FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Rabu, 26 April 2017

Buang Gengsi

Guru saya selalu mengajarkan untuk buang gengsi. Meskipun mampu jalan-jalan ke luar negeri, guru saya tidak pernah pamer foto foya-foya di luar negeri. Beliau mengajarkan, kesuksesan bisnis itu bukan buat gengsi. Tetapkan angka cukupmu. Jangan mudah meningkatkan gaya hidup apalagi memaksakan gaya hidup di kala bisnis masih berproses, belum banyak menghasilkan. Sesuai kata ketika penghasilan naik tingkatkan sedekah, bukan tingkatkan gaya hidup. Kalo aku sih masih gini2 aja, masih kurang belum surplus, hehe.

Keputusan-keputusan anti mainstream yang memang kita anggap baik buat hidup kita itu bagus banget buat melatih membuang gengsi. Misal seperti guru saya yang memilih home schooling untuk anaknya. Meskipun banyak orang yang kontra. Kalau cuma mengikuti kata orang banyak tidak sesuai yang ada di hati ya susah, nanti jadi kayak kisah bapak anak yang bawa keledai. Udah kan ya ikutin kata hati aja.

Contoh keren lainnya adalah lulus S1 10 tahun lebih. Pada umumnya orang menganggap buruk para mahasiswa abadi. Tapi saya enggak, perjuangan mahasiswa abadi apalagi sampai baru lulus 10 tahun lebih itu keren loh. Apalagi untuk menghadapi masyarakat yang menganggap mahasiswa abadi sesuatu yang sangat buruk. Kalo saya sih gak ada keren2nya, kalah saya sama yang 10 tahun lebih, saya 7 tahun, itu pun cuma karena kebanyakan galau mikirin skripsi sejak semester 11 tapi cuma dipikirin gak dikerja2in XD.

Maksud paragraf sebelumnya bukan buat ngajak pembaca ikut-ikutan kuliah lama yaa... Kalau masih semester 7 8 ya mending segera dikelarin skripsinya. Saya juga sebenernya pengen lulus di semester 10, tapi ternyata saya gagal menggerakkan diri untuk segera menyelesaikan skripsi, hehe Sekalinya nyoba nunda2 ngerjain skripsi eh keterusan. Jadi susah menggerakkan diri buat gak nunda2 skripsi lagi, itu sih saya.

Saya cuma mengajak pembaca untuk jangan langsung judge negatif mereka yang gak lulus di semester 8. Apalagi pembaca masih semester 1-7, hati-hati kualat. Nasib orang gak ada yang tahu. IP 4 terus ambil sks maksimal terus gak menjamin seseorang lulus cepat. Bisa banget loh teori 3,5 tahun, skripsi 4,5 tahun. Godaan buat nunda ngerjain skripsi tu gede banget loh. Tapi ya gak semua yang lulus telat itu cuma gara-gara kebanyakan galau kayak saya, bisa jadi mereka punya alasan yang bikin pembaca manggut-manggut waktu dengar alasannya kemudian pembaca menyesal sudah berprasangka negatif.

Guru-guru Saya

Sekarang, di era semuanya serba online, kita bisa belajar dari mana saja. Bisa mendapatkan ilmu dari mana saja. Kita bebas memilih guru sesuai bidang yang ingin kita tekuni. Kita bebas memilih siapa yang ingin kita gugu dan kita tiru. Meskipun ya memang di era informasi yang sangat pesat ini, kita harus berhati-hati dalam memilih guru. Jangan sampai yang sesatlah. Jangan coba-coba jadi komunis dsb. Ingat pancasila, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila-sila berikutnya.


sumber: https://www.flickr.com/photos/halfchinese/165719204
Sekarang pilihan guru tidak hanya mereka yang berada satu kota dengan kita, kita bisa dengan mudah dapat update ilmu bahkan dari tokoh-tokoh di luar negeri. Misal kita nge fans dengan Bill Gates kita bisa secara berkala mengikuti socmednya. Tapi tidak semua orang terkenal sering berbagi ilmu via socmed sih, bahkan tokoh yang tidak suka dengan socmed juga ada.

Kalau saya, yg selama ini saya anggap sebagai guru ya Pak Jaya Setiabudi dan entrepreneur-entrepreneur keren disekitarnya, antara lain Mas Fikry Fatullah, Kang Dewa Eka Prayoga, dan Motiva Tweet. Mereka itulah yang saya kemungkinan besar maksud jika suatu ketika saya bilang guru saya. Meskipun secara resmi saya bukan murid mereka dan mereka bisa jadi tidak tahu kalau ada manusia yang bernama Feni Tri Utami, haha. Kalau stalking saya paling sering Pak Jaya, sering dapat pencerahan dari sana tidak hanya soal bisnis tapi juga tentang kehidupan dan keimanan.


Akhir tahun kemarin saya sempat ikut program mentoring online dengan salah satu dari beliau-beliau yang saya anggap sebagai guru saya tersebut. Dan saya jadi tahu bahwa mentoring bisnis itu tidak mudah. Tidak mudah mengerjakan tugas-tugas yang diberika dengan penuh komitmen. Ya sampai sekarang diluar mengerjakan tugas saya tidak pernah konsultasi. Iya, padahal kalau punya mentor bisnis itu ya pengennya jadi tempat konsultasi ya, tapi nyatanya saya tidak enak mau konsultasi, karena belum mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Tapi jujur ilmu dan keterampilan yang berusaha ditransfer benar-benar ilmu mahal yang membuat saya jadi o ya ya, beberapa update mereka di socmed yang awalnya saya gagal paham jadi paham setelah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Ya begitulah, bener-bener worth it, beda dengan yg gratisan. Sebelumnya saya pernah ikut mentoring gratisan dari sebuah komunitas bisnis muslim. Tapi cuma jalan dua pertemuan, pertama cuma kenal-kenalan sesama anggota sekelompok, kedua disuruh bikin visi misi value, sudah. Selesai itu sudah berhenti, tidak jalan. Ya selama ini saya baru ikut mentoring bisnis 2 kali sih. Sebelumnya pernah ikut mentoring atau lebih tepatnya disebut coaching bisnis sih sama teman-teman di kampus dengan coach para dosen. Tapi ya cuma jadi subjek penelitian, selesai penelitian ya selesai coachingnya. Secara waktu jadi coachee itu aku juga belum nemu passionku alias olshopku yg sekarang belum berdiri, jadi ya agak ogah-ogahan, haha.

Jadi inget sebelumnya juga pernah ikut mentoring bisnis yang ngadain Kopma UNY, tapi gak jalan juga. Cuma tiga pertemuan, pertama kenalan, kedua sharing masalah bisnis masing-masing di kelompok, ketiga curhat sama mbak dewi mantan ketua kopma soal bisnis. Udah itu aja. Gratisan juga. Pas aku belum nemu passion juga, pas olshopku yg sekarang belum berdiri juga.

Jadi total aku udah pernah mentoring bisnis 4 kali, yang bener-bener jalan cuma yang mentoring online dengan salah satu beliau-beliau yang saya sebut sebagai guru, itupun gak pakai acara konsultasi sama sekali, cuma mengerjakan tugas yang diberikan secara bertahap. Ya namanya aja mentoring berbayar beda jauh sama yang gratisan. Buat temen-temen yang pengen ikutan mentoring bisnis, yang paling penting untuk dipersiapkan memang komitmen, buat mengerjakan tugas-tugas dari mentor.

Buat yang pengen ikut mentoring bisnis gratisan tapi jalan bisa gabung di Rumah Kreatif Jogja. Aku juga baru tahun ini tahunya waktu dengerin acara kongkow bisnis geronimo. Aku sekarang gak selalu ngikutin acara radio ini sih, bagus sebenernya materi diarahkan biar bener-bener bermanfaat buat bisnis para pendengarnya. Tapi gak sekocak dulu waktu dibawain sama bos sedekah rombongan, Saptuari Sugiharto. Jadi kurang ngakak aja. Lah, ini dengerin buat upgrade ilmu buat bisnisnya apa dengerin lawak ya, jiah kena, haha. Sebenernya aku dengerin buat cari ilmu apa hiburan? XD Kayaknya emang cari hiburan, udah lama ninggalin tv soalnya banyak yang gak asik tontonannya, wkwkwk.

Aku sendiri sih, belum pernah mampir ke Rumah Kreatif Jogja. Kalau lihat foto-fotonya kelihatan asik banget sih tempatnya, kalau haus juga bisa beli minum, bikin sendiri minumnya. Desain tempatnya kekinian. Aku baru lihat di socmed tapi, belum kesana sendiri, haha. Rumah Kreatif Jogja ini didirikan oleh pemerintah untuk membantu umkm agar naik kelas. Jadi bakal ada program konsultasi bisnis gratis, inkubasi bisnis, mempertemukan entrepreneur dengan pekerja kreatif yang sekiranya dibutuhkan entrepreneur untuk bisnisnya, serta mempertemukan entrepreneur dengan para investor. Menjawab semua yang dibutuhkan umkm ya.

Kapan-kapan pengen ngajak temen buat ke Rumah Kreatif Jogja. Udah daftar di webnya aku buat jadi anggota, udah dimasukin grup whatsapp Rumah Kreatif Jogja sama adminnya tapi belum pernah dateng kesana sama sekali. Terus buat yang pengen mentoring, ada kewajiban konsultasi sebulan sekali dan harus ada progressnya. Kalau bolos mentoring sama gak ada progress kayaknya bakal gak boleh ikut mentoring lagi di Rumah Kreatif Jogja yang aku tangkep di grup whatsapp. 

Aku cuma silent reader sih di grup whatsapp. Cuma memperkenalkan olshopku sama tanya program, udah. Itu pun gak ada yang nanggepin satu pun. Kasian ya, wkwkwk. Lah rame banget, aku cuma sebutir pasir yang nyempil di keset dari sabut kelapa, gak keliatan blas XD. Males ikut gabung sama percakapannya, selain belum pernah kesana, kadang obrolannya cuma ngalor ngidul, kadang ketinggian juga, ra gadhuk aku, wkwkwk.

Cuma ya di Rumah Kreatif Jogja yang disingkat RKJ ini milik pemerintah, jangan harap kita bakal dapet wejangan yang berbau religius seperti yang kadang disampaikan guru-guru saya (Pak Jaya Setiabudi dkk). RKJ ini milik pemerintah jadi kita dilarang terlalu membahas agama kita di sini. Itu sih yang saya lihat di grup. Pernah ada yang disemprit juga di grup.

Jadi yang saya lihat disini nantinya kita bakal diberi ilmu dan keterampilan manajemen, promosi, dll. Ya mirip-mirip kuliah di manajemen tapi ini jelas lebih aplikatif buat umkm. Kekurangannya ya memang kurang komprehensif karena fokus ke ilmu dan keterampilan sisi ketuhanannya jadi urusan pribadi masing-masing alias yang saya lihat disini sepertinya tidak bakal dibahas. Ini agar semua anggota dari berbagai macam sara bisa nyaman disini. 

Tapi entah kapan aku mulai ke RKJ, sejak awal Maret salah satu rencana hidupku hampir hancur berantakan soalnya. Gara-gara dianggap pungguk yang merindukan rembulan. Sebelum akhirnya kehilangan kesempatan sama sekali ini dari kemarin menyusun strategi dan keberanian biar gak nyesel seumur hidup gara-gara kehilangan kesempatan berbicara dan mendengar.

Ya itu semua gara-gara aku gak mengerjakan tugas mentoring online dengan baik dan benar sih. Kalo tak kerjain dengan baik dan benar bisa jadi aku gak bakal dianggap pungguk yang merindukan rembulan. Padahal abis yudisium aku udah nolak tawaran jadi manajer di bisnis ibu2 muda sekomunitas entrepreneur muslim yang omset bisnisnya udah sampai 5 milyar perbulan. Apalagi kalau bukan karena yakin kalo aku bakal dpt lebih banyak dari bisnisku drpd gaji perbulan jadi manajer disana. 

Tapi ya itu, ternyata aku gagal disiplin dan sekarang masih gini2 aja. Penghasilan perbulan paling juga sama kayak dosen lulusan S1 di sekolah tinggi swasta pinggiran yang bosnya ngirit. Ya pantes ya kalo dianggep pungguk yang merindukan rembulan. Apalagi keluargaku bukan keluarga terpandang dan saudara kandung maupun iparku gak ada yang jadi pejabat macam anggota dewan. Tetep aja sih ya, title dosen kelihatan jauh lebih mentereng dibanding pengangguran pakai tapi kayak aku ini, wkwkwk.

Selasa, 25 April 2017

Gak Sadar Bikin Fan Page

Jadi aku punya 3 akun facebook atas namaku. Akun yang pertama banget dulu sempat aku ubah namanya jadi olshop gara-gara aku juga mau menghilang pas skripsi gak selesai-selesai. Takut ditanya-tanyain, takut jadi makin stress gara-gara ditanya-tanyain. Sedang aku susah dapetin mood buat ngerjain skripsi, hehe. Bisa makin hancurlah moodku kalau ditanya-tanya terus. Itu dulu ya, sebelum aku lulus :).

Merasa butuh facebook, aku buat lagi facebook yang mana isi teman-temannya gak bakal rusuh nanyain skripsi, hehe. Selama belum mendekati ancaman D.O. aku lebih sering buka facebook ini. Biar tetep bisa masuk grup khusus follow up kelas workshop yang dulu pernah aku ikutin juga sih. Soalnya akun facebook yang pertama dulu mau aku konvert jadi fan page olshop. Tapi sampai sekarang gagal gara2 peraturan facebook yang berubah.

Setelah mendekati ancaman D.O. Mau gak mau aku beranikan diri ke kampus buat memperjuangkan kelulusan. Akhirnya aku aktifin facebook yang sempat aku telantarin dulu, facebook ketiga ini, yang sekarang paling sering aku buka. Aku add temen2 yang sekiranya efeknya positif ke perjuangan kelulusanku. Masih selektif juga aku add nya, jadi jumlah temannya gak sebanyak di facebook yang pertama.

Nah waktu buka akun ketiga ini, aku pernah dapet notif dari facebook soal fan page2 gitu. Nah aku ikutin aja petunjuknya disuruh ngapain. Tapi gak sepenuhnya sadar sebenernya aku ngapain, tak kira cuma ditunjukin fitur fan page aja sama facebook.

Hari-hari selanjutnya gak pernah aku pikirin lagi. Sampai suatu saat aku buka facebook, aku kan emang jarang update status di facebook. Aku heran kok pas mau liat profil facebookku, disisi kanan akunku ada 2. Tapi aku ga terlalu mikirin, entahlah biar batinku.

Kadang ada notif, xxx like your page. Agak bingung sih, soalnya aku merasa gak pernah bikin fan page pake akun fbku yang ketiga ini. Tapi ya gak tak pikirin.

Sampai akhirnya aku iseng-iseng buka dengan kesadaran penuh, memecahkan teka-teki selama ini. Daaannnn... ternyata dulu aku gak sengaja bikin fan page, dan fan page nya namaku sendiri!!! Ya Allah malu banget mana temen-temenku pada nge like. Gak semua temen di fb nge like. Tapi cuma sedikit temen fb yang ga nge like. Ya Allah kok baik2 sih mereka, padahal banyak yang belum pernah ketemu apalagi ngobrol di dunia maya sekalipun. Ada blogger2 keren yang mana aku cuma remahan wafer dibanding mereka. Aku banyak add anggota KEB sih, mereka emang baik-baik banget ternyata, mau banget nyenengin unknown person kayak aku, haha.

Anehnya, yang ngelike jumlahnya lebih dari jumlah temanku di fb itu dan yang ngefollow fan pageku lebih banyak daripada yang ngelike fan pagenya. Apa facebooknya yang error jadi gak sengaja nyenengin aku ya, haha. Padahal ya, itu fan page isinya cuma foto profil sama foto header yang sama persis kayak akun fb ketigaku itu. Timeline isinya cuma Feni Tri Utami upload profile picture yang mana pp nya blur. Kenapa blur, soalnya kan emang tak setting pikselnya rendah biar jeleknya gak keliatan, hehe. Kalau di pp gak keliatan fotonya kalau blur, kalau di timeline kan gedean ya fotonya, jadi keliatan kalau blur. Setelah sadar aku sembunyiin fotonya.


Selasa, 20 Desember 2016

Tes Mimpi

Pernah tidak, ketika kita tidur dan bermimpi kita sadar kalau itu hanya mimpi dalam tidur. Sadar di dalam mimpi, mungkin tidak sih? Bukankah tidur itu kondisi ketika kita sedang tidak sadar. Umumnya kita baru sadar kalau kita tadi bermimpi ketika bangun tidur, ketika dalam kondisi sadar.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/mcali/5927212958/
Kalau di televisi seringkali si artis mencubit dirinya sendiri untuk mengetes apakah yang sedang dia alami hanya mimpi atau kenyataan. Biasanya sih ketika mereka menghadapi kenyataan yang susah untuk dipercaya, "seperti mimpi" istilahnya. Mencubit diri sendiri untuk meyakinkan diri kalau itu merupakan kenyataan bukan hanya dalam mimpi. Seingat saya tidak pernah ada adegan dimana si artis ceritanya benar-benar berada di alam mimpi kemudian mencubit diri sendiri terus bangun.

Betul tidak sih, kalau kita sedang berada di alam mimpi kalau dicubit tidak merasa sakit. Berarti kalau di alam mimpi kita di pukul, dsb di alam mimpi tersebut kita jadi seperti orang kebal dong. Berarti kalau di alam mimpi kita semua bisa bikin pertunjukan jadi orang kebal, tidak sakit mau dicubit, dipukul, terkena pisau, dan lain-lain. Kalau kita bermimpi jadi tukang tinju, meskipun dalam mimpi kita kalah, kita berarti tidak bisa merasa sakit dan babak belur dong kalau dipukul dan dihantam lawan.

Sebenarnya betul tidak sih kalau sedang di alam mimpi kita tidak bakal merasa sakit kalau dicubit? Betul tidak sih kalau di alam mimpi kita selalu jadi manusia kebal dari rasa sakit yang diakibatkan oleh serangan fisik?

Sumber: https://www.flickr.com/photos/ganmed64/14511373503/
Entah kenapa saya pernah berada di alam mimpi dimana saya curiga kalau saya sedang bermimpi. Apakah itu berarti saya sadar kalau saya sedang bermimpi? Sepertinya sih tidak. Kecurigaan berada di alam mimpi saat bermimpi itu bisa ternyata. Bermimpi sedang sadar kalau sedang bermimpi, ya tiba-tiba saat nulis ini sekarang saya jadi menyimpulkan kalau saat itu saya tidak sadar dalam arti sadar sesungguhnya.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/alexander_mueller_photolover/22457295216/
Bisa diibaratkan seperti past continuous tense kali ya. Sedang melakukan tapi di masa lampau. Bukan "sedang" dalam arti yang sesungguhnya (bukan "sedang" sekarang). Jadi ya sadar dalam arti mimpi sedang sadar, hehe. Bukan sadar dalam arti yang sesungguhnya. Bukan sadar bangun tidur. Kalau bangun tidur kan sudah keluar dari alam mimpi, hehe.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/alexander_mueller_photolover/22457295216/
Nah, mimpinya itu saat itu saya sedang berada di sebuah lorong di kampus bersama teman-teman saya. Saat itu saya curiga kalau saya sedang berada di alam mimpi. Tidak ada kenyataan yang susah dipercaya saat itu. Cuma saya curiga aja kalau ini mimpi, lalu saya tanya teman saya, kurang lebih seperti ini: "Ini mimpi bukan sih?" Lalu teman saya menjawab kurang lebih: "Bukan," lalu teman saya itu mencubit saya dan saya merasa sakit di mimpi itu. Iya di alam mimpi itu saya merasa sakit.

Setelah dicubit di alam mimpi sama teman saya, saya tidak langsung bangun. Mimpi saya berlanjut, saya masih tetap tidur. Hingga ketika saya bangun, ternyata saya tidak merasa sakit seperti yang saya rasakan di alam mimpi. Tidak ada bekas cubitan teman saya juga. Ternyata ketika sedang bermimpi kalau dicubit ya kita tetap merasa sakit, tapi ya cuma sakit saat di alam mimpi, tidak terbawa sampai ke alam nyata, hehe. Mimpi ternyata tidak bisa membuat kita jadi manusia kebal dari rasa sakit akibat dilukai secara fisik. Rasa sakit ketika dicubit ternyata tidak bisa dijadikan alat tes apakah kita sedang berada di alam mimpi atau alam nyata.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/arwen-abendstern/2142054908/

Saya mimpi curiga sedang berada di alam mimpi itu sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Sudah ingin cerita tentang itu di blog dari dulu. Tapi baru kesampaian sekarang. Buat wawasan saja. Senang juga bisa cerita panjang lebar disini. Keinginan bercerita pengalaman ini jadi terlampiaskan, hehe. Terimakasih sudah membaca :)

Senin, 05 Desember 2016

Mentoring Bisnis

Anak-anak muda yang berniat menjadikan entrepreneur sebagai profesi biasanya ingin sekali punya mentor bisnis. Termasuk aku, sudah lama sekali ingin punya mentor. Dalam bayanganku punya mentor itu enak, ada masalah bisnis apa langsung punya tempat konsultasi yang kompeten.

Suatu ketika aku mendengarkan acara Kongkow Bisnis, Radio Geronimo. Tema yang sedang dibahas adalah mentoring bisnis. Aku sering dengar si A berhasil jadi mentee pengusaha B, dsb. Sudah dapat beberapa tips agar berhasil mendapatkan mentor bisnis. Tapi semua tidak ada yang tuntas membahas soal bagaimana caranya agar seorang mentee tidak membuat mentornya illfeel. Makanya di acara tsb aku request agar dibahas juga soal etika yang harus diketahui seorang mentee selama proses mentoring. Jawabannya adalah komitmen.

Pada acara itu disebutkan bahwa menjadi mentee itu bukanlah hal yang mudah. Acara itu dipandu oleh seorang penyiar radio dan pebisnis yang ketika itu pernah menjadi mentor bintang tamu. Si bintang tamu sempat kabur selama beberapa saat ketika mentoring karena tugas-tugas yang diberikan mentor, meskipun kemudian balik lagi. Ya, ternyata mentoring itu tidak seindah yang dibayangkan, ada tugas dan laporan. Menjaga komitmen bukanlah hal yang mudah.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/stevendepolo/4498182031
Hingga akhirnya 2 hari setelah siaran radio itu aku resmi dapat mentor. Tugasnya memang gila-gila sih. Diantaranya sampai membuatku dipandang aneh sama orang-orang. Diolok orang-orang. Dirasani orang-orang. Orang-orang yang tidak dikenal untungnya, hehe.

Tugas-tugas lainnya tidak sepele juga, tapi efeknya ke aku kena banget sih. Salah satu yang paling aku syukuri ya tugas-tugas dari mentorku ini bikin aku bisa ikut wisuda akhir November kemarin. Tapi yang namanya perubahan ternyata ya memang butuh proses.

Mentoring ini belum selesai dan aku masih sering galau tidak jelas. Tapi sudah banyak efek positif yang aku bisa rasakan sendiri terkait perubahan-perubahanku. Aku akui memang banyak sekali yang harus aku perbaiki dari kepribadianku. Meskipun belum terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Tapi perubahanku sudah aku rasakan dan nyata buatku.

Mentoring belum usai. Aku harap aku semakin bisa disiplin dan manfaat yang kuambil semakin kesini semakin maksimal. Karena aku masih sering galau tidak jelas sehingga berpengaruh pada pengerjaan tugas aku sempat bertanya, "Apa aku sebenarnya belum siap menjadi seorang mentee?" "Apa aku terlalu cepat mendapatkan mentor?" Tapi kemudian aku jawab, tidak.

Aku sudah mendapat banyak manfaat dan aku sudah merasakan perubahan-perubahan yang berarti buatku, salah satunya berhasil membuatku bisa ikut wisuda November 2016. Ya meskipun perubahan itu baru bisa aku rasakan dan tidak kasat mata oleh orang lain. Bukankah penilaian orang lain itu tidak penting? Jauh lebih penting penilaian Allah.

Penerapan bagaimana tidak mementingkan penilaian orang lain memang tidak mudah, padahal kalo sudah mikirin bagaimana penilaian orang lain itu riya ya. Ya begitulah, memang tidak mudah, salah satu cara untuk melatihnya yaitu dengan meletakkan rasa malu di tempat yang tepat. Jangan malu kelihatan miskin dsb. Tapi malu kalau suka nunda-nunda mengerjakan hal-hal yang harus segera dikerjakan. Malu kalau kurang bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri. Malu kalau sedikit-sedikit galau.

Minggu, 06 November 2016

Yudisium

dua beban jurusan manajemen ini akhirnya lulus juga, alhamdulillah :')


aku emang dah yudisium dari ... yg lalu
tapi yg jadi pertanyaan:
kenapa proses pengesahan gelar sarjana namanya yudisium?
darimana asal kata yudisium?

kenapa gak fenisium aja namanya? *duh mulai, efek kebanyakan micin xD*

hmm..

yudisium

cuma mengalami apa yg disebut syok aja sih tadi malem

sampe gak fokus, jadi salah transfer, trus menenangkan diri dengan ngopi dan makan nasi, kebetulan malem itu aku belum makan malam, abis makan malam sama ngopi aku malah kebelet pup, alhamdulillah keluarnya lancar, pup yg lancar itu serasa surga dunia, hati jadi lebih tenang juga

Online lagi nerusin nge twit. Abis ngetwit tertarik paraf petisi, mau paraf petisi A malah yg ke paraf petisi A sama B. Padahal dua petisi itu berseberangan. Mungkin aku memang dah tenang, tapi dah ngantuk juga. Udah jam sebelas malem lebih juga sih. Jadi pengen curhat lagi, pindahlah aku ke facebook nulis status. Kalo di twitter lagi nanti jadinya wagu soalnya. Soalnya dah tak setting kata terakhir itu yudisium. Buat ngetwit lagi jaraknya harus agak jauh. Biar enak dipandang juga. Wagu lah kalo abis twit terakhir itu aku ngetwit lagi, hehe.

Abis nulis status di facebook jam udah jam 12 malam. Aku malah gak jadi ngantuk. Terusin nulis status di facebook. Hal yg sama kayak apa yg aku tulis di twitter, cuma lebih singkat aja.

Yang jelas.

Tadi malem aku begadang, sampai jam dua lebih gak bisa tidur. Ya sama, kayak beberapa orang yg juga begadang di tempat mereka masing-masing. Ada yg begadang karena ronda, bersenang-senang, lembur, ngerjain tugas, dll.

Kemarin, beberapa orang ada yang bahagia, bahagia banget, amat sangat bahagia banget, ada yang bahagia tak terkira, ada yang sedih, ada yang galau, ada yang pesta pora, ada yang pesta aja, ada yang mager, ada yang ... (isi sendiri lah bebas, hehe).

Aku juga bahagia, bahagia banget. Iya bahagia banget kalo inget aku udah yudisium, meskipun itu udah ... yang lalu. Belum lama juga sih sebenernya, hehe. Masih anget, masih di tahun yg sama, masih di 6 bulan terakhir di tahun 2016. Rasa bahagianya masih aja meluap-luap (ini cuma hiperbola) kalo inget aku udah yudisium. Akhirnya ya, setelah 7 tahun menyandang status sebagai mahasiswa S1 aku lulus juga. Gak jadi di DO tu leganya kayak abis berhasil keluar dari kandang macan!! Alhamdulillah!! :'D

Karena aku update status di facebook tentang yudisium, temen2 pun jadi nyelamatin aku, ya sama, sama-sama bahagia sama orang-orang yang juga sedang dapet banyak ucapan selamat.

Intinya, kemarin dan tadi malem ada beberapa orang yg bahagia banget dan dapet ucapan selamat, semuanya begadang tadi malem, di tempat masing-masing. Semuanya bahagia. Happy Ending. :)

Kamis, 25 Agustus 2016

Something Horror

Masih menjadi mahasiswa di penghujung masa studi hingga terancam harus mengajukan perpanjangan masa studi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Sempat menghilang dari peredaran, tidak pernah nampak di lingkungan kampus selama 2 tahun lamanya membuat saya harus terbiasa dengan kesepian dan kesendirian. Ketemu teman yg sudah jadi dosen dan adik angkatan setahun persis yang sama-sama jadi mahasiswa uzur setidaknya bisa jadi sedikit obat kesendirian di kampus. Tapi ya emang teman-teman seangkatan yang saya kenal sudah tidak pernah ada lagi yg berkeliaran di kampus sebagai mahasiswa S1.

Kesepian dan kesendirian bukan apa-apa sih. Tidak terlalu saya hiraukan dan tidak begitu menganggu pikiran. Jalani saja. Something horror yang cukup sensitif buat saya adalah cerita-cerita dari para mantan mahasiswa semester 14 yang mengerikan. Ditambah pertanyaan dan pernyataan yang bisa bikin emosi langsung meledak-ledak, hahaha.


ilustrasi horror: httpswww.flickr.comphotosbrinzei

Bulan ramadhan Juni lalu saat saya mulai berniat akan segera ke kampus lagi untuk menyelesaikan skripsi, saya sempat minta wejangan dari seorang teman yang pernah merasakan menjadi mahasiswa semester 14. Katanya jangan sampai telat mengurus perpanjangan masa studi, kalau tidak mau di drop out. Jujur hal ini malah membuat saya jadi loyo. Ketakutan akan do membuat saya ragu melangkahkan kaki ke kampus. Ditambah pernyataan dari salah satu orang terdekat saya kalau waktunya sudah mepet seperti ini bakal susah untuk memperjuangkan kelulusan. Sempat bertanya kesana kemari bahkan sebagai anonim ke beberapa figur publik yang dikenal berpengalaman menjadi mahasiswa semester 14.

Alhamdulillah akhirnya saya beranikan diri, saya paksa diri untuk melangkahkan kaki ke kampus demi bertemu dosen mengurus skripsi dan bertanya tentang masa studi. Ketakutan saya untuk ke kampus hilang sudah. Setelah mengurus perpanjangan masa studi saya diberi tahu dekan bahwa saya tidak perlu mengurus perpanjangan masa studi karena masa studi saya masih sampai September 2016. Kalau September 2016 belum lulus barulah saya perlu membuat surat perpanjangan masa studi. Kata ketua jurusan saya, perpanjangan masa studi jangka waktunya 3 bulan sejak masa studi seharusnya sudah berakhir. Alhamdulillah, masih ada waktu sampai Desember 2016.

Meskipun begitu saya berharap saya tidak perlu melakukan perpanjangan masa studi, berharap September 2016 sudah bisa ikut yudisium. Tapi kalau memang harus melakukan perpanjangan masa studi ya tidak apa-apa, yang penting bisa lulus. Meskipun selulus kuliah saya berniat untuk fokus membesarkan bisnis sendiri daripada kuliah lagi maupun melamar kerja. Saya akan tetap berusaha mengejar gelar sarjana, untuk ibu saya. Juga untuk perjuangan saya selama ini, masa iya kuliah 4 tahun capek-capek tinggal menyelesaikan skripsi saja tidak dilakukan. Toh masih ada waktu meskipun tidak selonggar waktu yang dimiliki adik-adik angkatan.

Teman saya yang pernah jadi mahasiswa semester 14 tersebut juga bercerita bahwa dia sampai makan pun harus disuapin adiknya gara-gara begitu padatnya waktu untuk menyelesaikan skripsi. Cerita ini cukup menghantui saya. Saya tidak pernah merasa sepadat itu. Jadi takut kalau saya gagal. Selama ini saya cukup santai, ya bad mood sedikit tunda revisi, sering seperti itu. Meskipun juga berusaha tetap memotivasi diri sendiri untuk mengurangi penundaan-penundaan tidak perlu seperti itu.

Cerita dia yang sampai waktu tidurnya sedikit, makan sampai disuapin, ngerjain skripsi terus di depan laptop itu hantu banget. Saya kok biasa saja ya, tidur tetap lama kalau buka laptop seringkali malah tidak mengerjakan skripsi. Toh yang perlu direvisi sedikit. Tapi jadi takut kenapa-napa saya nya. Sebenarnya takut karena tidak kunjung merevisi sih, kalau sudah selesai revisinya juga bakal tenang, hehehe.

Yup, habis ini harus selesaiin revisi sampai fixxx tinggal memasukkan hasil olah data sajaa. Hahahah.

Ucapan horor lainnya adalah kata-kata negatif, cenderung menakut-nakuti, atau membuat takut. Bukannya membuat saya tambah semangat, yang seperti ini malah bisa membuat saya jadi loyo, galau, bad mood. Saya lebih suka diberi kata-kata positif untuk memotivasi daripada ancaman yang malah membuat saya takut sendiri, sibuk resah gelisah, malah tidak kunjung menyentuh skripsi, hehe. Kata-kata yang saya suka seperti, tinggal sedikit lagi loh, jadi sarjana, dsb. 

Ya tapi apapun kata-kata orang juga kita tidak punya kendali untuk mengaturnya. Yang harus dipersiapkan adalah bagaimana mengelola emosi. Harus maju terus biar bisa lulus. Jangan sampai menyerah. Pasti bisa lulus.

Jumat, 29 Juli 2016

Laptop Lenovo Gratis

Deadlinenya cuma sampai besok loh, tidak ada ruginya mencoba, mumpung masih ada waktu. Info lengkap klik: www.bit.ly/berbagiceritainspirasi :)






Sabtu, 09 Juli 2016

Yang Paling Nyesek di Semester 2 Digit

gambar: isigood.com

Waktu magang di Telkom, tahun 2013 (semester 8), sudah ada ibu-ibu pegawai yang membandingkan saya dengan anaknya yang baru saja lulus S1. Saat itu saya masih bisa menjawab dengan senyum yang ikhlas, masih PD. Toh saya memang berniat lulus di semester 10. Tapi mulai lebaran tahun 2014, di penghujung semester 10, dimana target saya gagal, saya sudah mulai tidak PD. Rasanya ingin kabur dari tetangga-tetangga dan saudara-saudara yang bakal tanya kapan lulus. Begitu pula di lebaran tahun berikutnya. Alhamdulillah lebaran tahun ini tidak ada yang berani tanya-tanya kapan lulus.


2 tahun kemudian, yaitu tahun ini. Saya kembali mengerjakan skripsi dan akhirnya berani melangkahkan kaki ke kampus. Apa yang saya rasakan sekarang adalah menjadi lebih semangat dalam menyelesaikan skripsi, emosi lebih stabil. Ketika ada yang tanya kapan lulus setidaknya jawaban saya bukan lagi "minta doanya lulus tahun ini ya" atau "minta doanya lulus semester ini ya." Tapi sudah bisa jawab dengan yang lebih spesifik, "sedang mengerjakan bab 4, minta doanya ya biar jadi sarjana." Bab 4? Iya, pekan depan baru seminar proposal, hehe. Alhamdulillah setidaknya ada kemajuan, kalau konsultasi judulnya sudah skripsi, bukan proposal skripsi lagi #eh

Berarti sekarang tidak masalah dong kalau ditanya kapan lulus? Mmm.. ya tidak juga sih. Teman sejati menanyakan apa yang bisa saya bantu? Bukan kapan lulus? ^^v

Yang lebih nyesek dari pertanyaan kapan lulus adalah ketika penanya langsung men-judge kita menghabis-habiskan uang orang tua, tidak seperti mereka yang lulus tepat waktu. Sakit sekali saat di judge menghabiskan uang orang tua untuk kuliah lama-lama dan tidak kunjung bisa meringankan beban orang tua dengan bekerja. Biasanya kata-katanya kurang lebih seperti ini: "Cepat lulus, biar cepat kerja, bisa meringankan beban orang tua."

Kalau sudah mendengar yang seperti itu, kepala rasanya mendidih sudah siap meledak. Tapi saya orangnya malas berbicara panjang lebar. Biasanya hanya saya balas dengan senyuman, meski hati rasanya perih tak tertahankan, hahaha.

Why?

Pertama, saya tahu diri dengan membayar kuliah sendiri sejak semester 9. Tapi saya memang tidak pernah berkoar-koar tentang ini. Saya tidak pernah bilang soal ini ke mereka-mereka yang gemar tanya kapan lulus dan men-judge saya seenaknya. Saya hanya mengatakannya ketika saya curhat. Saya juga orang yang tidak mudah curhat secara langsung dengan orang lain. Salah tempat curhat yang ada malah tambah loyo bukannya tambah bersemangat.

Kedua, saya memang tidak kerja di tempat orang, tapi itu bukan berarti saya tidak berpenghasilan. Bukan berarti saya tidak pernah memberi bulanan ke orang tua saya. Bagi saya, kebutuhan saya dan ibu saya adalah tanggung jawab saya. Kebutuhan saya bukan tanggung jawab ibu saya.

Selain itu, saya juga sering sebal ketika saya sering diberi info-info lowongan pekerjaan. Lowongan pekerjaan apa pun, termasuk PNS. Meskipun niat mereka baik, namun hal seperti ini cukup menyakitkan bagi orang yang sudah mantap membesarkan bisnis sendiri seperti saya. Seolah-olah mereka bilang: bisnismu tidak prospektif, lebih baik melamar kerja disini saja. Hidupmu susah banget, kerja disini aja daripada bisnis, buktinya sampai sekarang hidupmu belum banyak berubah.

Seorang teman yang baik adalah teman yang menghargai keputusan temannya. Jika ada teman yang memutuskan untuk berbisnis dan tidak mencari kerja, ya hargailah. Buat saya, seorang entrepreneur itu bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang kebanyakan. Istilah ndesonya visioner. Tapi sebenarnya pebisnis yang baik memang seharusnya tidak mudah emosi ketika bisnisnya direndahkan atau dipandang sebelah mata. Seperti kata mbak Rachel Platten: "I don't really care if nobody else believe, cause I've still got a lot of fight left in me."

Tahu-tahu Semester 14

Menjadi seorang mahasiswa semester 14 tidak pernah ada di pikiran saya sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswa baru maupun ketika masih SMA. Ketika mulai memasuki semester belasan pun saya tidak pernah berencana dan tidak ada keinginan untuk menyandang status mahasiswa S1 sampai 7 tahun lamanya. Semuanya terjadi begitu saja. Waktu rasanya berlalu begitu cepat. Bagi seorang pemalas seperti saya. Waktu seperti pedang. Penundaan yang berlebihan akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Hahaha..



mahasiswa.jpg
https://erickparamata.files.wordpress.com/2014/08/mahasiswa.jpg?w=809


Semuanya berawal ketika saya berencana untuk lulus 5 tahun. Menurut saya masa kuliah adalah masa yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak peluang-peluang yang tidak akan kita dapatkan ketika kita sudah tidak menjadi seorang mahasiswa S1. Lulus 3,5 tahun sangat tidak menarik bagi saya.


Prinsip saya tidak seperti teman-teman saya yang ingin lulus dengan segera membuat saya memilih lebih suka menunda-nunda mengerjakan skripsi. Saya baru mengajukan judul di semester 10. Ini tidak sesuai rencana. Sebenarnya saya ingin mulai benar-benar mengerjakan skripsi di semester 9, kemudian selesai dan lulus di semester 10. Tapi memang sekalinya saya mencoba menunda, maka saya lebih enteng untuk melakukan penundaan berikutnya, begitu terus sampai tidak terasa sudah semester 14 #eh


Akhirnya sampai semester 10 berakhir dan saya baru bimbingan skripsi sekali. Padahal sudah membuat surat keterangan bebas teori. Lumayanlah kalau ditanya orang bisa jawab sudah tidak kuliah, kan memang sudah tidak kuliah di kelas, tinggal skripsi saja, haha. Tapi ya tetap saja. Saat akhirnya saya bayar SPP semester 11 rasanya down banget. Target saya lulus di semester 10 gagal sudah.


Semester 11 adalah saat dimana saya sudah mulai menghilang. Kalau ke kampus ya hanya numpang lewat atau mengurus pengesahan KTM di rektorat. Saya tidak pernah mengisi KRS manual sejak semester 11. Bahkan awal semester 14 ini, saya titip anak UNY semester 2 untuk mengurus pengesahan KTM saya di rektorat.


mta.jpg
ilustrasi: https://pbs.twimg.com/profile_images/2048182074/mta.jpg


Jarang bersentuhan dengan dunia kampus membuat saya jadi lebih mudah lalai dengan skripsi. Lebih mudah menunda-nunda skripsi. Selain memang sejak akhir semester 9 saya mulai tertarik dengan dunia bisnis online. Terlalu banyak hal menarik yang tak ada habisnya di dunia bisnis online. Sebelum bersentuhan dengan bisnis online saya masih bingung dengan passion saya. Setelah memulai bisnis online saya yakin inilah passion saya. Jika dulu ingin kerja di Telkom atau Departemen Keuangan, sekarang saya sudah tidak tertarik capek-capek cari kerja. Lebih bersemangat untuk membesarkan bisnis sendiri.


Mungkin karena dengan mengerjakan skripsi saya tidak dapat uang dan dengan berbisnis online saya dapat uang. Saya menjadi selalu mementingkan bisnis saya ketimbang skripsi. Lagipula orang-orang menyelesaikan skripsi untuk mendapatkan ijazah kemudian ijazah tersebut untuk mencari kerja. Disinilah kesesatan terparah dimulai, haha.


Apakah dengan mengabaikan skripsi dan lebih mementingkan bisnis rejeki kita akan menjadi lebih lancar? Kalau saya sih tidak. Skripsi yang tidak kunjung saya selesaikan menjadi penghambat serius dalam bisnis dan kehidupan saya. Penyesalan memang diakhir ya, haha.


Memasuki semester 11 adalah tamparan yang cukup keras untuk saya. Malu ke kampus? Iya. Saya membayangkan saya akan dicaci maki karena saya gagal lulus di semester 10. Niat sesat pun dimulai. Saya berniat baru mengerjakan skripsi setelah bisnis saya autopilot. Jadi skripsi jalan, bisnis jalan. Saya berniat mengumpulkan uang untuk biaya skripsi dulu baru menyelesaikan skripsi. Kalau saya lebih mengutamakan skripsi saya takut tidak mendapat penghasilan dan tidak ada biaya untuk mengerjakan skripsi. Jadilah saya lebih mengutamakan bisnis saya dulu.


Setiap pergantian semester saya selalu yakin, bahwa di semester ini bisnis saya segera autopilot dan saya bisa segera menyelesaikan skripsi. Setiap ditanya kapan lulus, saya jawab minta doanya semoga semester ini. Tapi ya itu, cuma yakin aja, usaha nyatanya nol. Hahaha.


alasan.jpg
ilustrasi: http://static.inilah.com/data/meme/alasan.jpg


Akhirnya saya sudah buang-buang uang SPP untuk 3 semester tanpa ke kampus sama sekali. Semester 11, 12, 13. Baru di penghujung semester 14 ini, mendadak rajin ke kampus karena takut di drop out, haha. Sayang banget kan, uang SPP tiga semester kalau dikumpulin lumayan, bisa buat beli gadget baru untuk memperlancar bisnis online saya. Takut kehilangan penghasilan malah jadi kehilangan uang jutaan. Hmm… Benar-benar kurang iman.


Apakah saya kembali ke kampus lagi karena bisnis saya sudah autopilot? Belum sih, posisi saya sekarang masih sedang menikmati proses. Lama banget ya prosesnya? Iya, bisnis itu tidak semudah bikin mie instant. Paling susah itu melawan diri sendiri. Mengendalikan emosi. Melawan rasa malas.


Dalam berbisnis, saya sudah jauh ketinggalan kereta dengan teman-teman sesama pebisnis online lainnya. Kenapa? Lebih ke diri saya sendiri sih. Usahanya kurang, rencana tinggal rencana, target tinggal target, ide tinggal ide, mudah badmood, sering menunda-nunda, kurang berani merealisasikan apa-apa yang sudah direncanakan, alon-alon waton kelakon, duh.


Tidak takut semakin ketinggalan kereta karena milih mengerjakan skripsi? Tidak. Yakin aja lah rejeki sudah diatur Allah SWT. Niatnya untuk membahagiakan orang tua. Saya tidak ingin ibu saya menangis gara-gara saya di drop out. Ibu saya pasti malu sekali kalau sampai saya di drop out. Kasihan ibu saya kalau harus mendapat komentar-komentar negatif dari orang-orang gara-gara saya di drop out. Inilah motivasi terbesar saya.


Jalan aja lah, utamakan skripsi, bisnis kemudian setidaknya sampai saya mendapat ijazah saya. Bisnis tetap jalan, otak diputar. Alhamdulillah saya berada diantara teman dan saudara yang baik yang bersedia membantu saya menjalankan bisnis selama saya skripsi. Pokoknya yakin rejeki ada yang ngatur. Setelah ijazah di tangan insyaallah bisnis lebih enteng dan lebih los. Insyaallah bisnis lebih lancar karena tidak terbebani skripsi yang belum selesai. Selama ini selama menjalani bisnis saya tidak tenang, karena kepikiran skripsi terus. Iya kepikiran aja, lol. Insyaallah sekarang sudah tobat, tidak hanya kepikiran tapi betul-betul dikerjakan dengan penuh niat tulus mau lulus.


Saya juga sayang sama masa kuliah teori yang sudah saya habiskan selama 4 tahun. Tidak pernah ada niatan untuk drop out maupun out dewe. Tidak cuma sayang kuliahnya, tapi juga sayang uangnya. Biaya masuk kuliah sampai 8 semester dibiayai almarhum bapak saya. Mulai semester 9 saya biaya sendiri. Semuanya bagi saya bukanlah jumlah yang sedikit dan sayang kalau hanya berakhir drop out.


Akhirnya pekan kemarin saya kuatkan mental untuk kembali ke kampus lagi. Masih ada keraguan saat mulai masuk kampus. Tapi saya tetap melangkah. Kembali bertemu para dosen dan ternyata tidak ada caci maki, yang ada hanyalah dukungan agar saya segera menyelesaikan skripsi saya.


Dosen-dosen pengurus jurusan dan fakultas tidak akan tinggal diam dan bersikap kaku bila mahasiswa ‘abadi’nya memutuskan berniat dan bersemangat untuk segera lulus.
Percayalah, kalau kamu ikhlas dan berniat untuk lulus, akan muncul solusi yang tak pernah kamu bayangkan. Pada prinsipnya, tak pernah terfikirkan sedikitpun di benak Bapak/Ibu dosenmu dulu menerimamu jadi mahasiswa untuk akhirnya di-D.O.”


Pesan saya untuk adik-adik angkatan. Menyandang gelar sebagai mahasiswa semester belasan itu tidak enak sekali. Beban di pikiran. Dapat caci maki dari teman, tetangga dan saudara. Jadi menghindar dari teman-teman sekolah, guru-guru sekolah, teman-teman kuliah juga, gara-gara belum siap mental ditanya kapan lulus dsb. Benar-benar menyiksa. Jangan coba-coba menunda-nunda skripsi lah jika tidak ingin bernasib sama dengan saya. Seorang sukses kaya raya tujuh turunan seperti Bill Gates pun menyesal dulu tidak menyelesaikan kuliah.

Selasa, 24 Mei 2016

Pameran, Such a Great Day

Aku habis pameran. Dan aku suka. Nertemu dg teman-teman baru. Aku suka berteman dg mereka.

Mereka punya karaktet yg berbeda-beda. Ada Pak Trilasanto dan keluarga yg pendiam dan paling sabar nunggu pembeli. Pak Tri ini bukan tipe pemasar yg agresif. Hanya bersuara kalau ada yg tanya barang jualannya. Kalau gak ada yg tanya ya diem aja. Gak ada usaha buat merayu pembeli. Begitu pula karakter putri beliau dan istrinya. Kalau istrinya sih masih mending, tadi sempat nawar-nawarin tapi salah orang, ke sesama penjual dalam satu stand yg sama, hehe. Pak Agus sama siapa tadi ya, Irham kayaknya, hehe.

Mbak Nura. Kakak satu ini juga gak agresif. Gak suka teriak-teriak nawarin barang kayak aku, fajar, sama Pak Agus. Hanya sekedar melayani kalau ada yg tanya.

Bu Agus. Ibu ini juga gak agresif, cuma agresif kalau disuruh suaminya ngejar ustadzah-ustadzah. Tapi ibu ini lumayan asik kok. Aku cukup akrab sama ibu ini dan putranya yg baru saja selesai UNAS SD. Bu Agus dan Mbak Nura jadi teman ngobrol yg asik di stand.

Pak Agus. Sesuai namanya, Pak Agus ini suaminya Bu Agus, yaiyalah, hehe. Bener-bener suami istri yg kompak. Pak Agus ini bener-bener kasih inspirasi ke aku buat semangat agresif ke pembeli. Bapak ini gak ada capeknya jemput bola. Salut abis aku. Bapak ini juga supel dan gampang membaur dg siapa aja. Lagi belajar jadi kayak gitu aku. Pak Agus ini bener-bener bikin aku belajar tentang berjualan di pameran. Teladannya nampol banget. Aku yg awalnya hopeless, galau, dan mau pasrah aja jadi super duper semangat, hehe.

Fajar. Tingkat keagresifitasa kami dalam berpromosi hampir sama sih. Dia lebih pede teriak-teriak drpd aku. Tapi dia gak pernah ndeketin peserta pameran satu persatu kayak aku, hehe. Dia juga beberapa kali ngajak ngomong sih. Jadi ya agak asik dan gak pendiem lah orangnya. Berani nawarin kita-kita para wanita buat makan di dalwm ballroom coba. Kita ditawarin pribadi loh. Jadi agal sik juga kan anaknya.

Irham. Baru jaga bareng-bareng sebentar sih . Orangnya ringan tangan. Seumuran, si fajar kayaknya juga seumuran. Soalnya Irham sama Fajar kalo panggil-panggilan gak pake embel-embel apa pun, lsg nama gitu aja. Kurang bisa menilai secara utuh sih, soalnya gak lama bareng-bareng di standnya. Agresifnya hampir sama kayak Fajar, tapi dia dibawahnya Fajar dikit, soalnya kita-kita bareng-bareng di standnya gak lama.

Pak Yanuar. Cuma ketemu pas rapat h-1 pameran. Tapi bapak ini baik, sempat nawarin mbantu bawa barang-barangku pakai kensaraan dia juga. Lumayan perhatian juga, maksudnya gak cuek dalam membalas wa. Sempat nanyain juga dpt space gak akunya, soalnya aku di hari pertama datang telat banget. Tapi aku gak pernah ketemu Pak Yanuar selama berada di stand.

Overall aku seneng abis selesai ikut. Meski ga bisa buka sampai peserta gak ada lagi yg dateng, aku tetep seneng. Gak kayak kemarin yg bikin galau, haha.

Pertama, jadi sales macam ini memang tantangan tersendiri buat aku yg introvert, pendiem, dan pemalu. Pengalaman ketika aku berhasil menjebol rasa malu seperti ini sangat berkesan. Ya kayak pas aku jualan es krim di sportorium umy waktu mbak eka wisuda.

Kedua, aku dpt byk teman baru. Dahagaku akan kerja bareng anak cowok lumayan terobati, dg adanya irham ma fajar. Hahaha. Maklum dah berumur nikah tapi masih jomblo. Mereka orangnya juga open dan ringan tangan. Agak gak punya malu juga dalam hal berpromosi di pameran, kayak aku, haha. Jujur, aku kangen anak2 pdd sama anak2 kkn.

Minggu, 17 April 2016

Sebab Musabab Parade Postingan Pendek Sekaligus

Kasih gambar yang lucu, biar pas dishare di google+ yg muncul bukan gambar iklan yg ada di blog ini.
Sumber gambar: open clip art di search creative commons.

Why aku nulis soal ini lagi kan sudah nulis ini: http://fenitriutami.blogspot.co.id/2016/04/tiba-tiba-posting-banyak-pendek-pendek.html Hmm.. belum semua sebab musabab sudah tertuang disitu sih. Kemarin malam beberapa saat setelah selesai parade, aku kok ya ingin menulis postingan ini ini, ya ini ini, hehe. Mau cerita kronologisnya. Tidak penting ya, tapi kalau tidak aku tulis nanti takut jadi kepikiran terus di aku nya, hehe

Jadi, hehe. Mmm.. Kemarin sebelum parade, aku ingin ikut semacam pendampingan bisnis via online gitu lah, hehe. Tapi ga ada duit buat ikut. Ada ide, sudah direalisasikan idenya, gagal.

Lagi online, buka socmed. Kok muncul akun socmed temen lama. Biasa lah kan kalo di socmed suka begitu ya, ada akun-akun yg disarankan untuk difollow atau dijadiin temen. Biasanya yang punya banyak mutual friends gitu. Iya, memang banyak mutual friendsku sama temen lama ini. Kita sih saling kenal baik, dulu kalau ketemu ya kadang ngobrol2 dikit lah, tapi tidak dekat. Main ke kost dia aja tidak pernah.

Iseng-iseng lah bukan akun socmed temen lama itu. Eh ternyata dia blogger juga. Iseng2 buka blog nya. Beberapa postingan teratas isinya curhatan semua, dah macam buku diary online nya dia. Trus liat total views, eh tidak jauh beda sama blog ku. Lebih banyak punyaku tapi selisihnya tidak terlalu banyak.

Aku penasaran, blog isi curhatan kayak gini kok bisa dapat views segitu ya. Terus aku lihat jumlah postingannya. Eladalah gila tenan. Aku kalah jauh. Setahun dia bisa posting sampai puluhan. Lah aku? setahun sudah menerbitkan 15 postingan saja dah bersyukur.

Jadi panas deh, mendadak ingin posting blog yang banyak sore itu. Biar jumlah views nya bisa melaju jauh lebih banyak, hehe. Tidak mau kalah. Sesama manusia biasa soalnya. Kalau sama blogger yang blog-nya dah keren abis, isi mangfaat semua, asik dibaca semua, punya pembaca setia yang buanyak. Aku sih tidak napsu untuk bersaing jumlah views nya, hehe. Apa sih ya, sumpah sebenarnya ini tidak penting sekali, tapi hanya untuk kepuasan diri. Dah terlanjur panas, ditambah galau, klop sudah. Kalau memang mau luapin emosi dengan cara posting pendek-pendek di blog ya lakuin aja biar puas, hehe.

Iya, parade kemarin hanya untuk kepuasan diri. Jadi tidak terlalu mempertimbangkan apakah enak dibaca atau tidak oleh pembaca. Hanya saja di postingan ini aku berusaha untuk mengurangi kata tidak baku, sebisa mungkin. Kalau memang dibutuhkan kata yang tidak baku juga tidak bakal aku tahan sih, tulis aja. Biar puas. Ingat manfaat menulis dengan bahasa baku seperti yang sudah aku tulis dulu disini: http://fenitriutami.blogspot.co.id/2015/01/pentingnya-pemakaian-bahasa-baku-di-blog.html. Tadi juga baca satu tweet guru bisnisku tentang manfaat penulisan sesuai EYD sih.

Sabtu, 16 April 2016

Gara-gara Socmed Jadi Pengen Cerita Terus

Sejak ada socmed pengen ceritaaaa teruuuus. Tiap ngerasa apa pengennya di twit atau bikin status di FB. Tiap habis dapet kejadian apa juga gitu. Saya sih lebih suka nge twit, soalnya kalau di FB komen-komen kapan lulus yang bermunculan langsung terlihat semua dengan jelas. Kalau nge twit lebih lepas aja. Gak ribet.

Ada baiknya ada buruknya sih.

Blog termasuk socmed gak sih? Saya tuh ya sebenernya setiap mendapatkan pencerahan, pengennya segera di tulis di blog. Eh biasanya gak langsung kelaksana juga. Soalnya takut jadi keasyikan terus online shopnya jadi kurang perhatian, takut uangnya jadi seret kalau kebablasan nulis di blog. Masih jauh dari terampil menghasilkan uang dari blogging soalnya. Fokus ig, marketplace, sama line@ dulu. Eh kok malah sampai mana-mana.

Setiap dapat pengalaman baru ada pengalaman yang menurut saya menarik utk diceritakan di blog. Juga pengennya ditulis di blog. Siapa tau menarik buat pembaca. Ya gitu deh. Tiap pergi-pergi, dapet pengalaman baru blog nya diinget-inget. Eh tapi pengalamannya gak ditulis-tulis di blog. Hehe. Kemana-mana suka keinget blog terus. "Ini bagus deh kayaknya kalau diceritain di blog" selalu mbathin gitu. Hmmm... Sehat nggak sih. Ada baik ada buruknya. Tapi tidak semua tentang kita harus diketahui semua orang dan di ceritakan di dunia maya kan. Harus ada kontrol.

Tiba-tiba Posting Banyak Pendek-pendek

Saya tu ya, kalau disuruh cerita pengennya cerita panjang kali lebar sampai sedetil-detilnya. Kalau berpendapat inginnya pakai fakta-fakta pendukung juga dari hasil yang terpercaya. Tapi ya gara-gara itu blog saya jadi sepi. Jadi males postingnya. Kalau sudah mulai menulis juga biasanya ditengah jalan terputus, tidak dilanjutkan.

Mendadak aja ini galau, terus pengen posting-posting di blog. Jadi ya cuma dikit-dikit. Daripada niatnya bikin panjang-panjang malah terus tidak jadi-jadi posting. Biar plong. Masih banyak yg pengen di posting tapi ya gak mungkin semuanya kan ya. Emang hidup hanya buat blogging?

Sudah sih itu aja, kenapa blog saya yang biasanya sepi jarang ada postingan baru tiba-tiba sore ini banyak postingan baru dan singkat-singkat :)

Semoga bermanfaat :)

Seandainya dan Pintu Syetan

Kenapa sih seandainya bisa jadi pintu syetan? yang saya pahami seperti ini:

Soalnya kalau bilang seandainya, kita jadi tidak mensyukuri keadaan. Padahal dengan apa yang kita punya saat ini ditambah banyak ciptaan Allah diluar sana banyak orang diluar sana. Kita juga bisa memikirkan bagaimana caranya untuk mencapai tujuan kita. Apalagi kalau badan kita sehat, akal kita sehat, tidak sakit jiwa.

Misal kita bilang seandainya2 terus. Yang ada cuma meratapi nasib, terus sedih. Atau malah berkhayal doang tak ada ujung, seandainya begini seandainya begitu. Bukannya melakukan aksi nyata untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Padahal kalau dengkul kita dibeli 100 juta kita juga tidak mau kan. Pernah baca pengalaman orang yang habis jual ginjal, badannya mudah sakit tidak se-fit dulu, aktivitasnya tidak bisa sebanyak dulu. Padahal dengan sehat kita bisa melakukan banyak hal. Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan ketika sakit.

Resume Hasil Perburuan Nasi Thiwul


Nasi thiwul. Nasi yang terbuat dari singkong, bukan dari beras padi. Sehat, cocok untuk yg diabetes karena kandungan gula yg rendah. Budidaya singkong juga lebih mudah dari padi, bisa ditanam di daerah subur maupun tandus seperti di Gunungkidul.

Makan nasi thiwul lauk tempe pakai oseng-oseng, menarik juga. #kalimatrandom

Mau makan nasi thiwul adalah hal yang mudah bagi masyarakat Gunungkidul. Mereka sudah ahli membuatnya. Tidak perlu bingung kesana kemari. Tinggal ambil singkong yang ditanam di dekat rumah. Buat kita yang tidak tinggal di Gunungkidul tidak mungkin kan tiba-tiba bertamu terus minta dibuatin nasi thiwul. Toh sekarang masyarakat Gunungkidul banyak juga yang lebih sering makan nasi padi dari pada nasi thiwul. Tapi kalau punya teman orang Gunungkidul bisa aja sih. Sekalian belajar bikin nasi thiwul sendiri. Beli singkongnya di Pasar Telo yang murah.

Kalau pengennya beli gimana? Apa harus mblusuk-mblusuk di perkampungan Gunungkidul cari warung makan yang jual nasi thiwul. Ada tidak saya juga tidak tahu. Berdasarkan keterangan dari teman saya yang orang Gunungkidul, keluarganya kalau mau makan apa-apa tinggal petik di sekitar rumah. Jadi sepertinya mencari warung makan di perkampungan Gunungkidul tidak semudah mencari warung makan di dekat kampus besar seperti UGM, UNY, UIN.

Terus gimana dong, nah ini dia hasil pencarian saya setelah 3 kali motoran ke Gunungkidul (belum berani nyepeda onthel kesana). Kalau mau makan nasi thiwul di rumah makan yang agak gede, lebih baik sehari sebelumnya pesan via telepon, sms, dll. Karena kebanyakan rumah makan yg agak gede tidak ready stock nasi thiwulnya. Kalau pun ada yg mau membuatkan kita harus nunggu lama. Katanya sih bisa setengah jam an gitu proses pembuatan nasi thiwulnya.

Kalau di destinasi2 wisata di Gunungkidul ada yang jual gak ya? Kalau di jalan raya mendekati pantai dan di pantai nya sendiri sih saya gak nemu. Jadi ya gak jaminan di lokasi wisata Gunungkidul ada yang jual nasi thiwul. Terus? Nah, yang banyak jual nasi thiwul ready stock itu di Curug Sri Gethuk. Pilihannya juga macam-macam, ada yg dibikin nashi thiwul goreng juga. Jadi kayak nasi goreng biasa, cuma nasinya berupa thiwul tanpa rasa alias hambar. Lalu dikashi bumbu-bumbu ala nasi goreng. Kalau saya sih dulu ngirit, cuma beli nasi thiwul bungkusan seharga 3rb. Lauk tempe sama sambel ijo. Enak. Meskipun ya emang agak gimana sih kalau kita biasa makan nasi beras padi. Tapi ya itu sensasi tersendiri, lumayan buat refreshing, mulut, biasaya makan nasi beras padi terus nyoba nasi thiwul. Beda tapi tetap enak kok. :)

Usaha dan Do'a

Hakikat do'a adalah meminta. Entah kenapa menurut saya hal terpenting ketika meminta bahwa menunjukkan bahwa kita betul-betul menginginkannya. Kita tunjukkan dengan pemilihan kata dalam doa yang benar-benar menunjukkan bahwa kita sangat mengharapkannya. Seperti diiringi memuji-muji Allah SWT serta meminta ampunan.

Usaha menurut saya juga merupakan pembuktian pada Allah bahwa kita benar-benar menginginkan yang kita minta. Jadi usaha merupakan bagian dari doa. Jika usaha kita kurang ya berarti sebenarnya kita tidak begitu menginginkan apa yang kita minta pada Allah.

Karena meminta maka keputusan tidak ada di tangan kita. Ya, semua yang terjadi di dunia ini tak akan terjadi tanpa kehendak Allah bukan? Dan setiap yang terjadi pada kita pasti ada dampaknya terhadap ciptaan Allah lainnya. Jadi banyak hal yang kita tidak tahu. Sedang Allah tahu semuanya. Jadi apa yang kemudian terjadi pada kita itulah yang terbaik.

Ketika do'a tidak terkabul. Maka evaluasinya adalah, apakah selama ini kita sudah 100% menunjukkan bahwa kita menginginkannya? Susah punya keiinginan yang kuat. Apakah kita sudah rela tidur 8 jam per minggu demi keinginan kita?

Dalam rangka merayu Allah agar mengabulkan keiinginan kita:
Apakah kita sudah bertaubat dari dosa-dosa kita.
Apakah kita sudah shalat hajat tiap hari dengan amat sangat khusyuk setiap harinya?
Apakah kita sudah memperbaiki dan menambah amalan-amalan kita.
Apakah dalam perbuatan sudah benar-benar menunjukkan bahwa kita rela menambah ketaatan dan mengurangi melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah.
Demi menunjukkan bahwa kita benar-benar menginginkan sesuatu.

#akungomongoposih
#buatdirisendiri

Senin, 01 Februari 2016

Mau Baju Baru Gratis?

Jaman sekarang ya, mau butuh apa-apa tinggal buka hp, barang-barang bisa berdatangan ke rumah kita. Selain itu promo-promo di dunia belanja online emang gak ada habisnya, terus sekarang ada lagi online shop yang nawarin baju baru gratis! :O :D

Nama online shop nya Sale Stock, lebih enak dibuka lewat hp, klik aja: http://www.openabout.com/SHtd Terus gimana caranya biar bisa mendapatkan baju gratis? Ini dia caranya:

  1. Daftar jadi member di Sale Stock, gratis kok, jadi tidak perlu ragu :) Klik j.mp/SaleStockDaftar untuk daftar.
  2. Log in, lalu pilih menu "Mau Baju Gratis" (http://www.salestockindonesia.com/baju-gratis).
Selain bisa mendapatkan baju gratis, kita juga langsung mendapatkan kode kupon yang bisa disebar ke teman-teman kita. Kode kupon ini berupa potongan harga Rp 20.000 untuk pembelian pertamanya. Kalau teman kita belanja dengan menyertakan kode kupon kita, kita juga bakal dapat 20 poin senilai Rp 20.000 yang bisa dipakai untuk belanja, kalau sudah sampai 500 poin (senilai Rp 500.000) bisa dicairkan ke rekening kita loh! :D

Mau tambahan kupon 20rb gratis? pakai aja kode kupon ini: GSMO waktu belanja di Sale Stock untuk pertama kalinya :)

Ga cukup itu aja, masih banyak kelebihan belanja di Sale Stock, yang bisa bikin megap2, hehe:

BOLEH BAYAR DI RUMAH 
Boleh bayar di rumah di 2400 kecamatan!

ONGKOS KIRIM GRATIS
Beli berapa banyakpun, tetap GRATIS ONGKIR tanpa syarat! 

GARANSI 30 HARI 
Kekecilan? Tidak cocok? Uang kembali! 

STANDBY 7x24 JAM 
Butuh bantuan? Customer service siap melayani 7x24 jam. 
BANJIR PROMO 
Banyak promo menarik tiap minggunya! 



DETAIL
Detail baju sampai ke jumlah kancing. Serasa beli langsung! 

BANYAK PIIHAN 
Ada puluhan kategori produk.





Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...