut-manggut waktu dengar alasannya kemudian pembaca menyesal sudah berprasangka negatif.

Guru-guru Saya

Sekarang, di era semuanya serba online, kita bisa belajar dari mana saja. Bisa mendapatkan ilmu dari mana saja. Kita bebas memilih guru sesuai bidang yang ingin kita tekuni. Kita bebas memilih siapa yang ingin kita gugu dan kita tiru. Meskipun ya memang di era informasi yang sangat pesat ini, kita harus berhati-hati dalam memilih guru. Jangan sampai yang sesatlah. Jangan coba-coba jadi komunis dsb. Ingat pancasila, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila-sila berikutnya.


sumber: https://www.flickr.com/photos/halfchinese/165719204
Sekarang pilihan guru tidak hanya mereka yang berada satu kota dengan kita, kita bisa dengan mudah dapat update ilmu bahkan dari tokoh-tokoh di luar negeri. Misal kita nge fans dengan Bill Gates kita bisa secara berkala mengikuti socmednya. Tapi tidak semua orang terkenal sering berbagi ilmu via socmed sih, bahkan tokoh yang tidak suka dengan socmed juga ada.

Kalau saya, yg selama ini saya anggap sebagai guru ya Pak Jaya Setiabudi dan entrepreneur-entrepreneur keren disekitarnya, antara lain Mas Fikry Fatullah, Kang Dewa Eka Prayoga, dan Motiva Tweet. Mereka itulah yang saya kemungkinan besar maksud jika suatu ketika saya bilang guru saya. Meskipun secara resmi saya bukan murid mereka dan mereka bisa jadi tidak tahu kalau ada manusia yang bernama Feni Tri Utami, haha. Kalau stalking saya paling sering Pak Jaya, sering dapat pencerahan dari sana tidak hanya soal bisnis tapi juga tentang kehidupan dan keimanan.


Akhir tahun kemarin saya sempat ikut program mentoring online dengan salah satu dari beliau-beliau yang saya anggap sebagai guru saya tersebut. Dan saya jadi tahu bahwa mentoring bisnis itu tidak mudah. Tidak mudah mengerjakan tugas-tugas yang diberika dengan penuh komitmen. Ya sampai sekarang diluar mengerjakan tugas saya tidak pernah konsultasi. Iya, padahal kalau punya mentor bisnis itu ya pengennya jadi tempat konsultasi ya, tapi nyatanya saya tidak enak mau konsultasi, karena belum mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Tapi jujur ilmu dan keterampilan yang berusaha ditransfer benar-benar ilmu mahal yang membuat saya jadi o ya ya, beberapa update mereka di socmed yang awalnya saya gagal paham jadi paham setelah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Ya begitulah, bener-bener worth it, beda dengan yg gratisan. Sebelumnya saya pernah ikut mentoring gratisan dari sebuah komunitas bisnis muslim. Tapi cuma jalan dua pertemuan, pertama cuma kenal-kenalan sesama anggota sekelompok, kedua disuruh bikin visi misi value, sudah. Selesai itu sudah berhenti, tidak jalan. Ya selama ini saya baru ikut mentoring bisnis 2 kali sih. Sebelumnya pernah ikut mentoring atau lebih tepatnya disebut coaching bisnis sih sama teman-teman di kampus dengan coach para dosen. Tapi ya cuma jadi subjek penelitian, selesai penelitian ya selesai coachingnya. Secara waktu jadi coachee itu aku juga belum nemu passionku alias olshopku yg sekarang belum berdiri, jadi ya agak ogah-ogahan, haha.

Jadi inget sebelumnya juga pernah ikut mentoring bisnis yang ngadain Kopma UNY, tapi gak jalan juga. Cuma tiga pertemuan, pertama kenalan, kedua sharing masalah bisnis masing-masing di kelompok, ketiga curhat sama mbak dewi mantan ketua kopma soal bisnis. Udah itu aja. Gratisan juga. Pas aku belum nemu passion juga, pas olshopku yg sekarang belum berdiri juga.

Jadi total aku udah pernah mentoring bisnis 4 kali, yang bener-bener jalan cuma yang mentoring online dengan salah satu beliau-beliau yang saya sebut sebagai guru, itupun gak pakai acara konsultasi sama sekali, cuma mengerjakan tugas yang diberikan secara bertahap. Ya namanya aja mentoring berbayar beda jauh sama yang gratisan. Buat temen-temen yang pengen ikutan mentoring bisnis, yang paling penting untuk dipersiapkan memang komitmen, buat mengerjakan tugas-tugas dari mentor.

Buat yang pengen ikut mentoring bisnis gratisan tapi jalan bisa gabung di Rumah Kreatif Jogja. Aku juga baru tahun ini tahunya waktu dengerin acara kongkow bisnis geronimo. Aku sekarang gak selalu ngikutin acara radio ini sih, bagus sebenernya materi diarahkan biar bener-bener bermanfaat buat bisnis para pendengarnya. Tapi gak sekocak dulu waktu dibawain sama bos sedekah rombongan, Saptuari Sugiharto. Jadi kurang ngakak aja. Lah, ini dengerin buat upgrade ilmu buat bisnisnya apa dengerin lawak ya, jiah kena, haha. Sebenernya aku dengerin buat cari ilmu apa hiburan? XD Kayaknya emang cari hiburan, udah lama ninggalin tv soalnya banyak yang gak asik tontonannya, wkwkwk.

Aku sendiri sih, belum pernah mampir ke Rumah Kreatif Jogja. Kalau lihat foto-fotonya kelihatan asik banget sih tempatnya, kalau haus juga bisa beli minum, bikin sendiri minumnya. Desain tempatnya kekinian. Aku baru lihat di socmed tapi, belum kesana sendiri, haha. Rumah Kreatif Jogja ini didirikan oleh pemerintah untuk membantu umkm agar naik kelas. Jadi bakal ada program konsultasi bisnis gratis, inkubasi bisnis, mempertemukan entrepreneur dengan pekerja kreatif yang sekiranya dibutuhkan entrepreneur untuk bisnisnya, serta mempertemukan entrepreneur dengan para investor. Menjawab semua yang dibutuhkan umkm ya.

Kapan-kapan pengen ngajak temen buat ke Rumah Kreatif Jogja. Udah daftar di webnya aku buat jadi anggota, udah dimasukin grup whatsapp Rumah Kreatif Jogja sama adminnya tapi belum pernah dateng kesana sama sekali. Terus buat yang pengen mentoring, ada kewajiban konsultasi sebulan sekali dan harus ada progressnya. Kalau bolos mentoring sama gak ada progress kayaknya bakal gak boleh ikut mentoring lagi di Rumah Kreatif Jogja yang aku tangkep di grup whatsapp. 

Aku cuma silent reader sih di grup whatsapp. Cuma memperkenalkan olshopku sama tanya program, udah. Itu pun gak ada yang nanggepin satu pun. Kasian ya, wkwkwk. Lah rame banget, aku cuma sebutir pasir yang nyempil di keset dari sabut kelapa, gak keliatan blas XD. Males ikut gabung sama percakapannya, selain belum pernah kesana, kadang obrolannya cuma ngalor ngidul, kadang ketinggian juga, ra gadhuk aku, wkwkwk.

Cuma ya di Rumah Kreatif Jogja yang disingkat RKJ ini milik pemerintah, jangan harap kita bakal dapet wejangan yang berbau religius seperti yang kadang disampaikan guru-guru saya (Pak Jaya Setiabudi dkk). RKJ ini milik pemerintah jadi kita dilarang terlalu membahas agama kita di sini. Itu sih yang saya lihat di grup. Pernah ada yang disemprit juga di grup.

Jadi yang saya lihat disini nantinya kita bakal diberi ilmu dan keterampilan manajemen, promosi, dll. Ya mirip-mirip kuliah di manajemen tapi ini jelas lebih aplikatif buat umkm. Kekurangannya ya memang kurang komprehensif karena fokus ke ilmu dan keterampilan sisi ketuhanannya jadi urusan pribadi masing-masing alias yang saya lihat disini sepertinya tidak bakal dibahas. Ini agar semua anggota dari berbagai macam sara bisa nyaman disini. 

Tapi entah kapan aku mulai ke RKJ, sejak awal Maret salah satu rencana hidupku hampir hancur berantakan soalnya. Gara-gara dianggap pungguk yang merindukan rembulan. Sebelum akhirnya kehilangan kesempatan sama sekali ini dari kemarin menyusun strategi dan keberanian biar gak nyesel seumur hidup gara-gara kehilangan kesempatan berbicara dan mendengar.

Ya itu semua gara-gara aku gak mengerjakan tugas mentoring online dengan baik dan benar sih. Kalo tak kerjain dengan baik dan benar bisa jadi aku gak bakal dianggap pungguk yang merindukan rembulan. Padahal abis yudisium aku udah nolak tawaran jadi manajer di bisnis ibu2 muda sekomunitas entrepreneur muslim yang omset bisnisnya udah sampai 5 milyar perbulan. Apalagi kalau bukan karena yakin kalo aku bakal dpt lebih banyak dari bisnisku drpd gaji perbulan jadi manajer disana. 

Tapi ya itu, ternyata aku gagal disiplin dan sekarang masih gini2 aja. Penghasilan perbulan paling juga sama kayak dosen lulusan S1 di sekolah tinggi swasta pinggiran yang bosnya ngirit. Ya pantes ya kalo dianggep pungguk yang merindukan rembulan. Apalagi keluargaku bukan keluarga terpandang dan saudara kandung maupun iparku gak ada yang jadi pejabat macam anggota dewan. Tetep aja sih ya, title dosen kelihatan jauh lebih mentereng dibanding pengangguran pakai tapi kayak aku ini, wkwkwk.

Selasa, 25 April 2017

Gak Sadar Bikin Fan Page

Jadi aku punya 3 akun facebook atas namaku. Akun yang pertama banget dulu sempat aku ubah namanya jadi olshop gara-gara aku juga mau menghilang pas skripsi gak selesai-selesai. Takut ditanya-tanyain, takut jadi makin stress gara-gara ditanya-tanyain. Sedang aku susah dapetin mood buat ngerjain skripsi, hehe. Bisa makin hancurlah moodku kalau ditanya-tanya terus. Itu dulu ya, sebelum aku lulus :).

Merasa butuh facebook, aku buat lagi facebook yang mana isi teman-temannya gak bakal rusuh nanyain skripsi, hehe. Selama belum mendekati ancaman D.O. aku lebih sering buka facebook ini. Biar tetep bisa masuk grup khusus follow up kelas workshop yang dulu pernah aku ikutin juga sih. Soalnya akun facebook yang pertama dulu mau aku konvert jadi fan page olshop. Tapi sampai sekarang gagal gara2 peraturan facebook yang berubah.

Setelah mendekati ancaman D.O. Mau gak mau aku beranikan diri ke kampus buat memperjuangkan kelulusan. Akhirnya aku aktifin facebook yang sempat aku telantarin dulu, facebook ketiga ini, yang sekarang paling sering aku buka. Aku add temen2 yang sekiranya efeknya positif ke perjuangan kelulusanku. Masih selektif juga aku add nya, jadi jumlah temannya gak sebanyak di facebook yang pertama.

Nah waktu buka akun ketiga ini, aku pernah dapet notif dari facebook soal fan page2 gitu. Nah aku ikutin aja petunjuknya disuruh ngapain. Tapi gak sepenuhnya sadar sebenernya aku ngapain, tak kira cuma ditunjukin fitur fan page aja sama facebook.

Hari-hari selanjutnya gak pernah aku pikirin lagi. Sampai suatu saat aku buka facebook, aku kan emang jarang update status di facebook. Aku heran kok pas mau liat profil facebookku, disisi kanan akunku ada 2. Tapi aku ga terlalu mikirin, entahlah biar batinku.

Kadang ada notif, xxx like your page. Agak bingung sih, soalnya aku merasa gak pernah bikin fan page pake akun fbku yang ketiga ini. Tapi ya gak tak pikirin.

Sampai akhirnya aku iseng-iseng buka dengan kesadaran penuh, memecahkan teka-teki selama ini. Daaannnn... ternyata dulu aku gak sengaja bikin fan page, dan fan page nya namaku sendiri!!! Ya Allah malu banget mana temen-temenku pada nge like. Gak semua temen di fb nge like. Tapi cuma sedikit temen fb yang ga nge like. Ya Allah kok baik2 sih mereka, padahal banyak yang belum pernah ketemu apalagi ngobrol di dunia maya sekalipun. Ada blogger2 keren yang mana aku cuma remahan wafer dibanding mereka. Aku banyak add anggota KEB sih, mereka emang baik-baik banget ternyata, mau banget nyenengin unknown person kayak aku, haha.

Anehnya, yang ngelike jumlahnya lebih dari jumlah temanku di fb itu dan yang ngefollow fan pageku lebih banyak daripada yang ngelike fan pagenya. Apa facebooknya yang error jadi gak sengaja nyenengin aku ya, haha. Padahal ya, itu fan page isinya cuma foto profil sama foto header yang sama persis kayak akun fb ketigaku itu. Timeline isinya cuma Feni Tri Utami upload profile picture yang mana pp nya blur. Kenapa blur, soalnya kan emang tak setting pikselnya rendah biar jeleknya gak keliatan, hehe. Kalau di pp gak keliatan fotonya kalau blur, kalau di timeline kan gedean ya fotonya, jadi keliatan kalau blur. Setelah sadar aku sembunyiin fotonya.


Selasa, 20 Desember 2016

Tes Mimpi

Pernah tidak, ketika kita tidur dan bermimpi kita sadar kalau itu hanya mimpi dalam tidur. Sadar di dalam mimpi, mungkin tidak sih? Bukankah tidur itu kondisi ketika kita sedang tidak sadar. Umumnya kita baru sadar kalau kita tadi bermimpi ketika bangun tidur, ketika dalam kondisi sadar.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/mcali/5927212958/
Kalau di televisi seringkali si artis mencubit dirinya sendiri untuk mengetes apakah yang sedang dia alami hanya mimpi atau kenyataan. Biasanya sih ketika mereka menghadapi kenyataan yang susah untuk dipercaya, "seperti mimpi" istilahnya. Mencubit diri sendiri untuk meyakinkan diri kalau itu merupakan kenyataan bukan hanya dalam mimpi. Seingat saya tidak pernah ada adegan dimana si artis ceritanya benar-benar berada di alam mimpi kemudian mencubit diri sendiri terus bangun.

Betul tidak sih, kalau kita sedang berada di alam mimpi kalau dicubit tidak merasa sakit. Berarti kalau di alam mimpi kita di pukul, dsb di alam mimpi tersebut kita jadi seperti orang kebal dong. Berarti kalau di alam mimpi kita semua bisa bikin pertunjukan jadi orang kebal, tidak sakit mau dicubit, dipukul, terkena pisau, dan lain-lain. Kalau kita bermimpi jadi tukang tinju, meskipun dalam mimpi kita kalah, kita berarti tidak bisa merasa sakit dan babak belur dong kalau dipukul dan dihantam lawan.

Sebenarnya betul tidak sih kalau sedang di alam mimpi kita tidak bakal merasa sakit kalau dicubit? Betul tidak sih kalau di alam mimpi kita selalu jadi manusia kebal dari rasa sakit yang diakibatkan oleh serangan fisik?

Sumber: https://www.flickr.com/photos/ganmed64/14511373503/
Entah kenapa saya pernah berada di alam mimpi dimana saya curiga kalau saya sedang bermimpi. Apakah itu berarti saya sadar kalau saya sedang bermimpi? Sepertinya sih tidak. Kecurigaan berada di alam mimpi saat bermimpi itu bisa ternyata. Bermimpi sedang sadar kalau sedang bermimpi, ya tiba-tiba saat nulis ini sekarang saya jadi menyimpulkan kalau saat itu saya tidak sadar dalam arti sadar sesungguhnya.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/alexander_mueller_photolover/22457295216/
Bisa diibaratkan seperti past continuous tense kali ya. Sedang melakukan tapi di masa lampau. Bukan "sedang" dalam arti yang sesungguhnya (bukan "sedang" sekarang). Jadi ya sadar dalam arti mimpi sedang sadar, hehe. Bukan sadar dalam arti yang sesungguhnya. Bukan sadar bangun tidur. Kalau bangun tidur kan sudah keluar dari alam mimpi, hehe.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/alexander_mueller_photolover/22457295216/
Nah, mimpinya itu saat itu saya sedang berada di sebuah lorong di kampus bersama teman-teman saya. Saat itu saya curiga kalau saya sedang berada di alam mimpi. Tidak ada kenyataan yang susah dipercaya saat itu. Cuma saya curiga aja kalau ini mimpi, lalu saya tanya teman saya, kurang lebih seperti ini: "Ini mimpi bukan sih?" Lalu teman saya menjawab kurang lebih: "Bukan," lalu teman saya itu mencubit saya dan saya merasa sakit di mimpi itu. Iya di alam mimpi itu saya merasa sakit.

Setelah dicubit di alam mimpi sama teman saya, saya tidak langsung bangun. Mimpi saya berlanjut, saya masih tetap tidur. Hingga ketika saya bangun, ternyata saya tidak merasa sakit seperti yang saya rasakan di alam mimpi. Tidak ada bekas cubitan teman saya juga. Ternyata ketika sedang bermimpi kalau dicubit ya kita tetap merasa sakit, tapi ya cuma sakit saat di alam mimpi, tidak terbawa sampai ke alam nyata, hehe. Mimpi ternyata tidak bisa membuat kita jadi manusia kebal dari rasa sakit akibat dilukai secara fisik. Rasa sakit ketika dicubit ternyata tidak bisa dijadikan alat tes apakah kita sedang berada di alam mimpi atau alam nyata.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/arwen-abendstern/2142054908/

Saya mimpi curiga sedang berada di alam mimpi itu sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Sudah ingin cerita tentang itu di blog dari dulu. Tapi baru kesampaian sekarang. Buat wawasan saja. Senang juga bisa cerita panjang lebar disini. Keinginan bercerita pengalaman ini jadi terlampiaskan, hehe. Terimakasih sudah membaca :)

Senin, 05 Desember 2016

Mentoring Bisnis

Anak-anak muda yang berniat menjadikan entrepreneur sebagai profesi biasanya ingin sekali punya mentor bisnis. Termasuk aku, sudah lama sekali ingin punya mentor. Dalam bayanganku punya mentor itu enak, ada masalah bisnis apa langsung punya tempat konsultasi yang kompeten.

Suatu ketika aku mendengarkan acara Kongkow Bisnis, Radio Geronimo. Tema yang sedang dibahas adalah mentoring bisnis. Aku sering dengar si A berhasil jadi mentee pengusaha B, dsb. Sudah dapat beberapa tips agar berhasil mendapatkan mentor bisnis. Tapi semua tidak ada yang tuntas membahas soal bagaimana caranya agar seorang mentee tidak membuat mentornya illfeel. Makanya di acara tsb aku request agar dibahas juga soal etika yang harus diketahui seorang mentee selama proses mentoring. Jawabannya adalah komitmen.

Pada acara itu disebutkan bahwa menjadi mentee itu bukanlah hal yang mudah. Acara itu dipandu oleh seorang penyiar radio dan pebisnis yang ketika itu pernah menjadi mentor bintang tamu. Si bintang tamu sempat kabur selama beberapa saat ketika mentoring karena tugas-tugas yang diberikan mentor, meskipun kemudian balik lagi. Ya, ternyata mentoring itu tidak seindah yang dibayangkan, ada tugas dan laporan. Menjaga komitmen bukanlah hal yang mudah.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/stevendepolo/4498182031
Hingga akhirnya 2 hari setelah siaran radio itu aku resmi dapat mentor. Tugasnya memang gila-gila sih. Diantaranya sampai membuatku dipandang aneh sama orang-orang. Diolok orang-orang. Dirasani orang-orang. Orang-orang yang tidak dikenal untungnya, hehe.

Tugas-tugas lainnya tidak sepele juga, tapi efeknya ke aku kena banget sih. Salah satu yang paling aku syukuri ya tugas-tugas dari mentorku ini bikin aku bisa ikut wisuda akhir November kemarin. Tapi yang namanya perubahan ternyata ya memang butuh proses.

Mentoring ini belum selesai dan aku masih sering galau tidak jelas. Tapi sudah banyak efek positif yang aku bisa rasakan sendiri terkait perubahan-perubahanku. Aku akui memang banyak sekali yang harus aku perbaiki dari kepribadianku. Meskipun belum terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Tapi perubahanku sudah aku rasakan dan nyata buatku.

Mentoring belum usai. Aku harap aku semakin bisa disiplin dan manfaat yang kuambil semakin kesini semakin maksimal. Karena aku masih sering galau tidak jelas sehingga berpengaruh pada pengerjaan tugas aku sempat bertanya, "Apa aku sebenarnya belum siap menjadi seorang mentee?" "Apa aku terlalu cepat mendapatkan mentor?" Tapi kemudian aku jawab, tidak.

Aku sudah mendapat banyak manfaat dan aku sudah merasakan perubahan-perubahan yang berarti buatku, salah satunya berhasil membuatku bisa ikut wisuda November 2016. Ya meskipun perubahan itu baru bisa aku rasakan dan tidak kasat mata oleh orang lain. Bukankah penilaian orang lain itu tidak penting? Jauh lebih penting penilaian Allah.

Penerapan bagaimana tidak mementingkan penilaian orang lain memang tidak mudah, padahal kalo sudah mikirin bagaimana penilaian orang lain itu riya ya. Ya begitulah, memang tidak mudah, salah satu cara untuk melatihnya yaitu dengan meletakkan rasa malu di tempat yang tepat. Jangan malu kelihatan miskin dsb. Tapi malu kalau suka nunda-nunda mengerjakan hal-hal yang harus segera dikerjakan. Malu kalau kurang bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri. Malu kalau sedikit-sedikit galau.

Minggu, 06 November 2016

Yudisium

dua beban jurusan manajemen ini akhirnya lulus juga, alhamdulillah :')


aku emang dah yudisium dari ... yg lalu
tapi yg jadi pertanyaan:
kenapa proses pengesahan gelar sarjana namanya yudisium?
darimana asal kata yudisium?

kenapa gak fenisium aja namanya? *duh mulai, efek kebanyakan micin xD*

hmm..

yudisium

cuma mengalami apa yg disebut syok aja sih tadi malem

sampe gak fokus, jadi salah transfer, trus menenangkan diri dengan ngopi dan makan nasi, kebetulan malem itu aku belum makan malam, abis makan malam sama ngopi aku malah kebelet pup, alhamdulillah keluarnya lancar, pup yg lancar itu serasa surga dunia, hati jadi lebih tenang juga

Online lagi nerusin nge twit. Abis ngetwit tertarik paraf petisi, mau paraf petisi A malah yg ke paraf petisi A sama B. Padahal dua petisi itu berseberangan. Mungkin aku memang dah tenang, tapi dah ngantuk juga. Udah jam sebelas malem lebih juga sih. Jadi pengen curhat lagi, pindahlah aku ke facebook nulis status. Kalo di twitter lagi nanti jadinya wagu soalnya. Soalnya dah tak setting kata terakhir itu yudisium. Buat ngetwit lagi jaraknya harus agak jauh. Biar enak dipandang juga. Wagu lah kalo abis twit terakhir itu aku ngetwit lagi, hehe.

Abis nulis status di facebook jam udah jam 12 malam. Aku malah gak jadi ngantuk. Terusin nulis status di facebook. Hal yg sama kayak apa yg aku tulis di twitter, cuma lebih singkat aja.

Yang jelas.

Tadi malem aku begadang, sampai jam dua lebih gak bisa tidur. Ya sama, kayak beberapa orang yg juga begadang di tempat mereka masing-masing. Ada yg begadang karena ronda, bersenang-senang, lembur, ngerjain tugas, dll.

Kemarin, beberapa orang ada yang bahagia, bahagia banget, amat sangat bahagia banget, ada yang bahagia tak terkira, ada yang sedih, ada yang galau, ada yang pesta pora, ada yang pesta aja, ada yang mager, ada yang ... (isi sendiri lah bebas, hehe).

Aku juga bahagia, bahagia banget. Iya bahagia banget kalo inget aku udah yudisium, meskipun itu udah ... yang lalu. Belum lama juga sih sebenernya, hehe. Masih anget, masih di tahun yg sama, masih di 6 bulan terakhir di tahun 2016. Rasa bahagianya masih aja meluap-luap (ini cuma hiperbola) kalo inget aku udah yudisium. Akhirnya ya, setelah 7 tahun menyandang status sebagai mahasiswa S1 aku lulus juga. Gak jadi di DO tu leganya kayak abis berhasil keluar dari kandang macan!! Alhamdulillah!! :'D

Karena aku update status di facebook tentang yudisium, temen2 pun jadi nyelamatin aku, ya sama, sama-sama bahagia sama orang-orang yang juga sedang dapet banyak ucapan selamat.

Intinya, kemarin dan tadi malem ada beberapa orang yg bahagia banget dan dapet ucapan selamat, semuanya begadang tadi malem, di tempat masing-masing. Semuanya bahagia. Happy Ending. :)

Kamis, 25 Agustus 2016

Something Horror

Masih menjadi mahasiswa di penghujung masa studi hingga terancam harus mengajukan perpanjangan masa studi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Sempat menghilang dari peredaran, tidak pernah nampak di lingkungan kampus selama 2 tahun lamanya membuat saya harus terbiasa dengan kesepian dan kesendirian. Ketemu teman yg sudah jadi dosen dan adik angkatan setahun persis yang sama-sama jadi mahasiswa uzur setidaknya bisa jadi sedikit obat kesendirian di kampus. Tapi ya emang teman-teman seangkatan yang saya kenal sudah tidak pernah ada lagi yg berkeliaran di kampus sebagai mahasiswa S1.

Kesepian dan kesendirian bukan apa-apa sih. Tidak terlalu saya hiraukan dan tidak begitu menganggu pikiran. Jalani saja. Something horror yang cukup sensitif buat saya adalah cerita-cerita dari para mantan mahasiswa semester 14 yang mengerikan. Ditambah pertanyaan dan pernyataan yang bisa bikin emosi langsung meledak-ledak, hahaha.


ilustrasi horror: httpswww.flickr.comphotosbrinzei

Bulan ramadhan Juni lalu saat saya mulai berniat akan segera ke kampus lagi untuk menyelesaikan skripsi, saya sempat minta wejangan dari seorang teman yang pernah merasakan menjadi mahasiswa semester 14. Katanya jangan sampai telat mengurus perpanjangan masa studi, kalau tidak mau di drop out. Jujur hal ini malah membuat saya jadi loyo. Ketakutan akan do membuat saya ragu melangkahkan kaki ke kampus. Ditambah pernyataan dari salah satu orang terdekat saya kalau waktunya sudah mepet seperti ini bakal susah untuk memperjuangkan kelulusan. Sempat bertanya kesana kemari bahkan sebagai anonim ke beberapa figur publik yang dikenal berpengalaman menjadi mahasiswa semester 14.

Alhamdulillah akhirnya saya beranikan diri, saya paksa diri untuk melangkahkan kaki ke kampus demi bertemu dosen mengurus skripsi dan bertanya tentang masa studi. Ketakutan saya untuk ke kampus hilang sudah. Setelah mengurus perpanjangan masa studi saya diberi tahu dekan bahwa saya tidak perlu mengurus perpanjangan masa studi karena masa studi saya masih sampai September 2016. Kalau September 2016 belum lulus barulah saya perlu membuat surat perpanjangan masa studi. Kata ketua jurusan saya, perpanjangan masa studi jangka waktunya 3 bulan sejak masa studi seharusnya sudah berakhir. Alhamdulillah, masih ada waktu sampai Desember 2016.

Meskipun begitu saya berharap saya tidak perlu melakukan perpanjangan masa studi, berharap September 2016 sudah bisa ikut yudisium. Tapi kalau memang harus melakukan perpanjangan masa studi ya tidak apa-apa, yang penting bisa lulus. Meskipun selulus kuliah saya berniat untuk fokus membesarkan bisnis sendiri daripada kuliah lagi maupun melamar kerja. Saya akan tetap berusaha mengejar gelar sarjana, untuk ibu saya. Juga untuk perjuangan saya selama ini, masa iya kuliah 4 tahun capek-capek tinggal menyelesaikan skripsi saja tidak dilakukan. Toh masih ada waktu meskipun tidak selonggar waktu yang dimiliki adik-adik angkatan.

Teman saya yang pernah jadi mahasiswa semester 14 tersebut juga bercerita bahwa dia sampai makan pun harus disuapin adiknya gara-gara begitu padatnya waktu untuk menyelesaikan skripsi. Cerita ini cukup menghantui saya. Saya tidak pernah merasa sepadat itu. Jadi takut kalau saya gagal. Selama ini saya cukup santai, ya bad mood sedikit tunda revisi, sering seperti itu. Meskipun juga berusaha tetap memotivasi diri sendiri untuk mengurangi penundaan-penundaan tidak perlu seperti itu.

Cerita dia yang sampai waktu tidurnya sedikit, makan sampai disuapin, ngerjain skripsi terus di depan laptop itu hantu banget. Saya kok biasa saja ya, tidur tetap lama kalau buka laptop seringkali malah tidak mengerjakan skripsi. Toh yang perlu direvisi sedikit. Tapi jadi takut kenapa-napa saya nya. Sebenarnya takut karena tidak kunjung merevisi sih, kalau sudah selesai revisinya juga bakal tenang, hehehe.

Yup, habis ini harus selesaiin revisi sampai fixxx tinggal memasukkan hasil olah data sajaa. Hahahah.

Ucapan horor lainnya adalah kata-kata negatif, cenderung menakut-nakuti, atau membuat takut. Bukannya membuat saya tambah semangat, yang seperti ini malah bisa membuat saya jadi loyo, galau, bad mood. Saya lebih suka diberi kata-kata positif untuk memotivasi daripada ancaman yang malah membuat saya takut sendiri, sibuk resah gelisah, malah tidak kunjung menyentuh skripsi, hehe. Kata-kata yang saya suka seperti, tinggal sedikit lagi loh, jadi sarjana, dsb. 

Ya tapi apapun kata-kata orang juga kita tidak punya kendali untuk mengaturnya. Yang harus dipersiapkan adalah bagaimana mengelola emosi. Harus maju terus biar bisa lulus. Jangan sampai menyerah. Pasti bisa lulus.

Jumat, 29 Juli 2016

Laptop Lenovo Gratis

Deadlinenya cuma sampai besok loh, tidak ada ruginya mencoba, mumpung masih ada waktu. Info lengkap klik: www.bit.ly/berbagiceritainspirasi :)






Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...