FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Jumat, 31 Juli 2015

Melukis Masa Depan

Saya awalnya tidak mempunyai cita-cita yang jelas dan sulit menggambarkan masa depan tetapi semua itu berubah setelah saya menikmati proses berbisnis dagang tas via online. Saya berjualan melalui toko online saya yang bernama Tas Bergaransi. Toko Online Tas Bergaransi yang saya dirikan ini membuat saya yakin untuk tidak akan melamar kerja di suatu perusahaan. Saya yakin total 100% memilih menjadi seorang entrepreneur. Saya yakin dengan masa depan Toko Online Tas Bergaransi, yang selama ini terus bertumbuh.

Sesuai namanya, Toko Online Tas Bergaransi hanya menjual tas yang bergaransi. Saya bekerja sama dengan beberapa produsen tas dari berbagai kota besar di Jawa. Semua merek asli Indonesia. Saat ini banyak orang Indonesia yang memilih membeli tas dengan bermerek dari luar negeri. Padahal banyak produk tas bermerek dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan harga yang lebih murah, bahkan beberapa merek dalam negeri yang bekerjasama dengan Toko Online Tas Bergaransi berani memberikan garansi seumur hidup untuk produknya.


Banyak juga orang Indonesia yang memilih membeli produk berlabel merek luar negeri tetapi kw alias palsu, dengan harga sangat miring namun kualitas jelek. Daripada membeli produk palsu bukankah lebih baik membeli produk asli anak negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan produk bermerek dari luar negeri ditambah lagi harga produk tas bermerek dalam negeri lebih murah dibanding produk tas bermerek dari luar negeri. Salah satu merek yang menjadi supplier saya bahkan produknya jauh lebih laris di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Itu karena orang luar negeri lebih mementingkan kualitas daripada merek sedangkan masih banyak sekali orang Indonesia yang lebih melihat merek daripada melihat kualitas. Mengapa tidak belajar mencintai produk dalam negeri mulai dari produk tas, sepatu, kemudian menyusul berbagai produk dalam negeri lainnya.


Garansi produk yang dijual di Toko Online Tas Bergaransi bermacam-macam, ada yang garansi retur, garansi 6 bulan, garansi 1 tahun, garansi 2 tahun, garansi 3 tahun, & garansi seumur hidup. Setiap merek mempunyai kebijakan garansi yang berbeda-beda. Saya hanya mau bekerja sama dengan merek yang bersedia memberikan garansi produk. Tidak semua tawaran menjualkan produk tas saya terima, saya tidak ingin pelanggan Toko Online Tas Bergaransi kecewa. Jika menemukan produk bagus bahkan saya akan menawarkan diri untuk menjualkan produknya. Sampai saat ini saya sudah bekerjasama dengan 10 merek dalam negeri yang mempunyai produk berkualitas dan bersedia memberikan garansi produk.

Tas yang lebih laris di luar negeri daripada di Indonesia
Mimpi saya untuk Toko Online Tas Bergaransi adalah kelak berbelanja tas di Toko Online Tas Bergaransi akan menjadi kebanggaan tersendiri oleh para pembeli online. Kalau sekarang mungkin seperti punya Iphone. Saya ingin kelak orang-orang kalau beli tas berusaha belinya di Toko Online Tas Bergaransi, karena kualitasnya sudah teruji. Kalau sudah belanja di Toko Online Tas Bergaransi bangga sekali. Kalau beli tas tapi tidak di Toko Online Tas Bergaransi rasanya ada yang kurang.


Bonjour, merek asal Bandung adalah merek tas paling laris di Toko Online Tas Bergaransi

Jika berbicara matriks BCG, Toko Online Tas Bergaransi merupakan sapi perah. Saya akan merawat sapi perah dan mengusahakannya agar segera auto pilot. Saya juga ingin membuka toko kantor kecil Toko Online Tas Bergaransi di Yogyakarta setelah mempunyai dana untuk membiayai karyawan dan lokasi kantornya.

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons
Selain Toko Online Tas Bergaransi saya juga mempunyai bisnis Kaligrafi Aksara Jawa namun sedang vakum. Saya akan fokus menjadikan Toko Online Tas Bergaransi menjadi mesin uang dahulu. Kapan Toko Online Tas Bergaransi bisa disebut sebagai mesin uang? Ketika Toko Online Tas Bergaransi sudah auto pilot dan memberikan keuntungan minimal puluhan juta per bulannya.

Bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya butuh edukasi pasar yang mana biayanya tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga saya memilih untuk fokus memelihara Toko Online Tas Bergaransi dahulu sampai Toko Online Tas Bergaransi mampu menopang pembiayaan yang dibutuhkan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Dalam matriks BCG bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya berada pada kuadran tanda tanya. Dengan menggunakan hasil dari Toko Online Tas Bergaransi ketika sudah auto pilot saya akan merawat bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya hingga masuk ke kuadran bintang pada matriks BCG.


Mengapa bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya tempatkan pada kuadran tanda tanya dan akan saya arahkan bergeser masuk ke kuadran bintang? Karena sampai saat ini belum ada bisnis yang mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa. Saya berniat mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa karena Kaligrafi Aksara Jawa merupakan seni budaya warisan leluhur yang kini hampir punah. Saya ingin melestarikan Kaligrafi Aksara Jawa dengan mengangkatnya sebagai sesuatu yang khas dari Jawa.

Saya mempunyai merek untuk bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Kedua merek tersebut sudah saya daftarkan sejak tahun 2013 lalu, kini menunggu kabar tuntasnya proses pendaftaran merek dari Ditjen HAKI. Merek pertama saya adalah Rikswa, singkatan dari Relief Kaligrafi Aksara Jawa. Produk Rikswa adalah relief Kaligrafi Aksara Jawa yang terbuat dari limbah kertas.


Produk Rikswa sempat saya titipkan di Mirota Batik. Alhamdulillah laku, dan pihak Mirota Batik siap menerima produk Rikswa lagi. Namun karena proses pembuatan Rikswa cukup lama saya tidak lagi titip jual di Mirota Batik. Selain itu saat itu saya belum pandai menentukan harga, sehingga laba yang saya dapatkan dari penjualan Rikswa amat sangat sedikit sekali, tidak sebanding dengan tenaga, pikiran, dan waktu saya dalam proses pembuatannya.


Merek bisnis Kaligrafi Aksara Jawa yang kedua adalah Kalakswa, singkatan dari Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Sementara ini saya hanya punya dua desain Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Nantinya kalau bisnis Kaos Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah siap kembali berjalan tentunya desainnya akan bertambah, menerima pesanan custom juga seperti nama orang, nama instansi, kata ucapan, dsb. Saya juga akan menambah variasi produk, yaitu kaos dengan lukisan tangan Kaos Kaligrafi Aksara Jawa.



Mimpi saya untuk Kalakswa (Kaos Kaligrafi Aksara Jawa) adalah kalakswa akan jadi oleh-oleh wajib bagi siapapun yang berlibur ke Jogja. Mereka bisa pesan Kaligrafi Aksara Jawa nama mereka sebelum sampai di Jogja. Sesampainya di Jogja tinggal ambil kaos custom Kalakswa yang sudah mereka pesan.


 Mimpi saya untuk Rikswa (Relief Kaligrafi Aksara Jawa) sebagai berikut:
1. Setiap rumah di Jogja kelak akan memiliki Rikswa di rumah mereka, seperti halnya Pura yang ada setiap rumah warga Bali yang beragama Hindu. Kalau Kaligrafi Aksara Jawa tentu tidak hanya untuk agama tertentu saja, tapi untuk semuanya.
2. Setiap instansi di Jogja punya versi Kaligrafi Aksara Jawa nama instansi mereka.
3. Setiap instansi  memajang Rikswa di kantor mereka.
4. Setiap hotel memajang Rikswa, minimal satu di ruang utama.
5. Rikswa menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi mereka yang berkunjung ke Jogja. Mereka bisa memesan sebelum ke Jogja dan mengambilnya ketika sudah sampai Jogja.


Jika bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah memberikan keuntungan minimal puluhan juta dan sudah auto pilot, selanjutnya saya ingin membuat komunitas bisnis online untuk anak muda sebagai tempat saya berbagi ilmu secara gratis. Setidaknya saya mulai mencicil bulan ini dengan membuka kelas gratis terbatas untuk kakak saya dan teman-temannya yang sudah lama ingin belajar berjualan online dengan saya. Komunitas ini rencananya saya beri nama “Muda Mandiri High Tech”. Saya sering sedih ketika ada anak muda yang sudah berusia diatas 17 tahun tapi masih suka minta-minta belas kasihan karena kondisi orang tua yang kurang mampu. Hidup hanya bergantung dari para donatur atau beasiswa.

Saya juga kurang setuju dengan anak muda yang marah kalau gagal mendapatkan beasiswa kurang mampu karena justru yang mendapatkan temannya sendiri yang ternyata lebih kaya. Apalagi mereka yang menuntut tersebut anak pintar namun berasal dari keluarga miskin. Menurut saya kalau memang mereka lebih pintar dibanding orang lain, berarti mereka punya potensi untuk mandiri lebih cepat dibanding orang lain.

Saya pernah marah tapi tanpa bersuara kemana-mana ketika mengikuti seleksi beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu (beasiswa yang tidak memandang IPK), dan saya tidak mendapatkannya. Justru teman saya yang jauh lebih kaya yang mendapatkannya. Tapi saya sekarang sudah bertobat. Saya mendapatkan hidayah setelah secara bertahap mengetahui makna mental kaya dan mental pengusaha. Proses masuknya hidaya adalah dengan cara memfollow akun-akun pengusaha sukses, favorit saya adalah Pak Jaya Setiabudi. Sebelum menemukan passion saya, saya rajin mencuci otak saya dengan tweet-tweet beliau.

Foto bersama Pak Jaya Setiabudi pakai handphone Nokia jadul (2013).
Saya ingin anak muda stop menghabiskan energi untuk menuntut. Daripada tenaga, pikiran, dan perasaan lelah karena menuntut beasiswa yang seharusnya diberikan kepada mereka lebih baik tenaga pikiran dan emosinya diarahkan ke hal positif untuk memulai berbagai macam bisnis tanpa modal. Cobalah buka mata, banyak anak muda usia belasan tahun kini berhasil bisnis tanpa modal dan beromset ratusan juta serta punya karyawan.

Saya ingin anak muda terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu segera berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa secepatnya membantu menaikkan taraf hidup orang tua mereka dengan tangan kalian sendiri, bukan dengan donasi atau beasiswa. Tidak harus menunggu lulus kuliah S1, S2, S3 atau mendapatkan pekerjaan mentereng untuk membantu menaikkan taraf hidup orang tua. Jika mereka memang berasal dari keluarga yang hidupnya susah, jika mereka bisa menaikkan taraf hidup orang tua mereka lebih cepat tanpa harus menunggu lulus kuliah atau mendapatkan pekerjaan mentereng kenapa tidak dilakukan.



Bahkan dengan menjadi seorang pengusaha sukses bisa jadi kita justru bisa menjadi pendonasi beasiswa, bukan lagi sebagai penerima beasiswa ketika masih kuliah. Namun juga bukan berarti tidak perlu kuliah atau kalau sudah kuliah harus keluar, karena banyak sekali tawaran modal bisnis untuk mahasiswa, mulai dari dana hibah hingga pinjaman tanpa bunga. Bahkan banyak juga kompetisi bisnis untuk mahasiswa.

Mengenai kompetisi bisnis mahasiswa, yang terjadi sekitar saya adalah para mahasiswa yang mental pengusahanya belum terbentuk & belum matang, mereka menjadikan kompetisi bisnis sebagai wahana menambah deretan gelar juara yang sudah mereka dapatkan. Sehingga ketika ada kompetisi baru, mereka membuat bisnis baru lagi, kompetisi baru bisnis baru, yang lama ditinggal. Bukannya memelihara bisnis yang sudah dimulai justru mengejar gelar juara dalam berbagai kompetisi. Harapannya kelak ketika melamar pekerjaan akan mendapatkan nilai tambah karena mempunyai banyak sertifikat kejuaraan. Berarti belum mantap memilih profesi sebagai pengusaha dong.

Mengapa saya tidak memilih bercita-cita membuka pelatihan untuk para pebisnis mikro yang usianya sudah lanjut, yang usianya sudah diatas 35 tahun atau bahkan yang sudah kakek nenek? Masalahnya, syarat awal menjadi pebisnis yang sukses menurut saya adalah mindset. Susah mengubah mindset mereka yang sudah berumur. Apalagi mengajari hal-hal baru kepada mereka yang sudah berumur, pasti susah. Mengusik kenyamanan mereka yang sebenarnya membuat mereka tidak nyaman (bisnis tidak maju-maju, tarafnya mikro terus sudah belasan tahun hingga puluhan tahun) tentu susah. Mereka yang sudah berusia lanjut sebaiknya istirahat dan menikmati masa tua, menjaga kesehatan, stop berpikir tentang biaya hidup. Biarlah anak cucu mereka yang berpikir untuk mencukupi kebutuhan mereka dan membahagiakan mereka.

Saya tidak ingin ada lagi anak muda, usia sudah diatas 17 tahun mengeluh karena kebutuhan mereka tidak tercukupi akibat orang tua mereka tidak mampu. Stop mengkambinghitamkan orang tua. Merekalah yang sebenarnya menjadi kambing hitam jika hidup keluarga mereka susah. Mereka yang otak dan badannya masih segar yang harus bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga mereka. Lagipula zaman sekarang cari uang untuk anak muda itu mudah sekali. Tinggal tahu bagaimana caranya berjualan online, rekening mereka bakal dinamis, uang jutaan masuk ke rekening setiap bulan bukan lagi sekedar mimpi.

Melalui komunitas “Muda Mandiri High Tech” saya ingin ilmu yang saya bagikan kelak turun temurun dan terus ter-update. Karena teknologi terus berubah, tentu mereka yang muda-lah yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Cara-cara pemasaran baru yang lebih efektif dan efisien. Saya ingin semua yang bergabung dengan komunitas ini mempunyai otot berbagi yang besar. Sehingga semua remaja, muda mudi Indonesia bisa mandiri. Mereka yang mendapatkan ilmu dari komunitas ini mengajak anak muda lainnya untuk membagi ilmu mereka dan kelak yang mendapat ilmu membagi lagi, dapat bagi, dapat bagi, ilmunya tidak harus sama, disesuaikan perkembangan teknologi terbaru.

Setelah Online Shop Tas Bergaransi dan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya settleauto pilot, memberikan passive income yang mencukupi, rutin membiayai komunitas “Muda Mandiri High Tech” dan komunitas “Muda Mandiri High Tech” juga sudah auto pilot,  saya ingin fokus menjadi penulis. Saya ingin jadi penulis setelah semuanya auto pilot karena untuk menulis butuh waktu namun tidak untuk tenaga yang berlebihan. Tidak harus diterbitkan penerbit terkenal, bisa terbitkan sendiri atau membuat web khusus sendiri. Saya sering mempunyai pemikiran-pemikiran yang ingin saya tuliskan namun saya masih ingin fokus untuk memiliki bisnis yang auto pilot. Saya sering mempunyai ide-ide, saya takut jika saya menjadi penulis sekarang bisnis saya jadi tidak terawat.

Saya ingin menghabiskan masa tua saya dengan damai. Menjadi penulis bukan karena uang tapi karena ingin bermanfaat. Saya kelak ingin memakai nama pena agar tetap menjadi unknown person. Menjadi orang terkenal pasti tidaklah mudah dan saya tidak ingin menjadi orang terkenal. Cukup bisnis dan komunitas saya saja yang terkenal tapi saya tidak.

Setelah meninggal saya tidak ingin dikenang sebagai siapa-siapa, tidak ingin nama saya dikenang. Saya tidak ingin gagal masuk surga hanya karena riya' (berbuat baik karena mengharap pujian dari orang, bukan agar mendapat nilai plus di hadapan Allah). Saya pernah mendengar cerita orang dermawan yang gagal masuk surga karena ternyata dia dermawan hanya karena ingin disebut dermawan, dipuji orang-orang di sekitarnya, amalannya tidak untuk Allah. Saya tidak ingin itu saya.


Sepeninggal saya, saya ingin bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech” yang sudah dan nantinya akan saya dirikan tetap eksis hingga akhir zaman. Terus memberikan manfaat pada manusia dan dunia. Tanpa menyebut-nyebut nama saya sebagai pendiri. Saya ingin sepeninggal saya, saya dilupakan, cukuplah bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech”  terus memberikan manfaat hingga akhir zaman.

Minggu, 05 Juli 2015

Kue Tai Kucing

*Peringatan*
Aku tidak tahu postingan ini bakal membuat pembaca ngiler, ngeces, atau malah tidak doyan makan setelah baca ini, hehe ^^v

Waktu ke Banyuwangi aku baru tahu kalau makanan khas disana adalah bagiak. Pertama aku dengarnya bakiak, “itu kan mainan,” sahutku waktu dikasih tahu mbak irum. “Pake G ga pake K,” terang mbak irum. “Ohhh..” Waktu itu aku belum ada bayangan bentuknya kayak apa.

Baru Senin pagi, 1 Juni 2015 aku lihat belanjaan ibu, bulik, dan budheku. Ternyata bagiak bentuknya seperti itu. Entah kenapa sejak kecil seingetku itu namanya bukan bagiak tapi kue tai kucing. Tapi kenapa yang merespon kalau bagiak itu mirip kue tai kucing cuma aku ya. Mungkin ibuku juga menganggap mirip kue tai kucing tapi diam aja. Mirip tai kucing kalau kering. Rasanya juga mirip sama kue yang sejak kecil kuanggap kue tai kucing. Tapi enak kok, aku juga suka J

Sumber: https://jualkuekeringlebaranonline.files.wordpress.com/2014/07/bakiak.jpg

 Pulang sampai rumah, 2 Juni 2015, mbak dini lihat oleh-oleh yang kami bawa. “Lho kui kan tai kucing,” kata mbak dini. “Udu, iki bagiak, kue khas Banyuwangi, bedo karo tai kucing, tapi cen mirip,” jawabku. “Kui tai kucing yo,” mbak dini ngeyel. Padahal di bungkusnya sudah tertulis jelas “Bagiak, oleh-oleh khas Banyuwangi.”

Kenapa yang menganggap bagiak mirip tai kucing cuma aku ya, serombongan kemarin, aku penasaran. Aku pun memutuskan untuk googling. Apakah orang lain juga menganggap bagiak itu mirip kue tai kucing? Soalnya keluargaku suka punya istilah sendiri soal dunia makanan yang berbeda dengan orang lain. Misalnya sayur gori  gudheg yang bapakku  sebut daging kebo. Baru setelah agak gede aku baru sadar kalau orang lain tidak ada yang menyebut sayur gori gudheg itu daging kebo. Sama istilah poci untuk angkringan, bapakku kalau menyebut angkringan itu poci, aku ya ikut-ikutan lha hidup sejak kecil juga sama orang tua, hehe. Setelah agak gede baru sadar kalau orang lain tidak pada menyebut angkringan itu poci.

Kembali ke bahasan utama, hehe
Setelah googling, ternyata tidak ada yang menganggap bagiak itu mirip tai kucing. Dan kue tai kucing yang dianggap orang-orang itu ternyata:
1.       Ada yang menganggap kue tai kucing = kue lidah kucing. Setahuku sejak kecil sih jelas beda. Kue lidah kucing tidak ada mirip-miripnya dengan tai kucing yang kering maupun basah.
Sumber: dapursaja.blogspot.com

2.       Beberapa ada yang menyebut kue tai kucing itu... Susah sih mendefinisikannya dengan kata-kata. Tapi, aku lebih lihat ke fotonya sih. Mirip tai kucing yang masih basah bentuknya.
Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/55232bc46208816d698b456d/?ref=postlist-113&med=hot_thread
3.       Ada yang bilang kue putri salju = kue tai kucing. Setahuku selama ini tidak ada kue putri salju yang bentuk dan penampakannya mirip tai kucing. Kok ya ada ya yang bilang kue putri salju = kue tai kucing?
Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/541bc111a4cb177d058b4569/?ref=postlist-243&med=hot_thread

Ternyata tidak ada gambar yang menunjukkan kue tai kucing itu bentuknya mirip tai kucing yang kering. Tidak ada yang menganggap bagiak mirip kue tai kucing. Kecuali aku, mbak dini, entah sama siapa lagi. Kalau menurut pembaca kue tai kucing itu yang seperti apa? Boleh dong dishare url gambarnya, depannya pakai embel-embel kue loh yaa... Jangan kasih gambar yang di depannya tidak ada embel-embel kue -nya, hehe

Kamis, 25 Juni 2015

Sarapan Pagi di Pasar Gede Banyuwangi


Sampai di Pasar Gede Banyuwangi, penjualnya tidak sebanyak di Pasar Beringharjo

Nyari yang kuah-kuah, eh ternyata tidak ada yang jual bakso sama mie ayam, kalau ingin yang kuah-kuah ya makan soto. Ini dapat warung Soto Surabaya, tapi campur model Banyuwangi juga, jadi ada telur rebus, kentang goreng, koya, dan porsinya super jumbo. Kata penjualnya emang standar porsinya segitu udah biasa. Ternyata standar porsi orang Jogja termasuk dikit banget ya. Aku dulu kalau di SMA sampai sore suka makan siang di angkringan cuma beli nasi kucing 1 bungkus sudah cukup. 

Waktu mau naik sama turun dari line 1 dalam rangka ke Pasar Gede Banyuwangi tidak bisa memfoto ini line 1. Alhamdulillah waktu di Stasiun mau pulang ke Jogja bisa dapat penampakan line ini, jadi ada dokumentasinya deh :D.

Ing Pelabuhan

Judul postingan kali ini terinspirasi dari lagunya Didi Kempot yang reff nya diawali "Ing Pelabuhan" Gara-gara sering tidak sengaja dengar lagu itu, hahaha



Jadi, Sabtu malam tanggal 30 Mei 2015 kemarin aku baru saja sampai di Banyuwangi setelah duduk seharian lamanya di dalam kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kebayang capeknya kan, tapi aku tidak akan bahas tentang itu. Perjalanan ini sudah direncanakan jauh berbulan-bulan lamanya sejak awal tahun seingatku, dalam rangka hadir dalam acara ngunduh mantu saudaraku. Karena bertepatan dengan long weekend, rencananya juga mau sekalian nyebrang ke Bali main-main bentar... Tapi rencana tetap rencana, bisa menjadi kenyataan bisa juga hanya tinggal rencana.

Awalnya mau sewa 2 mobil buat ke Bali. Tapi rencana itu dibatalkan! Hmm... sedih jelas. Yaelah sudah capek-capek duduk 13 jam lebih di kereta ekonomi dari Jogja sampai di Banyuwangi tidak jadi main ke Bali. Akhirnya diputuskan yang ke Bali hanya keluarga Mbak Irum + Dea & Yasin + siapa lagi aku kurang tahu waktu itu. Mereka ke Bali dalam rangka menjemput Adib putra Mbak Irum yang besok pagi mendarat di Bali dari Tangerang, sekalian main bentar di Bali tentunya... Pengennnnn :'(

Gagal deh rencana jalan-jalan ke Bali sama ibuku. Mumpung sekalian gitu, jadi biayanya lebih murah, hehe. Meskipun sedih, tapi aku masih berharap bisa ikutan ke Bali. Siapa tahu aja besok pagi aku diajakin ke Bali karena masih ada tempat duduk di mobil #ngarep.com. Pokoknya besok harus bangun pagi-pagi banget sambil setrika baju-baju yang kubawa. Semoga aja ditawarin ikut ke Bali, hahaha

Minggu, 31 Mei 2015, Pagi-pagi buta
Namanya juga tidak di rumah sendiri, ya susah kalau mau tidur nyenyak. Alhamdulillah, meskipun semalaman aku tidur paling akhir diantara yang lain, paginya aku bisa bangun paling awal. Mulai lah aku setrika baju-baju yang aku bawa, sambil berharap nanti aku diajakin ke Bali sama rombongan Mbak Irum. Soalnya kemarin malam aku dengar mereka jam 5 pagi sudah harus siap berangkat. Toh aku tidurnya, setrikanya juga di dekat Dea sama Yasin, kalau mereka mau berangkat aku pasti tahu to, bahahah

Satu demi satu bajuku sudah aku setrika. Ndilalah Lik Inah bangun, lihat aku setrika, trus titip baju satu deh. Ya Allah semoga aku cuma dititipin baju satu aja buat disetrika, jangan sampai aku jadi petugas laundry disini :|. Eh belum habis baju-bajuku disetrika, Mbak Maming (ibunya Dea sama Yasin) nyuruh dua putrinya buat mandi, soalnya mau ke Bali. Ya Tuhan, aku juga pengen mandi, biar kalau diajakin ikut ke Bali juga sudah siap #masihngarep. Tapi bajuku belum selesai aku setrika #huwaaaa

Masih ngantuk, Dea sama Yasin tidak segera masuk-masuk ke kamar mandi. Baju yang harus ke setrika sudah tinggal dikit. Tiba-tiba datang Mas Iyat dari rumah sebelah. Ya, ternyata rombongan yang mau ke Bali terdiri dari: Keluarga Mbak Irum (3 orang + Adib, jadi 4), Keluarga Mas Iyat (2 orang, Mas Iyat + Vira), Dea & Yasin. Kapasitas mobil maksimal 8 orang.

Ternyata Vira, putri Mas Iyat tidak mau diajak ke Bali, akhirnya Mas Iyat tidak jadi ikut ke Bali. So, mobil masih muat untuk 2 orang lagi. Ya, Mas Iyat datang buat menawarkan space 2 orang ke para ibu-ibu yang ada. Karena yang ditawari para ibu-ibu jadi aku ya diam aja sambil menyelesaikan setrikaanku. Padahal dalam hati aku njerit-njerit "Mauuuuuuu...." Tapi ya sekadar jeritan dalam hati, hiks

Entah keberuntungan macam apa ini, tidak ada yang mau gantiin Mas Iyat dan Vira. Sedangkan si Agung, sepupuku yang juga sebelumnya pengen ikutan ke Bali masih mimpi indah. Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh di Banyuwangi saja. Sampai akhirnya keluarlah hitungan ongkos Mas Iyat. Kalau satu mobil tidak diisi 8 orang, nanti bayarnya jadi lebih mahal, kalau diisi 8 orang kan jadi lebih hemat sesuai perkiraan awal. Mbak Maming pun menyahut, "Ya sudah nanti kita tanggung bersama." Yah rugi dong, ikut bayar ongkos ke Bali tapi tidak ikutan main ke sana. Akhirnya aku langsung bilang, "Aku mau ikut!"

Ya Tuhan, akhirnya tidak sia-sia aku duduk 13 jam lebih di kereta api dari Jogja sampai Banyuwangi, hahaha.. Meskipun sedih juga karena ibuku lebih memilih acara belanja oleh-oleh di Banyuwangi sama bulik-bulikku dibanding ke Bali sama aku, hiks.. + yang gantiin Mas Iyat & Vira cuma aku. Ya gapapa lah dari pada tidak jadi ikut ke Bali kan? :D

Permasalahan pun selesai, tidak ada yang harus ikut nanggung ongkos ke Bali tanpa ikutan main ke Bali + aku jadi ikut ke Bali! Yeay! Habis itu aku langsung mandi, sholat Shubuh, menyiapkan tas yang mau dibawa ke Bali. Tapi... ternyata aku lupa bawa memori card buat kameraku! Lengkaplah sudah, tongsis rusak + bawa kamera, baterai, charger, tapi tidak bawa kartu memori, hiks. Tak apalah masih ada hp dengan mega piksel seadanya + kamera digital punya Dea, hahaha

Pagi itu Desa Tukangkayu Banyuwangi hujan rintik-rintik. Sebelum berangkat kami mampir dulu ke rumah Mbak Yani, tuan rumah yang akan menggelar hajatan ngunduh mantu besok Senin. Setelah pamit ke Mbak Yani, kami pun naik mobil otw ke Bali, hujan masih rintik-rintik. Aku kira Banyuwangi beda dengan Jogja, Mei masih sering hujan. Ternyata tidak, kata Pak Sopir mobil sewaan, kemarin-kemarin Banyuwangi panas, entah kenapa tadi malam dan pagi ini hujan.



Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Pelabuhan Gilimanuk. Aku yang baru pertama kali lihat pelabuhan langsung hebring. Foto-foto pemandangan sekitar dengan gadget seadanya + kemampuan ala kadarnya. Ya, aku kurang tertarik mendalami fotografi, tapi kalau pergi-pergi aku selalu ingin foto-foto apa yang menarik buatku. Cuma ingin loh ya, kadang ya sekedar ingin saja tidak semua yang ingin aku foto akhirnya aku foto. Apa yang menggerakkan aku buat foto-foto ya biasanya karena ingat blog. Setiap dapat pengalaman apa atau pergi ingin mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya dan semua diceritakan di blog, haha. Pada prakteknya, yang di foto cuma sedikit dan tidak kunjung diceritakan di blog ^^v

Tapi, sejak jalan-jalan yang ini aku mau bertekad untuk harus memfoto semua yang ingin aku foto. Tekadku sudah bulat, namun sayangnya tidak didukung dengan kapasitas baterai hp,kamera, & powerbank yang memadai, sehingga kalau tidak penting-penting banget aku tidak bakal foto-foto. Jangan sampai nanti tidak bisa memfoto objek yang paling menarik selama perjalanan gara-gara dikit-dikit foto dikit-dikit foto (wkwkwkwk saktenane podo wae dadi raiso koleksi foto-foto sepuasnya :( )

Yowislah, ini awalnya aku cuma mau upload foto-foto di pelabuhan dan selama di kapal aja. Tapi ya dasarnya aku dikit-dikit ingin cerita di blog, ya seperti inilah jadinya.. Teteeeppppp cerita panjaaannnngggg dan leeebaaaaaarrrrrr hahahah ^^v

by Dea

 


Sandal jepit swallow yg selalu menemani sepanjang perjalanan


Sayangnya aku lupa ngeset kamera ke mode sunrise, jadi hasilnya tidak ada warna oranye-oranyenya. Waktu di Tanah Lot juga sudah mendekati sunset, tapi lagi-lagi aku lupa ngeset kamera, jadi tidak ada warna oranye-oranyenya jugaaa :'(.

Maaf kalau bahasanya agak gimana gitu, soalnya baru belajar membiasakan diri blogging menggunakan bahasa yang baku. :')

Rabu, 14 Januari 2015

Membuat Blog Go International Tanpa Skill Bahasa Inggris

Kalo ngeblog buat seneng-seneng aja, rasanya males banget pake bahasa baku. Enaknya ya pakai bahasa yang kita pakai sehari-hari, ya gak? Toh blogger banyak yang gak pake bahasa baku tapi blog mereka tetep laris manis, rangking alexa-nya bagus.

Iya, sekarang tujuanku nge blog ya buat seneng-seneng aja. Seriiinngggg banget dikit-dikit pengen cerita di blog, dikit-dikit pengen share di blog. Pokoknya apa-apa pengen diceritain, pengen dishare. Karna udah pengen, kalo keturutan ya akhirnya jadi merasa lebih lega.

sumber gambar: wikipedia.org
Tapi suatu saat aku pernah nyoba translate blog-ku pake widget Google Translate yang udah tak pasang. Dan hasilnya taraaaa…. Gak karuan!! Banyak kata-kata yang gak baku gak bisa tertranslate. Mending kalo ditranslate ke Bahasa Inggris, meskipun banyak yang gak ketranslate tapi kan gak gitu keliatan soalnya tulisan latin semua. Nah, kalo dicoba ditranslate ke tulisan China. Kata-kata yang gak baku otomatis menonjol tetap berdiri tegak diantara tulisan-tulisan China di kanan-kirinya.

Ternyata selama ini aku pasang widget translate gak gitu berguna. Soalnya seingetku kebanyakan artikel yang ada di blog ini menggunakan Bahasa Indonesia yang gak baku. Kalo liat di statistik kadang ada traffic dari luar negri. Tapi kalo mereka baca/translate artikel-artikelku yang gak pake bahasa baku, ya agak percuma gitu. Lah gak semua ketranslate. Apa mungkin mereka mau balik mampir ke blog ini lagi? Orang yang orang Indonesia yang paham kata-kata Bahasa Indonesia yang gak baku aja belum tentu mau kesini lagi, hehe

Yaudahlah, tapi mau hapus widget translate sayang (padahal yo widget gratisan bawaan dari google, hapus ya gampang banget tinggal hapus). Mau pake Bahasa Baku juga rasanya jadi kurang nyantai, ini blog kan cuma buat asik-asik aja. Enaknya waktu nulis ya kayak pas ngobrol sama temen aja. Coba bayangin, tiap ngobrol sama temen kamu harus pake bahasa baku, kebayang kan anehnya? Kaku banget, membosankan, dan nggak lepas.

Tapi ya itu, kalo tetep pake Bahasa yang gak baku ya blog ini pembacanya jadi terbatas. Kecuali bikin artikelnya dengan Bahasa Inggris. Lah, aku belum pede buat bikin artikel full Bahasa Inggris.

Mmm.. akhirnya utk sementara ini mungkin aku kayaknya gak ninggalin begitu aja Bahasa sehari-hari (yang gak baku) buat bikin artikel blog. Gak menutup kemungkinan juga sih kalo ntar bakal ada beberapa artikel juga yang pake bahasa baku full.

Inti dari artikel ini:

Menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku menyebabkan artikel di blog tidak bisa ditranslate dengan baik oleh Google Translate.

Bahasa yang baku saja bisa diterjemahkan dengan kurang sesuai, apalagi tidak baku.

Bahasa yang tidak baku tidak fleksibel berubah-ubah Bahasa.

Padahal blog kita sangat mungkin dikunjungi visitor dari berbagai negara yang bahasanya berbeda.

Blog kita pun akhirnya menjadi susah go international.
Rugi banget, kan.

Netizen luar negri jadi malas baca blog kita, karena isinya kurang bisa dipahami, kata-kata yang ada banyak yang tidak bisa diterjemahkan menggunakan Online Translator semacam Google Translate.

Jika kita sudah banyak artikel di blog kita yang menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku, maka saat kita tobat ingin menggunakan Bahasa Indonesia yang baku maka kita akan kesulitan mengedit artikel-artikel yang sudah terlanjur menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku. *ini kalimat apa kereta? panjang banget* *mungkin kalimat ini juga tidak baku karena terlalu panjang*

Tapi karena saya posting di blog buat asik-asik aja, ya tidak menutup kemunginan saya masih akan menggunakan bahasa yang tidak baku untuk artikel tertentu atau kebanyakan artikel yang akan saya posting di blog.

~ Sekian dan Terimakasih ~
***************************

Selasa, 13 Januari 2015

Mencari Nasi Thiwul #3


Kalau penasaran sama perburuan nasi thiwul sebelumnya bisa baca disini >> Mencari Nasi Thiwul #1 dan #2
Halo halo 2015.. masih suasana tahun baru aja ya.. tapi akunya masih suka kasih cerita lama.. soalnya aku masih punya utang serial perburuan nasi thiwul yang belum selesai, hehe
Selain itu, twitku ke akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum di 1 April 2014 belum lama ini baru dibales sama miminnya tepatnya baru dibales tgl 7 Januari 2015!! :O Syukur alhamdulillah sih, daripada gak dibales hayoo..
berburu nasi thiwul partthree
berburu nasi thiwul partthree.
Pumpung inget segera bikin terusan serialnya ah.
****
Setelah denger penjelasan mbak-mbak Gatot Thiwul Yu Tum yang angkat telponku, aku punya banyangan kalo cabang Gathot Thiwul di Jln. Wonosari itu jelas masih jauh dari Kids Fun. Tapi kalo dari Pasar Piyungan gak jauh-jauh amat lah. Seenggaknya gak sampai bukit Indah yang selalu keliatan kalau kita berkendara di Jln. Wonosari ke arah timur. Paling ya ada naik turun tapi gak seekstrim waktu aku ke Gunung Kidul jaman SMA dulu (naik bis). Padahal mbak yg angkat telponku udah bilang kalo ntar lewat Bukit Pathuk. Tapi kan aku belum tau Bukit Pathuk itu mana. Entah kenapa bayanganku perjalanan kesana gak jauh beda kalo ke daerah Jln. Wonosari sekitaran Kids Fun/Pasar Piyungan. Ya itu karna waktu itu aku masih ngerasa kalo Pasar Piyungan itu jauhnya gak ketulungan.
Aku yakin banget sama bayanganku itu. Terus aku pun berangkat naik motor sama ibuku. Pagi-pagi. Soalnya pake motor mbakku dan motor mbakku mau dipake jemput anaknya habis jum’atan. Tidak lupa mampir rumah bulikku di deket Kids Fun.
Reaksi Bulik sama Omku pun kayak gini. “Kendel banget kowe Fen,” “Irung Petruk lewat loh, isih adoh. Aku ndhisik kerep rono, adoh banget,” dsb. Akhirnya bermuara kepada saran biar aku sama ibuku naik bis. “Numpak bis wae, paling kur 15 ewu.” “Iyo numpak bis wae piye?” tanya Ibuku. Aku pun mbathin segitunya ya. Mmm.. gimana yaa..
Naik bis 15rb per orang. 2 orang 30rb. Bolak balik 60rb. Buset mahal banget. Belum kalo dari tempat turun bis masih jalan jauh. Naik bis lagi, turun lagi, jalan lagi. Kalo naik taksi/becak/ojek jelas mahal. Apalagi kalo skripsi kan harus bolak balik kesana. Habis berapa sendiri coba cuma buat transport. Hmmm…
Akhirnya coba dulu deh naik motor. Orang tua kan suka over ya khawatirnya. Apalagi sama anak perempuan. Coba dulu pake motor kan gak ada salahnya. Wong aku jaman SMA pernah ke Solo naik motor sama mbak Ajeng, akunya cuma mbonceng sih. Tapi kan mbak Ajeng perempuan, dan nyatanya bisa sampai Solo dengan selamat :p
Setelah aku tetap memutuskan buat naik motor, Bulik sama Omku ngasih wejangan. “Ati-ati,” “Alon-alon wae,” “Gigi 2 wae,” kata Bulikku. “Gigi 3 yo rapopo,” kata Paklikku. Aku pun nggah nggih aja.
Dan perjalanan pun dimulai. Kids Fun lewat, Pasar Piyungan lewat. Sampai pertigaan jalan Jogja-Piyungan bukit Indah yang selalu terlihat selama perjalanan tampak semakin dekat. Tapi ya tak kira masih jauh, wong aku belum nemu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5.
Ealah lurus dari pertigaan itu kok ya, bukit Indah yg selalu keliatan itu tampak makin dekat. Dan tiba-tiba jalannya udah super nanjak!! Aku syok. Cuma kaget aja sih, hehe Gak ngira secepet ini masuk zona bukit Indah yang tadinya nampak sangat amat jauh. Eh ternyata gak terlalu jauh dari Pasar Piyungan.
Ibuku jelas langsung wanti-wanti, “Alon-alon wae.” Iya aku alon-alon, tapi makin masuk bukit, tips gigi 2 atau gigi 3 dari Bulik sama Omku kok ya gak pas ya.. Kalo naik motor itu emang masing-masing, si A enaknya gini si B belum tentu sama. Soal gigi fleksibel lah, gak jarang masuk gigi 4 juga. Tapi ya namanya baru pertama kali naik motor di daerah kayak gini ya kecepatan sekitar 30-50 km/jam. Lebih sering 40km/jam deh kayaknya pas itu.
Hutan demi hutan dilewati, tiap ada yang bentuk agak mirip toko atau rumah makan agak dicermati, itu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari bukan. Lumayan sih, beberapa kali dapet bonus pemandangan indah di bawah sana. Sempet kepikiran juga kalo misal kehabisan bensin atau ban bocor di jalan kayak gini bahaya, lah langka pom bensin, orang jual bensin, sama tambal ban. Kebanyakan hutan-hutan gitu. Bisa-bisa menderita nuntun motor naik turun sampe jauh. Kalo mau lewat sini bensin harus diisi banyak dan cek ban. Pantes kalo Bulik sama Omku agak lebay gitu waktu tau aku mau ke Jln. Wonosari, Siyono.
Setelah melaju cukup jauuuuhhhhh…. dan laaammmmmaaaa… akhirnya sampai juga di dekat kantor “GCD FM, Bukit Pathuk Gunungkidul ning ning nang nung” –musik khas di tag line ini radio sejak jaman aku masih SD yg bener-bener nampol diingatan. Masa sih sampe sejauh ini belum sampe juga. Jangan-jangan kelewatan. Lurus dikit dari GCD FM aku tanya sama ibu-ibu di depan kantor sebuah bank (agak lupa, kalo gak BPD ya BRI). Aku tanya alamat Gatot Thiwul Yu Tum, Jln. Wonosari KM 3,5 Siyono. Tau gak jawaban ibu itu? “Tasih tebih, lurussss…. terussss…. mengkeh wonten air mancur, niku Siyono.” What? Ini udah jauh banget, okelah kalo begitu.
Naik motor pelan-pelan, dan ngikuti jalan nasional. Pokoknya jauuuhhh… bangettttt… perasaanku waktu itu. Sampai akhirnya aku dan ibuku nemu Gathot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5 Yogyakarta. Hmmm… ini sih udah Gunungkidul bangetttt… Alamat yg ada di web bener-bener php. Kenapa utk cabang ini gak dikasih akhiran Gunungkidul? Kenapa cuma dikasih akhiran Yogyakarta? Mana ada yang bikin denah super duper ngawur di Google Map lagi.
alamat-yu-tum-di-webnya_thumb2
Sudah, sudah. Syukur alhamdulillah sekarang udah nemu kan? Jadi bisa ngerasain naik motor di depan jarak jauh kan? Jadi gak kuper kan, mainnya cuma di Jogja bawah sana dan sekitarnya. Ya ya ya. Alhamdulillah :D Akhirnyaaa….
Wajah udah berseri-seri. Saatnya makan nasi thiwul nih, haha. Tengok depan belakang gak ada kendaraan mau lewat. Langsung nyebrang deh, ke cabang I Gatot Thiwul Yu Tum di kanan jalan sana.
Terus bilang deh sama mbak-mbak yg jaga. Mau beli nasi thiwul mbak, kalo ada yang instan juga boleh, tapi yang tawar, jadi bisa dimakan sama lauk pauk dan sayur. E tapi… ternyata disitu cuma jual yang camilan.. gak jual nasi thiwul dan lauk pauk :| “Yang ada tempat makannya di Gatot Thiwul Yu Tum pusat mbak” Yaelah sama aja. Kenapa aku dulu bahagia banget waktu tau ada Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari. Ya gpp kan, banyak orang mencari kebahagiaan, kenapa nyesel pernah bahagia? Meskipun berujung nggonduk, kecele’,  dan merasa di php sama petunjuk keberadaan Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari yg ada di internet.
Mbaknya pun ngasih ancer-ancer kesini kesana gitu lah. Katanya gak jauh dari sini. Aku sama ibuku pun melanjutkan perjalanan. Gak lama kemudian kami pun melewati gapura besar “Selamat Datang di “Kota” Wonosari” deket banget Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari sama gerbang masuk “Kota” Wonosari ini.
Pemandagan pun berubah, gak lagi hutan hutan dan hutan. Tapi banyak toko, dan lumayan ramai. Dulu sempat aneh sama sebutan “Kota” utk sebuah ibukota “Kabupaten” Ya sekarang aku jadi mengerti. “Kota di dalam Desa” itu memang ada. Memang susah utk nyebut Wonosari aja tanpa “kota” setelah melewati hutan-hutan belantara dan menemukan keramaian kayak gini. Jalanannya juga landai gak naik turun. Otomatis aja keluar kalimat: “Yeay, sudah sampe kota” Meskipun ya “Kota” Wonosari masih kalah ramai sama Kota yang beneran Kota.
Lurus dikit aku nemu air mancur gede di tengah Jalan. Oalah.. yang dimaksud ibu tadi ini tho. Lurus terus nemu alun-alun Wonosari. Aku pun belok kiri dan tanya lagi ancer-ancer ke Gatot Thiwul Yu Tum pusat sama pedagang kelontong di dekat alun-alun. Ternyata Gatot Thiwul Yu Tum terkenal disini. Aku pun dikasih ancer-ancer, dan akhirnya aku sama Ibuku sampai di depan Gatot Thiwul Yu Tum Pusat. Yeay *berhasil berhasil berhasil horreeee *ala dora
Wajah pun sumringah.. Setelah masuk, aku pun bilang mau beli nasi thiwul. Ternyata eh ternyata.. “Kalau mau nasi thiwul nunggu dulu dibikin mbak, sekitar setengah jam, ini yang ada nasi putih sama nasi merah..”
Karena motornya keburu dipake njemput anaknya mbakku abis jum’atan dan jam sudah menunjukkan pukul 10.00 akhirnya aku pun milih beli nasi merah pake lauk pauk sama sayur. Sambil nunggu saijan untungnya mbakku telpon, terus aku jelasin aja kalo aku di Wonosari yang nunjauh banget banget dari Jogja, gak seperti bayangaku di awal. Kayaknya gak mungkin kekejar waktunya buat balikin motor dia buat njemput anaknya. Agak merasa bersalah sih, tapi kan ada motor suaminya alias kakak iparku, jadi ponakanku gak mungkin terlantar lah..
Aku juga tidak lupa tanya-tanya ke mbak penunggunya. Seberapa banyak orang yang beli nasi thiwul dalam sehari, hari biasa dan hari libur. Kira-kira memadai gak buat dijadiin respoden. Ternyata yang beli nasi thiwul itu jarang banget. Jadi Gatot Thiwul Yu Tum pusat gak selalu menyediakan nasi thiwul. Kalo mau ya bakal dibikinin, tapi ya agak lama.
Setelah makan dan beli cemilan thiwul aku sama ibuku pun pulang. Tentunya dengan hati-hati, pelan-pelan..
Aku sama ibuku pun mengambil kesimpulan. Emang sebaiknya naik motor, gak naik bis. Soalnya Gatot Thiwul Yu Tum Pusat masih jauh dari jalan yg dilewatin Bis Jogja-Wonosari. Toh ini pake motor selamet-selamet aja..
Dan aku menyadari betapa katroknya diriku yang baru pertama kali naik motor di depan dengan perjalanan sejauh ini dengan medan naik turun-naik turun diatas bukit. Bagiku jauh, tapi bagi banyak orang lain yang udah terbiasa ya deket kali yaa.. Contohnya bos blog mblusuk.com, Mas Wijna and the gank biasa main ke Gunungkidul naik sepeda, bahkan beberapa kali sampe pantai yang makin jauh lagi..
Alhamdulillah jadi tambah pengalaman, dan tau kalo bukit indah yg selalu keliatan dari Jogja kalo berkendara di Jln Wonosari itu namanya Bukit Pathuk. Dan irung petruk itu ternyata deket banget. Tiap mau ke Pantai Gunungkidul kan jalan yang dihebohin orang-orang itu irung petruk. Kalo udah mau nyampe irung Petruk itu pada heboh. Jadi tak kira itu kalo udah nyampe irung Petruk berarti Pantai dah dekat. Ternyata gak, jangankan pantai, dari Wonosari aja jauuuuhhhh.. bangetttttt….
E tapi aku tau tentang irung petruk itu deket setelah browsing2 sih, dan ternyata irung petruk sudah gak ada karena jalannya udah diperbaiki jadi belokannya gak gitu curam. Kalo menurutku sih belokan-belokan yang ada di Bukit Pathuk tetep aja banyak yg curam, hehe
Sayangnya aku masih gagal nyicip nasi thiwul ya, di perjalanan ketiga ini.. So, ceritanya masih bersambung. Di perjalanan selanjutnya aku hunting nasi thiwul bareng mbakku ^^

Kamis, 08 Januari 2015

Mendadak Diteriaki Orang di Jalan

Halo 2015, halo teman-teman, akhirnya aku bikin juga postingan pertama di 2015, hehe


Pengen nulis, tapi yang singkat aja. Aku cerita pengalamanku beberapa tahun yang lalu aja ya, waktu aku masih aktif kuliah. Sekarang masih mahasiswa sih, tinggal skripsi aja t̶a̶p̶i̶ ̶g̶a̶k̶ ̶t̶a̶k̶ ̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶-̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶i̶n̶



Ceritanya itu dimulai pada suatu siang hari yang cerah. Aku berencana buat pergi kemana aku lupa, kayaknya sih ke perpusda soalnya rutenya melewati Tugu Jogja dan rumahku di deket UNY. Yaudah, anggap aja mau ke perpusda ya, hehe #maksa Tas udah siap, tinggal naik motor dan cusss.. Tidak lupa pamit sama bapakku (sekarang alm.) dulu yang sedang duduk-duduk di teras rumah.



Aku pun mulai melaju dengan motor bututku (keluaran 1981) dan tas ransel batikku yg jenis pake risleting gak pake tutup depan. Setelah melewati jalan kampung Samirono dan Iromejan aku belok kanan lewat Jln. Solo. Pas udah hampir nyampe di perempatan Galeria, sekitar di depan toko-toko kain itu lah, posisiku di tengah jalan tiba-tiba ada orang naik motor teriak-teriak dari jarak agak jauh ke aku, dia juga gak berhenti, sambil jalan gitu. Nggak jelas dia ngomong apa dan nggak jelas yang teriak-teriak juga siapa lha wong di tengah jalan, aku gak mungkin berhenti sejenak buat lihat orang yang teriak-teriak itu. Yang jelas sih bukan anak sekolahan yang teriak-teriak itu, agak berumur lah, sekitar 30an-40an tahun kayaknya.



Kenapa ya? What's wrong with me batinku. Mungkin risleting tasku kebuka kali ya. Tangan kiri ku pun meraba-raba tasku yang tak taruh dibelakang punggungku. Eh iya, risleting tasku kebuka. Langsung tak benerin.



Perjalanan menuju barat berlanjut, aku melewati RS. Bethesda dan perempatan Gramedia tanpa perasaan bersalah sedikitpun kalau aku sudah melanggar peraturan lalu lintas. Dan entah aku yang gak denger, gak tau atau emang gak ada yang neriakin aku lagi sampai aku terus ke arah barat. Berhenti di pertigaan Mc. Donald. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi.



Tapi itu tak berlangsung lama. Selepas melewati jembatan Gondolayu aku kembali dengar orang teriak-teriak. Beberapa saat kemudian aku sadar kalau ada seorang ibu-ibu naik motor teriak-teriak ke arah aku. Butuh waktu beberapa saat pula hingga aku menyadari isi teriakan ibu itu. Ya seperti orang naik motor di Jln. Solo tadi, teriak-teriaknya sambil melaju naik motor. Aku pun segera menepi, bengong sebentar, dan megang kepalaku sendiri. Iya ya, aku gak pake helm :3




Iya, ibu-ibu tadi teriak kayak gini: "Dek kok gak pake helm?" berkali-kali sampe aku nyadar. Memang baik banget ya ibu itu tadi, rela teriak berkali-kali cuma utk tanya kok aku gak pake helm. Aku pun belum sempat bilang terimakasih karena waktu nyadar aku gak pake helm ibu-ibu tadi sudah melesat jauh dengan motornya.



Gak kayak tadi yang pede-pede aja tanpa pake helm ngelewatin beberapa lampu merah dengan yang polisi penjaganya terkenal "galak." Temen-temenku pernah ditilang polisi di perempatan galeria sama gramedia, jadi image polisi yang disana itu galak alias suka nilang. Setelah nyadar gak pake helm aku gak berani kemana-mana. Aku minta tolong mbak ku yang kerja di Kota Baru buat nganterin pinjeman helm. 



Btw, kira-kira kalo aku nyadarnya kalo gak pake helm pas udah nyampe perpusda gimana ya. Pas mau nyopot helm mau ditaruh di motor, eh kok helmnya gak ada :O wkwkwkwk Terus kalo pede aja gitu ngerasa pake helm selama perjalanan sampe perpusda kira-kira ditilang polisi gak ya?

Selasa, 09 Desember 2014

Tengok-tengok Postingan Tahun 2014


logo1
Lagi pengen bikin postingan singkat, eh nemu acara GA Tengok-tengok Blog Berhadiah. Tugasnya asik sih, pilih postingan yang paling berkesan di blog masing-masing selama tahun 2014.

Buat blogger yang gak produktif kayak aku gampang banget milih postingan yang paling berkesan, hehe. Pilihan pun langsung jatuh ke cerita waktu aku jadi debt collector di Telkom :D. Mengapa pilihanku jatuh ke postinganku di awal Januari 2014 itu? Ceritanya ada di paragraf selanjutnya :D


Gak nyangka aja postingan itu jadi postingan paling laris kedua di blog ini. Aku bikin postingan itu karena udah janji sama beberapa pegawai Telkom Jogja yang dulu tak kasih kartu nama berisi alamat blogku. Aku bilang kalo bakal cerita tentang pengalaman magang di blog. Aku kan punya kebiasaan buruk suka nunda-nunda gitu, magangnya sih awal 2013. Share pengalamannya baru di awal 2014 ^^v Kalo dulu gak janji aku gak yakin bakal nulis pengalamanku itu di blog, hehe.

Coba deh share postingan yang udah tak bikin itu di grup fb Komunitas Emak-emak Blogger. Eh banyak yang komen. Anggota Emak-emak Blogger itu emang baik-baik, hehe

Selain itu, ternyata para mahasiswa yang mau magang dan nyari info magang di Telkom juga beberapa yang nyangkut di blog ini. Ada yang komen, ada yang pm, tanya-tanya. Seneng sih, jadi berwarna, hehe. Gak cuma posting komen, udah, tapi ada yang hub. via email/socmed. Para mahasiswa yang tanya-tanya pada ngira kalau susah gitu bisa diterima magang di Telkom, padahal mudah banget. Wong gak pake seleksi. Asal di Telkom lagi gak ada/sedikit mahasiswa/siswa magang aja insyaallah bakal diterima selama Telkom masih membuka diri buat para nerima mahasiswa/siswa buat magang disana :).

Dapet email/sapaan di socmed dari pembaca blognya adalah biasa bagi para blogger kelas paus. Tapi buat blogger kelas teri kayak aku, kalo ada pm/sapaan di socmed dari pembaca itu rasanya udah bahagiaaa… banget, hehe. Dari semua postinganku, cuma ada 3 postingan yang menghasilkan interaksi di luar blog (pm/sapaan di socmed dari pembaca).

Udah sih itu aja, takut kepanjangan. Kan niatnya cuma bikin postingan pendek :p. Lagi pula syarat ikut GA maksimal artikel terdiri dari 500 kata, hehe. Senangnyaa.. gara-gara GA ini blogku jadi tak update, :’)

Senin, 28 April 2014

Mencari Nasi Thiwul


Halo teman-teman!! :D Beneran gak nyangka nih, ternyata udah 2 bulan lebih aku gak nulis di blog. Yaudah deh, sekarang aku mau cerita tentang perburuan nasi thiwul yg udah aku lakuin :’)

Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil judul skripsi yang ada hubungannya dengan nasi thiwul. Meskipun begitu aku berharap gak perlu jauh-jauh ke Gunungkidul buat ambil data, pengennya di Kota Jogja aja biar gak gitu repot, haha. Terus aku cari info warung/rumah makan yang jual nasi thiwul di Kota Jogja, tapi hasilnya nihil. Dari info yang aku dapet, Rumah Makan nasi thiwul yg paling deket dari Jogja cuma RM Gubug Asri, alamatnya di Jl. Wonosari Km 11.

Pada saat itu aku sebenernya males banget kalau harus bolak balik Jogja-Jln Wonosari, saat itu menurutku KidsFun aja udah jauhhhhh bangettttttt... Tapi ya gimana lagi, aku gak dapet info RM atau Warung Makan yg jual nasi thiwul di Jogja, yaudah deh di Jln. Wonosari KM 11 gpp. Selain itu waktu tanya sama temennya mbakku malah dibilang, alahhh cuma Jln. Wonosari, saudaraku dulu sampai harus keluar kota karna skripsi. Iya sih.

image

Abis itu aku malah nyantai, soalnya dah dapet info RM yg jual nasi thiwul. Besok kalo udah mau ambil data kan tinggal kesana aja, pikirku. Tapi beberapa hari kemudian aku penasaran juga, pengen lihat langsung keberadaan RM. Gubug Asri tersebut. Biar besok kalau ambil data gak usah bingung nyari, bisa langsung to the point.

Siang itu dengan semangat 45 dan waktu yang mepet aku ke Jl. Wonosari. Sampai Jl. Wonosari diatas KM 11, Pasar Piyungan ke timur sedikit aku tidak juga menemukan RM Gubug Asri. Tanya ke Ibu-ibu yg sedang nunggu Toko Kelontong, malah dikasih petunjuk ke Warung Bu Sri, sekitar 1 KM barat Kids Fun. Padahal ibu-ibu itu semangat dan mantep banget njelasinnya.

Aku buka catetan alamat RM. Gubug Asri lagi, memastikan, aku gak salah baca emang di KM 11 deket Jembatan Kali Opak. Tapi disana gak ada RM. Gubug Asri. Aku tanya lagi ke masyarakat sekitar, malah dikasih petunjuk di selatan jalan samping toko bangunan. Gak ada juga. Akhirnya aku pulang. Coba telp RM. Gubug Asri gak nyambung. Browsing lagi aku baru nyadar, semua artikel di internet tentang RM. Gubug Asri terakhir ditulis di tahun 2010. Hmmm… mau gak mau harus ke Gunungkidul nih kayaknya..

Pencarian Kedua..
Aku cari-cari info lagi di internet, dapetlah Warung Makan Yu Tum di Wonosari. Jauh.. tapi ga apalah.. demi skripsi. Browsing-browsing lagi dapet info cabangnya Yu Tum di Jl. Wonosari KM 3,5 !! WOW lebih deket. Sumpah, aku saat itu bahagia tak terkira, akhirnya dapet tempat penelitian yg lebih deket. Ini malah lebih deket daripada RM. Gubug Asri yg sekarang udah gak ada. Aku sujud syukur. Aku cari akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum, aku mensyen akun itu, aku luapkan kegembiraanku!

luapan kegembiraan nemu di km 3stengah
Apasih yang bikin aku yakin kalau Jl. Wonosari KM 3,5 itu deket Jogja? Pertama ya karena aku gak pernah naik motor maupun sepeda sampai Gunungkidul, kalau kesana pasti naik bis carteran, piknik rame-rame ke pantai atau baksos waktu SMA. Selama pengalamanku lewat Jl. Wonosari tu semakin ke timur KM nya semakin banyak, kalau KidsFun aja KM 10 berarti KM 3,5 jauh sebelumnya kan. Kedua, karena alamat Gathot Thiwul Yu Tum yang tidak ada embel-embel Gunungkidulnya ya cuma yang cabang Siyono, cuma ada embel-embel Yogyakarta, yang lain ada embel-embel Gunungkidulnya. Berarti kalaupun secara administratif mungkin cabang yg Siyono itu gak termasuk Kota Jogja, kemungkinan besar ya deket sama Kota Jogja. Ini tampilan alamat Gathot Thiwul Yu Tum pusat & cabangnya yang ada di web gathotthiwulyutum.com:
alamat yu tum di webnya
Ketiga, setelah mencari denah di google map aku dapet ini:
denah yutum siyono google map
Pada denah diatas tampak bahwa jarak Yu Tum dengan KidsFun hanya 2,5km. Tepatnya Yu Tum berada di barat KidsFun dan di timur Ringroad Timur.
waktu dan jarak kids fan ke yu tum yutum siyono masuk gang
Setelah denah diperbesar tampak bahwa kalau ingin ke Gathot Thiwul Yu Tum dari Jl. Wonosari perlu masuk gang dahulu, karena Gathot Thiwul Yu Tum tidak terletak di pinggir jalan raya. Aku pun ngomong sendiri, pantesan waktu aku pulang dari nyari RM. Gubug Asri dulu gak nemu Warung Makan Gathot Thiwul Yu Tum ini.

Akhirnya aku nyepeda motor kesana. Tapi anehnya, waktu belok kiri ke Jl. Wonosari (dari Ringroad timur arah utara), bangunan pertama di pinggir jalan yang aku temui bertuliskan Jl. Wonosari KM 6?? Ah mungkin salah tulis kali, kataku dalam hati. Aku lanjut terus, ternyata tadi tidak salah tulis. Setelah lurus terus aku melewati KM 7. Tak lupa pelan-pelan kalau menemui gang masuk, siapa tahu ada petunjuk keberadaan Gathot Thiwul Yu Tum atau jalan masuk gang yg bertipe seperti yang udah aku lihat di google map. Tapi aku tidak menemuinya sampai KM 7 abis. Ah siapa tahu di internet salah tulis, harusnya KM 8,5 ditulis KM 3,5 kan mirip tuh angka 8 dan 3. Tapi sampai KM 9 aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum.

Oke deh, mungkin google mapnya salah naruh Gathot Thiwul Yu Tum. Logikanya KM 3,5 itu kan harusnya barat Ringroad Timur, bukan timur Ringroad timur. Aku kemudian menyebrang Ringroad ke arah Gedong Kuning. Tapi sampai menyebrang perempatan Gedong Kuning pun aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum. Padahal Jl. Wonosari KM 1 itu ada di perempatan Gedong Kuning. Akhirnya aku telpon Gathot Thiwul Yu Tum cabang Siyono. Kurang lebih perbincanganku sama mbak-mbak diseberang sana seperti ini:

Aku: Gathot Thiwul Yu Tum yang cabang Siyono itu barat Ringroad atau timur Ringroad?
Mbak yg angkat Telpon: dari Ringroad masih ke timur terus mbak, dari Pasar Piyungan juga masih naik, nanti lewat bukit Pathuk sama hutan.
Aku: Timur Ringroad persis kan udah KM 6 mbak, padahal di alamat KM 3,5?
Mbak yg angkat Telpon: Mbaknya dari Jogja ya, 3,5 km itu maksudnya dari Wonosari, bukan dari Jogja.
Aku: (Ooohh..) Aku lihat di google map letaknya masuk gang, nanti ada ancer2 apa mbak untuk masuk ke gangnya itu?
Mbak yg angkat Telpon: Lokasinya di pinggir jalan kok, nanti pasti kelihatan kalau udah sampai :).
Aku: Terimakasih mbak..

Hmmm… siapa sih yang bikin denah ngawur di google map itu. Setidaknya aku jadi tahu kalau google map belum tentu bisa diandalin. Maklum ya soalnya aku gak punya smartphone, hehe jadi ga bisa main GPS-GPS an. Alhamdulillah, lewat sini Allah ngasih tau aku. Soalnya dulu sempet takjub sama google map, waktu aku bantuin temenku yang sendirian pergi ke Bandung nyari jalan (akunya di Jogja). Dan ternyata valid. Eh lewat kejadian ini aku jadi tahu kelemahan google map. Alhamdulillah bgt sih :D Oiya kembali ke laptop, hehe. Beberapa hari setelahnya aku pun ke Gathot Thiwul Yu Tum itu, dan ceritanya ada di  Mencari Nasi Thiwul Part 2. Hahaha.. (daripada disini kepanjangan :’)

Buat teman-teman yg pernah beli nasi thiwul baik beli di Rumah Makan, Warung Makan, maupun beli yg instan di Supermarket/Toko Oleh-oleh tolong meninggalkan jejak komentar yaa :)
*) nasi thiwul rasanya hambar, biasanya dimakan sama lauk dan sayur.
kalo yg manis itu namanya cemilan thiwul, bukan nasi thiwul :)

Minggu, 26 Januari 2014

Cara Mematenkan Merek Secara Gratis


Belum banyak yang tahu kalau proses pendaftaran merek itu bisa gratis. Disperindagkop DIY memiliki Balai Bisnis yang terletak di dekat pertigaan Jalan Godean, dekat SMA 2 Jogja. Disana para pelaku UMKM bisa mendaftarkan mereknya secara gratis.

Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum kesana:
1. Pastikan merek yang akan anda daftarkan belum terdaftar. Untuk mengeceknya anda bisa klik >> http://www.wipo.int/branddb/en/index.jsp.
2. Buat logo. Sebaiknya tidak mencantumkan jenis produk pada logo. Pengalaman saya, tahun kemarin saya menyerahkan logo Kalakswa Cloths. Pihak Balai Bisnis menyuruh saya mengganti logo karena terdapat kata Cloths. Cukup Kalakswa saja, tidak perlu mencantumkan jenis produk, katanya.
3. Cetak logo dengan ukuran minimal 2x5 cm per logo, sebanyak 25 lembar.
4. Bawa fotokopi KTP yang masih berlaku 2 lembar.
5. Bawa contoh produk, karena dulu saat saya kesana tidak membawa contoh produk ditanyakan, katanya sebaiknya membawa contoh produk.
6. Bawa materai Rp 6.000 dua lembar.

Alamat lengkap Balai Bisnis Jogja:
Jl.HOS. Cokroaminoto No.162, Yogyakarta
Telp: 0274- 515 622
email: balaibisnis@yahoo.com
Hari Kerja:
Senin - Kamis 07.30 - 16.00
Jumat 07.30 - 14.30

Senin, 20 Januari 2014

Jasa Pengetikan


Karena kangen jadi tukang ketik kayak jaman semester 3 dulu, dengan ini saya menyatakan membuka jasa pengetikan, haha. Ini serius loh. Official akun twitternya ini >> @JasaKetikJogja silakan di follow untuk mendapat info-info promo terbaru :D.

Berikut tarif jasa pengetikan @JasaKetikJogja:
Untuk spasi 1,5 Rp 1.500/lembar jadi udah sama print
Untuk spasi 2 Rp 1.000/lembar jadi udah sama print

Tarif diatas berlaku untuk format umum sebagai berikut:
- Kertas A4, 70 gr, & diprint hitam putih.
- Margin: atas 4 bawah 3 kiri 4 kanan 3.
- Teks berbahasa Indonesia
- Isi hanya teks tidak ada tabel, rumus, dsb.

Untuk order ketikan diluar format umum yg sudah dijelaskan diatas, tarifnya bisa langsung ditanyakan melalui sms ke 085221811993. Contoh ketikan diluar format umum: dalam bahasa asing, terdapat rumus, tabel, spasi 1, kertas ukuran folio, kertas diprint warna, dsb.

Meskipun domisili saya di Jogja, saya juga menerima order ketikan dari seluruh Indonesia, hehe. Solusinya: scan/foto tulisan anda, terus kirim via email ke fenitriutami@gmail.com, jangan lupa sms setelah email terkirim :).

Contact:
SMS/Telp 085221811993
Alamat: Samirono, selatan Universitas Negeri Yogyakarta.

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...