FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Rabu, 05 Agustus 2015

Asyiknya Punya Rekening BNI Taplus Muda


Saya mulai aktif menggunakan rekening BNI saat saya akan mengikuti Workshop Facebook Marketing. Salah satu syarat untuk mengikuti workshop tersebut adalah mempunyai kartu kredit atau paypal yang terverifikasi. Dengar-dengar proses aproval kartu kredit itu tidak mudah, apalagi statusnya masih mahasiswa.

Saya akhirnya membuat akun paypal dan mencari tahu bagaimana caranya bisa terverifikasi tanpa kartu kredit. Searching-searching saya dapat info tentang VCC (Virtual Credit Card). Beberapa anak muda yang merasa tidak bankable (baca: tidak akan di approve kalau apply kartu kredit) banyak yang memilih untuk membeli VCC, beberapa ada yang tidak kena masalah, tapi banyak yang akhirnya paypalnya kena limit.

Siapa pun Bisa Bertransaksi Online Lintas Negara

Selain VCC alternatif lainnya adalah VCN BNI. Dengar-dengar VCN BNI lebih aman dibanding VCC. Searching-searching lagi dapat info kalau VCN BNI bisa dipakai untuk membayar FB Ads. Padahal kan kenapa saat ikut workshop disuruh bawa kartu kredit atau punya akun paypal yang terverifikasi adalah agar bisa dipakai untuk bayar FB Ads. Kalau pakai VCN BNI saja bisa kenapa harus punya paypal yang terverifikasi? Lagipula saya sudah punya rekening BNI.

Sayangnya setelah tanya ke CS BNI ternyata jenis rekening BNI yang saya miliki tidak tersedia fitur VCN BNI. Ya iyalah, namanya juga cuma rekening gratisan karena kuliah di UNY. Saya terus buka rekening BNI Taplus.

Saya coba VCN BNI untuk membayar FB Ads dan taraaaa.... bisa! Seru juga, hihi. Tidak hanya untuk FB Ads, VCN BNI ini katanya sih bisa juga untuk transaksi bayar membayar kalau ingin beli produknya orang luar negeri yang mana bisanya cuma pakai kartu kredit atau paypal. VCN BNI seperti gantinya kartu kreditlah. Saya sih baru nyoba untuk FB Ads aja. Saya jadi sempat merasakan bagaimana mudahnya mencari likers dalam jumlah banyak dengan biaya minim dengan beriklan di FB.

Tidak hanya bisa digunakan untuk membayar FB Ads, jika kita butuh bertransaksi online lintas negara yang mana butuh akun paypal yang terverifikasi atau kartu kredit tapi kita tidak mempunyai dua alat pembayaran lintas negara tersebut, kita bisa menggunakan VCN BNI. Seperti dijelaskan sebelumnya, ini bisa terjadi karena dengan VCN BNI kita jadi mempunya nomor kartu kredit sementara yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Meskipun tidak semua website luar negeri bisa menerima VCN BNI, setidaknya masih ada beberapa web yang mau menerima dan bisa digunakan sementara sebelum kita memenuhi kualifikasi sebagai pebisnis muda yang approvable untuk mengajukan permohonan kepemilikan kartu kredit.

Rekening Khusus Anak Muda & Komunitas Pebisnis Muda BNI

Beberapa hari setelah Workshop FB Marketing saya dapat info kalau para pemegang Taplus Muda BNI bisa gabung di Campus Marketeers Club. Sebagai mahasiswa manajemen marketing sejati, entrepreneur muda sejati, aku harus ikut! Campus Marketeers Club (CMC) adalah komunitas mahasiswa yang tertarik dengan dunia marketing dari beberapa universitas di Indonesia. CMC dibentuk oleh majalah Marketeers dan BNI. Setiap pemegang BNI Taplus Muda bisa ikutan CMC. Buru-buru deh saya buka rekening BNI lagi, kalau dulu rekening saya jenis BNI Taplus Reguler, sekarang BNI Taplus Muda. Selain bisa gabung CMC, beberapa kali sempat ada promo voucher yang nilainya waw juga untuk pemegang Taplus Muda, hihi.

Seiring berjalannya waktu, online shop yang saya kelola makin laris. Pembeli bertambah, dan rekening mereka juga bermacam-macam. Saya akhirnya membuka rekening di bank lain juga. Saya jadi membanding-bandingkan antar Bank mana yang paling memenuhi kebutuhan pebisnis muda terutama yang go online, daaannnnn.... BNI Taplus Muda jadi juaranya!

Termasuk 4 Bank Terbesar di Indonesia

Selain punya Campus Marketeers Club, VCN, dan berbagai kelebihan yang pas sekali buat anak muda, BNI masih punya segudang kelebihan lain yang benar-benar pas bagi kebutuhan para kawula muda yang berbisnis. Pertama dan utama adalah BNI termasuk bank 4 besar di Indonesia. BNI, Mandiri, BRI, dan BCA adalah bank-bank yang sering ditanyakan oleh para pembeli di online shop saya. Tidak ada yang menanyakan selain keempat bank tersebut.

Menyediakan ATM & CDM yang Ramah dengan Lembaran Rp 20.000

Kedua adalah ATM dan CDM yang ramah dengan lembaran uang Rp 20.000. Harus disadari bahwa para pengusaha sukses tidak memperoleh kesuksesan secara instan. Berbisnis satu dua bulan, langsung meledak lalu produknya eksis hingga akhir zaman, tidak. Para pengusaha sukses pernah merasakan pahit getirnya perjuangan, sehingga lembaran uang  Rp 20.000 pun menjadi sangat berarti diawal perjuangan bisnis mereka.

Sebagai pebisnis pemula, lembaran Rp 20.000 juga sangat berarti di masa-masa sulit. Saat miskin-miskinnya dan uang di rekening tinggal Rp 20.000, hidup kita bisa terselamatkan dengan tarik tunai di ATM. Begitu juga ketika uang direkening tinggal Rp 30.000 dan kita butuh uang Rp 50.000 cash, kita bisa memasukkan lembaran Rp 20.000 ke CDM. Dalam sekejap Rp 20.000 tadi bisa berubah menjadi Rp 50.000 ketika kita tarik tunai di ATM.

Dari keempat bank terbesar di Indonesia yang sudah saya sebutkan sebelumnya, hanya BNI yang memiliki ATM Rp 20.000 sekaligus CDM yang menerima uang Rp 20.000. Mandiri mempunyai ATM Rp 20.000 tetapi mesin CDM-nya tidak menerima Rp 20.000. BCA mesin CDM -nya menerima lembaran Rp 20.000 tetapi tidak mempunyai ATM Rp 20.000. BRI justru mesin CDM -nya tidak menerima lembaran Rp 20.000 dan tidak mempunyai ATM Rp 20.000.

Aplikasi Mobile-nya Juara

Berikutnya, kelebihan BNI yang ketiga adalah aplikasi mobile-nya asyik, desain menarik, dan tidak pakai ribet. Tidak seperti bank lain yang untuk memanfaatkan aplikasi mobile bank yang bersangkutan harus mendaftar di CS, hanya bisa untuk operator tertentu saja, dan di awal harus melalui proses aktivasi aplikasi mobile yang ribet. BNI Experience dan BNI Internet Banking bisa langsung kita jalankan setelah mengunduh di play store (untuk hp android).

BNI Experience benar-benar bisa memberikan informasi yang kita butuhkan sebagai nasabah BNI. Misalnya saja lokasi kantor cabang terdekat, dsb. Cocok sekali kan untuk kita anak muda yang selalu mengikuti perkembangan teknologi, aplikasi mobile banking tentu sangat membantu kebutuhan kita dalam bertransaksi finansial, maupun sekedar untuk mengecek mutasi jika ada konsumen yang sudah mentransfer sejumlah dana ke rekening kita. Lebih penting lagi dengan BNI mobile kita bisa mengecek mutasi rekening secara gratis, sebenarnya di BCA & Mandiri juga gratis sih, tapi kalau BRI bayar. Lumayan kan, sebagai pebisnis muda kan kita butuh sering-sering cek mutasi dan butuhnya cepat dan aplikasi mobile banking BNI sangat mendukung itu.

Desain Tampilannya Juara

Keempat kelebihan BNI yang menurut saya paling menonjol dan sangat saya sukai adalah desain tampilannya. Anak muda kan suka mudah bosan ya, tetapi kalau desain tampilan yang kita lihat sedap dipandang mata tentu bisa meningkatkan mood kita. Salah satu desain tampilan milik BNI yang sangat bermanfaat adalah tampilan setelah kita selesai transfer via internet banking di hp. Informasinya lengkap, rapi, dan ciamik, jadi enak mengirim screenshot-nya ke orang yang habis kita transfer. Kita juga tidak perlu mengirimkan screenshot mutasi rekening lagi ke orang yang habis kita transfer. Berikut perbedaan tampilan laporan transfer berhasil dari 4 bank terbesar di Indonesia.

Tampilan setelah kita selesai transfer via mobile internet banking BNI.

Tampilan setelah kita selesai transfer via mobile internet banking BCA.
Jauh sekali kan tampilan keterangan sukses transfer via mobile internet banking BNI & BCA. Saya sendiri kalau ada yang bilang sudah transfer ke rekening BCA saya dengan hanya mengirim bukti transfer seperti diatas tentu saya tidak akan langsung percaya. Saya harus repot-repot cek mutasi. Begitu pula ketika saya transfer ke rekening BCA supplier saya, saya pernah hanya mengirim bukti transfer yang seperti gambar diatas. Respon supplier saya tidak cepat. Saya harus repot-repot buka mutasi rekening, screenshot barulah saya kirim ke supplier saya. Kalau di bukti transfer ada tulisan yang lebih jelas seperti berita transfer dan jumlah yang ditransfer, supplier saya responnya lebih cepat.

Tampilan mutasi mobile internet banking BCA yang hanya mencantumkan berita transfer dan jumlah nominal transfer.

Jumat, 31 Juli 2015

Melukis Masa Depan

Saya awalnya tidak mempunyai cita-cita yang jelas dan sulit menggambarkan masa depan tetapi semua itu berubah setelah saya menikmati proses berbisnis dagang tas via online. Saya berjualan melalui toko online saya yang bernama Tas Bergaransi. Toko Online Tas Bergaransi yang saya dirikan ini membuat saya yakin untuk tidak akan melamar kerja di suatu perusahaan. Saya yakin total 100% memilih menjadi seorang entrepreneur. Saya yakin dengan masa depan Toko Online Tas Bergaransi, yang selama ini terus bertumbuh.

Sesuai namanya, Toko Online Tas Bergaransi hanya menjual tas yang bergaransi. Saya bekerja sama dengan beberapa produsen tas dari berbagai kota besar di Jawa. Semua merek asli Indonesia. Saat ini banyak orang Indonesia yang memilih membeli tas dengan bermerek dari luar negeri. Padahal banyak produk tas bermerek dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan harga yang lebih murah, bahkan beberapa merek dalam negeri yang bekerjasama dengan Toko Online Tas Bergaransi berani memberikan garansi seumur hidup untuk produknya.


Banyak juga orang Indonesia yang memilih membeli produk berlabel merek luar negeri tetapi kw alias palsu, dengan harga sangat miring namun kualitas jelek. Daripada membeli produk palsu bukankah lebih baik membeli produk asli anak negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan produk bermerek dari luar negeri ditambah lagi harga produk tas bermerek dalam negeri lebih murah dibanding produk tas bermerek dari luar negeri. Salah satu merek yang menjadi supplier saya bahkan produknya jauh lebih laris di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Itu karena orang luar negeri lebih mementingkan kualitas daripada merek sedangkan masih banyak sekali orang Indonesia yang lebih melihat merek daripada melihat kualitas. Mengapa tidak belajar mencintai produk dalam negeri mulai dari produk tas, sepatu, kemudian menyusul berbagai produk dalam negeri lainnya.


Garansi produk yang dijual di Toko Online Tas Bergaransi bermacam-macam, ada yang garansi retur, garansi 6 bulan, garansi 1 tahun, garansi 2 tahun, garansi 3 tahun, & garansi seumur hidup. Setiap merek mempunyai kebijakan garansi yang berbeda-beda. Saya hanya mau bekerja sama dengan merek yang bersedia memberikan garansi produk. Tidak semua tawaran menjualkan produk tas saya terima, saya tidak ingin pelanggan Toko Online Tas Bergaransi kecewa. Jika menemukan produk bagus bahkan saya akan menawarkan diri untuk menjualkan produknya. Sampai saat ini saya sudah bekerjasama dengan 10 merek dalam negeri yang mempunyai produk berkualitas dan bersedia memberikan garansi produk.

Tas yang lebih laris di luar negeri daripada di Indonesia
Mimpi saya untuk Toko Online Tas Bergaransi adalah kelak berbelanja tas di Toko Online Tas Bergaransi akan menjadi kebanggaan tersendiri oleh para pembeli online. Kalau sekarang mungkin seperti punya Iphone. Saya ingin kelak orang-orang kalau beli tas berusaha belinya di Toko Online Tas Bergaransi, karena kualitasnya sudah teruji. Kalau sudah belanja di Toko Online Tas Bergaransi bangga sekali. Kalau beli tas tapi tidak di Toko Online Tas Bergaransi rasanya ada yang kurang.


Bonjour, merek asal Bandung adalah merek tas paling laris di Toko Online Tas Bergaransi

Jika berbicara matriks BCG, Toko Online Tas Bergaransi merupakan sapi perah. Saya akan merawat sapi perah dan mengusahakannya agar segera auto pilot. Saya juga ingin membuka toko kantor kecil Toko Online Tas Bergaransi di Yogyakarta setelah mempunyai dana untuk membiayai karyawan dan lokasi kantornya.

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons
Selain Toko Online Tas Bergaransi saya juga mempunyai bisnis Kaligrafi Aksara Jawa namun sedang vakum. Saya akan fokus menjadikan Toko Online Tas Bergaransi menjadi mesin uang dahulu. Kapan Toko Online Tas Bergaransi bisa disebut sebagai mesin uang? Ketika Toko Online Tas Bergaransi sudah auto pilot dan memberikan keuntungan minimal puluhan juta per bulannya.

Bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya butuh edukasi pasar yang mana biayanya tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga saya memilih untuk fokus memelihara Toko Online Tas Bergaransi dahulu sampai Toko Online Tas Bergaransi mampu menopang pembiayaan yang dibutuhkan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Dalam matriks BCG bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya berada pada kuadran tanda tanya. Dengan menggunakan hasil dari Toko Online Tas Bergaransi ketika sudah auto pilot saya akan merawat bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya hingga masuk ke kuadran bintang pada matriks BCG.


Mengapa bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya tempatkan pada kuadran tanda tanya dan akan saya arahkan bergeser masuk ke kuadran bintang? Karena sampai saat ini belum ada bisnis yang mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa. Saya berniat mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa karena Kaligrafi Aksara Jawa merupakan seni budaya warisan leluhur yang kini hampir punah. Saya ingin melestarikan Kaligrafi Aksara Jawa dengan mengangkatnya sebagai sesuatu yang khas dari Jawa.

Saya mempunyai merek untuk bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Kedua merek tersebut sudah saya daftarkan sejak tahun 2013 lalu, kini menunggu kabar tuntasnya proses pendaftaran merek dari Ditjen HAKI. Merek pertama saya adalah Rikswa, singkatan dari Relief Kaligrafi Aksara Jawa. Produk Rikswa adalah relief Kaligrafi Aksara Jawa yang terbuat dari limbah kertas.


Produk Rikswa sempat saya titipkan di Mirota Batik. Alhamdulillah laku, dan pihak Mirota Batik siap menerima produk Rikswa lagi. Namun karena proses pembuatan Rikswa cukup lama saya tidak lagi titip jual di Mirota Batik. Selain itu saat itu saya belum pandai menentukan harga, sehingga laba yang saya dapatkan dari penjualan Rikswa amat sangat sedikit sekali, tidak sebanding dengan tenaga, pikiran, dan waktu saya dalam proses pembuatannya.


Merek bisnis Kaligrafi Aksara Jawa yang kedua adalah Kalakswa, singkatan dari Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Sementara ini saya hanya punya dua desain Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Nantinya kalau bisnis Kaos Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah siap kembali berjalan tentunya desainnya akan bertambah, menerima pesanan custom juga seperti nama orang, nama instansi, kata ucapan, dsb. Saya juga akan menambah variasi produk, yaitu kaos dengan lukisan tangan Kaos Kaligrafi Aksara Jawa.



Mimpi saya untuk Kalakswa (Kaos Kaligrafi Aksara Jawa) adalah kalakswa akan jadi oleh-oleh wajib bagi siapapun yang berlibur ke Jogja. Mereka bisa pesan Kaligrafi Aksara Jawa nama mereka sebelum sampai di Jogja. Sesampainya di Jogja tinggal ambil kaos custom Kalakswa yang sudah mereka pesan.


 Mimpi saya untuk Rikswa (Relief Kaligrafi Aksara Jawa) sebagai berikut:
1. Setiap rumah di Jogja kelak akan memiliki Rikswa di rumah mereka, seperti halnya Pura yang ada setiap rumah warga Bali yang beragama Hindu. Kalau Kaligrafi Aksara Jawa tentu tidak hanya untuk agama tertentu saja, tapi untuk semuanya.
2. Setiap instansi di Jogja punya versi Kaligrafi Aksara Jawa nama instansi mereka.
3. Setiap instansi  memajang Rikswa di kantor mereka.
4. Setiap hotel memajang Rikswa, minimal satu di ruang utama.
5. Rikswa menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi mereka yang berkunjung ke Jogja. Mereka bisa memesan sebelum ke Jogja dan mengambilnya ketika sudah sampai Jogja.


Jika bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah memberikan keuntungan minimal puluhan juta dan sudah auto pilot, selanjutnya saya ingin membuat komunitas bisnis online untuk anak muda sebagai tempat saya berbagi ilmu secara gratis. Setidaknya saya mulai mencicil bulan ini dengan membuka kelas gratis terbatas untuk kakak saya dan teman-temannya yang sudah lama ingin belajar berjualan online dengan saya. Komunitas ini rencananya saya beri nama “Muda Mandiri High Tech”. Saya sering sedih ketika ada anak muda yang sudah berusia diatas 17 tahun tapi masih suka minta-minta belas kasihan karena kondisi orang tua yang kurang mampu. Hidup hanya bergantung dari para donatur atau beasiswa.

Saya juga kurang setuju dengan anak muda yang marah kalau gagal mendapatkan beasiswa kurang mampu karena justru yang mendapatkan temannya sendiri yang ternyata lebih kaya. Apalagi mereka yang menuntut tersebut anak pintar namun berasal dari keluarga miskin. Menurut saya kalau memang mereka lebih pintar dibanding orang lain, berarti mereka punya potensi untuk mandiri lebih cepat dibanding orang lain.

Saya pernah marah tapi tanpa bersuara kemana-mana ketika mengikuti seleksi beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu (beasiswa yang tidak memandang IPK), dan saya tidak mendapatkannya. Justru teman saya yang jauh lebih kaya yang mendapatkannya. Tapi saya sekarang sudah bertobat. Saya mendapatkan hidayah setelah secara bertahap mengetahui makna mental kaya dan mental pengusaha. Proses masuknya hidaya adalah dengan cara memfollow akun-akun pengusaha sukses, favorit saya adalah Pak Jaya Setiabudi. Sebelum menemukan passion saya, saya rajin mencuci otak saya dengan tweet-tweet beliau.

Foto bersama Pak Jaya Setiabudi pakai handphone Nokia jadul (2013).
Saya ingin anak muda stop menghabiskan energi untuk menuntut. Daripada tenaga, pikiran, dan perasaan lelah karena menuntut beasiswa yang seharusnya diberikan kepada mereka lebih baik tenaga pikiran dan emosinya diarahkan ke hal positif untuk memulai berbagai macam bisnis tanpa modal. Cobalah buka mata, banyak anak muda usia belasan tahun kini berhasil bisnis tanpa modal dan beromset ratusan juta serta punya karyawan.

Saya ingin anak muda terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu segera berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa secepatnya membantu menaikkan taraf hidup orang tua mereka dengan tangan kalian sendiri, bukan dengan donasi atau beasiswa. Tidak harus menunggu lulus kuliah S1, S2, S3 atau mendapatkan pekerjaan mentereng untuk membantu menaikkan taraf hidup orang tua. Jika mereka memang berasal dari keluarga yang hidupnya susah, jika mereka bisa menaikkan taraf hidup orang tua mereka lebih cepat tanpa harus menunggu lulus kuliah atau mendapatkan pekerjaan mentereng kenapa tidak dilakukan.



Bahkan dengan menjadi seorang pengusaha sukses bisa jadi kita justru bisa menjadi pendonasi beasiswa, bukan lagi sebagai penerima beasiswa ketika masih kuliah. Namun juga bukan berarti tidak perlu kuliah atau kalau sudah kuliah harus keluar, karena banyak sekali tawaran modal bisnis untuk mahasiswa, mulai dari dana hibah hingga pinjaman tanpa bunga. Bahkan banyak juga kompetisi bisnis untuk mahasiswa.

Mengenai kompetisi bisnis mahasiswa, yang terjadi sekitar saya adalah para mahasiswa yang mental pengusahanya belum terbentuk & belum matang, mereka menjadikan kompetisi bisnis sebagai wahana menambah deretan gelar juara yang sudah mereka dapatkan. Sehingga ketika ada kompetisi baru, mereka membuat bisnis baru lagi, kompetisi baru bisnis baru, yang lama ditinggal. Bukannya memelihara bisnis yang sudah dimulai justru mengejar gelar juara dalam berbagai kompetisi. Harapannya kelak ketika melamar pekerjaan akan mendapatkan nilai tambah karena mempunyai banyak sertifikat kejuaraan. Berarti belum mantap memilih profesi sebagai pengusaha dong.

Mengapa saya tidak memilih bercita-cita membuka pelatihan untuk para pebisnis mikro yang usianya sudah lanjut, yang usianya sudah diatas 35 tahun atau bahkan yang sudah kakek nenek? Masalahnya, syarat awal menjadi pebisnis yang sukses menurut saya adalah mindset. Susah mengubah mindset mereka yang sudah berumur. Apalagi mengajari hal-hal baru kepada mereka yang sudah berumur, pasti susah. Mengusik kenyamanan mereka yang sebenarnya membuat mereka tidak nyaman (bisnis tidak maju-maju, tarafnya mikro terus sudah belasan tahun hingga puluhan tahun) tentu susah. Mereka yang sudah berusia lanjut sebaiknya istirahat dan menikmati masa tua, menjaga kesehatan, stop berpikir tentang biaya hidup. Biarlah anak cucu mereka yang berpikir untuk mencukupi kebutuhan mereka dan membahagiakan mereka.

Saya tidak ingin ada lagi anak muda, usia sudah diatas 17 tahun mengeluh karena kebutuhan mereka tidak tercukupi akibat orang tua mereka tidak mampu. Stop mengkambinghitamkan orang tua. Merekalah yang sebenarnya menjadi kambing hitam jika hidup keluarga mereka susah. Mereka yang otak dan badannya masih segar yang harus bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga mereka. Lagipula zaman sekarang cari uang untuk anak muda itu mudah sekali. Tinggal tahu bagaimana caranya berjualan online, rekening mereka bakal dinamis, uang jutaan masuk ke rekening setiap bulan bukan lagi sekedar mimpi.

Melalui komunitas “Muda Mandiri High Tech” saya ingin ilmu yang saya bagikan kelak turun temurun dan terus ter-update. Karena teknologi terus berubah, tentu mereka yang muda-lah yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Cara-cara pemasaran baru yang lebih efektif dan efisien. Saya ingin semua yang bergabung dengan komunitas ini mempunyai otot berbagi yang besar. Sehingga semua remaja, muda mudi Indonesia bisa mandiri. Mereka yang mendapatkan ilmu dari komunitas ini mengajak anak muda lainnya untuk membagi ilmu mereka dan kelak yang mendapat ilmu membagi lagi, dapat bagi, dapat bagi, ilmunya tidak harus sama, disesuaikan perkembangan teknologi terbaru.

Setelah Online Shop Tas Bergaransi dan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya settleauto pilot, memberikan passive income yang mencukupi, rutin membiayai komunitas “Muda Mandiri High Tech” dan komunitas “Muda Mandiri High Tech” juga sudah auto pilot,  saya ingin fokus menjadi penulis. Saya ingin jadi penulis setelah semuanya auto pilot karena untuk menulis butuh waktu namun tidak untuk tenaga yang berlebihan. Tidak harus diterbitkan penerbit terkenal, bisa terbitkan sendiri atau membuat web khusus sendiri. Saya sering mempunyai pemikiran-pemikiran yang ingin saya tuliskan namun saya masih ingin fokus untuk memiliki bisnis yang auto pilot. Saya sering mempunyai ide-ide, saya takut jika saya menjadi penulis sekarang bisnis saya jadi tidak terawat.

Saya ingin menghabiskan masa tua saya dengan damai. Menjadi penulis bukan karena uang tapi karena ingin bermanfaat. Saya kelak ingin memakai nama pena agar tetap menjadi unknown person. Menjadi orang terkenal pasti tidaklah mudah dan saya tidak ingin menjadi orang terkenal. Cukup bisnis dan komunitas saya saja yang terkenal tapi saya tidak.

Setelah meninggal saya tidak ingin dikenang sebagai siapa-siapa, tidak ingin nama saya dikenang. Saya tidak ingin gagal masuk surga hanya karena riya' (berbuat baik karena mengharap pujian dari orang, bukan agar mendapat nilai plus di hadapan Allah). Saya pernah mendengar cerita orang dermawan yang gagal masuk surga karena ternyata dia dermawan hanya karena ingin disebut dermawan, dipuji orang-orang di sekitarnya, amalannya tidak untuk Allah. Saya tidak ingin itu saya.


Sepeninggal saya, saya ingin bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech” yang sudah dan nantinya akan saya dirikan tetap eksis hingga akhir zaman. Terus memberikan manfaat pada manusia dan dunia. Tanpa menyebut-nyebut nama saya sebagai pendiri. Saya ingin sepeninggal saya, saya dilupakan, cukuplah bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech”  terus memberikan manfaat hingga akhir zaman.

Minggu, 05 Juli 2015

Kue Tai Kucing

*Peringatan*
Aku tidak tahu postingan ini bakal membuat pembaca ngiler, ngeces, atau malah tidak doyan makan setelah baca ini, hehe ^^v

Waktu ke Banyuwangi aku baru tahu kalau makanan khas disana adalah bagiak. Pertama aku dengarnya bakiak, “itu kan mainan,” sahutku waktu dikasih tahu mbak irum. “Pake G ga pake K,” terang mbak irum. “Ohhh..” Waktu itu aku belum ada bayangan bentuknya kayak apa.

Baru Senin pagi, 1 Juni 2015 aku lihat belanjaan ibu, bulik, dan budheku. Ternyata bagiak bentuknya seperti itu. Entah kenapa sejak kecil seingetku itu namanya bukan bagiak tapi kue tai kucing. Tapi kenapa yang merespon kalau bagiak itu mirip kue tai kucing cuma aku ya. Mungkin ibuku juga menganggap mirip kue tai kucing tapi diam aja. Mirip tai kucing kalau kering. Rasanya juga mirip sama kue yang sejak kecil kuanggap kue tai kucing. Tapi enak kok, aku juga suka J

Sumber: https://jualkuekeringlebaranonline.files.wordpress.com/2014/07/bakiak.jpg

 Pulang sampai rumah, 2 Juni 2015, mbak dini lihat oleh-oleh yang kami bawa. “Lho kui kan tai kucing,” kata mbak dini. “Udu, iki bagiak, kue khas Banyuwangi, bedo karo tai kucing, tapi cen mirip,” jawabku. “Kui tai kucing yo,” mbak dini ngeyel. Padahal di bungkusnya sudah tertulis jelas “Bagiak, oleh-oleh khas Banyuwangi.”

Kenapa yang menganggap bagiak mirip tai kucing cuma aku ya, serombongan kemarin, aku penasaran. Aku pun memutuskan untuk googling. Apakah orang lain juga menganggap bagiak itu mirip kue tai kucing? Soalnya keluargaku suka punya istilah sendiri soal dunia makanan yang berbeda dengan orang lain. Misalnya sayur gori  gudheg yang bapakku  sebut daging kebo. Baru setelah agak gede aku baru sadar kalau orang lain tidak ada yang menyebut sayur gori gudheg itu daging kebo. Sama istilah poci untuk angkringan, bapakku kalau menyebut angkringan itu poci, aku ya ikut-ikutan lha hidup sejak kecil juga sama orang tua, hehe. Setelah agak gede baru sadar kalau orang lain tidak pada menyebut angkringan itu poci.

Kembali ke bahasan utama, hehe
Setelah googling, ternyata tidak ada yang menganggap bagiak itu mirip tai kucing. Dan kue tai kucing yang dianggap orang-orang itu ternyata:
1.       Ada yang menganggap kue tai kucing = kue lidah kucing. Setahuku sejak kecil sih jelas beda. Kue lidah kucing tidak ada mirip-miripnya dengan tai kucing yang kering maupun basah.
Sumber: dapursaja.blogspot.com

2.       Beberapa ada yang menyebut kue tai kucing itu... Susah sih mendefinisikannya dengan kata-kata. Tapi, aku lebih lihat ke fotonya sih. Mirip tai kucing yang masih basah bentuknya.
Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/55232bc46208816d698b456d/?ref=postlist-113&med=hot_thread
3.       Ada yang bilang kue putri salju = kue tai kucing. Setahuku selama ini tidak ada kue putri salju yang bentuk dan penampakannya mirip tai kucing. Kok ya ada ya yang bilang kue putri salju = kue tai kucing?
Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/541bc111a4cb177d058b4569/?ref=postlist-243&med=hot_thread

Ternyata tidak ada gambar yang menunjukkan kue tai kucing itu bentuknya mirip tai kucing yang kering. Tidak ada yang menganggap bagiak mirip kue tai kucing. Kecuali aku, mbak dini, entah sama siapa lagi. Kalau menurut pembaca kue tai kucing itu yang seperti apa? Boleh dong dishare url gambarnya, depannya pakai embel-embel kue loh yaa... Jangan kasih gambar yang di depannya tidak ada embel-embel kue -nya, hehe

Kamis, 25 Juni 2015

Sarapan Pagi di Pasar Gede Banyuwangi


Sampai di Pasar Gede Banyuwangi, penjualnya tidak sebanyak di Pasar Beringharjo

Nyari yang kuah-kuah, eh ternyata tidak ada yang jual bakso sama mie ayam, kalau ingin yang kuah-kuah ya makan soto. Ini dapat warung Soto Surabaya, tapi campur model Banyuwangi juga, jadi ada telur rebus, kentang goreng, koya, dan porsinya super jumbo. Kata penjualnya emang standar porsinya segitu udah biasa. Ternyata standar porsi orang Jogja termasuk dikit banget ya. Aku dulu kalau di SMA sampai sore suka makan siang di angkringan cuma beli nasi kucing 1 bungkus sudah cukup. 

Waktu mau naik sama turun dari line 1 dalam rangka ke Pasar Gede Banyuwangi tidak bisa memfoto ini line 1. Alhamdulillah waktu di Stasiun mau pulang ke Jogja bisa dapat penampakan line ini, jadi ada dokumentasinya deh :D.

Ing Pelabuhan

Judul postingan kali ini terinspirasi dari lagunya Didi Kempot yang reff nya diawali "Ing Pelabuhan" Gara-gara sering tidak sengaja dengar lagu itu, hahaha



Jadi, Sabtu malam tanggal 30 Mei 2015 kemarin aku baru saja sampai di Banyuwangi setelah duduk seharian lamanya di dalam kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kebayang capeknya kan, tapi aku tidak akan bahas tentang itu. Perjalanan ini sudah direncanakan jauh berbulan-bulan lamanya sejak awal tahun seingatku, dalam rangka hadir dalam acara ngunduh mantu saudaraku. Karena bertepatan dengan long weekend, rencananya juga mau sekalian nyebrang ke Bali main-main bentar... Tapi rencana tetap rencana, bisa menjadi kenyataan bisa juga hanya tinggal rencana.

Awalnya mau sewa 2 mobil buat ke Bali. Tapi rencana itu dibatalkan! Hmm... sedih jelas. Yaelah sudah capek-capek duduk 13 jam lebih di kereta ekonomi dari Jogja sampai di Banyuwangi tidak jadi main ke Bali. Akhirnya diputuskan yang ke Bali hanya keluarga Mbak Irum + Dea & Yasin + siapa lagi aku kurang tahu waktu itu. Mereka ke Bali dalam rangka menjemput Adib putra Mbak Irum yang besok pagi mendarat di Bali dari Tangerang, sekalian main bentar di Bali tentunya... Pengennnnn :'(

Gagal deh rencana jalan-jalan ke Bali sama ibuku. Mumpung sekalian gitu, jadi biayanya lebih murah, hehe. Meskipun sedih, tapi aku masih berharap bisa ikutan ke Bali. Siapa tahu aja besok pagi aku diajakin ke Bali karena masih ada tempat duduk di mobil #ngarep.com. Pokoknya besok harus bangun pagi-pagi banget sambil setrika baju-baju yang kubawa. Semoga aja ditawarin ikut ke Bali, hahaha

Minggu, 31 Mei 2015, Pagi-pagi buta
Namanya juga tidak di rumah sendiri, ya susah kalau mau tidur nyenyak. Alhamdulillah, meskipun semalaman aku tidur paling akhir diantara yang lain, paginya aku bisa bangun paling awal. Mulai lah aku setrika baju-baju yang aku bawa, sambil berharap nanti aku diajakin ke Bali sama rombongan Mbak Irum. Soalnya kemarin malam aku dengar mereka jam 5 pagi sudah harus siap berangkat. Toh aku tidurnya, setrikanya juga di dekat Dea sama Yasin, kalau mereka mau berangkat aku pasti tahu to, bahahah

Satu demi satu bajuku sudah aku setrika. Ndilalah Lik Inah bangun, lihat aku setrika, trus titip baju satu deh. Ya Allah semoga aku cuma dititipin baju satu aja buat disetrika, jangan sampai aku jadi petugas laundry disini :|. Eh belum habis baju-bajuku disetrika, Mbak Maming (ibunya Dea sama Yasin) nyuruh dua putrinya buat mandi, soalnya mau ke Bali. Ya Tuhan, aku juga pengen mandi, biar kalau diajakin ikut ke Bali juga sudah siap #masihngarep. Tapi bajuku belum selesai aku setrika #huwaaaa

Masih ngantuk, Dea sama Yasin tidak segera masuk-masuk ke kamar mandi. Baju yang harus ke setrika sudah tinggal dikit. Tiba-tiba datang Mas Iyat dari rumah sebelah. Ya, ternyata rombongan yang mau ke Bali terdiri dari: Keluarga Mbak Irum (3 orang + Adib, jadi 4), Keluarga Mas Iyat (2 orang, Mas Iyat + Vira), Dea & Yasin. Kapasitas mobil maksimal 8 orang.

Ternyata Vira, putri Mas Iyat tidak mau diajak ke Bali, akhirnya Mas Iyat tidak jadi ikut ke Bali. So, mobil masih muat untuk 2 orang lagi. Ya, Mas Iyat datang buat menawarkan space 2 orang ke para ibu-ibu yang ada. Karena yang ditawari para ibu-ibu jadi aku ya diam aja sambil menyelesaikan setrikaanku. Padahal dalam hati aku njerit-njerit "Mauuuuuuu...." Tapi ya sekadar jeritan dalam hati, hiks

Entah keberuntungan macam apa ini, tidak ada yang mau gantiin Mas Iyat dan Vira. Sedangkan si Agung, sepupuku yang juga sebelumnya pengen ikutan ke Bali masih mimpi indah. Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh di Banyuwangi saja. Sampai akhirnya keluarlah hitungan ongkos Mas Iyat. Kalau satu mobil tidak diisi 8 orang, nanti bayarnya jadi lebih mahal, kalau diisi 8 orang kan jadi lebih hemat sesuai perkiraan awal. Mbak Maming pun menyahut, "Ya sudah nanti kita tanggung bersama." Yah rugi dong, ikut bayar ongkos ke Bali tapi tidak ikutan main ke sana. Akhirnya aku langsung bilang, "Aku mau ikut!"

Ya Tuhan, akhirnya tidak sia-sia aku duduk 13 jam lebih di kereta api dari Jogja sampai Banyuwangi, hahaha.. Meskipun sedih juga karena ibuku lebih memilih acara belanja oleh-oleh di Banyuwangi sama bulik-bulikku dibanding ke Bali sama aku, hiks.. + yang gantiin Mas Iyat & Vira cuma aku. Ya gapapa lah dari pada tidak jadi ikut ke Bali kan? :D

Permasalahan pun selesai, tidak ada yang harus ikut nanggung ongkos ke Bali tanpa ikutan main ke Bali + aku jadi ikut ke Bali! Yeay! Habis itu aku langsung mandi, sholat Shubuh, menyiapkan tas yang mau dibawa ke Bali. Tapi... ternyata aku lupa bawa memori card buat kameraku! Lengkaplah sudah, tongsis rusak + bawa kamera, baterai, charger, tapi tidak bawa kartu memori, hiks. Tak apalah masih ada hp dengan mega piksel seadanya + kamera digital punya Dea, hahaha

Pagi itu Desa Tukangkayu Banyuwangi hujan rintik-rintik. Sebelum berangkat kami mampir dulu ke rumah Mbak Yani, tuan rumah yang akan menggelar hajatan ngunduh mantu besok Senin. Setelah pamit ke Mbak Yani, kami pun naik mobil otw ke Bali, hujan masih rintik-rintik. Aku kira Banyuwangi beda dengan Jogja, Mei masih sering hujan. Ternyata tidak, kata Pak Sopir mobil sewaan, kemarin-kemarin Banyuwangi panas, entah kenapa tadi malam dan pagi ini hujan.



Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Pelabuhan Gilimanuk. Aku yang baru pertama kali lihat pelabuhan langsung hebring. Foto-foto pemandangan sekitar dengan gadget seadanya + kemampuan ala kadarnya. Ya, aku kurang tertarik mendalami fotografi, tapi kalau pergi-pergi aku selalu ingin foto-foto apa yang menarik buatku. Cuma ingin loh ya, kadang ya sekedar ingin saja tidak semua yang ingin aku foto akhirnya aku foto. Apa yang menggerakkan aku buat foto-foto ya biasanya karena ingat blog. Setiap dapat pengalaman apa atau pergi ingin mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya dan semua diceritakan di blog, haha. Pada prakteknya, yang di foto cuma sedikit dan tidak kunjung diceritakan di blog ^^v

Tapi, sejak jalan-jalan yang ini aku mau bertekad untuk harus memfoto semua yang ingin aku foto. Tekadku sudah bulat, namun sayangnya tidak didukung dengan kapasitas baterai hp,kamera, & powerbank yang memadai, sehingga kalau tidak penting-penting banget aku tidak bakal foto-foto. Jangan sampai nanti tidak bisa memfoto objek yang paling menarik selama perjalanan gara-gara dikit-dikit foto dikit-dikit foto (wkwkwkwk saktenane podo wae dadi raiso koleksi foto-foto sepuasnya :( )

Yowislah, ini awalnya aku cuma mau upload foto-foto di pelabuhan dan selama di kapal aja. Tapi ya dasarnya aku dikit-dikit ingin cerita di blog, ya seperti inilah jadinya.. Teteeeppppp cerita panjaaannnngggg dan leeebaaaaaarrrrrr hahahah ^^v

by Dea

 


Sandal jepit swallow yg selalu menemani sepanjang perjalanan


Sayangnya aku lupa ngeset kamera ke mode sunrise, jadi hasilnya tidak ada warna oranye-oranyenya. Waktu di Tanah Lot juga sudah mendekati sunset, tapi lagi-lagi aku lupa ngeset kamera, jadi tidak ada warna oranye-oranyenya jugaaa :'(.

Maaf kalau bahasanya agak gimana gitu, soalnya baru belajar membiasakan diri blogging menggunakan bahasa yang baku. :')

Rabu, 14 Januari 2015

Membuat Blog Go International Tanpa Skill Bahasa Inggris

Kalo ngeblog buat seneng-seneng aja, rasanya males banget pake bahasa baku. Enaknya ya pakai bahasa yang kita pakai sehari-hari, ya gak? Toh blogger banyak yang gak pake bahasa baku tapi blog mereka tetep laris manis, rangking alexa-nya bagus.

Iya, sekarang tujuanku nge blog ya buat seneng-seneng aja. Seriiinngggg banget dikit-dikit pengen cerita di blog, dikit-dikit pengen share di blog. Pokoknya apa-apa pengen diceritain, pengen dishare. Karna udah pengen, kalo keturutan ya akhirnya jadi merasa lebih lega.

sumber gambar: wikipedia.org
Tapi suatu saat aku pernah nyoba translate blog-ku pake widget Google Translate yang udah tak pasang. Dan hasilnya taraaaa…. Gak karuan!! Banyak kata-kata yang gak baku gak bisa tertranslate. Mending kalo ditranslate ke Bahasa Inggris, meskipun banyak yang gak ketranslate tapi kan gak gitu keliatan soalnya tulisan latin semua. Nah, kalo dicoba ditranslate ke tulisan China. Kata-kata yang gak baku otomatis menonjol tetap berdiri tegak diantara tulisan-tulisan China di kanan-kirinya.

Ternyata selama ini aku pasang widget translate gak gitu berguna. Soalnya seingetku kebanyakan artikel yang ada di blog ini menggunakan Bahasa Indonesia yang gak baku. Kalo liat di statistik kadang ada traffic dari luar negri. Tapi kalo mereka baca/translate artikel-artikelku yang gak pake bahasa baku, ya agak percuma gitu. Lah gak semua ketranslate. Apa mungkin mereka mau balik mampir ke blog ini lagi? Orang yang orang Indonesia yang paham kata-kata Bahasa Indonesia yang gak baku aja belum tentu mau kesini lagi, hehe

Yaudahlah, tapi mau hapus widget translate sayang (padahal yo widget gratisan bawaan dari google, hapus ya gampang banget tinggal hapus). Mau pake Bahasa Baku juga rasanya jadi kurang nyantai, ini blog kan cuma buat asik-asik aja. Enaknya waktu nulis ya kayak pas ngobrol sama temen aja. Coba bayangin, tiap ngobrol sama temen kamu harus pake bahasa baku, kebayang kan anehnya? Kaku banget, membosankan, dan nggak lepas.

Tapi ya itu, kalo tetep pake Bahasa yang gak baku ya blog ini pembacanya jadi terbatas. Kecuali bikin artikelnya dengan Bahasa Inggris. Lah, aku belum pede buat bikin artikel full Bahasa Inggris.

Mmm.. akhirnya utk sementara ini mungkin aku kayaknya gak ninggalin begitu aja Bahasa sehari-hari (yang gak baku) buat bikin artikel blog. Gak menutup kemungkinan juga sih kalo ntar bakal ada beberapa artikel juga yang pake bahasa baku full.

Inti dari artikel ini:

Menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku menyebabkan artikel di blog tidak bisa ditranslate dengan baik oleh Google Translate.

Bahasa yang baku saja bisa diterjemahkan dengan kurang sesuai, apalagi tidak baku.

Bahasa yang tidak baku tidak fleksibel berubah-ubah Bahasa.

Padahal blog kita sangat mungkin dikunjungi visitor dari berbagai negara yang bahasanya berbeda.

Blog kita pun akhirnya menjadi susah go international.
Rugi banget, kan.

Netizen luar negri jadi malas baca blog kita, karena isinya kurang bisa dipahami, kata-kata yang ada banyak yang tidak bisa diterjemahkan menggunakan Online Translator semacam Google Translate.

Jika kita sudah banyak artikel di blog kita yang menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku, maka saat kita tobat ingin menggunakan Bahasa Indonesia yang baku maka kita akan kesulitan mengedit artikel-artikel yang sudah terlanjur menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku. *ini kalimat apa kereta? panjang banget* *mungkin kalimat ini juga tidak baku karena terlalu panjang*

Tapi karena saya posting di blog buat asik-asik aja, ya tidak menutup kemunginan saya masih akan menggunakan bahasa yang tidak baku untuk artikel tertentu atau kebanyakan artikel yang akan saya posting di blog.

~ Sekian dan Terimakasih ~
***************************

Selasa, 13 Januari 2015

Mencari Nasi Thiwul #3


Kalau penasaran sama perburuan nasi thiwul sebelumnya bisa baca disini >> Mencari Nasi Thiwul #1 dan #2
Halo halo 2015.. masih suasana tahun baru aja ya.. tapi akunya masih suka kasih cerita lama.. soalnya aku masih punya utang serial perburuan nasi thiwul yang belum selesai, hehe
Selain itu, twitku ke akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum di 1 April 2014 belum lama ini baru dibales sama miminnya tepatnya baru dibales tgl 7 Januari 2015!! :O Syukur alhamdulillah sih, daripada gak dibales hayoo..
berburu nasi thiwul partthree
berburu nasi thiwul partthree.
Pumpung inget segera bikin terusan serialnya ah.
****
Setelah denger penjelasan mbak-mbak Gatot Thiwul Yu Tum yang angkat telponku, aku punya banyangan kalo cabang Gathot Thiwul di Jln. Wonosari itu jelas masih jauh dari Kids Fun. Tapi kalo dari Pasar Piyungan gak jauh-jauh amat lah. Seenggaknya gak sampai bukit Indah yang selalu keliatan kalau kita berkendara di Jln. Wonosari ke arah timur. Paling ya ada naik turun tapi gak seekstrim waktu aku ke Gunung Kidul jaman SMA dulu (naik bis). Padahal mbak yg angkat telponku udah bilang kalo ntar lewat Bukit Pathuk. Tapi kan aku belum tau Bukit Pathuk itu mana. Entah kenapa bayanganku perjalanan kesana gak jauh beda kalo ke daerah Jln. Wonosari sekitaran Kids Fun/Pasar Piyungan. Ya itu karna waktu itu aku masih ngerasa kalo Pasar Piyungan itu jauhnya gak ketulungan.
Aku yakin banget sama bayanganku itu. Terus aku pun berangkat naik motor sama ibuku. Pagi-pagi. Soalnya pake motor mbakku dan motor mbakku mau dipake jemput anaknya habis jum’atan. Tidak lupa mampir rumah bulikku di deket Kids Fun.
Reaksi Bulik sama Omku pun kayak gini. “Kendel banget kowe Fen,” “Irung Petruk lewat loh, isih adoh. Aku ndhisik kerep rono, adoh banget,” dsb. Akhirnya bermuara kepada saran biar aku sama ibuku naik bis. “Numpak bis wae, paling kur 15 ewu.” “Iyo numpak bis wae piye?” tanya Ibuku. Aku pun mbathin segitunya ya. Mmm.. gimana yaa..
Naik bis 15rb per orang. 2 orang 30rb. Bolak balik 60rb. Buset mahal banget. Belum kalo dari tempat turun bis masih jalan jauh. Naik bis lagi, turun lagi, jalan lagi. Kalo naik taksi/becak/ojek jelas mahal. Apalagi kalo skripsi kan harus bolak balik kesana. Habis berapa sendiri coba cuma buat transport. Hmmm…
Akhirnya coba dulu deh naik motor. Orang tua kan suka over ya khawatirnya. Apalagi sama anak perempuan. Coba dulu pake motor kan gak ada salahnya. Wong aku jaman SMA pernah ke Solo naik motor sama mbak Ajeng, akunya cuma mbonceng sih. Tapi kan mbak Ajeng perempuan, dan nyatanya bisa sampai Solo dengan selamat :p
Setelah aku tetap memutuskan buat naik motor, Bulik sama Omku ngasih wejangan. “Ati-ati,” “Alon-alon wae,” “Gigi 2 wae,” kata Bulikku. “Gigi 3 yo rapopo,” kata Paklikku. Aku pun nggah nggih aja.
Dan perjalanan pun dimulai. Kids Fun lewat, Pasar Piyungan lewat. Sampai pertigaan jalan Jogja-Piyungan bukit Indah yang selalu terlihat selama perjalanan tampak semakin dekat. Tapi ya tak kira masih jauh, wong aku belum nemu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5.
Ealah lurus dari pertigaan itu kok ya, bukit Indah yg selalu keliatan itu tampak makin dekat. Dan tiba-tiba jalannya udah super nanjak!! Aku syok. Cuma kaget aja sih, hehe Gak ngira secepet ini masuk zona bukit Indah yang tadinya nampak sangat amat jauh. Eh ternyata gak terlalu jauh dari Pasar Piyungan.
Ibuku jelas langsung wanti-wanti, “Alon-alon wae.” Iya aku alon-alon, tapi makin masuk bukit, tips gigi 2 atau gigi 3 dari Bulik sama Omku kok ya gak pas ya.. Kalo naik motor itu emang masing-masing, si A enaknya gini si B belum tentu sama. Soal gigi fleksibel lah, gak jarang masuk gigi 4 juga. Tapi ya namanya baru pertama kali naik motor di daerah kayak gini ya kecepatan sekitar 30-50 km/jam. Lebih sering 40km/jam deh kayaknya pas itu.
Hutan demi hutan dilewati, tiap ada yang bentuk agak mirip toko atau rumah makan agak dicermati, itu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari bukan. Lumayan sih, beberapa kali dapet bonus pemandangan indah di bawah sana. Sempet kepikiran juga kalo misal kehabisan bensin atau ban bocor di jalan kayak gini bahaya, lah langka pom bensin, orang jual bensin, sama tambal ban. Kebanyakan hutan-hutan gitu. Bisa-bisa menderita nuntun motor naik turun sampe jauh. Kalo mau lewat sini bensin harus diisi banyak dan cek ban. Pantes kalo Bulik sama Omku agak lebay gitu waktu tau aku mau ke Jln. Wonosari, Siyono.
Setelah melaju cukup jauuuuhhhhh…. dan laaammmmmaaaa… akhirnya sampai juga di dekat kantor “GCD FM, Bukit Pathuk Gunungkidul ning ning nang nung” –musik khas di tag line ini radio sejak jaman aku masih SD yg bener-bener nampol diingatan. Masa sih sampe sejauh ini belum sampe juga. Jangan-jangan kelewatan. Lurus dikit dari GCD FM aku tanya sama ibu-ibu di depan kantor sebuah bank (agak lupa, kalo gak BPD ya BRI). Aku tanya alamat Gatot Thiwul Yu Tum, Jln. Wonosari KM 3,5 Siyono. Tau gak jawaban ibu itu? “Tasih tebih, lurussss…. terussss…. mengkeh wonten air mancur, niku Siyono.” What? Ini udah jauh banget, okelah kalo begitu.
Naik motor pelan-pelan, dan ngikuti jalan nasional. Pokoknya jauuuhhh… bangettttt… perasaanku waktu itu. Sampai akhirnya aku dan ibuku nemu Gathot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5 Yogyakarta. Hmmm… ini sih udah Gunungkidul bangetttt… Alamat yg ada di web bener-bener php. Kenapa utk cabang ini gak dikasih akhiran Gunungkidul? Kenapa cuma dikasih akhiran Yogyakarta? Mana ada yang bikin denah super duper ngawur di Google Map lagi.
alamat-yu-tum-di-webnya_thumb2
Sudah, sudah. Syukur alhamdulillah sekarang udah nemu kan? Jadi bisa ngerasain naik motor di depan jarak jauh kan? Jadi gak kuper kan, mainnya cuma di Jogja bawah sana dan sekitarnya. Ya ya ya. Alhamdulillah :D Akhirnyaaa….
Wajah udah berseri-seri. Saatnya makan nasi thiwul nih, haha. Tengok depan belakang gak ada kendaraan mau lewat. Langsung nyebrang deh, ke cabang I Gatot Thiwul Yu Tum di kanan jalan sana.
Terus bilang deh sama mbak-mbak yg jaga. Mau beli nasi thiwul mbak, kalo ada yang instan juga boleh, tapi yang tawar, jadi bisa dimakan sama lauk pauk dan sayur. E tapi… ternyata disitu cuma jual yang camilan.. gak jual nasi thiwul dan lauk pauk :| “Yang ada tempat makannya di Gatot Thiwul Yu Tum pusat mbak” Yaelah sama aja. Kenapa aku dulu bahagia banget waktu tau ada Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari. Ya gpp kan, banyak orang mencari kebahagiaan, kenapa nyesel pernah bahagia? Meskipun berujung nggonduk, kecele’,  dan merasa di php sama petunjuk keberadaan Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari yg ada di internet.
Mbaknya pun ngasih ancer-ancer kesini kesana gitu lah. Katanya gak jauh dari sini. Aku sama ibuku pun melanjutkan perjalanan. Gak lama kemudian kami pun melewati gapura besar “Selamat Datang di “Kota” Wonosari” deket banget Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari sama gerbang masuk “Kota” Wonosari ini.
Pemandagan pun berubah, gak lagi hutan hutan dan hutan. Tapi banyak toko, dan lumayan ramai. Dulu sempat aneh sama sebutan “Kota” utk sebuah ibukota “Kabupaten” Ya sekarang aku jadi mengerti. “Kota di dalam Desa” itu memang ada. Memang susah utk nyebut Wonosari aja tanpa “kota” setelah melewati hutan-hutan belantara dan menemukan keramaian kayak gini. Jalanannya juga landai gak naik turun. Otomatis aja keluar kalimat: “Yeay, sudah sampe kota” Meskipun ya “Kota” Wonosari masih kalah ramai sama Kota yang beneran Kota.
Lurus dikit aku nemu air mancur gede di tengah Jalan. Oalah.. yang dimaksud ibu tadi ini tho. Lurus terus nemu alun-alun Wonosari. Aku pun belok kiri dan tanya lagi ancer-ancer ke Gatot Thiwul Yu Tum pusat sama pedagang kelontong di dekat alun-alun. Ternyata Gatot Thiwul Yu Tum terkenal disini. Aku pun dikasih ancer-ancer, dan akhirnya aku sama Ibuku sampai di depan Gatot Thiwul Yu Tum Pusat. Yeay *berhasil berhasil berhasil horreeee *ala dora
Wajah pun sumringah.. Setelah masuk, aku pun bilang mau beli nasi thiwul. Ternyata eh ternyata.. “Kalau mau nasi thiwul nunggu dulu dibikin mbak, sekitar setengah jam, ini yang ada nasi putih sama nasi merah..”
Karena motornya keburu dipake njemput anaknya mbakku abis jum’atan dan jam sudah menunjukkan pukul 10.00 akhirnya aku pun milih beli nasi merah pake lauk pauk sama sayur. Sambil nunggu saijan untungnya mbakku telpon, terus aku jelasin aja kalo aku di Wonosari yang nunjauh banget banget dari Jogja, gak seperti bayangaku di awal. Kayaknya gak mungkin kekejar waktunya buat balikin motor dia buat njemput anaknya. Agak merasa bersalah sih, tapi kan ada motor suaminya alias kakak iparku, jadi ponakanku gak mungkin terlantar lah..
Aku juga tidak lupa tanya-tanya ke mbak penunggunya. Seberapa banyak orang yang beli nasi thiwul dalam sehari, hari biasa dan hari libur. Kira-kira memadai gak buat dijadiin respoden. Ternyata yang beli nasi thiwul itu jarang banget. Jadi Gatot Thiwul Yu Tum pusat gak selalu menyediakan nasi thiwul. Kalo mau ya bakal dibikinin, tapi ya agak lama.
Setelah makan dan beli cemilan thiwul aku sama ibuku pun pulang. Tentunya dengan hati-hati, pelan-pelan..
Aku sama ibuku pun mengambil kesimpulan. Emang sebaiknya naik motor, gak naik bis. Soalnya Gatot Thiwul Yu Tum Pusat masih jauh dari jalan yg dilewatin Bis Jogja-Wonosari. Toh ini pake motor selamet-selamet aja..
Dan aku menyadari betapa katroknya diriku yang baru pertama kali naik motor di depan dengan perjalanan sejauh ini dengan medan naik turun-naik turun diatas bukit. Bagiku jauh, tapi bagi banyak orang lain yang udah terbiasa ya deket kali yaa.. Contohnya bos blog mblusuk.com, Mas Wijna and the gank biasa main ke Gunungkidul naik sepeda, bahkan beberapa kali sampe pantai yang makin jauh lagi..
Alhamdulillah jadi tambah pengalaman, dan tau kalo bukit indah yg selalu keliatan dari Jogja kalo berkendara di Jln Wonosari itu namanya Bukit Pathuk. Dan irung petruk itu ternyata deket banget. Tiap mau ke Pantai Gunungkidul kan jalan yang dihebohin orang-orang itu irung petruk. Kalo udah mau nyampe irung Petruk itu pada heboh. Jadi tak kira itu kalo udah nyampe irung Petruk berarti Pantai dah dekat. Ternyata gak, jangankan pantai, dari Wonosari aja jauuuuhhhh.. bangetttttt….
E tapi aku tau tentang irung petruk itu deket setelah browsing2 sih, dan ternyata irung petruk sudah gak ada karena jalannya udah diperbaiki jadi belokannya gak gitu curam. Kalo menurutku sih belokan-belokan yang ada di Bukit Pathuk tetep aja banyak yg curam, hehe
Sayangnya aku masih gagal nyicip nasi thiwul ya, di perjalanan ketiga ini.. So, ceritanya masih bersambung. Di perjalanan selanjutnya aku hunting nasi thiwul bareng mbakku ^^

Kamis, 08 Januari 2015

Mendadak Diteriaki Orang di Jalan

Halo 2015, halo teman-teman, akhirnya aku bikin juga postingan pertama di 2015, hehe


Pengen nulis, tapi yang singkat aja. Aku cerita pengalamanku beberapa tahun yang lalu aja ya, waktu aku masih aktif kuliah. Sekarang masih mahasiswa sih, tinggal skripsi aja t̶a̶p̶i̶ ̶g̶a̶k̶ ̶t̶a̶k̶ ̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶-̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶i̶n̶



Ceritanya itu dimulai pada suatu siang hari yang cerah. Aku berencana buat pergi kemana aku lupa, kayaknya sih ke perpusda soalnya rutenya melewati Tugu Jogja dan rumahku di deket UNY. Yaudah, anggap aja mau ke perpusda ya, hehe #maksa Tas udah siap, tinggal naik motor dan cusss.. Tidak lupa pamit sama bapakku (sekarang alm.) dulu yang sedang duduk-duduk di teras rumah.



Aku pun mulai melaju dengan motor bututku (keluaran 1981) dan tas ransel batikku yg jenis pake risleting gak pake tutup depan. Setelah melewati jalan kampung Samirono dan Iromejan aku belok kanan lewat Jln. Solo. Pas udah hampir nyampe di perempatan Galeria, sekitar di depan toko-toko kain itu lah, posisiku di tengah jalan tiba-tiba ada orang naik motor teriak-teriak dari jarak agak jauh ke aku, dia juga gak berhenti, sambil jalan gitu. Nggak jelas dia ngomong apa dan nggak jelas yang teriak-teriak juga siapa lha wong di tengah jalan, aku gak mungkin berhenti sejenak buat lihat orang yang teriak-teriak itu. Yang jelas sih bukan anak sekolahan yang teriak-teriak itu, agak berumur lah, sekitar 30an-40an tahun kayaknya.



Kenapa ya? What's wrong with me batinku. Mungkin risleting tasku kebuka kali ya. Tangan kiri ku pun meraba-raba tasku yang tak taruh dibelakang punggungku. Eh iya, risleting tasku kebuka. Langsung tak benerin.



Perjalanan menuju barat berlanjut, aku melewati RS. Bethesda dan perempatan Gramedia tanpa perasaan bersalah sedikitpun kalau aku sudah melanggar peraturan lalu lintas. Dan entah aku yang gak denger, gak tau atau emang gak ada yang neriakin aku lagi sampai aku terus ke arah barat. Berhenti di pertigaan Mc. Donald. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi.



Tapi itu tak berlangsung lama. Selepas melewati jembatan Gondolayu aku kembali dengar orang teriak-teriak. Beberapa saat kemudian aku sadar kalau ada seorang ibu-ibu naik motor teriak-teriak ke arah aku. Butuh waktu beberapa saat pula hingga aku menyadari isi teriakan ibu itu. Ya seperti orang naik motor di Jln. Solo tadi, teriak-teriaknya sambil melaju naik motor. Aku pun segera menepi, bengong sebentar, dan megang kepalaku sendiri. Iya ya, aku gak pake helm :3




Iya, ibu-ibu tadi teriak kayak gini: "Dek kok gak pake helm?" berkali-kali sampe aku nyadar. Memang baik banget ya ibu itu tadi, rela teriak berkali-kali cuma utk tanya kok aku gak pake helm. Aku pun belum sempat bilang terimakasih karena waktu nyadar aku gak pake helm ibu-ibu tadi sudah melesat jauh dengan motornya.



Gak kayak tadi yang pede-pede aja tanpa pake helm ngelewatin beberapa lampu merah dengan yang polisi penjaganya terkenal "galak." Temen-temenku pernah ditilang polisi di perempatan galeria sama gramedia, jadi image polisi yang disana itu galak alias suka nilang. Setelah nyadar gak pake helm aku gak berani kemana-mana. Aku minta tolong mbak ku yang kerja di Kota Baru buat nganterin pinjeman helm. 



Btw, kira-kira kalo aku nyadarnya kalo gak pake helm pas udah nyampe perpusda gimana ya. Pas mau nyopot helm mau ditaruh di motor, eh kok helmnya gak ada :O wkwkwkwk Terus kalo pede aja gitu ngerasa pake helm selama perjalanan sampe perpusda kira-kira ditilang polisi gak ya?

Selasa, 09 Desember 2014

Tengok-tengok Postingan Tahun 2014


logo1
Lagi pengen bikin postingan singkat, eh nemu acara GA Tengok-tengok Blog Berhadiah. Tugasnya asik sih, pilih postingan yang paling berkesan di blog masing-masing selama tahun 2014.

Buat blogger yang gak produktif kayak aku gampang banget milih postingan yang paling berkesan, hehe. Pilihan pun langsung jatuh ke cerita waktu aku jadi debt collector di Telkom :D. Mengapa pilihanku jatuh ke postinganku di awal Januari 2014 itu? Ceritanya ada di paragraf selanjutnya :D


Gak nyangka aja postingan itu jadi postingan paling laris kedua di blog ini. Aku bikin postingan itu karena udah janji sama beberapa pegawai Telkom Jogja yang dulu tak kasih kartu nama berisi alamat blogku. Aku bilang kalo bakal cerita tentang pengalaman magang di blog. Aku kan punya kebiasaan buruk suka nunda-nunda gitu, magangnya sih awal 2013. Share pengalamannya baru di awal 2014 ^^v Kalo dulu gak janji aku gak yakin bakal nulis pengalamanku itu di blog, hehe.

Coba deh share postingan yang udah tak bikin itu di grup fb Komunitas Emak-emak Blogger. Eh banyak yang komen. Anggota Emak-emak Blogger itu emang baik-baik, hehe

Selain itu, ternyata para mahasiswa yang mau magang dan nyari info magang di Telkom juga beberapa yang nyangkut di blog ini. Ada yang komen, ada yang pm, tanya-tanya. Seneng sih, jadi berwarna, hehe. Gak cuma posting komen, udah, tapi ada yang hub. via email/socmed. Para mahasiswa yang tanya-tanya pada ngira kalau susah gitu bisa diterima magang di Telkom, padahal mudah banget. Wong gak pake seleksi. Asal di Telkom lagi gak ada/sedikit mahasiswa/siswa magang aja insyaallah bakal diterima selama Telkom masih membuka diri buat para nerima mahasiswa/siswa buat magang disana :).

Dapet email/sapaan di socmed dari pembaca blognya adalah biasa bagi para blogger kelas paus. Tapi buat blogger kelas teri kayak aku, kalo ada pm/sapaan di socmed dari pembaca itu rasanya udah bahagiaaa… banget, hehe. Dari semua postinganku, cuma ada 3 postingan yang menghasilkan interaksi di luar blog (pm/sapaan di socmed dari pembaca).

Udah sih itu aja, takut kepanjangan. Kan niatnya cuma bikin postingan pendek :p. Lagi pula syarat ikut GA maksimal artikel terdiri dari 500 kata, hehe. Senangnyaa.. gara-gara GA ini blogku jadi tak update, :’)

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...