FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Jumat, 15 Juli 2022

Menikah atau Melajang, Mana yang Lebih Baik?

Kalau aku sendiri sih. Ini juga bisa jadi jawaban orang-orang yang suka tanya kapan nikah? Perlu diketahui, dalam Islam, agama yang aku anut, aku percayai, hukum menikah itu bisa wajib, bisa sunnah, bisa makruh, bisa mubah, bisa haram juga. Selama kita bisa menjaga diri dari zina, mampu menahan diri untuk tidak berbuat zina, nikah itu tidak wajib.

Bisa jadi sunnah alias lebih baik dilakukan karena berpahala kalau pernikahan tersebut baik untuk pribadi kedua orang yang berjodoh, masyarakat, dan alam. Maksudnya tidak ada niat menyakiti satu sama lain. Kedua orang yang menikah sudah siap mental dan fisiknya untuk menikah. Kalau belum siap ya nanti yang ada bisa KDRT, muncul mental issue, penelantaran anak istri, dst. Menikahnya mereka juga menjadi berkah bagi masyarakat, mampu mendidik anak, tidak menumbuh suburkan kriminalitas, dsb.

ilustrasi: https://flickr.com/photos/keepitsurreal/6107919083/
Secara pribadi, nikah hukumnya bisa jadi sunnah buat aku kalau pernikahan itu mampu menjadikan aku dan pasanganku being the best version of ourself ketimbang ketika kami masing-masing hidup melajang. Jadi kalau ditanya kapan nikah? Ya kalau sudah ada seseorang yang mampu meyakinkan aku bahwa dia mau dan mampu support aku to be the best version of my self begitu pula sebaliknya, dengan apapun kondisi dia,  aku siap support dia untuk menjadi the best version of himself. Kalau belum ada yang membuat aku yakin ya belum dulu.

Aku sendiri tidak punya target kapan harus menikah. Karena hidupku sendiri saja sudah cukup seru buat aku. Jadi ya baru menikah kalau ada seseorang yang mampu meyakinkan bahwa hidup dengannya mampu membuat hidupku lebih seru lagi dibanding ketika aku hidup melajang. Dalam artian kami mempunyai tantangan yang akan selalu kami taklukan bersama, yaitu being the best version of our self. Tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu being a better person is always be possible. Definisi better ini sesuai passion kami masing-masing yang mana bisa jadi berbeda dan tidak harus sama. Intinya harus siap saling menerima dan saling support cita-cita masing-masing dari kami ke depannya.

Oh iya, mampu di paragraf ketiga diatas bukan berarti kaya raya ya.. Maksudnya mampu ini hanya kalau komunikasi kami bisa cukup nyambung. Mempunyai kemampuan intelegensi yang tidak jauh berbeda serta open minded. Tidak perlu IQ 120 ke atas. Diatas 100 aja sudah cukup. Buat apa IQ tinggi-tinggi kalau tidak open minded.

Open minded ini berarti siap mendengar, bukan hanya pasanganku kelak tapi aku sekarang juga selalu berusaha memperbaiki kemampuan mendengar dengan siapapun. Siap menerima perbedaan. Siap saling toleransi. Ketika ada dua pendapat berbeda tidak selalu salah satu benar salah satu salah. Sangat mungkin dua-duanya benar. Seringkali ini hanya masalah sudut pandang. Dengan menerima perbedaan pendapat yang dua-duanya benar itu justru memperkaya khazanah kemampuan kita dalam memahami sudut padang yang berbeda bukan.

Selasa, 17 Mei 2022

Yaudah sini tak bikinin sop.

Tantangan yang Berbeda

 Aku lagi suka tiba-tiba ya nggak tiba-tiba sih. Agak sering sebenernya emang entah sejak kapan. Sejak pandemi kayaknya. Oh my God, tiap tahun kasih tantangan demi tantangan yang berbeda.

Capek.

Gtwlg.

Ywdh.

Ok.


Dunno dunno.


Capek cpk, tapi ya gmnlg.

Y.


Ngambtup ges.


ok.


Hi my friend, kita udah lama gak meet up. Y. Aku yg masih kesulitan cari waktu sih. Y.


Ga pernah bermaksud. Maaf. Bukan. y.


y.


.

Morning Person

 I dunno I dunno

Aku punya teman. Jangan terus nyanyi loh. Hehe. Njuk uh uh uh.

Hmm..

Salah satu teman terbaik aku.

Sesungguhnya di dunia ini ternyata banyak teman baik loh. Kadang bahkan mereka kasih bantuan tanpa kita minta. Bikin kita bercerita tanpa disengaja. Menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menyelesaikan permasalahan kita.

Ya begitu..

Ya intinya sebenarnya aku punya banyak teman yang baik-baik..

Ada satu dua tiga dll yang emang baiknya ya bikin Oh My God, She/He just like an angel. Gak kayak aku yang sempat dicap "angel dikan diyani." Ya just like an angel. Baik banget. Baik banget. Sampai aku bilang "Ada ya orang seperti ini di dunia, dan ada di sekitarku."

Aku sebagai pihak yang minta tolong terus dibantu atau gak minta tolong langsung dikasih bantuan ya tak bisa berkata-kata kecuali "Aku ga mau kehilangan dia."

Salah satu teman terbaikku itu.. Aku pernah ada masalah sama dia.. Ya gimana ya 3 teman terbaikku saat ini pernah aku bikin kecewa berat hehe. Tapi alhamdulillah pintu pertemanan masih terbuka lebar alhamdulillah.

Salah satunya aku sering berselisih sama dia sebelum kejadian dimana bisa-bisanya aku bilang prefer meetup sepagi mungkin, jam 6 pagi. Seru sih.

Kenapa? Aku pas itu capek berselisih masalah itu-itu mulu. Aku gamau ketemu cuma bentar terus keburu ada acara lain. Salah paham kok satu masalah mulu. Capek.

dah ah capek cerita..

Helo Ges

ilustrasi: https://flickr.com/photos/halfchinese/165719204/
 Dah lama gak update disini. Somehow aku mendadak kangen menyapa kalian entah siapa yang bakal baca ini. Hai ges helo ges.

Aku punya mentor offline loh sekarang. Aku lagi digembleng nih. Akibat kesalahanku di tahun lalu. Seru tau.

Berat nggak berat nggak? Ya berat lah. Seru gak seru gak? Ya seru lah.

Doain ya! Doain ya! Aaamiiinnnn

Jumat, 21 Februari 2020

Riset Jodoh

Ada sebagian orang yang bisa mantap menikah dengan seseorang tanpa riset memadai ada yang melakukan riset terlebih dahulu. Contoh yang tanpa riset misal lihat akun IG dengan foto profil cantik langsung ngelamar. Padahal klonengan wkwkkw. Kan banyak ya orang bikin akun IG dg foto cantik2 tapi admin dibelakangnya cowok, fotonya asal nyomot di internet. Pas followernya dah banyak ganti jadi akun olshop atau apalah. Atau bisa malah buat nipu orang kayak yg dilakukan seorang ibu-ibu TKI Taiwan yang ngompasi mas-mas TKI Korea, bikin akun facebook pakai foto mbak-mbak MUA yang wajahnya mirip artis korea.

Ada yang baru ketemu langsung ngajak nikah, katanya fallin in love at first sigh. Sebagian lagi memilih melakukan riset dulu. Ada yang lewat pacaran ada yang lewat taarufan. Bedanya pacaran sama taarufan apa sih? Bedanya, dalam sebuah hubungan pacaran minimal salah satu ada yang jatuh cinta dulu. Ada yang ingin memiliki dulu. Ada yang ngarep dulu. Lalu kalau satunya belum cinta ya dia punya kewajiban untuk menumbuhkan cinta ke lawan pacarannya. Jadi sudah ada ngarep dulu. Kalau terjadi putus hubungan pasti menyisakan luka dalam hati yang bisa bikin gagal move on.

Nah kalau taarufan versi aku sih riset jodoh tanpa rasa cinta. Jadi justru adanya rasa cinta diantara dua orang yang sedang taaruf itu sesuatu yang dihindari. Kalau api asmaranya mulai muncul ya harus segera dipadamkan hehe. Jadi tidak boleh ada kata ngarep dalam taaruf.

Fokus taaruf adalah mencari tahu kecocokan antara dua orang yang sudah siap menikah. Apakah mereka siap membangun rumah tangga berdua dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh mereka. Bagaimana pandangan masing-masing tentang kehidupan, pendidikan anak, pengelolaan keuangan, sifat-sifat iyuh masing-masing, segala preferensi yang sekiranya bisa menimbulkan masalah dalam rumah tangga benar-benar diobrolkan sekira-nya bakal jadi masalah besar atau tidak nanti ketika menikah.

Hal-hal sepele seperti bau badan, dll menurut aku juga perlu dibicarakan kalau memang salah satu pihak merupakan seseorang yang cukup sensitif dengan bau badan. Ekspektasi masing-masing dalam hubungan berumah tangga juga wajib dibicarakan. Apakah cocok. Apakah ada yang harus mengalah. Toleransi pada beberapa kekurangan pasangan menurut aku wajib juga sih karena gimana pun manusia kan gak ada yang sempurna. Apakah masing-masing siap menoleransi beberapa sisi dari pasangan yang mungkin bakal susah berubah atau tidak mungkin berubah.

Intinya fokus riset doang tanpa rasa sih kalau taaruf. Secara berlaka dievaluasi apakah sebaiknya proses taaruf terus berlanjut hingga akhirnya mendaftarkan pernikahan di KUA atau cukup dan tidak bisa lanjut karena ada ketidakcocokan yang tidak bisa ditoleransi. Misal mempunyai pandangan yang berbeda terkait pendidikan anak serta pengelolaan kekuangan dan tidak dicapai kata sepakat, atau alasan lain.

Jadi ya enteng aja sih kalau taaruf mau mulai ngajakin taaruf maupun mengakhiri taaruf. Gak ada drama-drama yang merasa sudah dibaperin eh terus ditinggalin. Gak ada cerita-cerita gagal move on karena banyak kenangan-kenangan indah selama pacaran/pdkt. Karena memang gak ada cinta-cintaan dalam taaruf. Gak ada sayang-sayangan. Kalau ngobrol ya fokus mencari tahu kecocokan keduanya dalam membangun rumah tangga. Gak ada bersenang-senang doang. Karena intinya fokus riset. Gak ada yang ngarep buat segera memiliki.

Jadi taaruf bisa diakhiri tanap berakhir menjadi sebuah permusuhan. Kan kalau pacaran putus biasanya terus pada musuhan. Ketika taaruf berakhir tetap bisa berteman baik. Tidak ada yang merasa tersakiti. Misal tahun 2019 si A taaruf dengan X, Y, dan Z. Awal tahun dia taaruf dengan X, tengah tahun dengan Y, akhir tahun dengan Z. Kenapa 3x? Karena diawal tahun tidak dicapai kata sepakat dengan X begitu pula dengan Y dan Z setelahnya. Lalu pada awal 2020 si A pengen taaruf lagi dengan X eh ternyata diawal tahun 2020 dicapai kata sepakat setelah A dan X mempertinggi toleransi atau berubah pikiran terus mereka berjodoh dan membangun rumah tangga. Bisa jadi loh bisa jadi.

Kalau saya sih pengennya ya sekali taaruf langsung jadi males taaruf berkali-kali pasti capek banget. Ya harus siap berdiskusi yang bisa jadi alot bisa jadi enteng karena eh ternyata lawan taaruf saya tidak mempunyai banyak perbedaan pandangan dengan saya dan kami bisa menoleransi kekurangan kepribadian masing-masing. Kalau taaruf harus siap terbuka dalam mengutarakan sesuatu sih jangan ada yang dipendam kalau ada yang mau disampaikan kalau memang bisa memicu masalah besar di kemudian hari ketika sudah berumah tangga.

Intinya nantinya kalau dicapai kata sepakat masing-masing harus sudah benar-benar ikhlas dengan kesepakatan tsb. Tidak ada yang terpaksa atau yaudah bilang iya aja biar gak ribut. Kan mending diskusi alot waktu taaruf daripada ribut pas sudah berumah tangga. Meskipun konflik dalam rumah tangga sesuatu yang susah dihindari dan wajar kalau terjadi.

Kamis, 20 Februari 2020

Faedah dari Pembuatan Kriteria

Awalnya sih saya hanya sekedar iseng bikin kriteria jodoh seperti yang sudah saya tulis di https://fenitriutami.blogspot.com/2019/09/pamer-tipe.html. Gara-gara di usia saat ini bahasan jodoh itu sesuatu yang lazim untuk dijadikan bahan obrolan saya pun yaudah sih coba mikir kriteria jodoh seperti apa sih yang kira-kira saya inginkan. Saya pun membuatnya dan efeknya luar biasa. Banyak dampak positif yang saya rasakan.

Photo by Jacqueline Kelly on Unsplash
Kebetulan tidak lama setelah itu mentor saya posting tentang pentingnya membuat mimpi yang spesifik. Misal ingin punya kendaraan, harus spesifik kendaraannya seperti apa. Apakah untuk jodoh juga seperti itu? Jadi nggak let it flow aja. Kalau cewek kan biasanya yaudah sih nanti yang deketin siapa. Kalau gak jelek-jelek amat mau nikah yaudah diiyain aja mumpung ada yang serius. Eh iya gak sih. Suka denger kayak gitu soalnya, hehe. Alasannya mumpung ada yang serius. Kok kayak gimana yaaaa......

Kalau jodoh sih saya pribadi lebih ke saya pribadinya kayak gimana kira-kira cocok sama laki-laki dengan kepribadian seperti apa. Demi kemajuan bersama nantinya. Intinya cari yang saling melengkapi lah. Bisa menuntun saya menjadi pribadi seperti yang saya inginkan. Jadi ya saya lebih cari ke seseorang dengan pribadi yang saya dambakan agar saya bisa menjadi seperti dia. Tidak bikin saya bergantung sama dia. Sama-sama gak bergantunglah. Siap saling menambal saat dibutuhkan. Siap saling memberdayakan. Serta sekiranya bisa saling berusaha menyuburkan perasaan cinta masing-masing.

Efeknya adalah pertahanan hati saya semakin kuat. Tameng baper saya semakin kuat. Jadi gak adalah jatuh cinta asal. Apalagi fallin in love at first sigh. Kok rawan banget ya. Untuk seumur hidup kok milihnya cuma karena fallin in love at first sigh. Setiap saya melihat kelebihan seseorang pasti ada beberapa hal yang saya tidak sukai dari orang tsb meskipun belum kelihatan. Jadi tidak yang langsung "Ya Allah, awesome banget sih orang, itu, jadi pengen dinikahin." Wkwkwk kok gimana yaaa....

Kalau ketemu orang yg sesuai kriteria, ya saya gak jamin pertahanan anti baper saya runtuh sih. Tapi seenggaknya saya tahu, sesempurna apapun dia dalam memenuhi kriteria saya, tetap ada sisi yang belum saya tahu yang mana kalau nanti nikah dan tahu bisa jadi saya ilfeel. Ya, kalau udah nikah sih sebisa mungkin jangan ilfeel. Harus siap sama kekurangan pasangan yang kita gak suka kan. Harus belajar sabar, haha. Yamaugamau pasti adalah sisi pasangan yg kita gak suka siapapun pasangan kita nanti sabar itu harus siap.

Btw kriteria saya susah banget. Sejauh mata memandang gak ada jomblo disekitar saya yang memenuhi. So, saya siap buka hati aja sih sama siapapun yang acceptable enough buat saya buat taarufan. Tapi saya bukan tipe orang yang mau taarufan sama siapa saja asal.

Kalau belum cukup familiar ya perlu berteman dulu. Saya juga lihat-lihat dulu sih untuk berteman haha. Lihat-lihat orangnya dulu juga. Bukannya pilih-pilih cuma kalau sama yang fokus cari jodoh lihat dulu kemungkinan jadinya besar atau gak kalau gak ya mending gausah. Kan tujuan temenannya buat cari jodoh.

Baru kalau acceptable enough buat berteman ada chance buat taarufan. So, saya lebih terbuka sama mereka yang lebih familiar sih atau ada beberapa interaksi sebelumnya dan orangnya acceptable enough. Kayak gimana sih acceptable enough itu? Susah dijelaskan dengan kata-kata, ya asal hati saya bilang acceptable enough aja, hehe. Ya setiap orang kan punya preferensi. Wanita cuma punya slot satu. Jadi subjektif itu perlu. Jangan paksa wanita buat objektif.

Kek apa aja. Kek banyak yang mau aja. Padahal sampai sekarang belum pernah ada yg deketin haha. Temen aja belum pernah ada yg ngajakin taarufan.

Oh iya, kelebihan lain dari bikin kriteria adalah kita tau jelas orang seperti apa yang kita mau. Jadi usaha yang kita lakukan juga bisa lebih terarah. Kita bisa ikut komunitas atau apalah yang mana kemungkinan disana ada banyak orang yang sesuai kriteria kita. Saya sih gak segitunya. Ikut komunitas karena saya menemukan teman-teman dengan sudut pandang yang tidak berbeda jauh dengan saya, jadi gampang nyambung. Mempunyai minat yang sama dan mempunyai visi misi yang sesuai dengan visi misi hidup saya.

Asmara Penghambat Jodoh

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya di https://fenitriutami.blogspot.com/2019/08/jatuh-cinta.html, saya tipe orang yang lebih memilih membentengi hati dari perasaan cinta dalam konteks asmara ya. Bukan cinta dalam arti luas seperti cinta kepada alam semesta, orang tua, dll. Salah satu alasan kuatnya adalah karena asmara itu justru bisa menghambat jodoh.

Photo by Siora Photography on Unsplash
Saya memiliki definisi asmara yang berbeda untuk sebelum dan sesudah pernikahan. Asmara sebelum pernikahan adalah rasa yakin untuk bisa hidup serumah bersama selamanya bahagia dengan seseorang. Asmara setelah pernikahan adalah sebuah perasaan yang harus mulai dipupuk sejak ada kata sah secara agama dan negara dibuktikan dengan adanya buku nikah yang sah.

Asmara sebelum pernikahan bisa jadi sebuah penghambat jodoh karena saat jatuh cinta kita auto memakai kaca mata kuda. Yakin banget hidup lebih terasa bahagia kalau menikah dengan dia serta hidup lebih sengsara kalau kita tidak menikah dengan dia. Padahal sebagai manusia indra kita terbatas. Banyak misteri di masa depan. Bisa jadi loh bisa jadi orang yang saat ini kita ingin bersama selamanya beberapa bulan atau tahun lagi kalau sudah hidup bersama malah ingin pisah selamanya.

Masa depan itu misteri kok. Toh orang yg menikah pun akan selalu mendapatkan kejutan-kejutan. Maksudnya mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak dibayangkan ada pada diri pasangan. Hal-hal yang bikin ilfeel. Hal-hal yang bikin emosi. Bentrok-bentrok itu hal yang susah untuk dihindari. Tidak ada manusia yang sempurna.

Tidak ada metode yang bisa membaca masa depan pernikahan 100% akurat. Tidak ada yang menjamin pernikahan akan berjalan mulus. Tidak ada yang menjamin kita akan bahagia jika menikah dengan seseorang yang sesuai kriteria kita pun sesempurna apapun dia memenuhi kriteria kita.

So, jadi saya yang misal eh nemu teman yang sesuai kriteria, tapi kok dia ternyata udah nikah, yaudah gpp. Bisa jadi sama yang tidak sesuai kriteria saya malah cocok ya bisa jadi kan. Saya juga manusia, kriteria yang saya buat untuk diri saya belum tentu 100% pas dengan diri saya juga. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Jadi manusia gausah kekeuh lah. Kayak yang "aku jatuh cinta sama dia, aku harus nikah sama dia." Ya nggak juga, belum tentu nikah dengan orang yang kita jatuh cinta padanya sekarang bahagia loh. Banyak sisi dia yang belum kita ketahui, yang memang tidak akan kita ketahui kecuali dengan menikah dengannya mau riset kayak apapun. Setelah menikah bisa jadi ada sisi yang buat kita duh nggak banget lalu gak cinta lalu pengen pisah. Bisa jadi. Manusia indranya terbatas. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Saya memandang pernikahan juga merupakan proses perkenalan proses saling memahami proses adaptasi yang berkelanjutan. Akan selalu ada kejutan-kejutan dalam pernikahan. So, saya lebih memilih untuk nantinya menikah dengan seseorang yang pertama, menurut saya, saya bisa berusaha menumbuhkan cinta secara berkelanjutan dengannya seumur hidup saya. Kedua, saya siap dengan berbagai kekurangannya, hal-hal yang sebenarnya saya kurang suka namun saya bisa menoleransi hal itu. Kalau kata guru saya kita harus siap menerima kekurangan pasangan, anggap kelebihannya sebagai bonus. Jadi fokus ke kekurangan pasangan untuk bisa diterima sambil berusaha diperbaiki bermasa-masa jika memungkinkan. Bukan fokus ke kelebihannya. Biar bisa lebih bahagia dan tidak berekspektasi terlalu tinggi. Ekspektasi itu bahaya. Apalagi berekspektasi pada manusia.

Coba kalau saya jatuh cinta dengan seseorang lalu tidak jodoh. Itu bisa menjadi hal yang cukup sulit. Move on itu tidak mudah. Padahal orang yang saya jatuh cintai itu belum tentu cocok juga kalau berumah tangga dengan saya. Saya boleh yakin tapi indra saya kan terbatas, saya boleh berpendapat menurut logika dan apalah apalah saya akan bahagia jika hidup bersama dia selamanya. Tapi kan saya manusia. Indra saya terbatas. Pendapat saya lemah. Misteri di depan sana itu sungguh banyak. Kalau gak jodoh ya gak jodoh aja. Simpel. Berserah ajalah sama Tuhan.

Oke, kenapa asmara bisa menghambat jodoh? Ada dua alasan menurut saya. Pertama, asmara bikin seseorang jadi gagal move on. Maunya cuma sama dia eh dianya belum tentu. Udah pacaran lama eh gak jadi nikah. Udah cinta banget eh gak jodoh. Berpotensi membuat seseorang menjadi galon alias gagal move on! Susah deh buka hati buat orang baru yang bisa jadi malah lebih cocok loh berumah tangga sama dia daripada berumahtangga sama orang yang dia cintai setengah mati.

Inilah salah satu alasan kuat saya kenapa saya anti pacaran-pacaran club. Menutup hati kepada banyak orang hanya untuk seseorang yang belum tentu cocok saya saya? Kan males. Pacaran buat senang-senang aja? Buat apa nanti kalau cintanya semakin dalam seiring waktu terus gak jodoh yang ada tetep aja bisa jadi galon. Pacaran buat cari jodoh? Orang pacaran kan minimal salah satu ada yang jatuh cinta. Tandanya sudah terlalu yakin sama pasangannya untuk ingin berumahtangga. Padahal orang sebelum nembak atau nerima apa ada yang riset detail sedetail-detailnya mengenai calon pasangan. Seperti gimana visi misi hidup dia, preferensi dalam segala hal seperti cara mendidik anak, pengelolaan finansial dll.

Enggak kan biasanya orang nembak/nerima cuma karena ya ganteng/cantik, kaya, pinter, berprestasi, dll. Alasan yang terlalu dangkal. Kalau salah satu sudah merasa gak cocok mau cepat atau lambat. Mau dalam hitungan hari, minggu, bulan, atau tahun nanti akan ada yang tersakiti gagal move on (gak enteng jodoh jadinya) karena sudah terlalu yakin dulu cocok berumah tangga dengan seseorang dengan alasan yang cukup dangkal.

Terus misal pun ya sebelum pacaran udah riset segala macemnya, meskipun kayaknya gak ada ya orang cuma mau pacaran aja risetnya detail banget. Terus udah sama-sama mantep dan siap dengan kekurangan calon pasangan serta siap dengan kejutan-kejutan ke depannya, udah istikharah juga, udah minta diistikharah-in sama pak kyai yang doanya tembus langit juga. Lah kenapa cuma pacaran. Kalau udah memutuskan pacaran kan ada keinginan untuk menikah. Sedangkan tidak ada yang menjamin mereka yang pacaran bakal bermuara ke sebuah pernikahan. Kalau risetnya udah dirasa cukup sudah mantep serta siap ya udah sih kenapa gak nikah aja. Tetap dengan komitmen anti cinta-cintaan club sebelum kata sah diresmikan dalam buku nikah. Karena apapun bisa terjadi dan kita harus siap. Jadi kalau nanti ditengah jalan gak jadi bisa jadi banget loh. Ya sudah siap. Siap juga membuka hati untuk yang lain.

Baru, kalau sudah pegang buku nikah. Saatnya ibadah. Saling menyuburkan cinta satu sama lain serta setia. Kata mentor saya, nikah itu ibadah yang paling lama.

Kembali ke laptop, alasan kedua kenapa menurut saya asmara bisa menghambat jodoh adalah karena jatuh cinta sebelum sah bikin kita terlalu cepat yakin. Padahal bisa jadi ada orang lain selain yg kita cintai sebelum sah tsb yg lebih sesuai kriteria, atau lebih cocok. Orang yang kita jatuh cintai juga belum tentu merasa bahwa kita cocok sama dia.

Kalaupun misal saya nanti ketemu dengan orang yang sesuai kriteria dan ternyata saya sesuai kriteria dia juga, ya tidak boleh ada cinta diantara kami sebelum ada status sah di buku nikah. Baru berusaha menyuburkan cinta setelah sah di buku nikah. Satu hal yang harus terus diingat, sebelum sah di buku nikah apapun bisa terjadi. Gak jadi nikah itu bisa banget terjadi, semua yang terjadi di masa depan kan misteri ilahi.

Cuma, kalau udah taaruf. Terus mantep lanjut menikah. Nah, setelah mantep atau masuk ke tahap taaruf yang lebih dalam masing-masing harus menjaga diri untuk tidak membuka hati buat yang lain. Kalau di Islam gitu. Wanita yang dilamar laki-laki, selama belum menjawab atau sudah menjawab ya, tidak boleh didekati laki-laki lain. Kalau sudah sepakat gagal nikah, baru boleh buka hati dengan yang lain. Pengennya sih sekali udah langsung jodoh biar gak capek haha. Pengennyaaa...

Tapi kalau saya santai aja kok. Kalau nyoba taaruf terus jodoh ya disyukuri enggak juga disyukuri. Setidaknya saya sudah dapat pahala dalam usaha untuk menunaikan ibadah nikah kan. Saya tegaskan lagi, saya tidak akan memegang erat lawan taaruf saya kan cuma usaha mencari jodoh yang cocok. Saya harap lawan taaruf saya nanti juga tidak akan memegang erat. Tidak ngarep banget lah. Kan namanya taaruf belum tentu cocok. Jadi enteng gitu menjalaninya. Jodoh alhamdulillah. Gak jodoh juga alhamdulillah, hubungan pertemanannya/persaudarannya jadi tambah erat kan. Jangan sampai lah selesai taarufan kalau gak jadi terus musuhan, hehe. Jangan ada ngarep saat taaruf.

Rabu, 11 September 2019

Pamer Tipe

Usiaku adalah usia dimana bisa bikin orang gatel untuk tanya "Kapan Nikah?" "Tipemu yang kayak gimana sih?" Tapi jarang banget kok yang tanya gitu. Lah calonnya aja belum ada xD. Alhamdulillah ya, pada pengertian. Tapi aku orangnya males kalau ada yang nawarin buat cariin jodoh sih. Kek apa aja gitu rasanya, hehe. Gak suka dijodoh-jodohin toh aku juga santai anaknya. Banyak yang butuh fokusku diluar soal jodoh yang butuh lebih diutamakan untuk dijadiin fokus terlebih dahulu. Masalah jodoh mah masalah kesekian.

Kamu jelek kali jadi gak ada yang ngedeketin. Iya aku memang gak memenuhi standar kecantikan orang-orang. Dan itu gak masalah. Lebih baik ngikuti kata hati sendiri daripada ngikuti kata orang. Mau pilih penampilan kayak apa punya wajah kayak apa suka-suka aku yang penting aku nyaman aku senang aku puas, gak ngerugiin orang lain, aku memutuskan karena diri sendiri bukan karena orang lain. Aku emang gak pernah dideketin orang tapi ya aku malah seneng. Memang itu yang aku mau sih gak pengen di deketin dalam rangka pencarian jodoh. Tapi tetep open for every one buat sekadar berteman asal cocok dan berfaedah. Pengen objektif, lebih memilih pakai logika, kata hati dan petunjuk dari Allah daripada pakai perasaan.

Ya begitulah, usialah yang kemudian membuatku berpikir jodoh yang tak pengenin yang seperti apa sih. Jadi kepikiran, bukan berarti cari yang sempurna tapi lebih cari yang pas, akunya aja banyak kurangnya. Akunya aja cuma begini adanya.

Cuma pengen pamer aja astaghfirullah, kok malah pamer, hehe. Ya cuma sekedar pamer wangsit dari Allah tentang bagaimana jodoh yang aku inginkan. Imajinasi dulu. Bukan berarti 100% harus terpenuhi sih. Ada yang menurutku wajib banget ada di dalam diri jodohku nanti, ada yang gak mutlak harus ada. Namanya manusia, masing-masing unik, tidak ada yang sempurna. Yang penting nanti kalau udah fix milih terus ditakdirkan jadi jodoh ya harus setia. Mau gimanapun keadaannya, sebisa mungkin hubungan dijaga. Saling menjaga. Kecuali ada satu dan lain hal yang bikin harus terpaksa pisah, tapi ya amit2 naudzubillah jangan sampai.

Finansial
Aku bakal lebih melihat kemampuan seseorang dalam menghasilkan uang daripada uang yang dimiliki sekarang. Bisa jadi yang sekarang milyader tahun depan kekayaannya minus, bisa jadi yang sekarang jutawan aja enggak tahun depan jadi milyader. Jadi lebih melihat potensi seseorang daripada apa yang dimiliki sekarang. Tahan banting gak. Pemalas gak. Pinter bikin cari uang gak. Lebih ke kepiawaian cari uang dalam segala keadaan anti gengsi2 club.

Gak malu ngasong kalo memang keadaan mengharuskan ngasong. Gak malu keliatan miskin kalo memang keadaan memaksa seperti itu. Gengsi tidak membuat kaya tapi justru tersiksa. Anti yang suka pamer-pamer, hedon, yang gak suka keliatan kaya aja. Tiap hari kaosan sama sandal jepitan. Gak haus pujian "sukses" dari orang-orang. Suka yang diem-diem pinter ngasilin banyak uang tanpa perlu koar-koar. Kayak Abdurrahman bin Auf. Selalu memiskinkan diri tapi selalu auto kaya, karena memang orangnya pinter cari uang ya mau gimana lagi.

Karakter
Aku suka banget sama orang yang pintar membawa diri, mudah membaur dilingkungan apa aja, cepet nyaman dan cepet bikin lingkungan yang dimasukinnya nyaman sama dia. Tapi gak ganjen. Banyak kan ya orang yang grapyak tapi ganjen suka baperin cewek2, that's a big NO.

Aku kan anaknya susah gitu nyaman dan bikin orang nyaman. Jadi sering merasa bersalah. Pengen berbaur tapi masih harus belajar banyak buat lebih luwes. Jadi jarang berbaur akunya. Pengen punya jodoh yang bisa bikin aku mudah berbaur dimana aja tanpa tergantung sama dia. Jadi bisa ngajarin aku buat jadi luwes kayak dia. Diawal ya bolehlah ditemenin, lama-lama jadi gak harus selalu ditemenin. Kalau harus berbaur sendiri tetap bisa.

Jodohku nanti juga harus banget paham dan sudah terbiasa menerapkan prinsip antarodhi. Jadi nggak fanatik gitu orangnya. Gak gampang judge orang. Lebih suka nambah saudara daripada nambah musuh. Gak sombong. Lebih mementingkan impact dirinya di atas bumi daripada imej dia. Ojo dumeh. Tenggang rasa. Gak suka memaksa. Paham bahwa hidayah itu di tangan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha dengan cara secantik mungkin. Harus juga punya eager untuk ikut serta dalam usaha membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Open mind menganggap wanita itu juga punya otak. Laki-laki memang pemimpin rumah tangga, tapi gak bisa juga bilang wanita waton manut wae. Paham banget sampai ke relung hati bahwa wanita itu punya otak, rasa dan hati. Otak, rasa, dan hati wanita tidak bisa diabaikan begitu saja. Paham juga bahwa dirinya hanya manusia, makhluk ciptaan Tuhan. Jadi selalu membuka diri untuk belajar dan belajar. Terbuka untuk saling bertukar pikiran serta perasaan dengan wanitanya.

Nyambung. Repot juga kan kalau ngobrol seringnya gak nyambung. Bisa emosi tiap hari aku nanti.

Blak-blakan. Komunikasi lancar. Kalo pengen aku kayak gimana ya ngomong aja. Gausah kebanyakan kode-kodean gak jelas. Terbuka juga untuk dapet saran dan kritik dari aku. Jadi jadi lebih baik bareng-bareng. Sama-sama selalu berusaha bikin nyaman satu sama lain. Pasti kan kedepannya ada hal-hal yang gak disuka. Ada hal-hal yang disuka. Ya bilang aja, aku prefer kayak gini, kurang suka yang kayak gitu. Santai terbuka tanpa emosi. Tidak lupa terbiasa selalu mengonfirmasi perasaan satu sama lain. Jangan ada yang dipendem. Biar gak meledak jadi bom atom, bisa hancur mendadak. Naudzubillah.

Bergaya hidup sehat. Kuat olahraga, bisa beladiri. Juga suka makanan sehat tapi tetap antarodhi. Aku kan kalau soal makanan lebih ke impulsif gitu hehe.

ilustrasi: flickr grotos
Cocok. Maksudnya ya memang yang dicari ya manusia kayak aku. Setidaknya bisa menoleransi hal-hal nggak banget yang ada di aku. Bersabar dengan prosesku memperbaiki diri. Bisa menerima hal-hal nggak banget di aku yang bisa jadi sampai akhir hayat ga bisa dihilangkan. Aku manusia yang punya spirit menjadi lebih baik kok. Ada gak sih, haha. Tapi aku bukan tipe orang yang, yang penting dapet jodoh daripada enggak.

Berkeluarga itu bisa bikin kita lebih bahagia atau lebih menderita dari jaman pas masih sendiri. Lebih rawan menderita malah. Jadi kecocokan itu wajib hukumnya. Meskipun gak harus 100% cocoknya. Toleransi dan kompromi bolehlah. Ya namanya manusia, belum tentu apa yang semua yang kita inginkan itu 100% baik untuk kita juga. Allah yang maha tahu, manusia hanya sedikit tahu.

Cocok juga termasuk cocok sama rencana-rencana hidupku ke depan. Aku juga bakal terbuka untuk toleransi dan kompromi. Hanya jelas cara mendidik anak, keuangan, dll dll harus selesai sebelum fix memutuskan untuk berkeluarga. Hal-hal sensitif yang mana rawan menjadi sumber kehancuran bahtera harus diselesaikan diawal sebelum memulai semuanya.

Penampilan
Aku kurang suka sama cowok yang suka pakai kemeja, jas, sama celana bapak2 (yang banyak benik-nya udah gitu ukurannya segede gaban semua). Lebih suka cowok yang kaosan tanpa kerah (bukan kaos bola) dan pakai celana santai. Menurutku cowok itu lebih ganteng kalau tampil casual, kurang ganteng kalau pakai jaket kulit sama cardigan. Kalau outer menurutku cowok lebih ganteng kalo pakai outer selain cardigan, jaket kulit, sama rompi, intinya prefer yang casual, hehe.

Tampang
Bebas sih yang penting agak terawat tapi nggak maho. Kan ada ya, yang kinclong banget tapi kelihatan banget juga maho-nya. Sekali lihat langsung nyesel berasa abis liat penampakan. Kayak wagu gitu kan. Skinkeran dikit tapi tetep lakik. Kayak abimana aryasatya gitu sorot wajahnya lakik gitu tapi tetap bersahabat, gak sombong. Gak terlalu kalem dan manis. Tapi selalu berusaha mempraktekan prinsip antarodhi. Brewokan gpp. Gak harus ganteng, apalagi seganteng abimana, orang akunya aja muka pas2an wkwkwk.

Diluar itu semua jelas 100% lawan jenis, Islam luar dalam, punya kredibilitas, berilmu, punya networking luas berkualitas (atau setidaknya punya potensi untuk punya jaringan luas berkualitas), itu dulu sih. Belum tau kalau nanti atau besok-besok ada perubahan. Ya namanya manusia, kemampuannya serba terbatas. Siapa tahu besok-besok dapat wangsit baru dari Allah SWT siapa yang tahu. Terpenting, besok kalau sudah memutuskan ya jangan enteng bilang pisah, sebisa mungkin jangan pisah. Jangan sampai pisah, aaamiiiiinnnnn.

Minggu, 01 September 2019

Asmara adalah Fitrah

Sudah fitrahnya manusia hidup berpasang-pasangan lalu berketurunan. Itu pada umumnya. Manusia itu unik. Ada juga manusia yang berbeda dengan yang lainnya. Misalnya Maryam ibu dari Nabi Isa. Wanita suci yang mempunyai derajat jauh diatas kita semua, wanita penghuni bumi di zaman ini. Ada juga Rabi'ah Al Adawiyah, seorang muslimah yang amat sangat mencintai Allah, Tuhan semesta alam. Rabi'ah memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya.

Saya manusia biasa. Tidak sehebat Maryam maupun Rabi'ah. Apalagi Bunda Maryam yang sudah disebut sebagai salah satu dari tiga wanita terbaik di muka bumi oleh Allah. Dibandingkan dengan ujung kuku Bunda Maryam pun saya tidak ada apa-apanya. Meskipun keinginan menikah tidak cukup kuat untuk saat ini belum tentu beberapa tahun ke depan keinginan itu tetaplah sama tidak kuatnya.

Pernikahan tidak akan pernah mudah. Tinggal dengan orang lain, secocok apapun pasti akan ada potensi masalah-masalah baru yang akan timbul. Kita mempunyai masalah jodoh kita punya masalah. Masalah tambah banyak.

Belum lagi setelah kehadiran seorang anak. Cinta sepasang suami istri bisa jadi tambah besar. Tapi anak adalah tantangan tersendiri. Mengandung juga pasti bukan hal yang mudah. Sudah mampir berbagai cerita di telinga maupun mata saya betapa tantangan bagi seorang ibu ketika mengandung itu sungguh luar biasa. Secara fisik maupun psikis. Anak membuat keluarga terasa lengkap dan bertambah kebahagiaannya. Namun merawat dan mendidik anak tidak akan pernah mudah.

ilustrasi: Oscar Jettman
Oleh karena itu pernikahan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan sedini mungkin sebenarnya. Bukan dengan mencari cinta atau jatuh cinta sedini mungkin. Ingin memiliki maupun ingin dimiliki terlalu dini justru berbahaya. Apa yang harus dipersiapkan untuk pernikahan sedini mungkin adalah ilmu, skill, mental, dll untuk menghadapi kehidupan rumah tangga yang tidak akan pernah mudah.

Membiasakan diri untuk tidak egois. Membiasakan diri untuk lebih mengerti. Membiasakan diri untuk bekerja keras. Membiasakan diri untuk mandiri. Mencari tahu permasalahan-permasalahan yang bisa saja terjadi dalam rumah tangga serta bagaimana cara mengatasinya. Dan lain lain. Dan lain lain.

Oleh karena itu saya merasa perlu untuk belajar tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga, ilmu parenting dan lain-lain segera. Sampai saat ini saya belum pernah ikut kelas pra nikah sih. Dulu gak tertarik aja. Sekarang juga biasa aja. Cuma nanti berencana mulai ikut kelas-kelas seperti itu setelah serial ASPER selesai.

Saya juga dari dulu tidak tertarik membaca buku-buku tentang pernikahan dan parenting. Sekarang juga belum tertarik. Cuma ada rencana setelah serial ASPER  selesai. Hidup berumah tangga itu tidak mudah. Penting untuk belajar mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku, ilmu-ilmu yang berseliweran dimana-mana serta mengikuti kelas-kelas pra nikah dan parenting. Agar saya lebih siap jika waktunya datang nanti.

Niatnya agar saat sudah nikah saya sudah siap tahan banting. Nikah itu seperti naik roller coaster, saya percaya. Seru nan menegangkan. Mental harus dikuatin dulu, ilmu harus dicukupin dulu. Nikah itu rawan stress. Jadi saya berniat mempersiapkan diri menghadapi pernikahan bukan biar enteng jodoh, bukan biar segera dikasih jodoh. Saya santai soal jodoh. Kecocokan itu amat sangat penting. Hati-hati dan sebagainya itu sangat penting. Karena ketika menikah ridho jodoh saya adalah ridho Allah (selama tidak bertentangan dengan Allah dan Rasulullah SAW tentu). Namun, secocok apapun jodoh saya nantinya, berumah tangga tidak akan pernah mudah. Oleh karena itu berumah tangga adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan segala daya dan upaya. Harus saya pastikan, saya sudah cukup tahan banting sebelum menikah.

Saya harus belajar dari mereka yang sudah berpengalaman. Mereka yang sudah menikah maupun mereka yang memang concern dalam tema rumah tangga. Mereka yang concern dalam tema parenting. Mereka memang tidak sempurna. Karena mereka tidak sempurna. Apalagi saya, haha.

Jadi ketika rumah tangga mereka bermasalah, anak mereka bermasalah itu adalah hal wajar. Bukan berarti saya lalu tidak mau belajar dari mereka. Ilmu saya aja tentang hal itu jauh lebih cetek dari mereka. Mereka punya segudang ilmu, skill, serta kebijaksanaan yang bermanfaat untuk saya.

Rumah tangga atau anak mereka bermasalah? Bisa jadi memang ujian yang diberikan Tuhan kepada mereka jauh lebih berat dibanding kepada manusia pada umumnya. Banyak hal misteri dalam rumah tangga seseorang. Menghakimi apalagi sampai membully serta mencaci hanya akan menambah perpecahan dalam bangsa ini. Banyak hal yang tidak saya tahu. Jadi ya orang yang kelihatan buruk di mata saya belum tentu dia lebih buruk dibanding saya. Banyak hal yang tidak saya tahu. Bisa jadi orang yang lebih buruk di mata saya posisinya jauh lebih tinggi di mata Allah, Tuhan Penguasa Semesta Alam Raya.

Banyak hal tentang diri saya saja banyak hal yang belum saya ketahui. Saya masih terus mencari jati diri. Menyentuh serta melihat langsung semua organ dalam tubuh saya saja saya belum pernah. Bahkan tidak akan pernah, hehe. Yaiyalah serem amat. Banyak misteri dalam diri sendiri yang bahkan tidak akan saya ketahui sampai akhir hayat nanti. Apalagi dalam diri orang lain, rumah tangga orang lain. Tentu lebih banyak lagi yang tidak saya tahu dan tentu saja tidak perlu saya tahu. Selama tidak menganggu orang lain, tidak mengganggu ekosistem di atas bumi ini untuk apa diketahui. Lebih baik memperbaiki diri dari pada sibuk menghakimi orang lain.

Nabi Nuh, anaknya durhaka tidak mau ikut ke dalam kapal. Nabi Adam, anaknya ada yang pembunuh. Nabi Luth, istrinya justru mendukung LGBT sehingga ikut terkena azab dari Allah. Apakah lantas mereka tidak lebih baik dari kita. Tentu saja tidak. Para nabi adalah manusia-manusia utama yang tidak bisa dibandingkan dengan kita para manusia biasa. Jauh bahkan sangat jauh. Ujung kuku Nabi Nuh saja bahkan bisa jadi masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kita para manusia biasa.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Tidak Akan Ada Pernikahan yang 100% Selalu Bahagia

ilustrasi: Free For Commercial Use (FFC)
Adalah too good to be true jika ada pernikahan yang 100% always happily ever after. Terus dipenuhi kebahagiaan nan membuncah mulai dari awal jatuh cinta sampai selamanya~ Sudah sunnatullahnya ya, sudah hukum alam yang namanya hidup itu penuh halang rintang. Kalau enak terus ya namanya bukan hidup, namanya sudah meninggal lalu masuk surga. Kalau sudah divonis Tuhan jadi penghuni surga permanen ya ga mungkin nggak happily ever after. Siapapun berhak jadi penghuni surga mulai dari bayi sampai kakek nenek, mulai dari single sampai yang punya keturunan hingga menjelang kiamat. Bahkan pernikahan tidak menjamin kita masuk surga.

Rumah tangga Rasulullah bukan tanpa masalah. Aisyah RA juga pernah marah. Rasulullah juga manusia. Meskipun begitu, mau bagaimana pun Rasulullah tetaplah manusia paling sempurna dimuka bumi ini. Rasulullah serta beberapa dari sahabatnya telah dijamin masuk surga. Tidak bisa dibandingkan dengan kita. Sehingga ketika ada keluarga yang kita pandang cukup sholeh pakar pernikahan dan sebagainya kok rumah tangganya ada masalah ya wajar saja. Sesempurna apapun keluarga2 yang tampak sempurna di mata kita saat ini tidak ada apa-apanya dibanding kesempurnaan Rasulullah. Mereka belum dijamin masuk surga Rasulullah dijamin masuk surga. Tuhan Maha Tahu atas segalanya.

Secocok apapun jodoh saya nantinya. Saya yakin tidak menjamin pernikahan 100% happily ever after. Pasti ada masalah saya yakin. Nikah dengan manusia terkaya di bumi saat ini pun, tidak menjamin happily ever after. Jeff Bezos salah satu orang yang berulang kali mendapat gelar manusia terkaya di muka bumi pada beberapa periode bahkan rumah tangganya retak. Begitu pula dengan pesohor lain yang bergantian menempati posisi manusia terkaya, rumah tangganya memang utuh. Tapi apakah tidak pernah ada masalah? Pasti ada.

Menikah atau Melajang, Mana yang Lebih Baik?

Kalau aku sendiri sih. Ini juga bisa jadi jawaban orang-orang yang suka tanya kapan nikah? Perlu diketahui, dalam Islam, agama yang aku anut...