![]() |
| Sampai di Pasar Gede Banyuwangi, penjualnya tidak sebanyak di Pasar Beringharjo |
FeniFine's Motto
"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi
Kamis, 25 Juni 2015
Sarapan Pagi di Pasar Gede Banyuwangi
Ing Pelabuhan
Jadi, Sabtu malam tanggal 30 Mei 2015 kemarin aku baru saja sampai di Banyuwangi setelah duduk seharian lamanya di dalam kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kebayang capeknya kan, tapi aku tidak akan bahas tentang itu. Perjalanan ini sudah direncanakan jauh berbulan-bulan lamanya sejak awal tahun seingatku, dalam rangka hadir dalam acara ngunduh mantu saudaraku. Karena bertepatan dengan long weekend, rencananya juga mau sekalian nyebrang ke Bali main-main bentar... Tapi rencana tetap rencana, bisa menjadi kenyataan bisa juga hanya tinggal rencana.
Awalnya mau sewa 2 mobil buat ke Bali. Tapi rencana itu dibatalkan! Hmm... sedih jelas. Yaelah sudah capek-capek duduk 13 jam lebih di kereta ekonomi dari Jogja sampai di Banyuwangi tidak jadi main ke Bali. Akhirnya diputuskan yang ke Bali hanya keluarga Mbak Irum + Dea & Yasin + siapa lagi aku kurang tahu waktu itu. Mereka ke Bali dalam rangka menjemput Adib putra Mbak Irum yang besok pagi mendarat di Bali dari Tangerang, sekalian main bentar di Bali tentunya... Pengennnnn :'(
Gagal deh rencana jalan-jalan ke Bali sama ibuku. Mumpung sekalian gitu, jadi biayanya lebih murah, hehe. Meskipun sedih, tapi aku masih berharap bisa ikutan ke Bali. Siapa tahu aja besok pagi aku diajakin ke Bali karena masih ada tempat duduk di mobil #ngarep.com. Pokoknya besok harus bangun pagi-pagi banget sambil setrika baju-baju yang kubawa. Semoga aja ditawarin ikut ke Bali, hahaha
Minggu, 31 Mei 2015, Pagi-pagi buta
Namanya juga tidak di rumah sendiri, ya susah kalau mau tidur nyenyak. Alhamdulillah, meskipun semalaman aku tidur paling akhir diantara yang lain, paginya aku bisa bangun paling awal. Mulai lah aku setrika baju-baju yang aku bawa, sambil berharap nanti aku diajakin ke Bali sama rombongan Mbak Irum. Soalnya kemarin malam aku dengar mereka jam 5 pagi sudah harus siap berangkat. Toh aku tidurnya, setrikanya juga di dekat Dea sama Yasin, kalau mereka mau berangkat aku pasti tahu to, bahahah
Satu demi satu bajuku sudah aku setrika. Ndilalah Lik Inah bangun, lihat aku setrika, trus titip baju satu deh. Ya Allah semoga aku cuma dititipin baju satu aja buat disetrika, jangan sampai aku jadi petugas laundry disini :|. Eh belum habis baju-bajuku disetrika, Mbak Maming (ibunya Dea sama Yasin) nyuruh dua putrinya buat mandi, soalnya mau ke Bali. Ya Tuhan, aku juga pengen mandi, biar kalau diajakin ikut ke Bali juga sudah siap #masihngarep. Tapi bajuku belum selesai aku setrika #huwaaaa
Masih ngantuk, Dea sama Yasin tidak segera masuk-masuk ke kamar mandi. Baju yang harus ke setrika sudah tinggal dikit. Tiba-tiba datang Mas Iyat dari rumah sebelah. Ya, ternyata rombongan yang mau ke Bali terdiri dari: Keluarga Mbak Irum (3 orang + Adib, jadi 4), Keluarga Mas Iyat (2 orang, Mas Iyat + Vira), Dea & Yasin. Kapasitas mobil maksimal 8 orang.
Ternyata Vira, putri Mas Iyat tidak mau diajak ke Bali, akhirnya Mas Iyat tidak jadi ikut ke Bali. So, mobil masih muat untuk 2 orang lagi. Ya, Mas Iyat datang buat menawarkan space 2 orang ke para ibu-ibu yang ada. Karena yang ditawari para ibu-ibu jadi aku ya diam aja sambil menyelesaikan setrikaanku. Padahal dalam hati aku njerit-njerit "Mauuuuuuu...." Tapi ya sekadar jeritan dalam hati, hiks
Entah keberuntungan macam apa ini, tidak ada yang mau gantiin Mas Iyat dan Vira. Sedangkan si Agung, sepupuku yang juga sebelumnya pengen ikutan ke Bali masih mimpi indah. Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh di Banyuwangi saja. Sampai akhirnya keluarlah hitungan ongkos Mas Iyat. Kalau satu mobil tidak diisi 8 orang, nanti bayarnya jadi lebih mahal, kalau diisi 8 orang kan jadi lebih hemat sesuai perkiraan awal. Mbak Maming pun menyahut, "Ya sudah nanti kita tanggung bersama." Yah rugi dong, ikut bayar ongkos ke Bali tapi tidak ikutan main ke sana. Akhirnya aku langsung bilang, "Aku mau ikut!"
Ya Tuhan, akhirnya tidak sia-sia aku duduk 13 jam lebih di kereta api dari Jogja sampai Banyuwangi, hahaha.. Meskipun sedih juga karena ibuku lebih memilih acara belanja oleh-oleh di Banyuwangi sama bulik-bulikku dibanding ke Bali sama aku, hiks.. + yang gantiin Mas Iyat & Vira cuma aku. Ya gapapa lah dari pada tidak jadi ikut ke Bali kan? :D
Permasalahan pun selesai, tidak ada yang harus ikut nanggung ongkos ke Bali tanpa ikutan main ke Bali + aku jadi ikut ke Bali! Yeay! Habis itu aku langsung mandi, sholat Shubuh, menyiapkan tas yang mau dibawa ke Bali. Tapi... ternyata aku lupa bawa memori card buat kameraku! Lengkaplah sudah, tongsis rusak + bawa kamera, baterai, charger, tapi tidak bawa kartu memori, hiks. Tak apalah masih ada hp dengan mega piksel seadanya + kamera digital punya Dea, hahaha
Pagi itu Desa Tukangkayu Banyuwangi hujan rintik-rintik. Sebelum berangkat kami mampir dulu ke rumah Mbak Yani, tuan rumah yang akan menggelar hajatan ngunduh mantu besok Senin. Setelah pamit ke Mbak Yani, kami pun naik mobil otw ke Bali, hujan masih rintik-rintik. Aku kira Banyuwangi beda dengan Jogja, Mei masih sering hujan. Ternyata tidak, kata Pak Sopir mobil sewaan, kemarin-kemarin Banyuwangi panas, entah kenapa tadi malam dan pagi ini hujan.
Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Pelabuhan Gilimanuk. Aku yang baru pertama kali lihat pelabuhan langsung hebring. Foto-foto pemandangan sekitar dengan gadget seadanya + kemampuan ala kadarnya. Ya, aku kurang tertarik mendalami fotografi, tapi kalau pergi-pergi aku selalu ingin foto-foto apa yang menarik buatku. Cuma ingin loh ya, kadang ya sekedar ingin saja tidak semua yang ingin aku foto akhirnya aku foto. Apa yang menggerakkan aku buat foto-foto ya biasanya karena ingat blog. Setiap dapat pengalaman apa atau pergi ingin mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya dan semua diceritakan di blog, haha. Pada prakteknya, yang di foto cuma sedikit dan tidak kunjung diceritakan di blog ^^v
Tapi, sejak jalan-jalan yang ini aku mau bertekad untuk harus memfoto semua yang ingin aku foto. Tekadku sudah bulat, namun sayangnya tidak didukung dengan kapasitas baterai hp,kamera, & powerbank yang memadai, sehingga kalau tidak penting-penting banget aku tidak bakal foto-foto. Jangan sampai nanti tidak bisa memfoto objek yang paling menarik selama perjalanan gara-gara dikit-dikit foto dikit-dikit foto (wkwkwkwk saktenane podo wae dadi raiso koleksi foto-foto sepuasnya :( )
Yowislah, ini awalnya aku cuma mau upload foto-foto di pelabuhan dan selama di kapal aja. Tapi ya dasarnya aku dikit-dikit ingin cerita di blog, ya seperti inilah jadinya.. Teteeeppppp cerita panjaaannnngggg dan leeebaaaaaarrrrrr hahahah ^^v
| by Dea |
![]() |
| Sandal jepit swallow yg selalu menemani sepanjang perjalanan |
Sayangnya aku lupa ngeset kamera ke mode sunrise, jadi hasilnya tidak ada warna oranye-oranyenya. Waktu di Tanah Lot juga sudah mendekati sunset, tapi lagi-lagi aku lupa ngeset kamera, jadi tidak ada warna oranye-oranyenya jugaaa :'(.
Maaf kalau bahasanya agak gimana gitu, soalnya baru belajar membiasakan diri blogging menggunakan bahasa yang baku. :')
Rabu, 14 Januari 2015
Membuat Blog Go International Tanpa Skill Bahasa Inggris
![]() |
| sumber gambar: wikipedia.org |
Menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku menyebabkan artikel di blog tidak bisa ditranslate dengan baik oleh Google Translate.
Bahasa yang baku saja bisa diterjemahkan dengan kurang sesuai, apalagi tidak baku.
Padahal blog kita sangat mungkin dikunjungi visitor dari berbagai negara yang bahasanya berbeda.
Selasa, 13 Januari 2015
Mencari Nasi Thiwul #3
Kalau penasaran sama perburuan nasi thiwul sebelumnya bisa baca disini >> Mencari Nasi Thiwul #1 dan #2
Kamis, 08 Januari 2015
Mendadak Diteriaki Orang di Jalan
Selasa, 09 Desember 2014
Tengok-tengok Postingan Tahun 2014
Gak nyangka aja postingan itu jadi postingan paling laris kedua di blog ini. Aku bikin postingan itu karena udah janji sama beberapa pegawai Telkom Jogja yang dulu tak kasih kartu nama berisi alamat blogku. Aku bilang kalo bakal cerita tentang pengalaman magang di blog. Aku kan punya kebiasaan buruk suka nunda-nunda gitu, magangnya sih awal 2013. Share pengalamannya baru di awal 2014 ^^v Kalo dulu gak janji aku gak yakin bakal nulis pengalamanku itu di blog, hehe.
Senin, 28 April 2014
Mencari Nasi Thiwul
Halo teman-teman!! :D Beneran gak nyangka nih, ternyata udah 2 bulan lebih aku gak nulis di blog. Yaudah deh, sekarang aku mau cerita tentang perburuan nasi thiwul yg udah aku lakuin :’)
Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil judul skripsi yang ada hubungannya dengan nasi thiwul. Meskipun begitu aku berharap gak perlu jauh-jauh ke Gunungkidul buat ambil data, pengennya di Kota Jogja aja biar gak gitu repot, haha. Terus aku cari info warung/rumah makan yang jual nasi thiwul di Kota Jogja, tapi hasilnya nihil. Dari info yang aku dapet, Rumah Makan nasi thiwul yg paling deket dari Jogja cuma RM Gubug Asri, alamatnya di Jl. Wonosari Km 11.
Abis itu aku malah nyantai, soalnya dah dapet info RM yg jual nasi thiwul. Besok kalo udah mau ambil data kan tinggal kesana aja, pikirku. Tapi beberapa hari kemudian aku penasaran juga, pengen lihat langsung keberadaan RM. Gubug Asri tersebut. Biar besok kalau ambil data gak usah bingung nyari, bisa langsung to the point.
Aku buka catetan alamat RM. Gubug Asri lagi, memastikan, aku gak salah baca emang di KM 11 deket Jembatan Kali Opak. Tapi disana gak ada RM. Gubug Asri. Aku tanya lagi ke masyarakat sekitar, malah dikasih petunjuk di selatan jalan samping toko bangunan. Gak ada juga. Akhirnya aku pulang. Coba telp RM. Gubug Asri gak nyambung. Browsing lagi aku baru nyadar, semua artikel di internet tentang RM. Gubug Asri terakhir ditulis di tahun 2010. Hmmm… mau gak mau harus ke Gunungkidul nih kayaknya..
Pencarian Kedua..
Ketiga, setelah mencari denah di google map aku dapet ini:
Aku: Gathot Thiwul Yu Tum yang cabang Siyono itu barat Ringroad atau timur Ringroad?
Mbak yg angkat Telpon: dari Ringroad masih ke timur terus mbak, dari Pasar Piyungan juga masih naik, nanti lewat bukit Pathuk sama hutan.
Aku: Timur Ringroad persis kan udah KM 6 mbak, padahal di alamat KM 3,5?
Mbak yg angkat Telpon: Mbaknya dari Jogja ya, 3,5 km itu maksudnya dari Wonosari, bukan dari Jogja.
Aku: (Ooohh..) Aku lihat di google map letaknya masuk gang, nanti ada ancer2 apa mbak untuk masuk ke gangnya itu?
Mbak yg angkat Telpon: Lokasinya di pinggir jalan kok, nanti pasti kelihatan kalau udah sampai :).
Aku: Terimakasih mbak..
Hmmm… siapa sih yang bikin denah ngawur di google map itu. Setidaknya aku jadi tahu kalau google map belum tentu bisa diandalin. Maklum ya soalnya aku gak punya smartphone, hehe jadi ga bisa main GPS-GPS an. Alhamdulillah, lewat sini Allah ngasih tau aku. Soalnya dulu sempet takjub sama google map, waktu aku bantuin temenku yang sendirian pergi ke Bandung nyari jalan (akunya di Jogja). Dan ternyata valid. Eh lewat kejadian ini aku jadi tahu kelemahan google map. Alhamdulillah bgt sih :D Oiya kembali ke laptop, hehe. Beberapa hari setelahnya aku pun ke Gathot Thiwul Yu Tum itu, dan ceritanya ada di Mencari Nasi Thiwul Part 2. Hahaha.. (daripada disini kepanjangan :’)
Buat teman-teman yg pernah beli nasi thiwul baik beli di Rumah Makan, Warung Makan, maupun beli yg instan di Supermarket/Toko Oleh-oleh tolong meninggalkan jejak komentar yaa :)
kalo yg manis itu namanya cemilan thiwul, bukan nasi thiwul :)
Minggu, 26 Januari 2014
Cara Mematenkan Merek Secara Gratis
Belum banyak yang tahu kalau proses pendaftaran merek itu bisa gratis. Disperindagkop DIY memiliki Balai Bisnis yang terletak di dekat pertigaan Jalan Godean, dekat SMA 2 Jogja. Disana para pelaku UMKM bisa mendaftarkan mereknya secara gratis.
Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum kesana:
1. Pastikan merek yang akan anda daftarkan belum terdaftar. Untuk mengeceknya anda bisa klik >> http://www.wipo.int/branddb/en/index.jsp.
2. Buat logo. Sebaiknya tidak mencantumkan jenis produk pada logo. Pengalaman saya, tahun kemarin saya menyerahkan logo Kalakswa Cloths. Pihak Balai Bisnis menyuruh saya mengganti logo karena terdapat kata Cloths. Cukup Kalakswa saja, tidak perlu mencantumkan jenis produk, katanya.
3. Cetak logo dengan ukuran minimal 2x5 cm per logo, sebanyak 25 lembar.
4. Bawa fotokopi KTP yang masih berlaku 2 lembar.
5. Bawa contoh produk, karena dulu saat saya kesana tidak membawa contoh produk ditanyakan, katanya sebaiknya membawa contoh produk.
6. Bawa materai Rp 6.000 dua lembar.
Alamat lengkap Balai Bisnis Jogja:
Jl.HOS. Cokroaminoto No.162, Yogyakarta
Telp: 0274- 515 622
email: balaibisnis@yahoo.com
Senin - Kamis 07.30 - 16.00
Jumat 07.30 - 14.30
Senin, 20 Januari 2014
Jasa Pengetikan
Karena kangen jadi tukang ketik kayak jaman semester 3 dulu, dengan ini saya menyatakan membuka jasa pengetikan, haha. Ini serius loh. Official akun twitternya ini >> @JasaKetikJogja silakan di follow untuk mendapat info-info promo terbaru :D.
Berikut tarif jasa pengetikan @JasaKetikJogja:
Untuk spasi 1,5 Rp 1.500/lembar jadi udah sama print
Untuk spasi 2 Rp 1.000/lembar jadi udah sama print
Tarif diatas berlaku untuk format umum sebagai berikut:
- Kertas A4, 70 gr, & diprint hitam putih.
- Margin: atas 4 bawah 3 kiri 4 kanan 3.
- Teks berbahasa Indonesia
- Isi hanya teks tidak ada tabel, rumus, dsb.
Untuk order ketikan diluar format umum yg sudah dijelaskan diatas, tarifnya bisa langsung ditanyakan melalui sms ke 085221811993. Contoh ketikan diluar format umum: dalam bahasa asing, terdapat rumus, tabel, spasi 1, kertas ukuran folio, kertas diprint warna, dsb.
Meskipun domisili saya di Jogja, saya juga menerima order ketikan dari seluruh Indonesia, hehe. Solusinya: scan/foto tulisan anda, terus kirim via email ke fenitriutami@gmail.com, jangan lupa sms setelah email terkirim :).
Contact:
SMS/Telp 085221811993
Alamat: Samirono, selatan Universitas Negeri Yogyakarta.
Jumat, 03 Januari 2014
Magang di Telkom Jogja
Sabtu, 07 Desember 2013
Yubi Aff
Artikel ini aku buat spesial buat njawab pertanyaan @Phaaaay di twitter :) Jadi gini vay, kerja kita sebagai affiliate itu simpel, cuma pilih produk yang mau dipromosiin, copy link kita utk produk itu, terus promosiin deh.
Promosiinnya dimana?
Bisa di facebook, twitter, blog, forum-forum yang sesuai, iklan baris di internet, iklan di web-web yang ramai pengunjung juga bisa.
Caranya gimana biar iklannya efektif?
Ada 2 cara, gratisan sama berbayar. Kalau yang gratisan bisa pakai aplikasi-aplikasi yang diajarin di workshop. Menggunakan pict yang menarik, kata-kata yang menarik, pada waktu yang tepat, serta orang yang tepat. Kalau yang berbayar paling efektif dan murah pakai FB Ads. Cara pembayarannya bisa pakai paypal, kartu kredit atau VCN BNI.
VCN BNI
Buat yang belum punya kartu kredit, ga mau pake kartu kredit, atau belum memungkinkan diapprove jika mengajukan kartu kredit, bisa memilih pakai VCN BNI. Kalo aku pilih VCN BNI karena pakai paypal ribet. Untuk bisa dipakai, paypal harus diverifikasi dulu. Kalo ga punya kartu kredit harus beli VCC, harganya rata-rata 75ribu cuma berlaku setaun. Verifikasi paypal pake VCN BNI juga bisa. Kalau pake VCN BNI aja bisa langsung dipakai ngiklan via FB kenapa harus buat verifikasi paypal dulu baru ngiklan pakai paypal? Iya gak?
Aku sempet gagal pakai VCN BNI, awalnya aku bingung. Aku kira FB ku yang bermasalah. Sampai aku nyerah, mau cari temen yg punya kartu kredit aja buat bantu ngiklan fan page yang tak kelola. Ntar abis berapa tak ganti gitu. Buat ketemu temenku yg tak curigai punya kartu kredit ternyata juga susah, haha. Tapi repot juga kalo pake cara ini. Soalnya yang ngelola iklan otomatis juga harus temenku yang punya kartu kredit itu. Padahal kan aku pengen aku yg bikin iklan, yang mutusin pilih pake gambar yang mana, isi iklannya kayak gimana, pemilihan audiens iklan. Itu kan seninya dan aku udah diajarin di workshop yubi affiliate.
Padahal aku buka rekening di BNI cuma buat manfaatin VCN. Tapi untungnya belum lama ini di grup affiliate ada yang share klo punya masalah yang sama kayak aku. Ternyata dia gagal karena sisa saldo di rekeningnya ga cukup klo VCN dia beneran kepake. Dia request VCN utk FB Ads 100ribu.
Trus aku jadi kepikiran jangan-jangan punyaku ditolak gara-gara aku cuma request VCN 10ribu. Aku emang udah nyoba 3 kali masukin VCN ke sumber pendanaan. Tapi semuanya pakai nominal 10ribu. Abis kata mbak CS BNI kalo udah jadi VCN dana langsung hangus. Padahal enggak, mungkin mbak CS BNI itu ga pernah pake VCN --“.
Terus tak coba request VCN 50ribu, dan ternyataaa.. diapprove! *jingkrak2 tinggal nunggu seminggu kedepan deh buat mulai ngiklan di facebook :3 Nyesel deh dulu langsung nyerah nganggep FB ku yg bermasalah bukan VCN nya.. Jadi baru mulai ngiklan di FB skitar 1,5 bulan setelah workshop.. TT. Tapi gapapa lah daripada lebih telat lagi, buat pelajaran *pukpuk
Rabu, 16 Oktober 2013
Jurus PDF untuk Menghadapi Persaingan
Apa itu jurus PDF?
Jurus PDF adalah jurus yang bisa digunakan oleh seorang entrepreur untuk menghadapi persaingan. Apakah sebagai seorang entrepreneur kita harus mengganti format seluruh file di komputernya sehingga menjadi PDF? Tentu saja tidak harus. PDF yang penulis maksud disini bukan portable document format yang pertama kali diperkenalkan oleh Adobe System, bukan. Tetapi singkatan dari peluang, diferensiasi, dan fokus. Berikut penjelasan dari masing-masing komponen Jurus PDF tersebut:
Peluang
Kita bisa langsung bangkrut jika langsung membuat produk tanpa mencermati peluang yang ada terlebih dahulu. Meskipun produk kita merupakan sebuah inovasi baru dan sangat berkualitas. Misalnya produk kita adalah sepatu roda untuk bayi berkualitas tinggi, tahan banting, anti rusak. Kita langsung memproduksi besar-besaran produk sepatu roda bayi tersebut diawal bisnis kita. Bisa dipastikan kita akan langsung bangkrut besar-besaran, karena tidak ada yang membutuhkan produk kita, sepatu roda untuk bayi.
Kemudian, bagaimana cara agar kita bisa melihat peluang? Kita dapat mencermati kebutuhan pasar yang belum dipenuhi oleh produsen-produsen yang sudah ada. Misalnya adalah kebutuhan para pengguna laptop yang ingin praktis mencetak dokumen tanpa printer. Hasil cetak bisa dibutuhkan kapan saja, terkadang mendadak, mencari printer untuk mencetak dokumen tentu memakan waktu. Belum lagi proses pemindahan dokumen ke PC yang sudah tersambung dengan printer. Belum adanya laptop yang bisa langsung mencetak dokumen bisa menjadi peluang.
Contoh peluang yang lain bisa juga berupa ketimpangan jumlah produsen dengan konsumen. Misalnya di Kampung Samirono hanya ada 2 penjual sayur yang selama ini baru bisa melayani 30% kebutuhan penduduk Samirono. 70% pasar yang belum terlayani ini bisa menjadi peluang.
Diferensiasi
Awalnya bisnis kita mungkin laris, tetapi lama kelamaan pelanggan kita bisa jadi berkurang. Hal ini bisa disebabkan karena munculnya pesaing-pesaing baru. Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah diferensiasi, yaitu membuat perbedaan dibanding pesaing yang sudah ada, agar kita lebih dipilih oleh target pasar.
Untuk memilih strategi diferensiasi ini, kita harus memastikan bahwa diferensiasi yang sudah kita pilih tidak mudah ditiru oleh pesaing. Diferensiasi yang kita pilih sebaiknya merupakan sesuatu yang kita hanya kita miliki.
Misalnya penjual sayur di Kampung Samirono semakin banyak, tetapi diantara mereka tidak ada yang menjual sayur organik. Jika diantara penjual sayur tidak ada yang mengenal petani sayur organik dan hanya kita yang mengenal petani sayur organik satu-satunya di Yogyakarta.
Maka kita sebaiknya memililih melakukan diferensiasi dengan hanya menjual sayur organik. Penduduk Samirono akan lebih tertarik membeli produk kita karena bebas pestisida dan pupuk kimia. Pesaing kita sesama penjual sayur akan kesulitan bersaing dengan kita karena mereka tidak mempunyai pemasok sayur organik.
Fokus
Komponen jurus PDF yang terakhir adalah fokus. Coba bayangkan jika baru sebulan kita membuka usaha fotokopi, kemudian langsung membuka usaha potong bebek, sebulan kemudian membuka usaha baru lagi karena ada peluang baru yang juga menggiurkan. Jika hal tersebut yang terjadi. Kita tidak akan fokus dan tidak akan ada satu pun usaha kita yang bisa besar. Meskipun kita sudah melakukan diferensiasi.
Peluang selalu ada, sangat banyak bertebaran di sekitar kita, jika kita sadari. Namun, apakah semuanya harus kita tangkap? Tentu tidak. Ketika sudah menangkap satu peluang bisnis, kita bisa memenangkan persaingan dengan diferensiasi, maka langkah selanjutnya adalah kita harus fokus.
Fokus disini bukan berarti kita harus menjalankan satu macam bisnis hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, bukan. Fokus disini berarti tidak melirik bisnis lain sebelum bisnis yang sudah kita pilih sebelumnya sudah cukup besar, sudah cukup stabil, sudah siap kita tinggalkan untuk fokus pada bisnis lain Untuk menangkap peluang lain. Misalnya kita mencoba bisnis properti setelah usia bisnis dagang sayur organik kita sudah berada di tahun kelima, ketika sudah siap kita tinggalkan untuk lebih fokus ke bidang bisnis yang lain.
Satu hal lagi yang cukup penting adalah selama fokus membesarkan bisnis kita, sebaiknya kita meminimalisir trial and error. Untuk meminimalisir biaya. Kita sempurnakan proses learning by doing kita dengan banyak-banyak membaca buku/artikel mengenai bisnis. Jika kita tidak mempunyai cukup dana atau waktu untuk ke toko buku, kita bisa mengunjungi web www.ciputraentrepreneurship.com. Kita bisa mendapatkan ilmu bisnis secara gratis, lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya. Artikel-artikel di web milik Ir. Ciputra ini cocok sekali untuk para entrepreneur. Tidak lain karena Ir. Ciputra ingin kita mengikuti jejaknya menjadi seorang pengusaha sukses, di bidang kita masing-masing.
Sabtu, 14 September 2013
Daun-daun Waru di Samirono
Ini sekarang aku mau share cerpen karangan N.H. Dini yang berjudul “Daun-daun Waru di Samirono.”
Intro:
Kenapa sih aku tiba-tiba posting cerpen ini, hehe. Jadi suatu ketika aku iseng search kata samirono di google. Terus salah satunya muncul cerpen ini, yang pernah dimuat di Kompas tahun 2004 lalu. Jadi tertarik. Jadi inget dulu di halaman rumahku ada pohon waru yang gede banget. Tapi sekarang udah gak ada. Sengaja ditumbangin gitu. Udah lama sih ditumbanginnya. Dulu inget suka main-main sama temen2 di bawah pohon waru itu. Halah, jadi nostalgila. Yaudah deh, cekidot nih cerpennya :)
**********************************************************************************************
Matahari bersinar lembut.
Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah…. Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.
Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.
Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.
Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.
“Mana galahnya, Mak?” seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.
Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.
Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.
Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.
Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.
Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.
“Berangkat cari daun waru, Lik Jum?”
“Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?”
“Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!”
Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?
Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.
Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.
Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.
Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.
Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.
Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.
“Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah,” katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.
“Nuwun, Mas, nuwun,”14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.
Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.
Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.
“Sebentar lagi panas terik, Mbah,” kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, “ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering.”
“Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah,” kata kuli yang lain.
Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.
Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.
Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.
“Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?” kuli bangunan bersuara lagi.
Kali itu Mbah Jum menyahut,
“Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas.”
“Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!”
“Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu,” kuli lain membantah temannya.
“Ya jauh kalau dari Ndemangan,” kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.
Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.
“Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?”
Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.
“Di, lepaskan paculmu. Kemari!”
“Ini adukan kedua! Nanti mengering!”
“Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!”
“Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!”
Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.
Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.
Sendowo September 2004
Catatan:
1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. kekacauan
3. bangsawan, petinggi
4. Yang Dipertuan
5. pulang
6. jungkir balik
7. rakyat biasa
8. orang-orang bangsawan
9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. Lurah, kepala kawasan
11. sekretaris kelurahan
12. menimba dan mengusung air
13. SD
14. terima kasih
15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. musim kemarau
Kompas Minggu, 24 September 2004
**********************************************************************************************
Btw kok ndeso banget ya kayaknya Samirono itu, hehe. Sebenernya nggak gitu gitu banget kok, hehe. Buktinya disini sejak aku kecil dulu udah nggak ada sawah kok. Di Timoho yang dekat Balai Kota malah masih banyak sawah. Hehe, Entahlah, hidup Samirono!! Hahaha.
Subvokalisasi
Dulu itu waktu SMA di pelajaran Bahasa Indonesia ada materi tentang membaca cepat. Bagus sih, kalau mau dipraktekin terus menerus setiap baca. Meskipun bisa dibilang aku jarang banget baca buku, aku suka internetan. Googling hal-hal yang ingin aku ketahui misalnya. Seperti cari tahu arti kata "feni," dsb. Selama internetan itu aku suka lupa menerapkan metode baca cepat.
![]() |
| Sumber: https://www.flickr.com/photos/pustovit/24139911466 |
Aku sendiri punya masalah kebiasaan buruk saat baca yang susah banget diilangin. Yaitu subvokalisasi, termasuk saat ngetik gini. Meski mulutku tertutup, tapi hatiku bersuara, wkwkwk. Ya gitu, susah kalo mau nulis atau baca tanpa mbathin (membaca dalam hati). Aku sebel banget, hatiku ini cerewet banget, wkwkwk. Susah disuruh diem kalo aku lagi baca maupun nulis. Ngganggu banget. Jadi ngurangi efisiensi dan efektivitas saat membaca & menulis.
Kalo temen2 juga suka subvokalisasi gak ketika baca atau nulis? Gimana ya cara ngilangin kebiasaan ini?
Surga Dunia yang Baru
ilustrasi: istockphoto.com Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...
-
Jadi, angkatanku menjadi angkatan pertama yang merasakan kebijakan wajib magang dari Jurusan Manajemen UNY. Dan kewajiban magang tersebut ...
-
Pengen ikut IELSP Cohort 10, karena diharuskan punya skor TOEFL ® ITP, aku pun cari-cari info tempat-tempat tes TOEFL ® ITP di Jogja bese...
-
Saya sekarang ada pada usia dimana menurut orang-orang ya harusnya dah punya anak, tidak hanya menikah. Kenyataannya? Masih single. Begitu ...













