FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Senin, 28 April 2014

Mencari Nasi Thiwul


Halo teman-teman!! :D Beneran gak nyangka nih, ternyata udah 2 bulan lebih aku gak nulis di blog. Yaudah deh, sekarang aku mau cerita tentang perburuan nasi thiwul yg udah aku lakuin :’)

Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil judul skripsi yang ada hubungannya dengan nasi thiwul. Meskipun begitu aku berharap gak perlu jauh-jauh ke Gunungkidul buat ambil data, pengennya di Kota Jogja aja biar gak gitu repot, haha. Terus aku cari info warung/rumah makan yang jual nasi thiwul di Kota Jogja, tapi hasilnya nihil. Dari info yang aku dapet, Rumah Makan nasi thiwul yg paling deket dari Jogja cuma RM Gubug Asri, alamatnya di Jl. Wonosari Km 11.

Pada saat itu aku sebenernya males banget kalau harus bolak balik Jogja-Jln Wonosari, saat itu menurutku KidsFun aja udah jauhhhhh bangettttttt... Tapi ya gimana lagi, aku gak dapet info RM atau Warung Makan yg jual nasi thiwul di Jogja, yaudah deh di Jln. Wonosari KM 11 gpp. Selain itu waktu tanya sama temennya mbakku malah dibilang, alahhh cuma Jln. Wonosari, saudaraku dulu sampai harus keluar kota karna skripsi. Iya sih.

image

Abis itu aku malah nyantai, soalnya dah dapet info RM yg jual nasi thiwul. Besok kalo udah mau ambil data kan tinggal kesana aja, pikirku. Tapi beberapa hari kemudian aku penasaran juga, pengen lihat langsung keberadaan RM. Gubug Asri tersebut. Biar besok kalau ambil data gak usah bingung nyari, bisa langsung to the point.

Siang itu dengan semangat 45 dan waktu yang mepet aku ke Jl. Wonosari. Sampai Jl. Wonosari diatas KM 11, Pasar Piyungan ke timur sedikit aku tidak juga menemukan RM Gubug Asri. Tanya ke Ibu-ibu yg sedang nunggu Toko Kelontong, malah dikasih petunjuk ke Warung Bu Sri, sekitar 1 KM barat Kids Fun. Padahal ibu-ibu itu semangat dan mantep banget njelasinnya.

Aku buka catetan alamat RM. Gubug Asri lagi, memastikan, aku gak salah baca emang di KM 11 deket Jembatan Kali Opak. Tapi disana gak ada RM. Gubug Asri. Aku tanya lagi ke masyarakat sekitar, malah dikasih petunjuk di selatan jalan samping toko bangunan. Gak ada juga. Akhirnya aku pulang. Coba telp RM. Gubug Asri gak nyambung. Browsing lagi aku baru nyadar, semua artikel di internet tentang RM. Gubug Asri terakhir ditulis di tahun 2010. Hmmm… mau gak mau harus ke Gunungkidul nih kayaknya..

Pencarian Kedua..
Aku cari-cari info lagi di internet, dapetlah Warung Makan Yu Tum di Wonosari. Jauh.. tapi ga apalah.. demi skripsi. Browsing-browsing lagi dapet info cabangnya Yu Tum di Jl. Wonosari KM 3,5 !! WOW lebih deket. Sumpah, aku saat itu bahagia tak terkira, akhirnya dapet tempat penelitian yg lebih deket. Ini malah lebih deket daripada RM. Gubug Asri yg sekarang udah gak ada. Aku sujud syukur. Aku cari akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum, aku mensyen akun itu, aku luapkan kegembiraanku!

luapan kegembiraan nemu di km 3stengah
Apasih yang bikin aku yakin kalau Jl. Wonosari KM 3,5 itu deket Jogja? Pertama ya karena aku gak pernah naik motor maupun sepeda sampai Gunungkidul, kalau kesana pasti naik bis carteran, piknik rame-rame ke pantai atau baksos waktu SMA. Selama pengalamanku lewat Jl. Wonosari tu semakin ke timur KM nya semakin banyak, kalau KidsFun aja KM 10 berarti KM 3,5 jauh sebelumnya kan. Kedua, karena alamat Gathot Thiwul Yu Tum yang tidak ada embel-embel Gunungkidulnya ya cuma yang cabang Siyono, cuma ada embel-embel Yogyakarta, yang lain ada embel-embel Gunungkidulnya. Berarti kalaupun secara administratif mungkin cabang yg Siyono itu gak termasuk Kota Jogja, kemungkinan besar ya deket sama Kota Jogja. Ini tampilan alamat Gathot Thiwul Yu Tum pusat & cabangnya yang ada di web gathotthiwulyutum.com:
alamat yu tum di webnya
Ketiga, setelah mencari denah di google map aku dapet ini:
denah yutum siyono google map
Pada denah diatas tampak bahwa jarak Yu Tum dengan KidsFun hanya 2,5km. Tepatnya Yu Tum berada di barat KidsFun dan di timur Ringroad Timur.
waktu dan jarak kids fan ke yu tum yutum siyono masuk gang
Setelah denah diperbesar tampak bahwa kalau ingin ke Gathot Thiwul Yu Tum dari Jl. Wonosari perlu masuk gang dahulu, karena Gathot Thiwul Yu Tum tidak terletak di pinggir jalan raya. Aku pun ngomong sendiri, pantesan waktu aku pulang dari nyari RM. Gubug Asri dulu gak nemu Warung Makan Gathot Thiwul Yu Tum ini.

Akhirnya aku nyepeda motor kesana. Tapi anehnya, waktu belok kiri ke Jl. Wonosari (dari Ringroad timur arah utara), bangunan pertama di pinggir jalan yang aku temui bertuliskan Jl. Wonosari KM 6?? Ah mungkin salah tulis kali, kataku dalam hati. Aku lanjut terus, ternyata tadi tidak salah tulis. Setelah lurus terus aku melewati KM 7. Tak lupa pelan-pelan kalau menemui gang masuk, siapa tahu ada petunjuk keberadaan Gathot Thiwul Yu Tum atau jalan masuk gang yg bertipe seperti yang udah aku lihat di google map. Tapi aku tidak menemuinya sampai KM 7 abis. Ah siapa tahu di internet salah tulis, harusnya KM 8,5 ditulis KM 3,5 kan mirip tuh angka 8 dan 3. Tapi sampai KM 9 aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum.

Oke deh, mungkin google mapnya salah naruh Gathot Thiwul Yu Tum. Logikanya KM 3,5 itu kan harusnya barat Ringroad Timur, bukan timur Ringroad timur. Aku kemudian menyebrang Ringroad ke arah Gedong Kuning. Tapi sampai menyebrang perempatan Gedong Kuning pun aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum. Padahal Jl. Wonosari KM 1 itu ada di perempatan Gedong Kuning. Akhirnya aku telpon Gathot Thiwul Yu Tum cabang Siyono. Kurang lebih perbincanganku sama mbak-mbak diseberang sana seperti ini:

Aku: Gathot Thiwul Yu Tum yang cabang Siyono itu barat Ringroad atau timur Ringroad?
Mbak yg angkat Telpon: dari Ringroad masih ke timur terus mbak, dari Pasar Piyungan juga masih naik, nanti lewat bukit Pathuk sama hutan.
Aku: Timur Ringroad persis kan udah KM 6 mbak, padahal di alamat KM 3,5?
Mbak yg angkat Telpon: Mbaknya dari Jogja ya, 3,5 km itu maksudnya dari Wonosari, bukan dari Jogja.
Aku: (Ooohh..) Aku lihat di google map letaknya masuk gang, nanti ada ancer2 apa mbak untuk masuk ke gangnya itu?
Mbak yg angkat Telpon: Lokasinya di pinggir jalan kok, nanti pasti kelihatan kalau udah sampai :).
Aku: Terimakasih mbak..

Hmmm… siapa sih yang bikin denah ngawur di google map itu. Setidaknya aku jadi tahu kalau google map belum tentu bisa diandalin. Maklum ya soalnya aku gak punya smartphone, hehe jadi ga bisa main GPS-GPS an. Alhamdulillah, lewat sini Allah ngasih tau aku. Soalnya dulu sempet takjub sama google map, waktu aku bantuin temenku yang sendirian pergi ke Bandung nyari jalan (akunya di Jogja). Dan ternyata valid. Eh lewat kejadian ini aku jadi tahu kelemahan google map. Alhamdulillah bgt sih :D Oiya kembali ke laptop, hehe. Beberapa hari setelahnya aku pun ke Gathot Thiwul Yu Tum itu, dan ceritanya ada di  Mencari Nasi Thiwul Part 2. Hahaha.. (daripada disini kepanjangan :’)

Buat teman-teman yg pernah beli nasi thiwul baik beli di Rumah Makan, Warung Makan, maupun beli yg instan di Supermarket/Toko Oleh-oleh tolong meninggalkan jejak komentar yaa :)
*) nasi thiwul rasanya hambar, biasanya dimakan sama lauk dan sayur.
kalo yg manis itu namanya cemilan thiwul, bukan nasi thiwul :)

Minggu, 26 Januari 2014

Cara Mematenkan Merek Secara Gratis


Belum banyak yang tahu kalau proses pendaftaran merek itu bisa gratis. Disperindagkop DIY memiliki Balai Bisnis yang terletak di dekat pertigaan Jalan Godean, dekat SMA 2 Jogja. Disana para pelaku UMKM bisa mendaftarkan mereknya secara gratis.

Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum kesana:
1. Pastikan merek yang akan anda daftarkan belum terdaftar. Untuk mengeceknya anda bisa klik >> http://www.wipo.int/branddb/en/index.jsp.
2. Buat logo. Sebaiknya tidak mencantumkan jenis produk pada logo. Pengalaman saya, tahun kemarin saya menyerahkan logo Kalakswa Cloths. Pihak Balai Bisnis menyuruh saya mengganti logo karena terdapat kata Cloths. Cukup Kalakswa saja, tidak perlu mencantumkan jenis produk, katanya.
3. Cetak logo dengan ukuran minimal 2x5 cm per logo, sebanyak 25 lembar.
4. Bawa fotokopi KTP yang masih berlaku 2 lembar.
5. Bawa contoh produk, karena dulu saat saya kesana tidak membawa contoh produk ditanyakan, katanya sebaiknya membawa contoh produk.
6. Bawa materai Rp 6.000 dua lembar.

Alamat lengkap Balai Bisnis Jogja:
Jl.HOS. Cokroaminoto No.162, Yogyakarta
Telp: 0274- 515 622
email: balaibisnis@yahoo.com
Hari Kerja:
Senin - Kamis 07.30 - 16.00
Jumat 07.30 - 14.30

Senin, 20 Januari 2014

Jasa Pengetikan


Karena kangen jadi tukang ketik kayak jaman semester 3 dulu, dengan ini saya menyatakan membuka jasa pengetikan, haha. Ini serius loh. Official akun twitternya ini >> @JasaKetikJogja silakan di follow untuk mendapat info-info promo terbaru :D.

Berikut tarif jasa pengetikan @JasaKetikJogja:
Untuk spasi 1,5 Rp 1.500/lembar jadi udah sama print
Untuk spasi 2 Rp 1.000/lembar jadi udah sama print

Tarif diatas berlaku untuk format umum sebagai berikut:
- Kertas A4, 70 gr, & diprint hitam putih.
- Margin: atas 4 bawah 3 kiri 4 kanan 3.
- Teks berbahasa Indonesia
- Isi hanya teks tidak ada tabel, rumus, dsb.

Untuk order ketikan diluar format umum yg sudah dijelaskan diatas, tarifnya bisa langsung ditanyakan melalui sms ke 085221811993. Contoh ketikan diluar format umum: dalam bahasa asing, terdapat rumus, tabel, spasi 1, kertas ukuran folio, kertas diprint warna, dsb.

Meskipun domisili saya di Jogja, saya juga menerima order ketikan dari seluruh Indonesia, hehe. Solusinya: scan/foto tulisan anda, terus kirim via email ke fenitriutami@gmail.com, jangan lupa sms setelah email terkirim :).

Contact:
SMS/Telp 085221811993
Alamat: Samirono, selatan Universitas Negeri Yogyakarta.

Jumat, 03 Januari 2014

Magang di Telkom Jogja

Jadi, angkatanku menjadi angkatan pertama yang merasakan kebijakan wajib magang dari Jurusan Manajemen UNY. Dan kewajiban magang tersebut harus dilakukan di semester 8. Untuk yg ingin cepat lulus itu masalah. Bagi aku yang tidak keburu ingin cepat-cepat lulus, masalah ada pada: menambah beban saja, hehe. Tapi setelah dijalani asik juga sih. Senang mendapat pengalaman baru.

Aku ingin magang di Telkom, dan kurang tertarik magang di tempat lain. Karena dulu aku punya keinginan untuk kerja di Telkom. Sekarang pengen jadi pengusaha sukses aja :’). Kalau diantara pembaca ada yang ingin magang di Telkom Jogja, berikut aku mau share langkah-langkahnya. Oh iya, yang harus diketahui sebelumnya, untuk mahasiswa manajemen, Telkom hanya menerima konsentrasi pemasaran. Selain jurusan manajemen, Telkom Jogja juga menerima magang jurusan Ilmu Komunikasi dan IT. Kalau jurusan lain kurang, tau, informasi selengkapnya bisa tanya ke satpam Telkom Jogja atau bagian front office.

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah bertanya kepada resepsionis apakah menerima mahasiswa magang dari jurusan dan konsentrasimu. Ada dua kemungkinan penyebab ditolak: pertama, ada beberapa mahasiswa yang sedang magang, jadi tidak butuh tambahan tenaga mahasiswa magang lagi atau kedua, karena pihak Telkom tidak menerima mahasiswa magang dari jurusan/konsentrasi tertentu.

Langkah kedua adalah bertemu Bu Sunarti, untuk memastikan apakah ada tempat tersedia untuk mahasiswa magang. Kalau tidak tersedia ada dua pilihan, menunggu dan menanyakan kira-kira kapan tersedia tempat lagi untuk mahasiswa magang. Kedua cari tempat magang lain :p. Kalau tersedia, langkah selanjutnya adalah membuat surat permohonan magang dari jurusan kalian masing-masing. Lalu menyerahkannya ke Bu Sunarti. Oh iya, beberapa mahasiswa ada yang disuruh membuat proposal dulu ada yang tidak. Kalau tidak disuruh oleh Bu Sunarti ya tidak usah buat, hehe. Kalau tidak disuruh juga tidak usah tanya apa perlu membuat proposal magang atau tidak. Daripada nanti mempersulit diri sendiri. Kalau sudah diterima magang tanpa disuruh membuat proposal ya alhamdulillah, syukuri saja :). Tapi kalau disuruh buat ya buat aja, gausah protes, hehe.

Langkah selanjutnya adalah membawa materai untuk menandatangani surat pernyataan yang sudah disiapkan oleh Telkom Jogja. Intinya jadi mahasiswa magang itu ada aturan yang harus dipatuhi. Kemudian nanti Telkom Jogja juga bakal ngasih surat jawaban ke Jurusan kamu bahwa kamu diterima magang disana. Surat ini harus kamu antar ke Jurusan kamu, biar kamu bisa segera dapet dosen pembimbing magang dari jurusan kamu.
Foto005
Kemudian, kamu tinggal menjalani proses magang disana. Jangan lupa sambil magang nyicil bikin laporan magang. Nanti pihak Telkom minta satu. Udah deh. :)

Oh iya, sedikit cerita, pegawai Telkom Jogja itu baik-baik, meskipun mayoritas usia nya sudah agak jauh diatas kita. Kalau aku dulu di bagian Consumer Service. Kebanyakan yang kerja ibu-ibu. Awal-awal sih mati gaya, seruangan yang magang cuma aku (belum ada mahasiswa magang masuk lagi), gak tau harus ngapain, semua sibuk sendiri, dan mau berinteraksi pun takut kalau ngganggu. Tapi lama-kelamaan bisa juga akrab sama ibu-ibu pegawai Telkom. Bahkan aku dikasih kenang-kenangan waktu aku pamitan. Ini dia kenang-kenangannya:


Ini kenang-kenangannya, yang atas tak foto pas antri beli pulsa di Plasa Telkom (sepulang pamitan), yang bawah tak foto pas sampai dirumah (isinya).
Foto008
Foto010
Diantara temen-temen sesama mahasiswa magang di Telkom cuma aku yang dapet kenang-kenangan. Gak tau kenapa. Mungkin karena dulu aku pindah-pindah meja, jadi bisa kenal semua ibu-ibu seruangan. Temen-temen yang lain gak pindah-pindah meja, jadi cuma kenal ibu-ibu pegawai yg meja-nya deket aja.

Trus kok aku pindah-pindah meja? Itu gara-gara netbookku rusak parah. Harddisknya kena, data ilang semua, casing rusak. Jadilah sejak pekan ketiga aku pindah-pindah meja, cari yang komputernya lagi gak dipakai. Tapi aku gak seenaknya pindah-pindah lah, aku pindah kemana itu dibawah komando Bu Peni, salah satu pembimbingku d Telkom Jogja. Sampai-sampai semua zona di ruang pegawai Consumer Service pernah aku tempati. Tengah, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat Laut, Utara, Timur Laut, haha *malah nyanyi lagu jaman SD –“ Yup, musibah juga bisa membawa hikmah, aku jadi mengenal ibu-ibu pegawai Telkom lebih banyak daripada teman-temanku yg juga magang disana.

Terus tugas yang paling aku sukai selama magang adalah menjadi debt collector!! hahah. Jangan bayangin aku dateng ke rumah-rumah nagih utang gitu. Selama disana tugas utamaku cuma nelpan nelpon promosiin Speedy. Diantara berbagai jenis promosi Speedy. Aku paling suka promosi ke pelanggan yang nunggak tagihan Speedy. Tugasku nagih mereka supaya melunasi, dan memberikan tawaran promo khusus untuk mereka.

Percaya atau tidak, lebih mudah promosi Speedy ke mereka yang nunggak tagihan Speedy daripada promosi ke mereka yang belum pernah pakai Speedy. Padahal mereka yang nunggak tagihan itu kan salah satu alasannya karena pernah kecewa dengan Speedy. Aneh tapi nyata, hehe.

Setelah merasa kalau magang itu ternyata cukup mengasyikkan aku pun jadi pengen magang lagi ditempat-tempat lain, yang aku pengen dapet ilmu baru, yang aku butuhin. Misal magang di YEA Indonesia, bisnis daur ulang sampah, yayasan pemberdayaan perempuan, yayasan pemerhati usaha mikro & kecil :3

Tapi itu dulu, sebenernya masih pengen sih. Melihat parahnya kemampuanku mengelola waktu. Jadi tak buang jauh-jauh dulu deh keinginan magang lagi. Skripsi diselesein dulu. Biar bisnis bisa lebih tenang, gak melulu ditanyain orang dah lulus belum? Skripsinya sampai mana? aku paling anti sama pertanyaan yang kedua, hehe >_<

Sabtu, 07 Desember 2013

Yubi Aff

Artikel ini aku buat spesial buat njawab pertanyaan @Phaaaay di twitter :) Jadi gini vay, kerja kita sebagai affiliate itu simpel, cuma pilih produk yang mau dipromosiin, copy link kita utk produk itu, terus promosiin deh.

Promosiinnya dimana?
Bisa di facebook, twitter, blog, forum-forum yang sesuai, iklan baris di internet, iklan di web-web yang ramai pengunjung juga bisa.

Caranya gimana biar iklannya efektif?
Ada 2 cara, gratisan sama berbayar. Kalau yang gratisan bisa pakai aplikasi-aplikasi yang diajarin di workshop. Menggunakan pict yang menarik, kata-kata yang menarik, pada waktu yang tepat, serta orang yang tepat. Kalau yang berbayar paling efektif dan murah pakai FB Ads. Cara pembayarannya bisa pakai paypal, kartu kredit atau VCN BNI.

VCN BNI
Buat yang belum punya kartu kredit, ga mau pake kartu kredit, atau belum memungkinkan diapprove jika mengajukan kartu kredit, bisa memilih pakai VCN BNI. Kalo aku pilih VCN BNI karena pakai paypal ribet. Untuk bisa dipakai, paypal harus diverifikasi dulu. Kalo ga punya kartu kredit harus beli VCC, harganya rata-rata 75ribu cuma berlaku setaun. Verifikasi paypal pake VCN BNI juga bisa. Kalau pake VCN BNI aja bisa langsung dipakai ngiklan via FB kenapa harus buat verifikasi paypal dulu baru ngiklan pakai paypal? Iya gak?
Aku sempet gagal pakai VCN BNI, awalnya aku bingung. Aku kira FB ku yang bermasalah. Sampai aku nyerah, mau cari temen yg punya kartu kredit aja buat bantu ngiklan fan page yang tak kelola. Ntar abis berapa tak ganti gitu. Buat ketemu temenku yg tak curigai punya kartu kredit ternyata juga susah, haha. Tapi repot juga kalo pake cara ini. Soalnya yang ngelola iklan otomatis juga harus temenku yang punya kartu kredit itu. Padahal kan aku pengen aku yg bikin iklan, yang mutusin pilih pake gambar yang mana, isi iklannya kayak gimana, pemilihan audiens iklan. Itu kan seninya dan aku udah diajarin di workshop yubi affiliate.
Padahal aku buka rekening di BNI cuma buat manfaatin VCN. Tapi untungnya belum lama ini di grup affiliate ada yang share klo punya masalah yang sama kayak aku. Ternyata dia gagal karena sisa saldo di rekeningnya ga cukup klo VCN dia beneran kepake. Dia request VCN utk FB Ads 100ribu.
Trus aku jadi kepikiran jangan-jangan punyaku ditolak gara-gara aku cuma request VCN 10ribu. Aku emang udah nyoba 3 kali masukin VCN ke sumber pendanaan. Tapi semuanya pakai nominal 10ribu. Abis kata mbak CS BNI kalo udah jadi VCN dana langsung hangus. Padahal enggak, mungkin mbak CS BNI itu ga pernah pake VCN --“.
Terus tak coba request VCN 50ribu, dan ternyataaa.. diapprove! *jingkrak2 tinggal nunggu seminggu kedepan deh buat mulai ngiklan di facebook :3 Nyesel deh dulu langsung nyerah nganggep FB ku yg bermasalah bukan VCN nya.. Jadi baru mulai ngiklan di FB skitar 1,5 bulan setelah workshop.. TT. Tapi gapapa lah daripada lebih telat lagi, buat pelajaran *pukpuk

Rabu, 16 Oktober 2013

Jurus PDF untuk Menghadapi Persaingan

Apa itu jurus PDF?

Jurus PDF adalah jurus yang bisa digunakan oleh seorang entrepreur untuk menghadapi persaingan. Apakah sebagai seorang entrepreneur kita harus mengganti format seluruh file di komputernya sehingga menjadi PDF? Tentu saja tidak harus. PDF yang penulis maksud disini bukan portable document format yang pertama kali diperkenalkan oleh Adobe System, bukan. Tetapi singkatan dari peluang, diferensiasi, dan fokus. Berikut penjelasan dari masing-masing komponen Jurus PDF tersebut:

Peluang
Kita bisa langsung bangkrut jika langsung membuat produk tanpa mencermati peluang yang ada terlebih dahulu. Meskipun produk kita merupakan sebuah inovasi baru dan sangat berkualitas. Misalnya produk kita adalah sepatu roda untuk bayi berkualitas tinggi, tahan banting, anti rusak. Kita langsung memproduksi besar-besaran produk sepatu roda bayi tersebut diawal bisnis kita. Bisa dipastikan kita akan langsung bangkrut besar-besaran, karena tidak ada yang membutuhkan produk kita, sepatu roda untuk bayi.
Kemudian, bagaimana cara agar kita bisa melihat peluang? Kita dapat mencermati kebutuhan pasar yang belum dipenuhi oleh produsen-produsen yang sudah ada. Misalnya adalah kebutuhan para pengguna laptop yang ingin praktis mencetak dokumen tanpa printer. Hasil cetak bisa dibutuhkan kapan saja, terkadang mendadak, mencari printer untuk mencetak dokumen tentu memakan waktu. Belum lagi proses pemindahan dokumen ke PC yang sudah tersambung dengan printer. Belum adanya laptop yang bisa langsung mencetak dokumen bisa menjadi peluang.
Contoh peluang yang lain bisa juga berupa ketimpangan jumlah produsen dengan konsumen. Misalnya di Kampung Samirono hanya ada 2 penjual sayur yang selama ini baru bisa melayani 30% kebutuhan penduduk Samirono. 70% pasar yang belum terlayani ini bisa menjadi peluang.

Diferensiasi
Awalnya bisnis kita mungkin laris, tetapi lama kelamaan pelanggan kita bisa jadi berkurang. Hal ini bisa disebabkan karena munculnya pesaing-pesaing baru. Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah diferensiasi, yaitu membuat perbedaan dibanding pesaing yang sudah ada, agar kita lebih dipilih oleh target pasar.
Untuk memilih strategi diferensiasi ini, kita harus memastikan bahwa diferensiasi yang sudah kita pilih tidak mudah ditiru oleh pesaing. Diferensiasi yang kita pilih sebaiknya merupakan sesuatu yang kita hanya kita miliki.
Misalnya penjual sayur di Kampung Samirono semakin banyak, tetapi diantara mereka tidak ada yang menjual sayur organik. Jika diantara penjual sayur tidak ada yang mengenal petani sayur organik dan hanya kita yang mengenal petani sayur organik satu-satunya di Yogyakarta.
Maka kita sebaiknya memililih melakukan diferensiasi dengan hanya menjual sayur organik. Penduduk Samirono akan lebih tertarik membeli produk kita karena bebas pestisida dan pupuk kimia. Pesaing kita sesama penjual sayur akan kesulitan bersaing dengan kita karena mereka tidak mempunyai pemasok sayur organik.

Fokus
Komponen jurus PDF yang terakhir adalah fokus. Coba bayangkan jika baru sebulan kita membuka usaha fotokopi, kemudian langsung membuka usaha potong bebek, sebulan kemudian membuka usaha baru lagi karena ada peluang baru yang juga menggiurkan. Jika hal tersebut yang terjadi. Kita tidak akan fokus dan tidak akan ada satu pun usaha kita yang bisa besar. Meskipun kita sudah melakukan diferensiasi.
Peluang selalu ada, sangat banyak bertebaran di sekitar kita, jika kita sadari. Namun, apakah semuanya harus kita tangkap? Tentu tidak. Ketika sudah menangkap satu peluang bisnis, kita bisa memenangkan persaingan dengan diferensiasi, maka langkah selanjutnya adalah kita harus fokus.
Fokus disini bukan berarti kita harus menjalankan satu macam bisnis hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, bukan. Fokus disini berarti tidak melirik bisnis lain sebelum bisnis yang sudah kita pilih sebelumnya sudah cukup besar, sudah cukup stabil, sudah siap kita tinggalkan untuk fokus pada bisnis lain Untuk menangkap peluang lain. Misalnya kita mencoba bisnis properti setelah usia bisnis dagang sayur organik kita sudah berada di tahun kelima, ketika sudah siap kita tinggalkan untuk lebih fokus ke bidang bisnis yang lain.
Satu hal lagi yang cukup penting adalah selama fokus membesarkan bisnis kita, sebaiknya kita meminimalisir trial and error. Untuk meminimalisir biaya. Kita sempurnakan proses learning by doing kita dengan banyak-banyak membaca buku/artikel mengenai bisnis. Jika kita tidak mempunyai cukup dana atau waktu untuk ke toko buku, kita bisa mengunjungi web www.ciputraentrepreneurship.com. Kita bisa mendapatkan ilmu bisnis secara gratis, lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya. Artikel-artikel di web milik Ir. Ciputra ini cocok sekali untuk para entrepreneur. Tidak lain karena Ir. Ciputra ingin kita mengikuti jejaknya menjadi seorang pengusaha sukses, di bidang kita masing-masing.

Sabtu, 14 September 2013

Daun-daun Waru di Samirono


Ini sekarang aku mau share cerpen karangan N.H. Dini yang berjudul “Daun-daun Waru di Samirono.”

Intro:
Kenapa sih aku tiba-tiba posting cerpen ini, hehe. Jadi suatu ketika aku iseng search kata samirono di google. Terus salah satunya muncul cerpen ini, yang pernah dimuat di Kompas tahun 2004 lalu. Jadi tertarik. Jadi inget dulu di halaman rumahku ada pohon waru yang gede banget. Tapi sekarang udah gak ada. Sengaja ditumbangin gitu. Udah lama sih ditumbanginnya. Dulu inget suka main-main sama temen2 di bawah pohon waru itu. Halah, jadi nostalgila. Yaudah deh, cekidot nih cerpennya :)

**********************************************************************************************
Matahari bersinar lembut.

Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah…. Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.

Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.

Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.

Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.

“Mana galahnya, Mak?” seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.

Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.

Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.

Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.

Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.

Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.

“Berangkat cari daun waru, Lik Jum?”

“Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?”

“Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!”

Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?

Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.

Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.

Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.

Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.

Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.

Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.

“Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah,” katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.

“Nuwun, Mas, nuwun,”14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.

Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.

Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.

“Sebentar lagi panas terik, Mbah,” kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, “ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering.”

“Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah,” kata kuli yang lain.

Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.

Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.

Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.

“Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?” kuli bangunan bersuara lagi.

Kali itu Mbah Jum menyahut,

“Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas.”

“Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!”

“Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu,” kuli lain membantah temannya.

“Ya jauh kalau dari Ndemangan,” kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.

“Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?”

Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.

“Di, lepaskan paculmu. Kemari!”

“Ini adukan kedua! Nanti mengering!”

“Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!”

“Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!”

Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.

Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.

Sendowo September 2004

Catatan:
1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. kekacauan
3. bangsawan, petinggi
4. Yang Dipertuan
5. pulang
6. jungkir balik
7. rakyat biasa
8. orang-orang bangsawan
9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. Lurah, kepala kawasan
11. sekretaris kelurahan
12. menimba dan mengusung air
13. SD
14. terima kasih
15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. musim kemarau

Kompas Minggu, 24 September 2004

**********************************************************************************************
Btw kok ndeso banget ya kayaknya Samirono itu, hehe. Sebenernya nggak gitu gitu banget kok, hehe. Buktinya disini sejak aku kecil dulu udah nggak ada sawah kok. Di Timoho yang dekat Balai Kota malah masih banyak sawah. Hehe, Entahlah, hidup Samirono!! Hahaha.

 

Subvokalisasi


Dulu itu waktu SMA di pelajaran Bahasa Indonesia ada materi tentang membaca cepat. Bagus sih, kalau mau dipraktekin terus menerus setiap baca. Meskipun bisa dibilang aku jarang banget baca buku, aku suka internetan. Googling hal-hal yang ingin aku ketahui misalnya. Seperti cari tahu arti kata "feni," dsb. Selama internetan itu aku suka lupa menerapkan metode baca cepat.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/pustovit/24139911466
Terus sekarang mau skripsi bingung. Liat buku, waduh kalo gak pake baca cepat, buang-buang waktu deh kayaknya. Soalnya katanya, kalo asal baca aja, udah lama, nanti abis baca gak ada yang nyantol. Isi buku kan banyak, nggak mungkin kan kita apalin kata per kata di buku itu. Yang penting kan kita paham. Kalo pake baca cepat itu bisa langsung nangkep yang penting-penting aja, hapal yang penting-penting aja. Baca buku pun jadi nyantol ilmunya. Efisien dan efektif.

Aku sendiri punya masalah kebiasaan buruk saat baca yang susah banget diilangin. Yaitu subvokalisasi, termasuk saat ngetik gini. Meski mulutku tertutup, tapi hatiku bersuara, wkwkwk. Ya gitu, susah kalo mau nulis atau baca tanpa mbathin (membaca dalam hati). Aku sebel banget, hatiku ini cerewet banget, wkwkwk. Susah disuruh diem kalo aku lagi baca maupun nulis. Ngganggu banget. Jadi ngurangi efisiensi dan efektivitas saat membaca & menulis.

Kalo temen2 juga suka subvokalisasi gak ketika baca atau nulis? Gimana ya cara ngilangin kebiasaan ini?

Saya atau Aku ?


Bingung, sebaiknya kalau blogging pakai kata “saya” atau “aku”?

Awalnya sih kayaknya lebih baik pakai kata “saya” setelah googling. Tapi setelah buka blog-blog orang lain ternyata banyak juga yang pakai kata “aku”. Terutama yang isi blog nya cerita-cerita aja kayak diary. Di artikel yang cenderung gak resmi.

Ada juga blogger yang bilang pakai kata “saya” atau “aku” itu tidak masalah semuanya. Yang penting konsisten, kalau pilih pakai kata “saya,” ya pakai kata “saya” terus, kalau sudah pilih pakai kata “aku” ya pakai kata “aku” terus.

Terus coba deh pakai kata “saya”. Kalau lihat gaya bicara orang-orang yang dah sukses itu kayaknya mayoritas pakai kata “saya”. Kalau ikut lomba yang artikelnya dituntut untuk resmi juga mau tidak mau, atau lebih baik kan pakai kata “saya”. Berarti tidak bisa lari dari penggunaan kata “saya.” Mengikuti saran lebih baik kalau nulis di blog itu konsisten, kalau pakai kata “saya” ya saya terus. Kalau pakai kata “aku” ya “aku” terus. Jadi pilihan jatuh pada pemakaian kata “saya.”

Tapi tu rasanya aneh kalau kata “saya” dicampur-campur dengan kata-kata yang kurang resmi seperti: “nggak,” “banget,” dll. Jadi, akhirnya diputuskan bahwa di blog ini akan digunakan dua-duanya. Yaitu kata “saya” akan digunakan pada saat-saat tertentu, untuk tulisan yang dituntut berbahasa resmi. Sedang kalau acaranya cuma cerita-cerita, atau yang gak dituntut harus berbahasa resmi ya pakai kata “aku.” Soalnya sehari-hari kalau ngobrol sama temen-temen juga pakai kata “aku.”

Nggak penting banget ya. Hahaha.

Pengen Blogging Terusss

Sebenarnya, sejak tahun 2012 lalu, semangat saya untuk blogging bertambah. Setelah mencoba ikut lomba menulis resolusi di tahun 2012. Kemudian berlanjut ingin menceritakan pengalaman saya menjadi panitia seminar internasional. Sebelumnya saya pelit buat nulis di blog, hehe. Jadi wajar saja jika sejak tahun 2008-2011 tulisan saya amat sangat sedikit sekali. 4 tahun cuma 5 kali posting coba. Ck ck ck.

Nyoba-nyoba ikut lomba blog ternyata bisa bikin semangat blogging bertambah pesat, hehe. Saya udah coba ikut lomba blog 5 kali. Tahun 2012 empat kali, 2013 satu kali. Hasilnya cuma sekali jadi peserta terfavorit di akhir tahun 2012.

Tahun 2012, semester 7, saya KKN. Saat itu keinginan saya untuk berbagi cerita mulai menjadi amat sangat tinggi. Hehe. Gara-gara baca mblusuk.com. Saya cari info tentang Desa Kebondalem Kidul tempat KKN saya. Ternyata banyak banget artikelnya di mblusuk.com itu. Mas Wijna pemilik mblusuk.com cerita banyak soal KKN UGM disana di tahun 2008 dulu. Dari mulai kuliner disana sampai tentang program-program KKN disana.

Habis buka-buka mblusuk.com terutama di bagian KKN, jadi pengen cerita-cerita juga. Kayaknya asyik cerita-cerita di blog. Berbagi di blog. Tapi karena keterbatasan waktu dll, akhirnya selama KKN saya tidak pernah posting cerita pengalaman KKN di blog. Tapi rasanya itu masih ngganjel. Serasa hutang, hehe. Kapan-kapan ingin share apa yang ingin saya tulis di blog sejak 2012 lalu. Sejak semangat blogging saya mulai muncul. Saat saya mulai tidak pelit nulis di blog, hehe.

Dan di 2013 ini, semangat blogging saya semakin menggelora, haha. Di otak itu sudah ingin sekali nulis beberapa artikel di blog ini. Berbagi cerita, pengalaman, informasi, pemikiran, pendapat, dll. Tetapi, karena ada yang lebih saya prioritaskan dibanding nulis blog. Padahal hal yang lebih saya prioritaskan itu juga saya kerjakan kurang maksimal. Bahkan kemarin Agustus bisa dibilang vakum. Meskipun begitu saya juga tidak menulis di blog. Kalau ada hal yang lebih penting dari nulis blog yang harus segera saya selesaikan. Saya tidak mau nulis blog. Takut membuat apa yang lebih saya prioritaskan jadi terlantar gara-gara nulis blog. Yah, karena saya emang pemalas (tapi sekarang sedang berusaha untuk berubah #^o^)9 jadi ya pekerjaan yang seharusnya segera saya selesaikan tidak kunjung saya selesaikan, akibatnya juga harus menunda juga untuk menulis di blog.

Jadi artikel-artikel yang ingin saya tumpahkan di blog, terkumpul di otak semakin banyak dan mendesak ingin segera keluar. Semakin hari semakin banyak saja artikel yang ingin saya tulis disini. Semakin ngganjel rasanya, karena tidak kunjung tertumpahkan di blog.

Aaaaaakkkk.. rasanya pengen nulis terus di blog sebenernya. Tapi kalau semua yg ingin saya share sejak 2012 lalu segera saya tulis semua, skripsi saya kapan selesai? Hmmm… banyak sekali yang ingin saya share di blog ini soalnya.

Ya, saya harus FOKUS skripsi dulu. Kalau nyambi bisnis sama kuliah (masih ngulang 2 mata kuliah) gpp sih. Tapi kalau nyambi ngeluarin seluruh yang ingin saya share di blog ini, yang sudah berdesak-desakan di otak ingin keluar. Kayaknya ntar dulu deh.

Kalau udah selesai skripsi saya baru tenang. Baru deh, ngeluarin semua yang ingin saya keluarin dari otak saya disini, hehe. POKONYA HARUS SELESAI SKRIPSI DULU.

Nanti setelah selesai skripsi kayaknya bakal kejadian sebulan minimal 5 kali posting, hehe. Soalnya ngeluarin apa yang sudah ditahan sejak 2012 lalu. Setelah mengeluarkan semua yang sudah ditahan. Minimal tiap bulan kayaknya bakal ada postingan. Selama saya masih bisa blogging, hehe.

Saya harus segera menyelesaikan skripsi saya. Agar apa-apa yang saya ingin share sejak 2012 lalu, yang sudah berdesak-desakan di otak saya, bisa segera keluar, semuanya. Hohoho. Pengennya 1 bulan skripsi bisa selesai! Minta doanya yaa… Aaamiiin. Biar artikel di blog ini tidak hanya itu itu terus, hehe. Aaamiiin Aaaamiiiin. Skripsi selesai selesai selesai!

Btw saya ini sekarang masih mikir judul buat skripsi, wuahahahaha. Parah! Pokoknya pekan besok proposal sudah harus jadi! Senin/Selasa ngadep Bu Dyna.

Jumat, 16 Agustus 2013

Pengalaman Berjualan

Saya pertama kali mencoba berjualan itu waktu SD. Ini tidak istimewa loh. Banyak juga yang sudah pernah jualan waktu SD. Anak SD sekarang juga. Anak-anak kecil tetangga saya aja sudah pada jual beli kertas binder. Keponakan saya saat kelas 1 SD juga pernah jualan snack kletikan yang dibungkus kecil-kecil. Laris manis dibeli teman-temannya. Teman kuliah saya juga ada yang jualan waktu dia masih SD, dia jual stiker hiasan kecil-kecil. Laku keras dan untung banyak.

Kalau saya dulu terinspirasi waktu beli buku di Shoping (selatan Pasar Beringharjo Jogja) Ibu saya melakukan transaksi tukar tambah. Jadi Ibu saya bawa buku bekas untuk ditukar tambah dengan buku baru. Di shoping dijual juga banyak buku-buku bekas.

Saya pun mengajak teman saya, Ida, untuk buka lapak di teras rumah saya. Saat bapak saya sedang libur jualan es. Meja yang biasa dipakai bapak menata sirup es orson. Saya dan Ida mencari-cari buku bekas di rumah saya. Kemudian kami tata di meja teras tempat bapak biasa jualan es orson.

Kami tawarkan buku kami ke orang yang lewat depan teras rumah saya. Kadang sambil kami cekikikan. Karena kami ya emang cuma mainan. Buat apa buku pelajaran bekas buat mereka. Meskipun awalnya kami berharap ada yang beli. Tapi ya akhirnya tidak ada. Tapi ya kami hepi hepi aja. Soalnya kami ya tidak serius. Hehe.

Pengalaman jualan yang kedua itu saat saya di tahun-tahun terakhir SD. Kayaknya saat saya kelas 5 & 6 SD. Itu saya ikut-ikutan mbak saya yang pertama. Dia ambil berbagai macam jualan asesoris wanita dari toko kecil di selokan mataram. Sekarang tokonya sudah tidak ada. Karet rambut, bros, jepit rambut, asesoris jilbab, dsb. Saya tawarkan ke teman sebangku saya waktu SD, Eka namanya. Saya juga tawarkan ke teman-teman main saya di rumah. Ke teman-teman kakak saya yang main ke rumah.

Pengalaman jualan ketiga saya saat saya SMP. Sumber dagangan saya sudah beragam. Saya sering kulakan kecil-kecilan di Sunday Morning UGM yang saat itu belum seramai sekarang. Harga-harga asesoris disana banyak yang dibawah harga di toko bahkan dibawah harga di Pasar Beringharjo. Saya juga ikut jualkan jilbab dagangan tetangga saya. Juga ikut jualkan dagangan mbak Emma, dia kost di tempat mbak-mbak pengajar TPA kost. Mbak Emma ini sudah punya dagangan asesoris banyak sekali, banyak mbak-mbak mahasiswa yang juga bantu jualkan. Mbak Emma juga sering ikut pameran Islamic/Book Fair.

Sasaran pasar saya saat itu meluas. Bahkan beberapa ibu guru SMP juga saya tawari. Kost-kost muslimah. Teman-teman SMP sekelas dan beberapa yang tidak sekelas. Titip jualan di koperasi MAN yang berdampingan dengan MTs (SMP saya). Bawa dagangan saat saya menggantikan Mbak Dini (kakak kedua saya) jaga wartel. Saya sering banget gantiin Mbak Dini jaga wartel dulu, saat itu saya SMP mbak saya kuliah.

Pengalaman jualan keempat saya saat saya SMA. Saya ikut jualkan barang dagangan sepupu saya yang sering kulakan di Pasar Beringharjo. Jenis jualan saya bertambah. Dulu saat SMP saya belum jualan sandal sepatu. Karena sandal sepatu termasuk dagangan sepupu saya, saya juga ikut jualkan sandal sepatu. Jika dulu saat SMP sasaran pasar saya dari kalangan guru cuma beberapa. Sekarang saya berani menawarkan ke lebih banyak guru, menawarkan ke ruang guru pun saya sudah berani. Ke Ibu pegawai TU juga, ke Ibu pustakawan, ke Ibu penjaga laboratorium.

Saya juga coba beli snack kiloan, membungkus kecil-kecil, kemudian menjualnya ke teman-teman. Saya juga bantu kakak ipar saya jual hp ceria. Kakak ipar saya waktu itu sempat jadi marketing hp ceria sebentar. Saya tawarkan hp itu ke teman-teman saya, bapak ibu guru dan karyawan juga. Hasilnya Bu Ndari yang jaga laboratorium biologi beli satu. Tapi ya, saya cuma berhasil dapat konsumen satu yang mau beli hp ceria.

Mei 2008 saya malah dapat rejeki menang lomba menulis, dapat hadiah jutaan. Meskipun sebenarnya masih ingin jualan, tapi apa daya, keinginan saya untuk dapat tambahan uang saku tergerus oleh rejeki nomplok, hehe.

Saat kuliah diawal-awal saya sebenarnya ingin berjualan. Tapi saya masih malu. Pada semester berikutnya saya hanya bawa katalog oriflame, sophie martin, dan tullip ware milik kakak-kakak saya. Saya tawarkan ke teman-teman sekelas saya. Ada yang beli, tapi sedikit sekali. Seingat saya hanya 3 orang.

Tahun 2011, FE punya lab wirausaha. Saya coba titip snack kiloan kripik pedas yang saya bungkus kecil-kecil. Saya beri merek juga, namanya “Tombo Ngantuk.” Beberapa saat setelahnya saya tambah variasi snack kiloan yang manis, saya beri nama “Tombo Pedes.” Saat itu juga belum ada yang jual stiker FE. Fakultas baru di kampus saya. Saya buat desain sebisa saya, saya cetak, saya kemas. Saya titip jual di lab wirausaha FE saja, karena saya ditolak saat mau titip di Kopma Univ, saat itu saya belum menjadi anggota Kopma. Stiker tersebut habis dalam jangka waktu berbulan-bulan. Akhirnya saya tidak produksi lagi.

Usaha snack “Tombo Ngantuk” dan “Tombo Pedes” saya sekilas tampak agak bagus dulu. Untuk mengejar hasil yang lebih banyak saya tidak hanya titip di Lab Wirausaha FE. Tapi juga di warung-warung makan, warung kebutuhan sehari-hari, burjo-burjo, sampai di perpus kota juga. Tapi karena kurangnya pencatatan, meskipun tampaknya ada cashflow, ternyata saya rugi. Masalahnya adalah snack mudah melempem. Karena kebanyakan beli toples untuk jaga kerenyahan malah terlalu banyak pengeluaran. Akhirnya saya stop.

Kemudian. Saya coba buka usaha ketik. Cuma berhasil dapat pelanggan satu. Setelah bapak meninggal saya stop jasa ketiknya. Saya coba jualan eskrim, rugi lagi. Jualan kalender, rugi lagi. Sekarang saya mau serius nerusin bisnis pkm saya yang didanai tahun ini. Utk pkm ini saya tidak hanya ingin bisnis karena lomba. Tapi ya beneran bisnis. Diterusin meski pkm selesai. Saya yakin sama masa depan bisnis ini jika diteruskan. Sayang banget kalau bisnis ini tidak diteruskan, soalnya sudah dapat bantuan modal, udah promosi-promosi juga, sudah mendapatkan beberapa pencapaian. Sayang jika berhenti begitu saja. Target saya sebelum lulus (deadline lulus Mei 2014) sudah bisa mendapatkan penghasilan yang bisa memenuhi kebutuhan hidup saya dan Ibu saya. Jadi setelah lulus saya tidak perlu bingung cari kerja.

Berikut quote dari twitter Mbak Merry:
Biasakan untuk selalu menyelesaikan apa yg telah Anda mulai.

Berikut quote dari twitter Pak Jaya:
Bisnis yg bagus itu yg dibuka & ditekuni dg serius. Ditekuni itu dipelajari seluk beluknya, cari celah #BOOMING nya
Banyak orang menyerah sebelum mencapai puncak, kmdn pindah ke lain gunung, mengulangi pola GAGAL yg sama..
Padahal bisa jadi celah suksesnya tinggal beberapa meter tersembunyi dibalik batu rintangan..

Kamis, 28 Februari 2013

Let’s Be A Greenpreneur



All praise belongs to God, thirteen days ago, it was announced that I got capital aid to run a go green business. I am very pleased, I will be a greenpreneur. I submitted my business proposal on Javanese letter calligraphy relief craft made from paper waste, and it is funded. The reason why I choose Javanese Calligraphy is that because it is a Javanese art which is almost extinct. It is difficult to find Javanese Calligraphy, even in Yogyakarta (the city where I live in), a tourism destination in Indonesia which is famous of its Javanese culture. Save Earth and Save Culture.

IMG_4209
The first product of my business :)

I must make this business become a profitable & sustainable business. This business is my first step to really have a large recycle factory. Though, this business might be smaller compared than the other recycle factories, I’m sure that step by step my dream will come true. If my life is just short, I hope there will be someone who will continue my ideal to have a large recycle factory. Starting from me; from smaller then it will be getting increased time by time.

I often feel pity when I have to throw some kinds of garbage, for example paper and pen. I think it can be something useful. Someday, I want to have a large recycle factory that can give jobs for many people. Although I come from a modest family, I want to get out from problems of life, related to materials. I also want to take my family out from poverty line. Starting from me, my family, and then society.

The recycle factory I dreamed will work hand in hand with society and industrial world. The factory will have a garbage bank as the medium for cooperation with society. According to State Minister of Life Environment, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA., business society, in this case is producer, importer, distributor, and retail, together with the government must immediately realize the implementation of extended producer responsibility (EPR) in garbage management. His statement is based on Government Regulation Number 81 Year 2012 Regarding Management of Household Garbage and the kind. Based on the government regulation, the package of company products which are indecomposable by nature must be taken back by the corresponding companies to be processed in order to prevent pollution. Through the recycle factory I want to establish, I try to apply the government regulation in industrial world. Actually, they are responsible in processing indecomposable garbage. I must cooperate with industrial world, such as giving compensation for their advertisements in the factory’s products or in the advertisement of the factory.

That’s my story about my plan in recycle business. Let’s give benefit for environment and economy by being a greenpreneur with our own way Smile.

Bibliography
Masnellyarti. November 1, 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Url:
http://www.menlh.go.id/peraturan-pemerintah-nomor-81-tahun-2012-tentang-pengelolaan-sampah-rumah-tangga-dan-sampah-sejenis-sampah-rumah-tangga/

Kamis, 24 Januari 2013

Suplemen Ampuh


Sakit flu itu tidak enak, pilek, batuk, panas, bersin-bersin, pusing. Seringkali saya sebelum flu merasakan tanda-tanda bahwa saya akan flu. Kalau sudah begitu biasanya saya membeli vitamin C dosis tinggi (1000 mg-jangan lebih lho ya, bahaya!) dan berusaha mengkonsumsinya setiap hari. Kadang berhasil, pernah juga tidak berhasil. Kadang saya tambah madurasa (yang murah dan ada ecerannya, hehe).

Tapi sekarang sudah tidak. Gara-gara kakak saya beli spirulina. Dia sering beli obat-obat macam habbatussauda, pernah daun bidara, dan entah lupa entah malas untuk mengkonsumsi secara rutin. Jadi sering belum habis sampai masa kadaluarsa habis.

Kakak saya sih bilang, katanya dia pernah merasakan tanda-tanda akan flu, terus minum spirulina, terus tidak jadi flu. Saya pun tertarik untuk mencoba, ternyata benar. Beberapa kali badan saya agak demam, ya, nggak enak gitu, tanda-tanda akan flu lah. Eh, saya minum spirulina 2 butir aja sehari, pasti tidak jadi flu. Sudah berkali-kali saya coba di awal tahun 2013 ini. Ampuh bener. Kata kakak saya emang mahal sih. Tapi kalau nggak telaten ya memang sering lupa, malas minum rutin. Kakak saya sendiri malah jarang minum tuh.

Karena mahal ya jelas spirulina itu tidak saya minum tiap hari. Hanya kalau saya sudah merasakan tanda-tanda akan diserang flu. Sebagai penangkal flu saja lah. Jadinya ya saya senang, karena di awal tahun ini saya selalu gagal diserang flu. Haha. Paling cuma sampai sekali dua kali bersin. Tidak sampai meler dan batuk gila gitu. Alhamdulillah deh.

Ternyata vitamin C 1000 mg kalah sama spirulina. Atau mungkin vitamin C yang biasa saya beli tidak murni 100% vitamin C? Karena harga sepasangnya cuma 1000-an (masing-masing 500 mg). Soalnya saya pernah ditawari vitamin C murni alami di apotek, katanya sih lebih ampuh karena murni vitamin C nya, tidak pakai pemanis buatan segala macam. Tapi ya harganya 90rb-an. Kalau udah gini kan males banget haha (biasa, anak Fakultas Ekonomi). Orang makan jeruk yang mengandung vitamin C juga alami, Biar setara 1000 mg kan tinggal dibanyakin aja jeruknya, hehe.

Jadi intinya, kayaknya bagus tuh buat memusnahkan flu diantara kita semua. Saya sering tidak nyaman juga soalnya kalau ketemu teman yang lagi flu berat. Kasihan lihatnya, mending istirahat dirumah. Tapi ya memang aktivitas seringkali menuntu kita harus tetap datang walau flu menyerang. Yasudahlah mending kita tangkis aja pakai obat semacam spirulina ini. Tapi yang aman-aman aja dan jangan sampai over dosis loh.

O iya, tadi kan aku tulis kalau mengkonsumsi vitamin C jangan melebihi 1000 mg. Itu kan ada di wadah vitamin C merk IPI. Dosis maksimal vitamin C untuk yang tidak punya sakit ginjal itu ya 1000 mg, tidak boleh lebih. Soalnya bahaya bagi ginjal. Jadi kalau sudah punya sakit ginjal jangan coba-coba minum vitamin C dosis tinggi deh. Mungkin maksimal 300 mg per harinya. Temannya temanku ada yang masuk rumah sakit gara-gara kebanyakan vitamin C, ginjalnya kena. Sebelum minum vitamin C dicek dulu ya, berapa miligramnya, kalau per butir aja udah 1000 mg, jangan deh kalau sudah punya penyakit ginjal.

Ono Semprotan Obat Nyamuk


Jarum jam belum tepat di angka lima, tiba-tiba terdengar suara berisik. Butuh waktu untuk memastikan apakah ini benar-benar penyemrot obat nyamuk. Memang sih waktu aku KKN dulu ada beberapa anak yang terkena DB. Dengar-dengar sudah banyak anak yang terkena DB. Tapi kalau di lingkungan RT RW ku sih belum dengar. Tapi kan sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada penyemprot obat nyamuk.

Tiba-tiba saja terdengar suara ramai di luar rumah, pada heboh, ono semprotan obat nyamuk! Dan aku pun akhirnya yakin bahwa suara berisik yang menyayat hati itu adalah penyemprot obat nyamuk! Sontan, dengan perasaan sebal aku persiapkkan rumah, menyelamatkan bahan makanan, jaket, mukena,handuk yang tergantung. Ibu ku juga ikut sebal. “Lawange ojo dibukak sikik!” kata ibuku. Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

Setelah semuanya sudah siap. Kami keluar. Katanya ada anak yang nangis. Memang suaranya mengerikan, hii. Ternyata ada yang bilang kemarin jam 5 sudah diumumkan. Entah jam 5 pagi atau sore. Tapi kok banyak yang kaget. Bahkan ada yang nyeletuk “Nganggu aktivitas.”

Btw. Aku dulu takut loh sama semprotan obat nyamuk. Seremkan kalau masih tidur tiba-tiba tukang semprot masuk. Kan bisa keracunan. Atau lagi di kamar mandi. Entah kenapa dari dulu kalau ada acara semprotan obat nyamuk di rumah rasanya deg-degan. Suaranya itu benar-benar menyayat hati. Tapi kalau dengarnya waktu saya di sekolah sih, entah kenapa biasa saja.

Ada yang takut semprotan obat nyamuk?

KKN di Desa Kebondalem Kidul


Kebanyakan mahasiswa UNY lebih memilih KKN Tematik di semester khusus daripada KKN Mandiri di semester biasa. KKN Tematik hanya berlangsung 2 bulan, tetapi mahasiswa harus berada di lokasi penuh selama 2 bulan, hanya boleh pulang sepekan sekali. Masalah perijinan, tempat KKN, tema KKN dan anggota kelompok semua diurus oleh pihak universitas.

Berbeda dengan mayoritas teman-teman, saya lebih memilih KKN Mandiri dibanding KKN Tematik. Memang sedikit lebih repot karena harus mencari teman sendiri, tempat sendiri, perijinan sendiri, tema KKN pun menentukan sendiri. Tetapi mempunyai kelebihan bisa memilih tempat, teman, dan tema yang kira-kira lebih sesuai. Waktu untuk beradaptasi juga bisa lebih lama. Kalau KKN Tematik kan kenal aja belum lama, langsung dipaksa bekerjasama. Lebih rawan konflik pikir saya.

Entah sejak kapan saya mencari kelompok untuk KKN, yang jelas pada bulan Juli saya sudah mendapatkan kelompok yang beranggotakan 8 orang. 6 putra dari Jurusan Fisika dan 2 putri dari Fakultas Ekonomi (Jurusan Akuntansi dan Manajemen). Setelah rapat dipilihlah Desa Kebondalem Kidul sebagai lokasi KKN. Alasan terkuat karena ada salah satu dari anggota kelompok kami yang berdomisili disana. Sehingga tampaknya lebih enak, dibanding harus KKN di tempat yang kami semua orang baru disana.

Agar tidak terlalu terasa terbebani, saya hanya ambil 2 mata kuliah di semester 7 ini. Memang teori yang belum saya ambil tinggal 6 sks, karena sambil KKN jadi ya, saya urungkan niat untuk mengulang/memperbaiki nilai. Kuliah yang saya ikuti tersebut ada di hari Selasa dan Kamis dengan dosen yang sama. Skripsi yang sudah saya masukkan KRS di semester 7 tidak saya sentuh sama sekali. Hanya nyicil latihan membuat proposal skripsi di Mata Kuliah Riset Pemasaran.

Senin, 21 Januari 2013

Wali Kota Termuda di Dunia Ini Terinspirasi Soekarno

JAKARTA, KOMPAS.com —Bashaer Othman menjadi satu-satunya wali kota termuda dunia. Di usianya yang masih 15 tahun, pelajar yang masih duduk di kelas I SMA Palestina ini sudah diberi jabatan publik sebagai Wali Kota Allar, Tulkarm, Tepi Barat, Palestina.

Bashaer diberi kesempatan memimpin Kota Allar selama dua bulan, di bawah bimbingan Sufian Shadid, Wali Kota Allar sebenarnya, setelah ia terpilih dalam program pemberdayaan kaum muda Pemerintah Palestina.

Tentu unik sebuah kota dipimpin oleh perempuan yang masih berusia di bawah 17 tahun. Terlebih lagi, Bashaer harus memikul sejumlah tanggung jawab berat mengatasi semua hal terkait Kota Allar, termasuk mengawasi karyawan dan menandatangani semua dokumen resmi, kecuali dokumen keuangan.

Bertempat di Kantor Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia di Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/9/2012) siang, Tribun mendapat kesempatan mewawancarai perempuan jelita ini dengan nuansa santai, meski dengan obrolan serius.

Basher menerima Tribun dengan senyuman manis. Sapaan menggunakan bahasa Arab makin menambah keakraban. Di sela-sela obrolan, Bashaer bahkan sempat bercanda bertanya-tanya tentang merk handphone yang Tribun pakai. Apa saja pengalaman Basheer menjadi wali kota termuda dunia? Berikut petikan wawancaranya:

Selamat siang, selamat datang di Indonesia. Bisakah Anda bercerita bagaimana menjadi wali kota di usia yang masih muda?
Selamat siang juga, senang bisa berada di Indonesia. Pada awalnya saya mengikuti program Pemerintah Palestina untuk pemberdayaan kaum muda. Saya lalu bersaing dengan ribuan anak muda yang mengikuti seleksi program tersebut. Wali kota seperti saya dipilih tidak melalui proses pemilihan umum yang dilakukan masyarakat, tetapi dipilih oleh wali kota sebenarnya berdasarkan kompetensi atau kemampuan dalam berbagai hal.

Apa pertimbangan terbesar yang membuat Anda dipilih?
Saya dinilai memiliki kemampuan individual, antara lain wawasan tentang kenegaraan, politik, sosial, dan ekonomi. Saya juga memiliki kemampuan kepemimpinan. Sebelum ini saya telah memimpin sebuah organisasi kepemudaan di sekolah. Saya juga punya visi dan misi yang jelas untuk kemajuan rakyat Palestina.

Anda sudah menjabat dua bulan, apa yang Anda lakukan selama periode itu?
Saya berusaha memecahkan berbagai masalah rakyat, salah satunya ketersediaan lapangan pekerjaan. Beberapa waktu lalu saya keliling ke beberapa negara luar. Sepulang dari sana saya mengajak para investor serta meyakinkan mereka agar mau berinvestasi di Palestina. Hasilnya lumayan, ada tiga proyek yang saya dapatkan, dan saya pikir itu akan membuka lapangan kerja baru.

Ceritakan masalah tersulit yang Anda hadapi selama jadi wali kota.
Melayani rakyat Palestina terutama dalam masalah hukum. Sebenarnya mereka sudah tahu hukum, tetapi biasanya mereka tidak puas jika tidak langsung bertanya kepada wali kota, jadi saya harus sabar melayani mereka. Kesulitan yang saya alami adalah bisa memuaskan seluruh rakyat, juga saat membuat rakyat menjalani ketentuan Dewan Kota. Beruntungnya, saya punya kemampuan komunikasi yang bagus sehingga bisa mudah menjawab pertanyaan dari mereka.

Palestina identik dengan daerah konflik, tidakkah Anda takut dengan keselamatan jiwa Anda?
Daerah Tepi Barat yang saya pimpin relatif aman, tidak ada kontak senjata di sana. Pertumbuhan ekonominya juga bagus, penghasilan rakyatnya di atas rata-rata. Jadi, saya tidak pernah merasa takut untuk memimpin. Ini semua untuk kemaslahatan umat.

Apa yang Anda pikirkan tentang konflik dengan Israel?
Saya datang ke sini tidak untuk membahas konflik dengan Israel, itu sudah ada bagiannya sendiri. Saya hanya ingin menjadi inspirasi generasi muda Palestina bahwa konflik bisa melahirkan pemimpin-pemimpin andal. Saya ingin pemuda Palestina punya sikap dan membangun peradaban mereka.

Apa perubahan yang Anda rasakan dalam diri Anda setelah menjadi wali kota?
Tentu ada yang berubah dari kepribadian saya. Sekarang, saya lebih memikirkan kepentingan umat.

Bisakah Anda ceritakan kehidupan keluarga Anda?
Saya lahir dalam keluarga yang hangat. Saya hidup dengan Ayah, Ibu, dan lima saudara. Saya anak keempat. Kami hidup dalam satu rumah dan kakak-kakak saya masih belajar di perguruan tinggi. Saat jadi wali kota, saya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Mereka sangat mendukung karier politik yang sedang saya jalani. Kami hidup dalam keluarga yang harmonis dan bahagia.

Apa reaksi kawan-kawan setelah Anda jadi wali kota?
Mereka sangat apresiatif dan mendukung. Kami tetap berhubungan, bahkan mereka sering memberikan masukan dan berkomunikasi dengan saya melalui internet. Kami chatting setiap hari dan berdiskusi banyak hal untuk kemajuan Palestina.

Apakah Anda punya pacar?
Tidak, Islam tidak memperbolehkan hubungan laki-laki dan perempuan tanpa status pernikahan, apa pun bentuk hubungan itu. Generasi muda Islam pun tidak seharusnya memikirkan hal itu. Generasi muda Islam harus cerdas membangun peradaban dan kemajuan bangsanya. Terus terang saya tidak punya akun Facebook sebab kadang itu mengganggu aktivitas saya dalam berpikir. Namun, saya tetap mengikuti perkembangan global lewat internet.

Bagaimana Anda melihat masa depan pemuda Palestina?
Saya optimistis kami punya masa depan lebih bagus. Saat ini memang ada banyak pemuda Palestina yang berusaha keluar ke negara lain, misalnya ke Arab Saudi, Mesir, atau negara Timur Tengah lainnya untuk mencari pekerjaan dan mencari wilayah aman. Namun, mereka semua punya komitmen besar untuk tetap jadi warga negara Palestina. Artinya, mereka akan kembali lagi. Kami juga meyakini bahwa Palestina suatu saat akan merdeka dan berdaulat.

Di Indonesia sering ada demonstrasi dukungan terhadap Palestina yang biasanya memakai tagline "Save Palestina". Apa tanggapan Anda?
Saya sangat mengapresiasi perhatian Indonesia terhadap negara kami. Indonesia adalah saudara setia kami sejak tempo dulu. Saya pribadi sangat terinspirasi dengan Ahmad Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno). Sebab beliau adalah tokoh yang kali pertama bersuara bahwa Palestina adalah negara berdaulat tanpa peduli dengan negara lain yang tidak mengakui kami.

Apakah Indonesia terkenal di negara Anda?
Iya, terutama dengan tokoh Ahmad Soekarno. Kami memanggil Ahmad Soekarno sebab orang Palestina mengenalnya dengan nama itu. Indonesia juga negara Muslim terbesar di dunia. Dukungan dan suara dari Indonesia sangat memberi kami kepercayaan diri. Kami mendapatkan energi lebih ketika Indonesia bersuara lantang dan membela Palestina.

Apa pesan terakhir Anda untuk pemuda Indonesia?
Pemuda Indonesia harus terus maju ke depan. Maju Palestina! Maju Indonesia!

SUMBER: http://internasional.kompas.com/read/2012/09/13/0604106/Wali.Kota.Termuda.di.Dunia.Ini.Terinspirasi.Soekarno

Selasa, 15 Januari 2013

Si Embak Misterius dan Letusan Gunung Merapi

Dulu akhir  tahun 2010 waktu heboh-hebohnya Gunung Merapi meletus yang dalam rentetan letusan berkali-kali tersebut Mbah Maridjan meninggal dunia, aku menulis fiksi nyata ini. Ini cerita ringan saja buat santai-santai mengisi waktu luang, silahkan dibaca :)

ilustrasi: kompas.com
Bulan Oktober 2010 adalah bulan bencana letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Di Bulan ini Mbah Maridjan meninggal dunia akibat letusan Gunung yang sudah setia beliau jaga selama berpuluh-puluh tahun itu. Sudah berminggu-minggu, rentetan letusan ini terus bertengger sebagai headline news di media-media massa nasional . Tempatku beraktivitas sehari-hari, rumah, kampus, dan tempat kerja paruh waktuku sebenarnya cukup aman, terletak sekitar 30 km dari puncak Merapi.

Daerahku hanya terkena hujan abu vulkanik sedang dua kali. Pada hujan abu yang pertama dinas pendidikan Kota Yogyakarta meliburkan siswa sekolah (bukan kuliah). Pada hujan abu kedua gantian universitas-universitas di Yogyakarta yang meliburkan kegiatan perkuliahan antara seminggu hingga dua minggu. Nah, tempatku bekerja part time dekat dengan UNY dan UGM yang meliburkan kegiatan perkuliahan selama seminggu. Alhasil dampaknya tentu saja tidak hanya dirasakan para dosen dan karyawan kedua universitas tersebut, tetapi juga kegiatan perekonomian di kawasan sekitarnya yang mayoritas konsumennya adalah mahasiswa. Banyak toko yang mengurangi jam buka atau bahkan tutup sama sekali.

Di hari biasa, rental komputer tempatku bekerja paruh waktu membuka dua kios yang berdampingan, masing-masing dijaga satu orang operator. Gara-gara mayoritas operator adalah perantau dan mereka pulang kampung, akhirnya tiap shift malam kios yang buka hanya satu. Kontras, pengguna jasa rental komputer menurun drastis. Malam itu, aku datang di rental komputer dalam keadaan sepi. Bos pergi, kios hanya buka satu, dan belum ada pelanggan yang datang. Hal biasa sebenarnya. Tapi kejadian luar biasa nanti muncul ketika aku selesai melaksanakan ibadah sholat Isya.

Meskipun aku hanya jaga rental komputer sendiri, di seberang ada teman yang juga bekerja menunggu warung galon. Alhamdulillah temanku ini suka main ke rental komputer di saat sepi pelanggan dan bosku sedang pergi. Dia suka menonton film-film yang ada di PC operator. Lumayan bisa mengurangi suasana sepi. Sebut saja dia bernama Mbak Vivy, wanita super tomboy yang gayanya mirip Mita The Virgin. Seperti biasa, mbak Vivy main ke rental komputer untuk nonton film. Tapi karena waktu sudah mendekati Isya, aku titipkan sekalian rental komputer pada mbak Vivy, aku mau buang air kecil dulu, wudlu, kemudian sholat Isya.

Selesai berwudlu akan sholat, malah ada pelanggan yang ingin burning CD, ok, aku layani dulu, baru kemudian sholat Isya. Selesai burning CD aku langsung menunaikan sholat Isya. Selesai sholat Isya, ternyata ada pelanggan lagi, seorang perempuan yang menurutku kira-kira berusia 20 tahun. Untuk yang ini sebut saja Si Embak. Aku pun langsung menanyakan kebutuhannya, “Mau rental mbak,” jawab Si Embak.

“Loh, nggak jadi ngrental Mbak?” tanyaku. Abis dia katanya mau ngrental sudah masuk kok malah keluar lagi. “Enggak mbak,” jawab Si Embak. “Kenapa?,” tanyaku merasa aneh. “Nggak pa pa,” jawab Si Embak. Kemudian Si Embak memandangi tembok di samping luar rental komputer. Lalu duduk di teras depan rental komputer. Masuk lagi seperti bingung. Duduk di depan komputer pandangannya tidak jelas. “Ada apa ya mbak?’” tanyaku merasa aneh dengan perilakunya. “Aduh, jangan gitu mbak,” jawab Si Embak seperti pusing sendiri. Ok.

Sekarang Si Embak menatap salah satu layar monitor tangannya nyaris memencet tombol power. “Mmm, kalo mau pakai komputer di sebelah situ saja mbak, yang masih nyala,” kataku kepada Si Embak. Tampaknya Si Embak ingin pakai komputer. “Oh ya,” jawab Si Embak, lalu pindah duduk di depan komputer yang masih menyala. Mouse pun digerak-gerakkan, aku catat di billing jam mulai Si Embak pakai komputer. Huh, jadi lebih lega, ku harap Si Embak tidak bertingkah aneh lagi. Aku pun melanjutkan nonton film bareng mbak Vivy. Tapi, keanehan perilaku Si Embak malah semakin menjadi. Dia tidak berbuat apa-apa dengan komputer di depannya. Layar komputer terlihat gelap, sepertinya justru dimatikan oleh Si Embak. Si Embak pun tidak melulu memandangi komputer yang layarnya sudah hitam tersebut. Mata Si Embak bergantian memandangi etalase, langit-langit, dinding-dinding ruangan rental komputer, memandangku, memandang mbak Vivy. Begitu berkali-kali. “Mmm, ada yang bisa dibantu mbak?” tanyaku. “Ah, enggak,” jawab Si Embak. Si Embak tetap tidak berhenti menatap kosong lingkungan sekitarnya.

Jumpernya terlihat lusuh dan kotor, penampilannya kusut, rambutnya yang agak panjang dijepit ke belakang. “Berapa mbak?” tanya Si Embak. Oh, ternyata dia normal juga kataku dalam hati. “Enam ratus rupiah mbak,” jawabku. Si Embak pun menyodorkan selembar uang seribuan. “Ini kembaliannya,” kataku sambil menyodorkan uang kembalian ke tangan Si Embak. Tapi, Si Embak justru menyingkirkan tangannya, dan menunjuk ke arah meja. Uang kembalian Si Embak pun kutaruh di atas meja, lalu diambil oleh Si Embak. Aneh, Si Embak perempuan, aku juga perempuan, kenapa Si Embak tidak mau bersentuhan tangan.

Tidak selesai disitu. Si Embak ternyata belum mau pergi. Haduh ini orang jangan-jangan kesurupan, apa bisa lihat jin kataku dalam hati. Jangan-jangan tadi mata Si Embak menatap kesana kemari tidak tentu karena tercengang dengan banyaknya jin yang dia lihat. Ah, terserah, aku putar do’a pengusir setan saja lah. Si Embak tetap tak pergi-pergi. Atau dia pengungsi Merapi yang tersesat? “Tidak,” kata mbak Vivy. “Dia itu ga bahaya kok, aku pernah ke kost dia nganterin galon pesenannya.”
“Lagi nunggu temen mbak?” tanyaku kemudian kepada Si Embak. “Eh, enggak,” jawabnya. Kemudian Si Embak bener-bener pergi meninggalkan rental komputer yang aku jaga. Si Embak ke arah pertigaan di depan rentalku.

Akhirnya…. Hufff. Kedatangan pelanggan dua kali aja, kok yang satu anehnya setengah mati. Sebentar-sebentar! Aku melihat Si Embak lagi, lewat depan rental komputer yang aku jaga, alhamdulillah Si Embak tidak kesini lagi. Hufff. Tap.. tap.. krek.., Apa ?! Ada orang di belakangku! Siapa lagi kalau bukan si Embak ?!. Aku langsung menengok ke belakang, oh, ibu dan bapak bos. Ayem deh, yang punya rumah sudah datang. Lebih tenang, lebih tenang. Bosku datang, mbak Vivy langsung pamit pulang.

“Kalau dah sepi tutup aja mbak.” kata bapak bos. Ok. Kalau suruh tutup sih aku jelas siap, hehe. Aku pun langsung pulang, agak ngebut, besok jaga shift pagi soalnya. Aku sekalian berencana menanyakan perihal Si Embak aneh yang tadi mampir, siapa tahu bos-ku kenal.
Paginya, aku langsung cerita perihal kejadian tadi malam kepada bos-ku. Langsung dijawab seperti ini, “Hah, perasaan selama ini ga pernah ada orang kayak gitu yang dateng. Cuma tadi malem aku liat lagi orang itu duduk di teras rental sampai jam setengah dua belas.” Apa?!

Pengalaman TOEFL

Saya merasakan TOEFL untuk pertama kalinya itu saat masih menjadi maba (mahasiswa baru) di UNY. Sebenarnya di SMA dulu ada lembaga yang mengadakan les TOEFL setelah pulang sekolah. Karena tidak tertarik, maka saya tidak ikut. Waktu itu saya belum merasa membutuhkan skor TOEFL.

Saat masih menjadi maba (mahasiswa baru) dulu saya masih awam dengan TOEFL dan tidak mencari tahu, hehe. Dan hari itu pun tiba. Saya datang telat dan bingung cari kelas, haha. Meski sudah pada masuk, alhamdulillah tes belum dimulai :D.

Waktu itu saya masih terngiang-ngiang mengenai masa-masa ujian SNMPTN. Jangan-jangan ada nilai minus nih kalau salah, sangka saya. Gabungan antara saya yang peragu dan malas belajar (tidak persiapan sama sekali untuk TOEFL) membuat saya banyak mengosongkan lembar jawab. Daripada nilai saya minus, batin saya.

Dan hari pengumuman pun tiba. Saya tidak termasuk mahasiswa dengan nilai TOEFL 400 keatas! Payah banget. Jadi minder. Tetapi semester 2 ada Mata Kuliah Umum Bahasa Inggris. UAS Bahasa Inggris saya lalui tanpa persiapan yang serius. Saya heran, kenapa teman-teman yang TOEFL-nya 400 keatas pada kesulitan mengerjakan soal UAS. Itu kan cuma Bahasa Inggris dasar. Menurut saya soalnya super duper mudah. Dan saya pun mendapat nilai A di KHS saya, teman-teman pada mengeluh soal nilai mereka yang C kebawah. Jadi PD nih, haha.

Semester 4 saya bertemu mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis. Dan lagi-lagi saya mendapat nilai A disaat nilai teman-teman terpuruk. Bahkan nilai akhir sekelas diumumin di papan, dan saya yang tertinggi! Yeay!! Bukan bahagia di atas penderitaan orang lain loh, Alhamdulillah aja gitu jadi tambah PD :D. Wkwkwkwk.

Sekitar akhir tahun 2011, antara September-November, saya lupa tepatnya. Ada TOEFL like lagi di UNY. Kali ini yang mengadakan UKM Bahasa Asing bekerja sama dengan ILP. Cuma 10rb doang. Lumayan buat pemanasan sebelum ikut TOEFL ITP. O iya, di tahun ini saya tertarik ikut program IELSP yang mensyaratkan skor TOEFL ITP.

Hari H datanglah saya ke FBS. Kali ini saya sudah tahu loh kalau di TOEFL tidak ada pengurangan nilai, haha. Meski tidak pernah ikut Les TOEFL sebelumnya saya cari tau dulu dong. Malu tau kalau seperti dulu! lembar jawab TOEFL kok banyak yang dikosongin! Orang kota masa tidak tahu menahu aturan TOEFL, hehe.

Setelah dua tahun lebih tidak pernah ujian pakai lembar jawab komputer ternyata pegel juga. Tidak cuma pegal sebenarnya, tapi juga pegel banget!! Sampai-sampai pengen keluar meski belum selesai menjawab dan waktu masih panjang. Akhirnya saya pun cepat-cepat menjawab dengan ilmu "kira-kira," haha. Pokoknya waktu ketemu soal dan tidak yakin dengan jawabannya, kira-kira sajalah jawaban yang kira-kira benar yang mana :P. Biar cepat bisa duduk tegak lagi dan punggungnya tidak pegal! :D Jadi, saat semua soal TOEFL sudah selesai saya jawab, rasanya senang! Meski khawatir dengan hasilnya, udah kurang persiapan, banyak ngawur, datang agak telat. Ahahah, biarinlah.

Pengumuman nilai TOEFL pun keluar! Ternyata gak jelek-jelek amat. Dapet 460, seenggaknya aman lah buat persyaratan ikut IELSP yang mengharuskan nilai minimal TOEFL 450. Lagi pula temanku si Elok Pawening dengan TOEFL Like 450 berhasil lolos pertukaran pelajar di Jepang. Don't be sad lah. #menghibur diri.

Deadline IELSP semakin dekat. Seperti biasa, penyakit lama, banyak yang belum saya persiapkan. Cari tempat TOEFL pun telat, telpon sana sini, jadwal paling cepet yang belum penuh di PPB UGM. Tanggal 17 November 2012. Hari itu jam 3 sore PPB UGM tutup. Kursi yang tersisa tinggal super sedikit. Menjelang jam 3 aku langsung cabut dari rumah. Sampai PPB UGM jam 3 lebih sedikit. Eh, ketemu mbak-mbak PPB UGM. Aku pun memelas untuk dapat mendaftar TOEFL. Karena deadline pengiriman berkas tanggal 18, meski skor TOEFL bisa menyusul tapi tanggal kapan TOEFL harus ditulis di blangko IELSP. Berarti setidaknya H-1 deadline kan? “Ini sebenarnya ada beberapa yang sudah daftar lewat telepon tapi belum bayar, nanti kalau ada bangku kosong saya hubungi, tapi tidak janji,” kurang lebih seperti itu si mbak menjawab permintaan saya yang memelas. Setelah itu jelas saya mengutuk diri saya, mengapa tadi tidak mendaftar dulu langsung lewat telepon. Huh, besok lagi lah kalau butuh TOEFL.

Jadwal TOEFL terdekat setelah tanggal 17 November adalah tanggal 18 November di ELTI. Karena ngebet banget pengen daftar IELSP tahun 2011. Saya pun menelpon dan mendaftar, tinggal satu kursi kata penerima telpon di seberang sana. Setelah ke kantor ELTI dan membayar, saya medapat handbook TOEFL ITP. Ada latihan soal dan penjelasan lengkap tentang TOEFL ITP.

Belajar dari TOEFL Like yang saya ikuti sebelumnya, saya rasa penting untuk membiasakan diri menghitamkan jawaban di lembar jawab. Biar lebih lincah dan tidak memakan waktu lama hanya untuk mengisi jawaban. Lebih baik kan waktunya dipakai untuk mikirin jawaban soal kan. Saya fotokopi contoh lembar jawab TOEFL ITP kemudian saya pakai untuk latihan menghitamkan pilihan jawaban di rumah.

Dari semenjak masa pendaftaran TOEFL ITP hingga TOEFL ITP ada kabar tidak sedap dari teman saya. Katanya syarat ikut IELSP itu melakukan TOEFL maksimal sebelum deadline alias tanggal 17 November. Waduh, nanti kalau ikut jangan-jangan belum-belum saya sudah tidak lolos secara administrasi, kan sayang banget tuh. Ikut nggak yaa... Galau. Tapi memang dari beberapa esai yang disyaratkan saya belum bikin semua (dalam bahasa Inggris), haha. Baru coret-coret aja dalam bahasa Indonesia. Hhhh... Deadline semakin dekat, tanggal 16 November saya pun akhirnya memutuskan untuk, yasudahlah tidak usah ikut saja, daripada ribet ngurus ini itu yang juga belum diurus (dasar ni anak!! --“). 

Lagipula saya juga lagi sakit daripada bertambah sakit, tahun besok aja ya ikutnya. Tapi nyesel udah daftar TOEFL ITP. Kalau gini kan saya bisa daftar tahun depan aja, udah persiapan buat TOEFL gak maksimal, menjelang TOEFL malah sakit. Hiks. Melayanglah 300rb saya. Padahal kalau tahun depan kan bisa tes di FEB UGM, karena lebih murah (27 US$, waktu itu jika dirupiahkan tidak sampai 250rb). Biasa, kalau sudah seperti ini nyesel, nyesel, dan nyesel.

Ba’da Magrib saya pun ke ELTI dengan kondisi sakit. Batuk dan pilek yang masih agak parah. Untung saya mendapat tempat duduk di pojok belakang, jadi tidak terlalu memalukanlah. Kalau batuk dan sentrap sentrup tidak akan ada yang peduli tengak tengok, hahah. Alhamdulilllah selama tes bagian listening saya tidak batuk-batuk. Alhamdulillah banget lah! Kalau tidak kan saya bisa disalahkan peserta lain yang satu ruangan saat itu, mana yang saya kenal ada dua orang lagi, bisa-bisa saya tidak diakui jadi teman.

Selesai listening saya batuk hebat gila! Dan payahnya saya tidak membawa tissu! Saya hanya bisa mengutuk diri sendiri. Meskipun saya harus berterimakasih kepada Allah SWT meskipun kondisi saya seperti ini lembar jawab saya tetap kering. Ingus saya beberapa kali hampir mengenai lembar jawab, tapi atas kuasa Allah SWT, saya selalu berhasil menyelamatkan lembar jawab saya dari bahaya itu, haha. Yah, sentrap sentrup batuk-batuk nggak jelas. 

Saya malu gila, tidak enak hati suara batuk saya pasti sudah mengganggu peserta lain. Sampai-sampai saya tidak tahu kalau masih ada satu lembar soal terakhir yang belum saya kerjakan. Saya tahu saat sudah keluar dari ruang ujian, teman saya membicarakan tentang soal terakhir. Apa?! Soalnya sampai nomor itu, kok tempat saya enggak ada ya?” Kata saya. “Brarti belum saya baca, saya kira soalnya sudah habis, padahal kan kalau pun nanti saya tidak tahu jawabannya kan saya bisa ngawur, hehe. Tapi ga apalah, orang gak sampai 5 soal juga dihalaman terakhir. Ga rugi-rugi amatlah. Yang rugi tu karena persiapan saya tidak maksimal dan saya sakit saat TOEFL ITP! Salah saya juga sih. Mengapa tidak mempersiapkan pendaftaran IELSP dan TOEFL ITP sejak lama.

Pengumuman pun tiba. Eh, ternyata tidak di tempel di papan pengumuman, hehe. Saya mendapat sebuah amplop dari ELTI. Tidak sabar, di parkiran saya sobek amplop dan saya intip skor saya. Yah, cuma 477. Tak apalah, seenggaknya bisa untuk daftar IELSP di tahun 2012. Sebenarnya sih kurang pede dengan TOEFL ITP segitu. Tapi daripada tes lagi, bayar lagi. Itu aja dah 300rb. Eh btw ternyata di tahun 2012 kemarin belum ada pengumuman pembukaan pendaftaran IELSP, sampai sekarang.

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...