FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Rabu, 11 September 2019

Pamer Tipe

Usiaku adalah usia dimana bisa bikin orang gatel untuk tanya "Kapan Nikah?" "Tipemu yang kayak gimana sih?" Tapi jarang banget kok yang tanya gitu. Lah calonnya aja belum ada xD. Alhamdulillah ya, pada pengertian. Tapi aku orangnya males kalau ada yang nawarin buat cariin jodoh sih. Kek apa aja gitu rasanya, hehe. Gak suka dijodoh-jodohin toh aku juga santai anaknya. Banyak yang butuh fokusku diluar soal jodoh yang butuh lebih diutamakan untuk dijadiin fokus terlebih dahulu. Masalah jodoh mah masalah kesekian.

Kamu jelek kali jadi gak ada yang ngedeketin. Iya aku memang gak memenuhi standar kecantikan orang-orang. Dan itu gak masalah. Lebih baik ngikuti kata hati sendiri daripada ngikuti kata orang. Mau pilih penampilan kayak apa punya wajah kayak apa suka-suka aku yang penting aku nyaman aku senang aku puas, gak ngerugiin orang lain, aku memutuskan karena diri sendiri bukan karena orang lain. Aku emang gak pernah dideketin orang tapi ya aku malah seneng. Memang itu yang aku mau sih gak pengen di deketin dalam rangka pencarian jodoh. Tapi tetep open for every one buat sekadar berteman asal cocok dan berfaedah. Pengen objektif, lebih memilih pakai logika, kata hati dan petunjuk dari Allah daripada pakai perasaan.

Ya begitulah, usialah yang kemudian membuatku berpikir jodoh yang tak pengenin yang seperti apa sih. Jadi kepikiran, bukan berarti cari yang sempurna tapi lebih cari yang pas, akunya aja banyak kurangnya. Akunya aja cuma begini adanya.

Cuma pengen pamer aja astaghfirullah, kok malah pamer, hehe. Ya cuma sekedar pamer wangsit dari Allah tentang bagaimana jodoh yang aku inginkan. Imajinasi dulu. Bukan berarti 100% harus terpenuhi sih. Ada yang menurutku wajib banget ada di dalam diri jodohku nanti, ada yang gak mutlak harus ada. Namanya manusia, masing-masing unik, tidak ada yang sempurna. Yang penting nanti kalau udah fix milih terus ditakdirkan jadi jodoh ya harus setia. Mau gimanapun keadaannya, sebisa mungkin hubungan dijaga. Saling menjaga. Kecuali ada satu dan lain hal yang bikin harus terpaksa pisah, tapi ya amit2 naudzubillah jangan sampai.

Finansial
Aku bakal lebih melihat kemampuan seseorang dalam menghasilkan uang daripada uang yang dimiliki sekarang. Bisa jadi yang sekarang milyader tahun depan kekayaannya minus, bisa jadi yang sekarang jutawan aja enggak tahun depan jadi milyader. Jadi lebih melihat potensi seseorang daripada apa yang dimiliki sekarang. Tahan banting gak. Pemalas gak. Pinter bikin cari uang gak. Lebih ke kepiawaian cari uang dalam segala keadaan anti gengsi2 club.

Gak malu ngasong kalo memang keadaan mengharuskan ngasong. Gak malu keliatan miskin kalo memang keadaan memaksa seperti itu. Gengsi tidak membuat kaya tapi justru tersiksa. Anti yang suka pamer-pamer, hedon, yang gak suka keliatan kaya aja. Tiap hari kaosan sama sandal jepitan. Gak haus pujian "sukses" dari orang-orang. Suka yang diem-diem pinter ngasilin banyak uang tanpa perlu koar-koar. Kayak Abdurrahman bin Auf. Selalu memiskinkan diri tapi selalu auto kaya, karena memang orangnya pinter cari uang ya mau gimana lagi.

Karakter
Aku suka banget sama orang yang pintar membawa diri, mudah membaur dilingkungan apa aja, cepet nyaman dan cepet bikin lingkungan yang dimasukinnya nyaman sama dia. Tapi gak ganjen. Banyak kan ya orang yang grapyak tapi ganjen suka baperin cewek2, that's a big NO.

Aku kan anaknya susah gitu nyaman dan bikin orang nyaman. Jadi sering merasa bersalah. Pengen berbaur tapi masih harus belajar banyak buat lebih luwes. Jadi jarang berbaur akunya. Pengen punya jodoh yang bisa bikin aku mudah berbaur dimana aja tanpa tergantung sama dia. Jadi bisa ngajarin aku buat jadi luwes kayak dia. Diawal ya bolehlah ditemenin, lama-lama jadi gak harus selalu ditemenin. Kalau harus berbaur sendiri tetap bisa.

Jodohku nanti juga harus banget paham dan sudah terbiasa menerapkan prinsip antarodhi. Jadi nggak fanatik gitu orangnya. Gak gampang judge orang. Lebih suka nambah saudara daripada nambah musuh. Gak sombong. Lebih mementingkan impact dirinya di atas bumi daripada imej dia. Ojo dumeh. Tenggang rasa. Gak suka memaksa. Paham bahwa hidayah itu di tangan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha dengan cara secantik mungkin. Harus juga punya eager untuk ikut serta dalam usaha membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Open mind menganggap wanita itu juga punya otak. Laki-laki memang pemimpin rumah tangga, tapi gak bisa juga bilang wanita waton manut wae. Paham banget sampai ke relung hati bahwa wanita itu punya otak, rasa dan hati. Otak, rasa, dan hati wanita tidak bisa diabaikan begitu saja. Paham juga bahwa dirinya hanya manusia, makhluk ciptaan Tuhan. Jadi selalu membuka diri untuk belajar dan belajar. Terbuka untuk saling bertukar pikiran serta perasaan dengan wanitanya.

Nyambung. Repot juga kan kalau ngobrol seringnya gak nyambung. Bisa emosi tiap hari aku nanti.

Blak-blakan. Komunikasi lancar. Kalo pengen aku kayak gimana ya ngomong aja. Gausah kebanyakan kode-kodean gak jelas. Terbuka juga untuk dapet saran dan kritik dari aku. Jadi jadi lebih baik bareng-bareng. Sama-sama selalu berusaha bikin nyaman satu sama lain. Pasti kan kedepannya ada hal-hal yang gak disuka. Ada hal-hal yang disuka. Ya bilang aja, aku prefer kayak gini, kurang suka yang kayak gitu. Santai terbuka tanpa emosi. Tidak lupa terbiasa selalu mengonfirmasi perasaan satu sama lain. Jangan ada yang dipendem. Biar gak meledak jadi bom atom, bisa hancur mendadak. Naudzubillah.

Bergaya hidup sehat. Kuat olahraga, bisa beladiri. Juga suka makanan sehat tapi tetap antarodhi. Aku kan kalau soal makanan lebih ke impulsif gitu hehe.

ilustrasi: flickr grotos
Cocok. Maksudnya ya memang yang dicari ya manusia kayak aku. Setidaknya bisa menoleransi hal-hal nggak banget yang ada di aku. Bersabar dengan prosesku memperbaiki diri. Bisa menerima hal-hal nggak banget di aku yang bisa jadi sampai akhir hayat ga bisa dihilangkan. Aku manusia yang punya spirit menjadi lebih baik kok. Ada gak sih, haha. Tapi aku bukan tipe orang yang, yang penting dapet jodoh daripada enggak.

Berkeluarga itu bisa bikin kita lebih bahagia atau lebih menderita dari jaman pas masih sendiri. Lebih rawan menderita malah. Jadi kecocokan itu wajib hukumnya. Meskipun gak harus 100% cocoknya. Toleransi dan kompromi bolehlah. Ya namanya manusia, belum tentu apa yang semua yang kita inginkan itu 100% baik untuk kita juga. Allah yang maha tahu, manusia hanya sedikit tahu.

Cocok juga termasuk cocok sama rencana-rencana hidupku ke depan. Aku juga bakal terbuka untuk toleransi dan kompromi. Hanya jelas cara mendidik anak, keuangan, dll dll harus selesai sebelum fix memutuskan untuk berkeluarga. Hal-hal sensitif yang mana rawan menjadi sumber kehancuran bahtera harus diselesaikan diawal sebelum memulai semuanya.

Penampilan
Aku kurang suka sama cowok yang suka pakai kemeja, jas, sama celana bapak2 (yang banyak benik-nya udah gitu ukurannya segede gaban semua). Lebih suka cowok yang kaosan tanpa kerah (bukan kaos bola) dan pakai celana santai. Menurutku cowok itu lebih ganteng kalau tampil casual, kurang ganteng kalau pakai jaket kulit sama cardigan. Kalau outer menurutku cowok lebih ganteng kalo pakai outer selain cardigan, jaket kulit, sama rompi, intinya prefer yang casual, hehe.

Tampang
Bebas sih yang penting agak terawat tapi nggak maho. Kan ada ya, yang kinclong banget tapi kelihatan banget juga maho-nya. Sekali lihat langsung nyesel berasa abis liat penampakan. Kayak wagu gitu kan. Skinkeran dikit tapi tetep lakik. Kayak abimana aryasatya gitu sorot wajahnya lakik gitu tapi tetap bersahabat, gak sombong. Gak terlalu kalem dan manis. Tapi selalu berusaha mempraktekan prinsip antarodhi. Brewokan gpp. Gak harus ganteng, apalagi seganteng abimana, orang akunya aja muka pas2an wkwkwk.

Diluar itu semua jelas 100% lawan jenis, Islam luar dalam, punya kredibilitas, berilmu, punya networking luas berkualitas (atau setidaknya punya potensi untuk punya jaringan luas berkualitas), itu dulu sih. Belum tau kalau nanti atau besok-besok ada perubahan. Ya namanya manusia, kemampuannya serba terbatas. Siapa tahu besok-besok dapat wangsit baru dari Allah SWT siapa yang tahu. Terpenting, besok kalau sudah memutuskan ya jangan enteng bilang pisah, sebisa mungkin jangan pisah. Jangan sampai pisah, aaamiiiiinnnnn.

Minggu, 01 September 2019

Asmara adalah Fitrah

Sudah fitrahnya manusia hidup berpasang-pasangan lalu berketurunan. Itu pada umumnya. Manusia itu unik. Ada juga manusia yang berbeda dengan yang lainnya. Misalnya Maryam ibu dari Nabi Isa. Wanita suci yang mempunyai derajat jauh diatas kita semua, wanita penghuni bumi di zaman ini. Ada juga Rabi'ah Al Adawiyah, seorang muslimah yang amat sangat mencintai Allah, Tuhan semesta alam. Rabi'ah memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Saya manusia biasa. Tidak sehebat Maryam maupun Rabi'ah. Apalagi Bunda Maryam yang sudah disebut sebagai salah satu dari tiga wanita terbaik di muka bumi oleh Allah. Dibandingkan dengan ujung kuku Bunda Maryam pun saya tidak ada apa-apanya. Meskipun keinginan menikah tidak cukup kuat untuk saat ini belum tentu beberapa tahun ke depan keinginan itu tetaplah sama tidak kuatnya.

Pernikahan tidak akan pernah mudah. Tinggal dengan orang lain, secocok apapun pasti akan ada potensi masalah-masalah baru yang akan timbul. Kita mempunyai masalah jodoh kita punya masalah. Masalah tambah banyak.

Belum lagi setelah kehadiran seorang anak. Cinta sepasang suami istri bisa jadi tambah besar. Tapi anak adalah tantangan tersendiri. Mengandung juga pasti bukan hal yang mudah. Sudah mampir berbagai cerita di telinga maupun mata saya betapa tantangan bagi seorang ibu ketika mengandung itu sungguh luar biasa. Secara fisik maupun psikis. Anak membuat keluarga terasa lengkap dan bertambah kebahagiaannya. Namun merawat dan mendidik anak tidak akan pernah mudah.

ilustrasi: Oscar Jettman
Oleh karena itu pernikahan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan sedini mungkin sebenarnya. Bukan dengan mencari cinta atau jatuh cinta sedini mungkin. Ingin memiliki maupun ingin dimiliki terlalu dini justru berbahaya. Apa yang harus dipersiapkan untuk pernikahan sedini mungkin adalah ilmu, skill, mental, dll untuk menghadapi kehidupan rumah tangga yang tidak akan pernah mudah.

Membiasakan diri untuk tidak egois. Membiasakan diri untuk lebih mengerti. Membiasakan diri untuk bekerja keras. Membiasakan diri untuk mandiri. Mencari tahu permasalahan-permasalahan yang bisa saja terjadi dalam rumah tangga serta bagaimana cara mengatasinya. Dan lain lain. Dan lain lain.

Oleh karena itu saya merasa perlu untuk belajar tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga, ilmu parenting dan lain-lain segera. Sampai saat ini saya belum pernah ikut kelas pra nikah sih. Dulu gak tertarik aja. Sekarang juga biasa aja. Cuma nanti berencana mulai ikut kelas-kelas seperti itu setelah serial ASPER selesai.

Saya juga dari dulu tidak tertarik membaca buku-buku tentang pernikahan dan parenting. Sekarang juga belum tertarik. Cuma ada rencana setelah serial ASPER  selesai. Hidup berumah tangga itu tidak mudah. Penting untuk belajar mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku, ilmu-ilmu yang berseliweran dimana-mana serta mengikuti kelas-kelas pra nikah dan parenting. Agar saya lebih siap jika waktunya datang nanti.

Niatnya agar saat sudah nikah saya sudah siap tahan banting. Nikah itu seperti naik roller coaster, saya percaya. Seru nan menegangkan. Mental harus dikuatin dulu, ilmu harus dicukupin dulu. Nikah itu rawan stress. Jadi saya berniat mempersiapkan diri menghadapi pernikahan bukan biar enteng jodoh, bukan biar segera dikasih jodoh. Saya santai soal jodoh. Kecocokan itu amat sangat penting. Hati-hati dan sebagainya itu sangat penting. Karena ketika menikah ridho jodoh saya adalah ridho Allah (selama tidak bertentangan dengan Allah dan Rasulullah SAW tentu). Namun, secocok apapun jodoh saya nantinya, berumah tangga tidak akan pernah mudah. Oleh karena itu berumah tangga adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan segala daya dan upaya. Harus saya pastikan, saya sudah cukup tahan banting sebelum menikah.

Saya harus belajar dari mereka yang sudah berpengalaman. Mereka yang sudah menikah maupun mereka yang memang concern dalam tema rumah tangga. Mereka yang concern dalam tema parenting. Mereka memang tidak sempurna. Karena mereka tidak sempurna. Apalagi saya, haha.

Jadi ketika rumah tangga mereka bermasalah, anak mereka bermasalah itu adalah hal wajar. Bukan berarti saya lalu tidak mau belajar dari mereka. Ilmu saya aja tentang hal itu jauh lebih cetek dari mereka. Mereka punya segudang ilmu, skill, serta kebijaksanaan yang bermanfaat untuk saya.

Rumah tangga atau anak mereka bermasalah? Bisa jadi memang ujian yang diberikan Tuhan kepada mereka jauh lebih berat dibanding kepada manusia pada umumnya. Banyak hal misteri dalam rumah tangga seseorang. Menghakimi apalagi sampai membully serta mencaci hanya akan menambah perpecahan dalam bangsa ini. Banyak hal yang tidak saya tahu. Jadi ya orang yang kelihatan buruk di mata saya belum tentu dia lebih buruk dibanding saya. Banyak hal yang tidak saya tahu. Bisa jadi orang yang lebih buruk di mata saya posisinya jauh lebih tinggi di mata Allah, Tuhan Penguasa Semesta Alam Raya.

Banyak hal tentang diri saya saja banyak hal yang belum saya ketahui. Saya masih terus mencari jati diri. Menyentuh serta melihat langsung semua organ dalam tubuh saya saja saya belum pernah. Bahkan tidak akan pernah, hehe. Yaiyalah serem amat. Banyak misteri dalam diri sendiri yang bahkan tidak akan saya ketahui sampai akhir hayat nanti. Apalagi dalam diri orang lain, rumah tangga orang lain. Tentu lebih banyak lagi yang tidak saya tahu dan tentu saja tidak perlu saya tahu. Selama tidak menganggu orang lain, tidak mengganggu ekosistem di atas bumi ini untuk apa diketahui. Lebih baik memperbaiki diri dari pada sibuk menghakimi orang lain.

Nabi Nuh, anaknya durhaka tidak mau ikut ke dalam kapal. Nabi Adam, anaknya ada yang pembunuh. Nabi Luth, istrinya justru mendukung LGBT sehingga ikut terkena azab dari Allah. Apakah lantas mereka tidak lebih baik dari kita. Tentu saja tidak. Para nabi adalah manusia-manusia utama yang tidak bisa dibandingkan dengan kita para manusia biasa. Jauh bahkan sangat jauh. Ujung kuku Nabi Nuh saja bahkan bisa jadi masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kita para manusia biasa.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Tidak Akan Ada Pernikahan yang 100% Selalu Bahagia

ilustrasi: Free For Commercial Use (FFC)
Adalah too good to be true jika ada pernikahan yang 100% always happily ever after. Terus dipenuhi kebahagiaan nan membuncah mulai dari awal jatuh cinta sampai selamanya~ Sudah sunnatullahnya ya, sudah hukum alam yang namanya hidup itu penuh halang rintang. Kalau enak terus ya namanya bukan hidup, namanya sudah meninggal lalu masuk surga. Kalau sudah divonis Tuhan jadi penghuni surga permanen ya ga mungkin nggak happily ever after. Siapapun berhak jadi penghuni surga mulai dari bayi sampai kakek nenek, mulai dari single sampai yang punya keturunan hingga menjelang kiamat. Bahkan pernikahan tidak menjamin kita masuk surga.

Rumah tangga Rasulullah bukan tanpa masalah. Aisyah RA juga pernah marah. Rasulullah juga manusia. Meskipun begitu, mau bagaimana pun Rasulullah tetaplah manusia paling sempurna dimuka bumi ini. Rasulullah serta beberapa dari sahabatnya telah dijamin masuk surga. Tidak bisa dibandingkan dengan kita. Sehingga ketika ada keluarga yang kita pandang cukup sholeh pakar pernikahan dan sebagainya kok rumah tangganya ada masalah ya wajar saja. Sesempurna apapun keluarga2 yang tampak sempurna di mata kita saat ini tidak ada apa-apanya dibanding kesempurnaan Rasulullah. Mereka belum dijamin masuk surga Rasulullah dijamin masuk surga. Tuhan Maha Tahu atas segalanya.

Secocok apapun jodoh saya nantinya. Saya yakin tidak menjamin pernikahan 100% happily ever after. Pasti ada masalah saya yakin. Nikah dengan manusia terkaya di bumi saat ini pun, tidak menjamin happily ever after. Jeff Bezos salah satu orang yang berulang kali mendapat gelar manusia terkaya di muka bumi pada beberapa periode bahkan rumah tangganya retak. Begitu pula dengan pesohor lain yang bergantian menempati posisi manusia terkaya, rumah tangganya memang utuh. Tapi apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada.

Kamis, 29 Agustus 2019

Terpelatuque

Ingat nasehat jangan reaktif jadilah proaktif? Intinya jangan mudah tersulut emosi. Jangan sumbu pendek. Jangan mudah bereaksi. Yup, setuju. Apalagi di jaman sekarang, banyak yang menginginkan perpecahan dalam Indonesia. Banyak adu domba sana sini. Sehingga kita harus pintar-pintar menahan jari. Jangan enteng untuk mencaci sana sini.

Bonus demografi beberapa tahun yang akan datang bisa membawa Indonesia menjadi negara digdaya. Seperti halnya yang terjadi di Tiongkok ketika mendapat bonus demografi. Bisa melejit terus hingga menggeser AS menjadi negara pengekspor nomor 1 di dunia. Berat ya bahasan paragraf kedua. Bukan ini kok intinya. Cukup baca kalimat pertama di paragraf pertama aja tidak apa-apa. My Finest Reader bisa memahami inti dari postingan ini tanpa harus membaca paragraf ini.
ilustrasi: idntimes.com

Oke nasehat untuk tidak reaktif memang benar. Tapi untuk saya sendiri tidak selamanya menahan diri untuk tidak reaktif itu benar. Dalam konteks tertentu ya. Mari kita menggunakan bahasa slang anak jaman sekarang. Dalam kosa kata slang warga +62, reaktif = terpelatuque alias terpelatuk.

Saya terkadang apa malah sering ya. Rindu terpelatuque. Saya itu pengen banget segera menyelesaikan serial Asmara dan Pernikahan di blog ini. Ingin segera mengungkapkan segera pemikiran saya mengenai Asmara dan Pernikahan sebelum mengikuti berbagai kelas pra nikah.

Saya belum pernah mengikuti kelas pra nikah. Bukan karena menurut saya tidak penting. Saya ingin, tapi ingin menyelesaikan series postingan ungkapan pemikiran saya tentang Asmara dan Pernikahan di blog ini dulu.

Wih, pengen ikut kelas pra nikah. Ngebet pengen selesein postingan tentang Asmara dan Pernikahan, dah mau nikah ya.. dah ngebet nikah yaa... Kalau My Finest Reader baca 4 postingan sebelum ini, My Finest Reader gak bakal bilang gitu sih.

Oke, btw panjang banget ya sapaannya, My Finest Reader alias pembaca Blog My Finest Space. Sudah baca header blog ini kan? Setelah merasa tidak lagi cukup muda, jauh dari kata remaja serta sudah memasuki usia Dewasa Muda. Blog ini tidak lagi saya namai: "Darah Muda Zone" karena kata Bang Haji Rhoma sebagai pencetus frasa Darah Muda: "Darah Muda darahnya para remaja" (you sing you lose XD).

Saya sudah tidak remaja dan tidak merasa pantas lagi menggunkaan "Darah Muda Zone" sebagai nama blog pribadi. Akhirnya saya memilih "My Finest Space" sebagai nama blog ini. Dan sewaktu bikin postingan ini makslenting saya kepikiran buat bikin sapaan spesial untuk pembaca blog ini: My Finest Reader. Merasa kepanjangan akhirnya saya singkat jadi MyFiRe. Yeah you are my fire! Kalau bikin postingan terus ada yang baca ya bikin tambah semangat juga buat posting lagi dan lagi.

Meskipun sebenarnya saya tidak peduli yang baca banyak nggak. Saya ingin nulis ya nulis aja. Ada yang baca atau tidak, tidak peduli. Kalau bisa bermanfaat ya alhamdulillah. Bisa memberi sumbangsih agar dunia ini menjadi semakin baik meskipun sedikit alias sak umprit ya Alhamdulillah. Yang penting jangan sampai membuat dunia menjadi semakin memburuk, yes.

Oke MyFiRe. Sukak banget sumpah sama sapaan ini. Love you MyFiRe!

Lanjut pada bahasan terpelatuque. Semua postingan dalam series Asmara dan Pernikahan, kita singkat aja ASPER, bukan casper apalagi AKPER. Ini bahasan, bukan tempat kuliah, hehe. ASPER. Sip.

ilustrasi: grid.id
Mulai dari postingan berjudul Tabir sampai Jatuh Cinta yang saya posting tadi pagi, semua saya tulis karena terpelatuqe. Pemicu alias pelatuknya apa? Ya apa yang saya alami sehingga mendorong saya untuk segera menulis saat itu juga seperti postingan berjudul Tabir.


Kedua ya bisa dari luar. Contohnya seperti postingan media sosial teman-teman saya. Misal mereka sedang bahas apa, lalu saya terpelatuque untuk mengungkapkan pandangan saya tentang permasalahan tersebut tanpa colek mereka. Sebenarnya sudah lama ada di kepala cuma kok ya gak kunjung mood untuk menuliskan. Baru tergerak untuk menulis setelah terpelatuque. Ya, itulah asal usul saya seringkali rindu terpelatuque. Pengen segera menyelesaikan serial ASPER!!!!

Oh iya, postingan ini juga saya buat karena saya terpelatuque. Btw saya selalu puas dengan postingan saya yang mana hasil dari terpelatuque. Gak pernah nyesel seinget saya. Justru rasanya malah malah saya bisa menulis dengan segenap jiwa raga rasa serta.. logika?

Jatuh Cinta

Jatuh cinta adalah ketika kita tertarik dengan sesuatu. Dalam asmara jatuh cinta berarti kita tertarik dan ingin memiliki seseorang. Jatuh cinta terjadi karena ada satu atau beberapa hal yang menarik dari seseorang yang kita ketahui.

Cinta itu buta. Kenapa? Karena manusia punya banyak sisi. Manusia menyimpan banyak misteri, yang tidak hanya orang lain tidak ketahui, bahkan banyak hal dari diri kita sendiri yang tidak kita ketahui. Misalnya saya sesimpel kita tidak pernah melihat dan memegang organ-organ lunak dibalik kulit kita secara keseluruhan kan. Serem dong kalau bisa. Tentu saja dalam hal ini saya tidak hanya akan berbicara tentang hal-hal fisik tapi juga hal-hal non fisik seperti karakter, preferensi, dll.


Ilustrasi: Behance, Fernando Perottoni
Banyak hal yang tidak diketahui manusia mengenai dirinya sendiri. Apalagi orang lain. Sama keluarga sendiri saja yang sudah hidup bersama belasan tahun, masih banyak misteri yang tidak kita ketahui. Tidak hanya secara fisik, biologis, tapi juga psikologis. Balik lagi ilmu Tuhan dan ilmu manusia tidak bisa dibandingkan. Tuhan mengetahui segala sesuatu hal sekecil apapun mengenai ciptaannya. Sedangkan ciptaannya tidak mengetahui kecuali amat sangat sedikit. Sampai kiamatpun manusia hanya akan tahu amat sangat sedikit dibanding dengan ilmu Tuhan.

Ingat kata mutiara Steve Jobs: "Stay hungry, stay foolish." Untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik kita harus terus belajar. Apapun yang ada dalam semesta, baik hal fisik maupun non fisik tidak akan pernah habis untuk bisa dipelajari. Seberapa kuatpun kita belajar tidak akan pernah mampu menguak seluruh isi alam semesta sedetail-detailnya. Bahkan sampai akhir hayat kita tidak akan pernah bisa memegang seluruh permukaan tulang kita sendiri langsung tanpa perantara. Itu hanya contoh kecil, kalau ditulis semua contohnya bisa-bisa sampai upin ipin SMA juga gak bakal selesai, hehe.

Ya begitulah, indra manusia terbatas. Apalagi ketika jatuh cinta. Ketika mengetahui ada seseorang yang menarik manusia bisa dengan mudah jatuh cinta. Apalagi falling in love at the first sigh. Apasih yang bisa kita ketahui ketika kita  jatuh cinta pada pandangan pertama, melainkan hanya amat sangat sedikit sekali. Tapi banyak yang mengaku mengalami. Baru ketemu pertama langsung ingin memiliki.

Itulah kenapa cinta itu buta. Baru liat amat sangat sedikit sisi dari seseorang langsung yakin dialah orang yang paling tepat untuk menghabiskan waktu bersama selamanya. Langsung ngajak nikah. Wkwkwk. Padahal orang yang jatuh cinta sendiri punya hal-hal yang tidak disukai dan bisa jadi banget hal-hal itu ada pada orang yang dia cintai pada pandangan pertama.

Seseorang yang sudah kenal lama aja, kalau udah nikah bisa banget kok banyak menemukan ketidakcocokan lalu bentrok. Sedetail apapun riset yang dilakukan sebelum menikah juga tidak menjamin tidak akan ada kata cerai. Tapi, jatuh cinta membuat manusia yakin terlalu cepat. Terlalu fokus dengan sisi-sisi yang dia sukai dari orang yang dia cintai. Lalu dengan mudah mengabaikan sisi-sisi lainnya. Tidak mau terlalu berpikir ribet. Padahal pernikahan bukanlah hal yang sepele. Hidup bersama dalam waktu yang lama itu hal yang amat sangat besar, bukan hal recehan. Karena perceraian, meskipun diperbolehkan adalah hal yang dibenci Tuhan, Allah SWT.

Oleh karena itu saya memilih untuk menghindari jatuh cinta, sebisa mungkin menghindari untuk mencintai dan dicintai dalam konteks asmara. Lebih memilih menumbuhkan cinta jika nanti sudah waktunya. Kapan? Ya setelah sah. Sama siapa? ya belum tahu. Saya cukup santai untuk hal itu. Terus dapet jodohnya gimana? Sepertinya bakal saya konsultasikan dengan orang yang saya percaya. Untuk saat ini fokus saya tidak untuk hal itu. Banyak hal yang lebih penting untuk mendapatkan fokus saya dibanding soal jodoh.

Senin, 20 Mei 2019

Asmara dan Pernikahan

Cinta itu banyak macamnya salah satunya adalah asmara. Tidak ada gelora asmara yang terus membara abadi tanpa pernah meredup. Asmara itu mudah meredup kapan saja. Jadi asmara tidak tepat dijadikan alasan untuk memilih calon pasangan untuk menikah.

Asmara itu sebaiknya dijadikan lem perekat hubungan antara suami dengan istri, bukan alasan untuk memilih calon suami/istri. Baru berusaha ditumbuhkan secara kontinyu setelah ijab kabul. Bukan tumbuh sebelum ijab kabul. Begitu banyak orang dengan mudahnya jatuh cinta hanya karena rupa, kekayaan, prestasi atau yang lainnya. Begitu menikah timbul berbagai alasan untuk pengen pisah.

Ya, namanya manusia pastilah punya potensi untuk bikin kesel pasangannya. Apalagi hidup serumah, tiap hari ketemu. Perselisihan itu biasa, rasa-rasanya gak betah sama kekurangan pasangan itu biasa. Setiap orang kan punya kekurangan. Ya punya potensi bikin pasangannya bete, kesel, uring-uringan.

Makanya, kalau para da'i bilang, nikah itu, kalau gandengan tangan aja ibadah. Bukannya pengen malah saya berpikir hal itu terjadi karena kenapa? Kalau udah nikah, bisa gandengan aja alhamdulillah. Gak jotakan tiap hari aja alhamdulillah. Ya, namanya manusia, punya potensi bikin kesel pasangannya.

Para da'i bilang, nikah itu dikit-dikit ibadah. Mesra dikit aja udah ibadah. Ya kenapa? Kalau udah berkeluarga, ga mungkin kasmaran setiap saat setiap waktu. Kalau pas hari H pernikahan dan beberapa saat tidak jauh setelahnya ya wajar kalau masih kasmaran lah ya. Kalau beberapa saat jauh setelahnya, saat udah mulai saling kesel, itu hal yang tidak mudah. Makanya sampai dijanjikan pahala sama Allah. Ya, biar asmara itu selalu dijaga oleh sepasang suami istri, karena untuk menjaga itu tidak mudah.

Itu pemikiran saya saja ya, saya sih belum pernah nikah. Pacaran juga belum pernah, gak pengen juga. Bukan sarana yang cukup efektif dan efisien untuk mengenal calon suami/istri. Cara terbaik memilih pasangan menurut saya adalah melalui riset mendalam menggunakan logika tanpa rasa, secara langsung maupun tidak langsung. Disertai dengan bertanya kepada Allah serta mereka, satu, dua atau lebih orang yang kita percaya. Beberapa hal soal pemilihan jodoh ini meskipun belum menyeluruh sudah ada sih di postingan saya berikut ini: Tabir (klik aja disini).

Sudah Pada Nikah

Saya sekarang ada pada usia dimana menurut orang-orang ya harusnya dah punya anak, tidak hanya menikah. Kenyataannya? Masih single. Begitu pula dengan teman-teman seumuran lainnya. Sudah mulai banyak yang sudah nikah, mulai banyak yang punya anak, tapi ya masih banyak juga sih yang belum menikah.

flickr Phil du Valois
Teman-teman saya yang belum nikah sudah pada mulai galau soal jodoh. Tiap ada kabar teman yang melepas masa lajang pada sedih. Pada pengen juga tapi belum jelas kapannya.

Kalau saya malah sebaliknya. Tiap ada yang nikah. Upload foto keharmonisan, keseruan sama suami/istri ikut bahagia aja gitu. Tiap ada yang mengungkapkan bahagianya punya anak ya ikut bahagia aja gitu.

Karena menurut bayangan saya dan apa yang saya lihat. Nikah itu tidak pernah mudah. Nikah itu tidak 100% indah. Nikah itu banyak susahnya. Indahnya tu cuma dikit. Jadi kalau pada mengabarkan bagaimana bahagianya setelah berkeluarga ya itu adalah hal yang patut diapresiasi. Berarti mereka pandai bersyukur.

Saya percaya kalau mereka bilang lebih bahagia setelah menikah daripada saat single. Iya, tapi apa iya sih gak pernah ada konflik sama pasangan dan atau keluarga pasangan. Masa iya sih hamil, menyusui, merawat bayi hingga kemudian besar itu mudah? Belum lagi mendidiknya.

Sama ibu sendiri yang jelas-jelas menyayangi kita seburuk apapun kita mudah terjadi konflik, perbedaan pendapat. Apalagi sama mereka yang rasa sayangnya tidak sebesar ibu kita. Manusia kan bukan malaikat. Hal wajar ketika suka bikin kita kesel, bete, dsb.

Senin, 18 Februari 2019

Tabir

Logika, akal pikiran adalah salah satu keistimewaan manusia yang diberikan oleh Tuhan. Awal tahun ini saya cam kan ke dalam diri saya untuk tidak lagi jatuh hati agar tidak lagi patah hati. Saya putuskan untuk bergabung dengan #antibaper2club. Ini bukan perkumpulan ya, cuma semacam Raisa waktu komen #antipangling2club di postingan instagram pernikahan Meghan Markle.

Iya, saya ingin memilih jodoh 100% berdasarkan logika bukan cinta. Karena saya berniat untuk tidak lagi jatuh cinta, baru setelah resmi sah, akan berusaha menumbuhkan cinta, dengan siapapun itu yang nanti ditakdirkan menjadi jodoh saya, yang saya pilih sendiri secara sadar tanpa paksaan.

Soal jodoh dan asmara saya ingin bikin postingan sendiri sih, sepertinya bakal banyak, hahah. Postingan ini tidak akan membahas soal itu. Saya ingin berbicara tentang logika manusia. Pagi ini, saya memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan logika secara 100%.

Kemarin malam, saya mendadak punya ide untuk berbagi kepemilikan dengan seorang teman. Awalnya merupakan teman dari teman yang sudah banyak membantu saya, yang akhirnya menjadi teman saya juga, haha. Bingung? Gpp, gausah tanya XD. Bayangan saya, bisnis saya akan jadi jauh lebih cepat maju jika berpartner dengannya. Somehow, kepala saya yang lagi pusing bukannya berkurang pusingnya malah terasa makin kuat pusingnya. Akhirnya saya buka video materi terbaru di youtube guru saya yg sudah saya download sebelumnya, lalu tidur.

Paginya, saat pikiran masih fresh, mendadak saya merasa sebaiknya saya tidak merealisasikan rencana yang muncul kemarin malam. Hati saya hanya merasa tidak nyaman. Tapi kalau di logika, partnership kami bakalan bagus untuk bisnis saya. Pagi tadi, sekarang juga masih pagi sih, hehe. Maksudnya sebelum matahari tampak jelas. Tiap saya berpikir "Gpp jadi aja, toh dilogika juga bagus kok partnership tsb" kepala saya mendadak langsung pusing. Apakah ini pertanda?

Pusing saya auto hilang ketika saya kembali yakin untuk tidak berpartner dengannya. Begitu terus. Sampai akhirnya, saya berpikir dan putuskan, tidak jadi. Coba sendiri dulu tanpa partner yang posisinya sejajar atau hampir sejajar dalam bisnis saya. Lebih baik berpartner dengan banyak freelancer sambil melakukan evaluasi kinerja masing-masing. Kalau amat sangat memuaskan mungkin kerjasamanya bisa ditingkatkan dalam kuantitas maupun kualitas (maksudnya kalau sudah ada dananya bisalah diajak jadi karyawan tetap misalnya).

Meskipun secara logika sebaiknya saya memutuskan lanjutkan, tapi pertanda seperti kepala yang auto pusing setiap saya memutuskan untuk lanjutkan serta hati yang tidak nyaman ketika bangun tidur, ketika pikiran saya masih fresh, membuat saya mantap untuk stop. Jangan realisasikan rencana tsb. Apakah ini intuisi saya? mungkin.

Logika manusia terbatas, otak manusia terbatas, manusia hanya makhluk. Sebutir debu saja tidak bisa digunakan untuk membandingkannya dengan ilmu Tuhan yang jika air laut menjadi tinta, tidak akan cukup untuk menuliskan semua ilmu-Nya. Sangat banyak tabir yang menutup penglihatan logika manusia. Inilah pentingnya bertanya kepada-Nya.

ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/jas-photoland/15541436226/

Jujur saya tidak shalat istikharah tadi. Saya masih jauh dari kata rajin shalat sunnah. Tidak sedikit-sedikit istikharah. Hanya saja, karena logika kita terbatas, tidak bisa kita 100% mengandalkan logika saja. Selain firman Tuhan dan sabda Rasul, kata hati, intuisi, juga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan.

Ketika memutuskan untuk tidak jadi merealisasikan rencana saya kemarin malam, saya sebenarnya juga tidak membuka Al-Qur'an dan mencari tahu hadits Nabi. Saya belum sesholehah itu, hehe. Masih jauh dari kata sholehah juga wkkwk. Ketika kepala saya mendadak pusing setiap akan merealisasikan rencana tsb, ketika mendadak kata hati saya bilang "jangan" waktu bangun tidur tadi. Bisa jadi itu pertanda bahwa kelak, jika saya memutuskan untuk lanjut, tidak baik untuk bisnis saya.

Bisa jadi secara pribadi saya memang bertumbuh, tapi bisa saja bisnis saya pertumbuhannya tidak seperti yang saya inginkan. Misal karena seringnya terjadi perbedaan pendapat, sehingga bisnis saya tidak berkembang secara maksimal. Bisa jadi logika saya sekarang berkata sebaiknya lanjut, tapi kelak setelah satu tahun kemudian logika saya berkata dulu sebaiknya saya tidak mengambil keputusan itu.

Ya karena logika manusia terbatas. Banyak hal yang belum bisa saya lihat saat ini karena Allah masih menutupinya dengan tabir, belum berkehendak untuk membuka tabir tersebut secara jelas. Hanya menakdirkan saya merasakan pertanda2 seperti kepala yang mendadak pusing dan hati yang tidak nyaman.

Saya jadi ingat pesan guru saya di salah satu IG story beliau. Ketika kita berbeda pendapat dengan guru. Ikuti saja. Jangan bertahan dengan pendapat kita. Karena guru bisa melihat apa yang belum bisa kita lihat. Pengalaman seorang guru yang lebih senior tentu lebih banyak dari kita.

Banyak hal yang saat ini belum bisa kita lihat. Karena Allah belum atau memang tidak berkehendak untuk memperlihatkannya kepada kita. Sehingga mengandalkan logika secara 100% dalam mengambil keputusan belum tentu menghasilkan keputusan terbaik. Ya, karena logika kita penuh keterbatasan, banyak tabir yang menutupi kita dari ilmu-Nya. Ilmu kita tak akan pernah bisa dibandingkan dengan-Nya, sebutir debu pun tidak cukup untuk membandingkan betapa sedikitnya ilmu yang diperkenankan Tuhan untuk manusia ketahui. Karena air laut pun jika dijadikan tinta tidak akan cukup untuk menulis semua ilmu-Nya.

Selasa, 25 September 2018

Keputusan-keputusan di 2017

Pada kondisi tertentu, kalau lagi mood buat bikin rencana, saya suka sekali bikin rencana. Setelahnya? Bye! Haha. Iya rencana seringkali tinggal wacana. Saya suka berpikir tapi suka malas merealisasikan. Lebih suka berpikir daripada bekerja. Lebih suka mengarahkan daripada diarahkan, hehe.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/30851170@N05/4724901399/

Akhirnya di tahun 2017 kemarin saya mencoba memberanikan diri untuk merealisasikan rencana-rencana saya meskipun menurut saya sebenarnya waktunya belum cukup sempurna. Ada satu kesalahan fatal sih memang. Benar-benar diluar dugaan. Membuat saya berpikir bahwa jika bisa melakukan sendiri buat apa minta tolong ke teman meskipun dia menawarkan diri. Meskipun posisinya cukup strategis, tapi yang namanya strategis itu, kalau strategis untuk merealisasikan apa mimpi indah kita berarti juga strategis untuk merealisasikan mimpi buruk kita. Hati-hati saja sih.

Diluar itu, saya membuat keputusan-keputusan lain yang membuat saya belajar banyak. Tidak banyak keputusan sih. Tapi ya tidak apa-apa seenggaknya ada kemajuan, meskipun kemajuannya bukan dari sisi yang cukup kasat mata. Lebih ke kemajuan yang ada di dalam diri.

Hanya satu keputusan yang saya sesalkan sih, yang membuat rencana hidup saya jadi cukup berantakan. Gara-gara teman yang tidak amanah. Menawarkan bantuan, eh ternyata setelah kita bercerita apa yang jadi ketakutan kita dia malah berusaha bersama dengan yang lainnya mewujudkan ketakutan saya. Tapi ya tidak apa-apa sih, toh kan ada 1000 jalan menuju Roma. Maksudnya ketika ada tahapan dalam hidup yang harus kita lewati dan orang lain menjauhkan kita untuk melewati tahapan itu, tenang saja, masih banyak jalan lain untuk merealisasikan tahapan hidup yang ingin kita lewati tersebut.

Salah satu yang luar biasa adalah keputusan saya untuk magang di sebuah start up yang hampir 100% berisi generasi milenial. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Mengingat setelah 2 tahun jadi mahasiswa yang tidak pernah ngampus, lanjut mencoba bekerja di sebuah toko kecil, tiba-tiba bertemu dengan sesama generasi milenial dalam jumlah puluhan, ya bisa dibilang seukuran satu kelas lah, ya ada senangnya ada sedihnya.

Kalau dibandingkan pengalaman magang saya waktu kuliah dulu, di sebuah bumn, ya senangnya, di start up tsb isinya anak2 muda. Untuk komunikasi tidak ada hambatan berarti, karena jarak usia mayoritas teman-teman disana masih satu digit lah ya. Sangat jarang yang sampai 2 digit.

Tapi bukan berarti mudah untuk berteman dengan mereka untuk seorang introvert seperti saya. Saya belajar banyak sih. Jadi tahu kesalahan saya selama ini yang kalau tidak disana mungkin sampai sekarang saya masih belum sadar kalau itu kesalahan. Juga belajar untuk memaklumi orang lain. Belajar untuk lebih jasa sikap dan lebih berhati-hati juga sih.

My Quarter Life Crisis

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/vandertramps/8098705908
Quarter life crisis itu emang luar biasa ya. Saya mengatakan seperti itu karena sedang mengalami. Mungkin besok kalau sudah berkeluarga dan memiliki anak bakal bilang lagi, berkeluarga itu luar biasa ya. Lalu jika diizinkan berumur panjang, bisa jadi waktu merasakan usia 60 tahunan, bakal keluar juga kata, merasakan usia kepala 6 itu luar biasa ya? Hehe. Bisa jadi, keluar kata luar biasa karena baru saja merasakan apa yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Jadi ngerasa, ternyata seperti ini, dulu tidak pernah terlintas dalam bayangan, hehe.

Dulu, waktu masih sekolah, masih remaja, kebayang hidup saya ke depan ya mulus-mulus aja jalannya. Saya kira bakal lulus cepat waktu kuliah, kurang dari 4 tahun, lalu setelah lulus cita-cita tercapai. Ternyata setelah merasakan jadi anak semester akhir, kok keenakan jadi mahasiswa, tidak mau lulus cepat-cepat. Eh, malah jadi nunda-nunda, terus ya keterusan, malesnya susah sembuh. Kalau tidak memaksa diri buat ke kampus, buat selesaikan kuliah, bisa jadi sekarang aku sudah di drop out dan tidak punya gelar S.E.

Flashback ketika saya berada tepat di usia seperempat abad. Saya merasa amat sangat buruk. Ketika mereka yang seumuran bahkan banyak juga yang lebih muda sudah mendapat cap "sukses" dari orang-orang, saya harus kenyang dengan caci maki (lebay) karena dianggap pemalas (iya sih). Seolah-olah belum jadi apa2 di usia 25 tahun adalah kegagalan besar.

Saat itu saya benar-benar terpuruk dan merasa melakukan kesalahan yang amat sangat besar. Saya sadar itu karena saya akrab dengan penundaan sehingga rencana hanya jadi wacana. Hingga suatu saat saya mengikuti sebuah pertemuan perdana coaching dengan seorang bunda Rita (yg mengadakan bukan bunda Rita, namun teman kakak saya). Meskipun akhirnya pertemuan perdana jadi pertemuan yang terakhir juga karena ya biasalah, orang bilang memulai itu bagian tersulit, tapi kenyataannya, konsisten seringkali lebih sulit daripada memulai. Contohnya banyak yang berhasil jadi mahasiswa namun berhenti di tengah jalan.

Bukan kegagalan konsistensi sebuah program coaching yg mau saya bahas. Petuah bunda Rita yang masih saya ingat serta membuat saya merasa jauh lebih baik saat pertemuan perdana itulah yang mau saya ceritakan. Inti dari petuah beliau saat itu adalah, soal uang dan angka serta, siapapun kita saat ini, kita sudah jauh lebih baik dari kita sebelumnya, kita sudah berjalan lebih jauh dari sebelumnya. Ingatan saya pun melayang ke zaman saya sekolah dan masih kuliah teori. Iya senang rasanya sudah berjalan sejauh ini. Senang rasanya sudah mendapatkan pencerahan demi pencerahan yang saya dapatkan sejak menjelang KKN dulu, berlanjut hingga mulai jadi tindakan jauh lebih nyata dibanding sebelumnya, di semester akhir.

Saya kembali merasa lebih baik ketika tahu bahwa pendiri KFC baru mendirikan usahanya ketika sudah jadi kakek2, sudah pensiun. Juga ada cerita kakek2 di China yang baru sukses jadi model justru ketika usianya sudah senja (namanya juga kakek2 xD. Lalu guru saya juga berpesan bahwa definisi sukses setiap orang bisa berbeda, maka, definisikan sukses versimu sendiri. Akhirnya saya kemudian menentukan definisi sukses versi saya disini: https://fenitriutami.blogspot.com/2017/06/definisi-sukses.html.

Rabu, 15 Agustus 2018

Kembali ke Surgaku

Pagi ini mendadak moodku bagus banget setelah menimbang dan memikirkan berbagai pilihan aktivitas yang ada yg bisa dilakukan hari ini dan akhirnya aku memutuskan. Ya, sumber bad mood salah satunya atau satu2nya? Adalah kegalauan yang didasari ketakutan2 kita gagal mendapatkan apa yg kita inginkan, yaitu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ketika dihadapkan berbagai pilihan aktivitas yg menguras energi dan waktu itulah yang bisa bikin kita, eh kok kita? aku sih, haha. Nah kalau kita sudah memutuskan kan berarti sudah gak bingung lagi, dan kita berpikir itu pilihan terbaik. Sehingga galau hilang, tinggal menjalankan dengan penuh suka hati karena setelah dipikir itulah pilihan terbaik, jadi bisa menjalaninya penuh syukur. Apalagi pilihan aktivitasku untuk hari ini adalah seharian di rumah!!! What a perfect heaven for me!!!

sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/freestocks/31512220131/
Iya, sekarang aku baru duduk diatas kursi, kaki silo (dingin bok kalo gak silo). Ngadep meja, dengan laptop yg LCD nya dah kembali oke 100% (sebelumnya LCD nya pecah, terakhir sebelum ganti LCD aku kira2 cuma bisa lihat layar 40%). Apalagi ya laptop pertamaku tu netbook, kecil kan layarnya, terus ganti yg 14" tahun kemarin apa ya, mulai rusak LCD nya terus merembet2 sampai sebelum ganti LCD kira2 aku cuma bisa lihat layar 40%. Jadi ya yang seneng banget sekarang. Buatku layar 14" sudah lebih dari cukup. Karena sebelumnya pakai netbook yg gak sampai 12" layarnya, terus ini laptop sempet rusak parah LCD nya. Jadi ya bahagia banget. Iya ya, kalo terbiasa hidup dengan keterbatasan jadi lebih mudah bersyukur. Lagi pula aku gak butuh layar yg super duper gede, hehe. Jadi pesan guruku, tentukan angka cukupmu, jangan mudah menaikkan angka cukup. Angka cukup terendah adalah angka cukup untuk bisa tetap bertahan hidup, tidak banyak keinginan macem2 yg gak penting2 amat, hehe.

Aku juga duduk dengan kursi dan meja didekat jendela. Posisi favoritku, kerja deket jendela. Apalagi samping rumahku halaman samping rumah sehingga kamarku bisa dapat cukup cahaya dan tidak dipakai lalu lalang orang yg suka kepo (maklum di tengah kampung ya, jadi suka gak nyaman kalo lagi kerja ada orang lewat liat2, hehe). Jadi kerasa privasinya. Sendirian ditemani burjo semangkuk sama secangkir cokelat hangat. Surga banget!!!

Jadi, kegalauan sejak Juli kemarin adalah aku diamanahi ngurus berbagai urusan properti keluargaku, yang mana itu butuh waktu yg gak sedikit. Aku juga menginginkan percepatan untuk bisnis yang aku kelola. Seperti kata guruku, dengan berpartner bisnis kita bisa tumbuh lebih cepat keuntungan yg didapatkan bisa lebih banyak. Lebih baik 10% tapi 1 Trilyun daripada 100% tapi 1 Milyar kan, gitulah kurang lebih pesan guruku. Asal manajemennya benar, berbagi justru tidak mengurangi, tapi bisa melipat gandakan berkali-kali lipat. Gaya banget ya, ngomongnya udah trilyun sama milyar. Padahal pegang uang 20 juta aja aku belum pernah, haha. Kata guruku, kita harus terbiasa bicara pakai bahasa milyar kurang lebih ya kata guruku biar jadi doa, terinternalisasi, sama gak kagetan sama uang besar.

Iya, Juli aku mulai hunting partner bisnis. Aku iyain temenku yg menawarkan diri, aku hubungi lagi temenku yg sudah menawarkan diri sebelumnya dan aku minta nunggu sampai sistemnya siap. Aku ajakin temen2ku yg potensial jadi partner. Akhirnya aku dapat beberapa teman, ada yg masih nunggu sistemnya buat mereka, ada yg sudah siap sistemnya jadi sudah jalan, ada juga proses pergantian personil. Iya aku cuma mau kerjasama sama mereka yg serius dan tipe deal done. Ketika kita salah pilih personil meskipun dia sudah menawarkan diri dulu gak cuma sekali, emang agak bikin galau ya. Bikin kita jadi mikir gantinya sebaiknya siapa, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan kerjasama. Tapi semuanya alhamdulillah berjalan lancar.

Ketika kita sudah merasa gak cocok sama partner, cara terbaik untuk menghentikan hubungan kerjasama adalah kata2 itu mereka keluarkan sendiri. Aku juga tipe yang kalau partner udah jual mahal udah sih mending udahan. Kalau udah diulur, mending tak lepas sekalian. Stok partner pengganti masih super duper banyak. Meskipun harus habisin waktu dan energi buat cari lagi. Tapi yang terjadi selama ini. Aku selalu dapet partner pengganti yang jauh lebih baik dibanding partner/calon partner sebelumnya.

Barusan aku juga dapet partner terbaik yg bahkan aku yang mengaku terakhir punya sahabat waktu SD. Aku bisa dengan PD aku sekarang sudah punya sahabat. Ritmenya yg cepat kadang bikin aku galau sehingga butuh meditasi lebih (tidur sambil mikir terus terlelap maupun tidak terlelap salah satu bentuk meditasi yg cukup efektif buatku). Tapi ya itu, ritmenya yg cepat bikin aku yg lamban dan selalu mencari waktu yg sempurna jadi memaksa diriku untuk lebih cepat. Iya aku butuh banget ini. Bagus banget buat kemajuan pribadiku. Apalagi seminggu kebelakang aku sering harus keluar rumah yg mana itu menguras energi banget buat introvert kayak aku. Kerjaan sempat terbengkalai lama, iya aku belum kerja lagi semenjak kamis lalu LCD nya bener.

Teorinya abis LCD nya bener kan aku harusnya super duper semangat kerja. Tapi seminggu kemarin banyak agenda keluar rumah dan bikin aku galau gimana ngatur waktunya, gimana biar aku tetep in good mood, kadang harus dihadapkan solusi2 yg nggak banget, bikin males dan bad mood. Ya gitulah. Baru sekarang ini aku lama ngadep laptop, ini pun cuma nge blog, belum balik kerja lagi. Pengen meluapkan kebahagiaan dulu. Rasanya belum siap kerja kalau belum cukup meditasi, ini salah satu bentuk meditasiku. Baru mau mulai kerja kalau dirasa kebutuhan meditasiku sudah bener2 terpenuhi sebelum mulai kerja lagi.

Ya begitulah. Alhamdulillah aku kembali punya seorang teman yg bisa aku sebut sebagai sahabat. Bener2 selalu ada dan aku juga berusaha untuk selalu ada buat dia. Gak nyangkanya, dia juga teman SDku dulu tapi beda kelas dan kita gak pernah main bareng dulu. Gak pernah istirahat bareng, berangkat bareng apalagi pulang bareng, karena gak se kampung juga sih sama aku, hehe. Dulu gak deket sekarang bisa deket banget dan bisa jadi solusi sama lain. Kita juga udah bener2 nyaman satu sama lain. Banyak kesamaan pilihan yg bikin kita gak galau untuk menjadi seperti apa setiap berinteraksi. Temenan lumayan deket dah  sekitar 9 tahunan. Sekarang yang sampai bener2 bisa dibilang kita adalah sahabat. Meskipun awal Juli lalu aku sempet menempelkan label fake friend dan marah sama dia, tapi dia bisa memperbaikinya dengan sempurna dalam kurun waktu seminggu ke belakang ini. Ya sampai aku bisa dengan PD nya bilang, dia adalah sahabatku. Kita adalah sahabat.

Aku gak mudah kasih label sahabat ke temanku. Apalagi kalau aku bukan temannya yang paling dekat meskipun dibanding teman yg lain aku paling dekat sama dia. Aku butuh cap dari orang diluar kita juga. Lagi pula aku sejenis introvert yg sudah lama gak membangun kualitas pertemanan yg cukup dalam, sehingga aku gak cukup PD untuk bilang si A, si B, si C itu sahabatku. Apalagi kalau masih ada canggung2an. Bener2 sahabat kalau tidak ada kecanggungan sedikitpun kan.

Ya, selain karena sudah bisa bilang aku sekarang punya sahabat! Kebahagiaanku terbesar saat ini adalah aku akhirnya memutuskan untuk di rumah terus tanpa gangguan, menghabiskan waktu dengan laptop, hp, kamar, dan berkas turun waris. Aku kira cucianku yg menumpuk bisa aku kerjakan besok. Motor mbakyuku yg harus segera dibengkelin lagi sehingga aku harus menunggu proses servis yg cukup lama bisa aku kerjakan di hari jumat. Sempurna kan. Toh aku juga gak kehabisan baju. Bajuku dikit, tapi alhamdulillah masih cukup kalo aku nyuci besok, wong hari ini juga aku mau dirumah terus, haha. Paling2 keluar cuma sebentar ke tetangga sebelah, masih satu RT.

Terus ya, yg cukup menguras energi adalah selain aku seminggu ke belakang banyak menghabiskan waktu keluar rumah cukup lama di hari2nya, Selasa dini hari ibuku lihat ular di dapur rumahku. Padahal ya gak ada sawah dekat sini. Gak ada kebon di dekat rumahku. Pohon2 di halaman rumahku gak rungkut alias jaraknya jarang2. Banyak tanah kosongnya. Jadi takut kan. Gak berani ke kamar mandi rumah, mana ularnya pagi2 cerah dicari tetangga sama iparku gak ketemu. Semoga udah pergi sih, semoga cuma jin sih, kemarin udah bilangin tak suruh pergi kalau misal itu ular jelmaan jin. Tadi tengah malem meskipun gak liat ularnya, aku bilang lagi di dapur, nyuruh pergi kalau misal2 jin yg menjelma ular ada di rumahku. Kan di Islam gitu, 3 hari kita suruh pergi seperti kita ngomong sama manusia karena jin paham bahasa kita. Kalau lebih dari 3 hari gak pergi berarti itu bukan jin baik atau bisa jadi ular beneran, baru boleh kita bunuh ularnya.

Sempat curhat di grup wa kemarin malem aku. Sempet tambah takut, tapi sekarang udah lebih berani. Katanya gausah takut dan jangan kagetan. Okedeh. Ya semoga dah gak di daerah rumahku sama tetangga2ku sih ularnya kalau itu ular beneran. Kalau itu ular jin, semoga gak memperlihatkan diri lagi di hadapan kami warga sekampung. Jangan menjelma ular lagi. Jadilah jin yg baik. Aaamiiin. Jin kan gak kelihatan, semoga tidak ada jin di kampungku yg suka memperlihatkan diri dan menjelma jadi hewan2 menakutkan. Aaamiiin.

Ya gitulah, setelah kemarin diteror sama ular. Aku sekarang sudah merasa lebih baik dan tidak sepenakut dulu. Januari tahun ini aku sendiri yg terancam soalnya. Lagi nangkring di WC dini hari ada ular masuk kamar mandi pas di pintu, otomatis aku gak bisa keluar sebelum ular itu pergi. Pas aku keluar tu yg ekornya masih keliatan pas itu ular pergi. Ular itu sempet jalan ke arahku, tapi terus balik. Untung masih dilindungi Allah. Dzikir di kamar mandi tu boleh asal nggak dilafalkan. Sepertinya ular itu gak jadi ke arahku setelah aku dzikir minta perlindungan kepada Allah SWT. Alhamdulillah masih diberi keselamatan oleh Allah SWT. Semoga gak ada ular lagi, meskipun aku bilang udah gak sepenakut sebelumnya. Jangan sampai lah ada ular lagi deket2 sini. Aaamiiin. Semoga surgaku hari ini. Seharian di rumah gak ada teror dalam bentuk apapun. Aku bisa tenang menikmati surga hari ini. Aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk jadi lebih produktif. Untuk percepatan bisnis juga untuk selesainya dan lancarnya urusan yg diamanahkan ke aku dari keluargaku. Mulai hari ini dan setelahnya. Aaamiiin.

Yeyeyey, Gogogogo!!!!

Selasa, 28 November 2017

Berkah di Sabtu Malam

Pada suatu hari di akhir 2016 ibuku minta aku buat nganterin beliau ke rumah saudaraku di suatu desa di Bantul pada Sabtu sore, lumayan jauh lah dari hiruk pikuk pusat kota. Sebenarnya aku lagi ada tugas dari mentorku yang mana itu tugas paling susah selama mentoring. Dan aku baru selesai gak ada 2% karena ya emang susah banget yang mana harus benar-benar keluar rumah dan butuh keberanian luar biasa. Aku selalu kepikiran buat selesain tugas itu.

Tapi yaudah deh aku tetap iyain permintaan ibuku. Barangkali ada kemudahan habis itu. Sebelum berangkat aku sempat keluar rumah bentar buat progress tugasku. Abis itu cus berangkat ke Bantul. Sampai sana hari belum gelap. Namanya ke rumah saudara kan kayaknya gak mungkin kalau ngobrolnya gak lama.

Aku bukan tipe orang yang suka ngobrol sih. Tapi kan ya mau gak mau kan ya nunggu kan ya. Soalnya selain sama ibuku, aku kesana juga sama bulikku. Bulikku dibonceng adek sepupuku yang bernama Nita. Aku ngebonceng ibukku waktu kesini ya sama nanti pas pulang, ya pastilah gak pakai ditanya, haha.

Daaannn seperti yang sudah ditebak, aku dapat kado spesial dari Allah. Salah satu dari apa yang aku inginkan selama ini yang mana aku kira gak bakal terkabul, terkabul juga. Aku akhrnya bisa lihat kunang-kunang secara langsung tanpa direncanakan sebelumnya!! Just like a suprise!!



Aku sama Nita pun bahagia tak terkira. Orang tua kami asyik ngobrol, aku sama Nita berburu kunang-kunang. Jadi rumah saudaraku ini kan kanan kiri belakang rumahnya sawah. Depan rumahnya jalan kampung di desa yang seingatku di semen apa ya.

Asal tau aja, kunang-kunang disana banyak banget nget nget nget nget!!! Gak bisa dihitung!!! Sampai masuk-masuk teras gitu. Bagus banget sumpah. Sejak pertama tau ada serangga terbang yang bisa memancarkan cahaya bernama kunang-kunang, sejak itu pula aku pengen lihat secara langsung tapi di sekitar rumahku gak ada. Bekas rumah mendiang kakek nenekku se kampung juga sama aku soalnya.

Lalu waktu SMP, waktu ada acara studi tour ke Bandung naik bis, aku duduk di dekat jendela. Berharap bisa melihat kunang-kunang waktu lewat sawah-sawah di malam hari. Dan aku gak lihat. Selanjutnya juga aku gak pernah setiap kali perjalanan keluar kota di malam hari, entah naik travel, bis, maupun kereta.

Rumah kakakku yang sudah berkeluarga juga mepet sawah di daerah Jombor, tepat di depannya ada sawah. Aku sudah sering tidur disana. Tapi tidak pernah lihat kunang-kunang. Aku googling dimana aku bisa lihat kunang-kunang di dekat-dekat Jogja. Aku dapatnya info bahwa kunang-kunang sudah susah dicari, sudah hampir punah, itu dari cerita di sebuah blog. Tidak ada info lain yang mengatakan di sebuah tempat atau di beberapa tempat masih terdapat kunang-kunang yang bisa kita lihat. Setelah itu aku pun sedih, dan menyerah. Mungkin memang aku kurang beruntung untuk bisa lihat kunang-kunang.

Hingga akhirnya di suatu sore di akhir 2016 aku mendapatkan fakta mencengangkan yang mana aku bisa lihat kunang-kunang yang jumlahnya tak terhingga mengerubungi rumah saudaraku di suatu daerah di Bantul. Ini hadiah yang luar bisa dari Allah. Sayangnya hp ku waktu itu gak bisa menangkap foto kunang-kunang dengan cukup jelas. Hp yang sekarang gak tau juga sih bisa nangkap gambar kunang-kunang atau enggak.

Akhirnya aku tangkap satu kunang-kunang buat aku bawa pulang. Pulang-pulang sudah malam, aku lanjutin keluar rumah buat kerjain tugas mentorku yang super duper susah itu. Daaannnn.... meskipun waktunya cuma sedikit karena memang aku membatasi diri untuk hanya keluar sampai jam 9 malam, alias jam 9 harus sudah pulang, tugasku ada progress menjadi 25% dan cara mendapatkan yang 25% ini gak sesulit mendapatkan yang gak sampai 2%. Kuasa Allah, berkah bantuin ibu sepertinya.

Sampai rumah, gak biasanya, aku yang entah sejak kapan lebih nyaman gak matiin lampu, saat itu aku matiin lampu. Biar bisa lihat kunang-kunang yang aku ambil tadi dari rumah saudaraku. Aku taruh kunang-kunang tersebut di atas kasur di sampingku. Senang rasanya bisa tidur ditemani kunang-kunang.

Senin, 27 November 2017

Surga Dunia

Surga dunia buat masing-masing orang bisa berbeda-beda. Begitu pula surga duniaku yang bisa jadi berbeda dengan teman-teman. Surga duniaku itu ya bisa sendirian di kamar tanpa ada orang lain, tanpa ada yang ganggu, tanpa ada yang kepo. Bebas menulis maupun oret-oret baik di atas kertas maupun di blog tanpa ada yang kepo aku nulis/oret2 apa.

Sempurna lagi kalau dari kamar itu kita bisa menyatu dengan alam, bebas buka jendela baik dengan atau tanpa korden dan tidak ada yang lihat. Dunia berasa benar-benar milik sendiri. Bekerja, menulis, maupun oret-oret sambil bebas lihat pepohonan di luar kamar, sambil lihat hujan, sambil lihat bintang di langit sendirian tidak ada yang ganggu, tidak ada orang yang melihat, tidak ada yang lewat. Apalagi sambil makan cemilan kesukaan dengan stok aman dan minum minuman kesukaan dengan stok aman. Surga!!!

Senin, 02 Oktober 2017

Achiever Squad

Saat ini aku punya beberapa teman tapi tidak ada yang benar-benar sangat dekat. Dan aku yakin dari sekian temanku itu tidak ada yang menjadikanku sahabat terdekatnya. Seingatku, aku baru sekali punya teman yang bertahun-tahun di sekolah maupun ngaji tpa hampir selalu barengan terus, ya hampir selalu berangkat pulang bareng berdua, duduk jarang nggak sebangku, istirahat hampir bareng terus, ngaji tpa juga, ya pas SD tok. Itupun kelas 5 kita mulai menjauh, berlanjut ke kelas 6, sampai akhirnya bener-bener jarang main bareng waktu SMP karena kami juga beda sekolah. Setelah itu aku gak punya teman dekat yang sedekat aku sama dia dulu.

ilustrasi: https://www.flickr.com/photos/ngmmemuda/4335753179

Waktu semester akhir dulu aku sempat diajakin temanku buat ngajuin skripsi barengan, ngerjain barengan. Dia teman sekelas yg pertama aku kenal waktu jadi maba dulu. Kita sempat barengan kemana-mana jaman masih ospek dulu tapi lama kelamaan gak lagi, sampai akhirnya dia ngajakin skripsian bareng. Sayangnya pas diajak itu aku masih ogah-ogahan banget buat ngerjain skripsi karena niatnya emang pengen lulus 5 tahun.

Ketika akhirnya aku keterusan nundanya sampai gak berani ngampus, aku akhirnya sadar. Aku dulu salah besar. Harusnya aku iyain ajakan temenku itu. Karena kalau kita rutin ketemuan buat ngerjain bareng kan otomatis pasti skripsiku ada kemajuan. Urusan mau nunda lulus kan tinggal ditunda ngajuin sidangnya. Yang penting penelitian selesai dulu. Setelah keterusan nunda ngerjain skripsi kerjaanku pun cuma mikirin skripsi nggak dikerja2in, hehe. Coba dulu aku iyain ajakan temenku ya, progress kehidupanku bisa jadi lebih cepet.

Lama menyendiri sebagai mahasiswa abadi temanku pun lama kelamaan berkurang. Aktivitas utama galau di kamar mikirin gimana biar skripsi selesai, tapi cuma dipikirin, wkwkwk. Mau ketemu orang takut ditanyain sampai mana skripsinya. Aku juga introvert sih.

Semakin kesini aku merasa aku makin sering buang-buang waktu. Aku memang bukan tipe orang yang suka keluar main kesana kemari. Aku seorang yang gampang badmood. Aku seorang yang sebenarnya perfeksionis tapi gak kelihatan. Penampilanku sekedarnya sering malas setrika. Itu bukan karena aku bukan seorang yang tidak perfeksionis. Tapi karena perfeksionis aku jadi gampang badmood. Kalau sudah badmood magernya gila2an. Sampai setrika aja males. Kamar kayak tempat sampah gara-gara mager buat beresin.

Aku pengen segera keluar dari zona nyaman yang tidak nyaman, hehe. Zona malas mungkin lebih tepatnya. Kalau disuruh bikin Daftar Target Pencapaian aku bisaa.. Aku senang bikin rencana, meski kadang males nyatet juga. Aku dah punya list apa aja yang ingin aku capai selama hidup. Tapi aku juga mudah buat ngelupain Daftar Target Pencapaian yang udah aku bikin hanya karena bad mood.

Berbagai saran sudah aku dengar/baca. Tapi sepertinya buat aku yang paling ampuh dengan membuat Achiever Squad dengan member maksimal 3 orang. Setiap member harus sudah punya Daftar Target Pencapaian.

Masing-masing member wajib support member lainnya agar bisa mencapai Daftar Target Pencapaian masing-masing. Aku terbuka untuk siapapun yang baca postingan ini. Bagi yang tertarik untuk menjadi satu dari maksimal 3 member Achiever Squad silakan japri media sosial saya dengan menyertakan achievement wishlist-nya. Saya harap saya bisa mendapatkan teman yang bisa maju bareng, dan saling support dengan menghargai perbedaan pendapat, tidak suka memaksa/membuat kondisi tidak nyaman hanya karena perbedaan pilihan.

Jumat, 25 Agustus 2017

Iin, is that you?

Jaman saya TK SD, ada banyak anak-anak di sekitar rumah saya. Paling sering saya bermain dengan yang sebaya, meskipun begitu saya juga masih ingat beberapa anak dan wajahnya yang umurnya agak jauh dibawah saya meski jarang bermain bersama. Salah satunya adalah Iin. Seorang gadis kecil yang kalem dan tidak kakean polah. Biasanya kan di antara anak-anak ada yang nakal ada juga yang kalem, nah Iin ini kalem dan tidak nakal. Iin sangat cantik, diantara kami yang paling terkenal dari Iin adalah kecantikannya, dia mirip dengan ibunya.

Sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/dickdotcom/30950675994/

Kenangan terakhir saya dimana disitu ada saya dan disitu ada Iin adalah saat saya masih SD. Seingat saya sejak SMP saya belum pernah ketemu lagi dengan Iin kecuali ketemu tapi tidak sadar kalau itu Iin. Saya ingat Iin gara-gara belum lama ini saat di rumah saya mendengar orang yang mengucap kata Iin.

Kenapa tiba-tiba jadi ingat Iin gadis cilik yang cantik itu? Karena di sebuah event yang saya ikuti saya sempat bertemu dengan seorang mahasiswi UGM yang mirip dengan Iin, dia duduk tepat di depan saya. Tapi saya waktu itu saya hanya ingat wajah Iin belum ingat namanya. Sejak saat itu saya sering berpikir keras siapa sih nama bocah cilik yang terkenal paling cantik di antara bocah-bocah lain di sekitar rumah saya waktu saya kecil dulu. Saya ingat wajahnya tapi lupa namanya.

Sampai-sampai pulang dari event tersebut saya tanya ke kakak saya, ingat nama bocah cilik cantik cucu almh. Bu Karti tidak? Tapi kakak saya tidak ingat. Itu loh yang cantik banget, dia tetap tidak ingat, lingkaran permainan kakak saya dan saya berbeda sih karena umur kita juga lumayan jauh jaraknya. Nah almh. Bu Karti ini dulu rumahnya cuma beda satu rumah dengan rumah saya, cukup luas dihuni oleh anak cucunya. Tapi tanah peninggalan almh. Bu Karti sudah lama dijual sehingga anak cucunya sudah lama tidak tinggal lagi disitu.

Setelah sekarang ingat nama si Iin saya pun lupa nama mahasiswi UGM yang dulu pernah mendatangi event yang sama dg saya. Padahal dulu ingat banget siapa namanya dan berusaha keras mengingat siapa nama bocah cilik yang terkenal paling cantik di antara para bocah di sekitar rumah saya. Giliran ingat nama Iin saya lupa nama mahasiswi UGM yang pernah mendatangi event yg sama dengan saya, dan mirip dengan Iin.

Entah kenapa dulu saat berada di event itu, lihat wajah dan tahu namanya kok aku curiga dia bocah cilik cantik yang tinggal di dekat rumahku. Kayaknya di event itu dia dipanggil Intan oleh beberapa orang yang mengenal dia. Intan bukan ya, kayaknya sih Intan. Gara-gara nama, wajah sama perawakannya itulah aku curiga dia bocah cilik cantik nan kalem cucu almh. Bu Karti.

Sejak berada di event itu aku berpikir keras mengingat-ingat si nama si Iin. Apakah dia Iin. Sehingga ketika ingat nama si Iin buatku merupakan kepuasan tersendiri, yeay Allah mengijinkan aku ingat nama si Iin, meskipun terus malah jadi lupa nama dia waktu di event itu. Jadi usaha saya berpikir keras sejak di event tsb sampai akhirnya ingat nama Iin jangan sampai terbuang sia-sia, menguap bagai keringat, hehe. Dan saya pun memutuskan untuk menulis disini biar tidak lupa. Tidak penting banget ya? Masalahnya saya sampai berpikir keras mengingat nama si Iin. Pokoknya jangan sampai lupa lagi! Ini harus diabadikan. Kalau asal catat di evernote atau note-note lainnya ada kemungkin keselip lupa lagi, kalau di blog insyaallah kemungkinan hilangnya kecil. Apalagi ini blog yang paling saya urus, hehe.

Mungkin teman-teman yang baca ini bertanya-tanya kenapa saya tidak langsung mengajak ngobrol mahasiswi UGM yang saya feeling saya bilang dia sepertinya Iin, lebih enak kita sebut sepertinya Iin saja ya, soalnya saya lupa di event itu dia dipanggil siapa sama temannya. Kayaknya Intan tapi saya kok lupa pastinya siapa. Kita sebut saja "Sepertinya Iin" yaa.

Saat itu "Sepertinya Iin" datang telat dan duduk di depan saya, peserta event hanya sedikit duduknya renggang-renggang dan tidak ada yang ngobrol sendiri. Jadi saya tidak bisa ngajak ngobrol "Sepertinya Iin" selama acara. Setelah acara selesai pun "Sepertinya Iin" langsung ngobrol dengan salah satu pengisi acara dan saya keburu ada agenda lain. So, rasa penasaran saya belum terjawab. Semoga di lain waktu saya bisa menemukan Iin yang sekarang sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Apakah Iin itu seorang mahasiswi UGM yang pernah mendatangi event sama dengan saya atau bukan. Sayangnya koleksi foto jadul jaman TK SD saya sepertinya tidak ada yang ada Iinnya, kalau bisa kan bisa saya tag ke IG @generasi90an biar bisa ketemu Iin, hehe.

Cerita seperti ini saja saya ngetiknya bisa panjang lebar ya, haha. Entah kekurangan atau kelebihan. Disyukuri sajalah. Belum tentu semua orang yang kalau disuruh ngetik cerita panjang-panjang bisa. Meskipun intinya hal remeh temeh seperti ini. Hehe. Inti cerita ini itu bisa dibahasakan dengan singkat. Tapi kok saya tidak mantap kalau cuma bilang singkat. Ingin menyampaikan seutuhnya tanpa ada yang kurang, biar tidak menyesal, hehe. Mbulet tidak sih? Muter-muter tidak sih. Mbuhlah yang penting saya ingin menulis ini dan keinginan saya tersebut sudah tertunaikan, hehe. Salam blogging!!! :)


Kamis, 15 Juni 2017

Definisi Sukses

Definisi sukses setiap orang bisa berbeda-beda. Tapi kebanyakan orang menganggap orang sudah sukses kalau kaya + terkenal, atau kaya + keluarga tampak sempurna. Itu umumnya ya, tapi guru saya selalu menyuruh untuk membuat definisi sukses sendiri.

ilustrasi: https://openclipart.org/detail/227186/success-graph

Rasulullah SAW adalah seorang hamba Allah yang sukses, namun meskipun pandai berdagang, Rasulullah memilih tidak hidup bergelimang harta. Rasulullah memilih untuk hidup sangat sederhana. Rasulullah pun justru memilihkan Fathimah seorang Ali sebagai suami  yang secara materi kekurangan. Saat Fathimah meminta bantuan dari Rasulullah berupa harta agar bisa meringankan bebannya, Rasulullah justru menyuruh Fathimah untuk berdzikir. Semakin banyak harta yang dititipkan Allah ke kita memang makin lama hisab kita di hari akhir nanti.

Jaman sekarang, siapa sih yang tidak ingin kaya? Saya juga ingin. Bukan berarti orang jaman dulu lebih banyak yang gak ingin kaya dibanding sekarang sih. Itu kan harus dibuktikan pake riset ya. Intinya seperti yang kita lihat kebanyakan orang ingin kaya. Lebih sering dengar orang ingin kaya kan daripada orang ingin miskin? Hehe. Seolah banyak masalah bisa selesai dengan harta. Padahal sebenarnya belum tentu juga. Bisa jadi kita belum dapat hidayah (petunjuk) saja dari Allah atas solusi yang belum tentu harta solusinya.

Mungkin kita belum dapat hidayah karena terlalu banyak dosa. Tiap istighfar, gak bisa khusyuk, sudah gak bisa khusyuk, belum dapet 10 kali udah gak bisa fokus. Istighfar memang banyak faedahnya, tapi susah buat ngejalaninnya dengan kontinyu dan penuh kekhusyukan. Rasulullah SAW, hamba Allah paling sempurna, istighfarnya lebih dari 70 kali per hari. Kita yang dosanya gak kira-kira boro-boro 1000 kali, 10% nya aja sudah kemajuan pesat. Eh kok kita terus sih ya? Padahal saya sendiri, bukan kita, iya saya yang sudah jelas parah ini, bukan teman-teman yang sedang baca tulisan ini, hehe.

Kalau buat saya sendiri, sukses itu bukan ketika orang-orang bilang kita sukses. Sukses itu ketika berhasil mencapai apa yang ingin kita capai. Belum tentu apa yang ingin kita capai tersebut berupa kekayaan dan keterkenalan.

Saya tidak bercita-cita untuk masuk forbes sebagai orang terkaya di dunia. Buat kalian yang ngerti posisi saya sekarang bisa jadi kebanyakan bakal bilang, "Yakali mbok yo yang realistis ah!" atau malah kasihan karena omongan saya ketinggian, gak lihat realita diri, hehe. Tapi tenang aja meskipun saya menyebut itu, seperti saya sebut diawal paragraf ini, itu bukan cita-cita saya. Saya sebut di awal karena pada umumnya orang kalau disuruh menggantungkan cita-cita setinggi langit ya cita-citanya seperti itu. Menjadi yang "paling" dalam bidang yang ia tekuni, misal jadi CEO perusahaan terbesar di dunia saat ini, mendapat nobel, menjadi presiden, menjadi sekjen PBB, dll.

Cita-cita saya adalah ingin mengentaskan kemiskinan dalam diri saya sendiri, keluarga dekat, dan daerah setempat. Tidak luas-luas, cukup daerah setempat. Setelah saya tulis, melihat usia saya sekarang ini dan usia rata-rata orang jaman sekarang ya waktu yang saya miliki sepertinya hanya cukup untuk program pengentasan kemiskinan di daerah saya.

Tapi saya ingin program kelak saya buat di duplikasi di daerah lain oleh orang lain. Saya juga ingin melatih generasi muda agar bisa terus melanjutkan program ini, hingga program ini berhasil mengentaskan kemiskinan dunia. Saya ingin punya pondok yang melahirkan kader-kader penumpas kemiskinan, yang tidak hanya menggerakkan diri sendiri tapi juga menularkan gerakannya kepada orang lain. Sehingga banyak gerakan serupa di daerah lain, bahkan belahan dunia lain. Dunia pun jadi lebih baik.

Mimpi saya sosial banget ya. Padahal posisi saya sekarang orangnya tidak cukup sosial. Tapi ya memang itu mimpi saya. Orang boleh pesimis karena kondisi saya sekarang ya memang seperti ini, hehe. Tapi meskipun saya sudah melewati usia seperempat abad, saya masih under thirty. Tidak boleh terlalu berkecil hati. Saya tidak terlalu terlambat. Orang Kapten Sanders aja baru sukses di usia kakek-kakek.

Seperti saya bilang sebelumnya, target pertama adalah pengentasan kemiskinan dari diri saya dahulu. Baru melebar ke keluarga dekat dan kemudian ke masyarakat. Mengajak orang lain melakukan hal yang sama serta mengkader generasi penerus agar tingkat kemiskinan masyarakat dunia bisa terus menerus berkurang. Selain mengajak orang lain dan mengkader generasi penerus saya juga ingin mereka yang saya ajak dan saya kader mampu mengajak dan mengkader orang lain untuk membuat dunia lebih baik. Orang-orang yang mereka ajak dan kader pun juga begitu, sehingga program ini terus meluas dan tidak pernah terputus. Hingga dunia ini terbebas dari kemiskinan terus dan terus, aaamiiin.

Sekarang soal keterkenalan. Meskipun saya ingin membuat sebuah program dan ingin program tersebut dikloning oleh banyak orang secara terus menerus tak putus-putus kecuali Allah menghendaki sebaiknya program tersebut putus (misal sudah mendekati kiamat), saya tidak ingin menjadi seorang yang terkenal. Saya kira bisa menyebarluaskan program positif tanpa harus kita menjadi terkenal terlebih dahulu.

Mmmm... caranya gimana yaa.. Bisa pakai sejenis nama pena. Contoh kongkritnya seperti salah satu guru saya, @motivatweet yang kerap disapa Bang Motty. Sampai sekarang belum terbongkar siapa @motivatweet sebenarnya. Meskipun begitu Bang Motty bisa menyebarkan virus-virus positif yang membuat orang-orang jadi lebih baik. Bisa kan sembunyi dibelakang nama pena atau apalah istilahnya yang lebih cocok, hehe.

Ketika seseorang menjadi terkenal, maka saat itulah orang-orang memakaikan baju putih padanya. Noda alias kesalahan sedikitpun akan sangat terlihat dan itu membuat seorang yang terkenal jadi tampak sangat buruk, sangat hina. Susah kan. Gampang mendapat pujian gampang pula mendapat cacian. Mudah melambung, tapi juga mudah jatuh hingga hancur.

Padahal kesalahan adalah sesuatu hal yang manusiawi. Susah menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan. Selain itu seorang yang terkenal juga rawan fitnah ketika dianggap mengancam kepentingan orang lain. Ada orang-orang yang ingin dunia lebih baik untuk semua orang, ada orang-orang yang serakah, tidak memedulikan orang lain dan alam. Ya begitulah ancaman-ancaman buruk untuk menjadi seorang terkenal. Mudah dipuji mudah dicaci. Lebih baik diam-diam di belakang layar.

Meskipun begitu, kadang terbersit keinginan untuk jadi terkenal. Agar banyak teman, dibilang keren sama orang-orang. Padahal saat kita terpuruk, mereka yang tetap mau bertemanlah mereka yang tulus. Sedangkan ketika kita terkenal bakal banyak teman yang mendekat, belum tentu mereka tulus dan masih tetap mau menemani kita ketika kita jatuh. Saya lebih percaya mempraktekan buku "How To Win Friends and Influence People" nya Dale Carnegie lebih banyak menghasilkan teman daripada menjadi seorang yang haus pujian ingin dibilang keren sama orang-orang.

Ya begitulah, lebih aman menjadi tidak terkenal. Menciptakan karakter baru seperti halnya @motivatweet. Daripada membuat diri sendiri menjadi terkenal lebih baik membuat suatu karakter yang terkenal. Karakter bisa bebas dari aib sedangkan manusia, apa ada orang-orang di sekitar kita sekarang yang tidak punya aib?

Menjadi terkenal itu belum tentu pilihan tetapi juga bisa karena takdir. Misal mbak-mbak tambal ban cantik, bisa jadi dia tidak ingin terkenal tetapi karena ada seseorang yang memposting foto mbak-mbak tambal ban cantik lalu postingan itu viral dan si mbak-mbak jadi terkenal sampai sering masuk tv, main sinetron dll, si mbak-mbak tambal ban cantik ini pun jadi terkenal tanpa dia rencanakan. Selain menjadi terkenal karena takdir bukan karena pilihan, sah-sah saja juga kalau seseorang ingin terkenal dan berusaha membuat dirinya terkenal. Tidak ada yang salah. Seorang yang terkenal bisa lebih cepat menularkan sisi positifnya ke orang banyak kan.

Mau menularkan sisi positif lewat menjadi orang terkenal atau tidak menjadi orang terkenal itu tidak masalah. Poin pentingnya adalah menularkan sisi positif. Membuat dunia menjadi lebih baik.

Akhirnya semoga cita-cita saya tercapai, dan saya tidak menjadi orang yang haus pujian alias ingin dibilang keren sama orang-orang. Ini definisi sukses saya. Bagaimana dengan definisi sukses teman-teman? Eh tapi seorang anak SMA yang ingin lulus UN, bisa dibilang sukses kalau dia lulus UN tanpa kecurangan (tanpa menyontek, membeli jawaban, dll). As simple as that. Kamu ingin jadi orang seperti apa ketika tercapai ya kamu sukses. Tapi itu menurut saya ding ya, bisa jadi teman-teman sependapat atau punya pendapat lain, sah-sah sajaaa.. 

Mencari Nasi Thiwul #4: Malah Dapet Sunset

Balik lagi ke 2014. Meskipun aku sudah membuat resume pencarian nasi thiwul kurang sreg rasanya kalau aku tidak menyelesaikan cerita pengalaman pencarian nasi thiwul yang sampai #5. Ya, meskipun ini sudah 2017. Tapi di #4 ini aku masih gagal makan nasi thiwul Gunungkidul, malah dapet sunset gara-gara mbakku ngotot pengen ke pantai, eladalah sesampainya di pantai malah keasikan sampai matahari mulai tenggelam. Ya inilah sunset pertamaku, dan aku belum pernah lihat sunset lagi habis itu. *kurang dolan*

Sunset di pantai wedi ombo, gunungkidul, yogyakarta

Meski awalnya berat ngeladenin permintaan mbakku yg ngotot, dikiranya pantai-pantai itu deket banget sama wonosari, dan ternyata rasanya lebih jauh dari jarak jogja-wonosari, aku lega juga akhirnya bisa nikmatin sunset. Ngerasain seremnya naik motor sendirian boncengin mbakku melewati perbukitan Gunungkidul, hutan-hutan Gunungkidul yang mana gelap dan cuma bisa memaksimalkan penglihatan, akal dan intuisi dari Allah buat bisa keluar dari Gunungkidul. Sempat mau nyasar di satu lampu merah sebelum akhirnya sampai Wonosari, diselamatkan oleh Allah lewat seorang warga yang baik hati nunjukin jalan ke Wonosari yang tinggal sedikit lagi. Hmmm.. untung Allah kasih pertolongan, kalau nggak, nangislah bingung nyasar, mending kalau nyasar di perkampungan yang ada banyak orang, lah kalau di hutan belantara?

Sampai rumah hampir jam 9 malam, alhamdulillah bisa sampai dengan selamat :)

Seneng sih pernah nikmatin sunset di pantai Gunungkidul, dan berangkatnya cuma pakai satu motor, boncengan sama mbakku. Soalnya ciwi2 suka pada ogah ke Gunungkidul kalau personil rombongannya cuma ciwi2 dan naik motor. Rombongan yang isinya ciwi2 semua aja pada ogah, apalagi kalo cuma berdua boncengan motoran ciwi semua. "Mustahil" kalau gak ngajak mbakku yg ngotot minta ke pantai, hehe. Sensasi naik motor malem2 gelap ngandelin intuisi dari Allah emang seru tapi sampai sekarang aku gak mau kalau suruh ngulangin, hehe. High risk. Pas itu kami bisa selamat sampai rumah tanpa gangguan + cuma nyaris nyasar sekali itu ya atas berkat pertolongan Allah SWT.

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...