FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Jumat, 29 Juli 2016

Laptop Lenovo Gratis

Deadlinenya cuma sampai besok loh, tidak ada ruginya mencoba, mumpung masih ada waktu. Info lengkap klik: www.bit.ly/berbagiceritainspirasi :)






Sabtu, 09 Juli 2016

Yang Paling Nyesek di Semester 2 Digit

gambar: isigood.com

Waktu magang di Telkom, tahun 2013 (semester 8), sudah ada ibu-ibu pegawai yang membandingkan saya dengan anaknya yang baru saja lulus S1. Saat itu saya masih bisa menjawab dengan senyum yang ikhlas, masih PD. Toh saya memang berniat lulus di semester 10. Tapi mulai lebaran tahun 2014, di penghujung semester 10, dimana target saya gagal, saya sudah mulai tidak PD. Rasanya ingin kabur dari tetangga-tetangga dan saudara-saudara yang bakal tanya kapan lulus. Begitu pula di lebaran tahun berikutnya. Alhamdulillah lebaran tahun ini tidak ada yang berani tanya-tanya kapan lulus.


2 tahun kemudian, yaitu tahun ini. Saya kembali mengerjakan skripsi dan akhirnya berani melangkahkan kaki ke kampus. Apa yang saya rasakan sekarang adalah menjadi lebih semangat dalam menyelesaikan skripsi, emosi lebih stabil. Ketika ada yang tanya kapan lulus setidaknya jawaban saya bukan lagi "minta doanya lulus tahun ini ya" atau "minta doanya lulus semester ini ya." Tapi sudah bisa jawab dengan yang lebih spesifik, "sedang mengerjakan bab 4, minta doanya ya biar jadi sarjana." Bab 4? Iya, pekan depan baru seminar proposal, hehe. Alhamdulillah setidaknya ada kemajuan, kalau konsultasi judulnya sudah skripsi, bukan proposal skripsi lagi #eh

Berarti sekarang tidak masalah dong kalau ditanya kapan lulus? Mmm.. ya tidak juga sih. Teman sejati menanyakan apa yang bisa saya bantu? Bukan kapan lulus? ^^v

Yang lebih nyesek dari pertanyaan kapan lulus adalah ketika penanya langsung men-judge kita menghabis-habiskan uang orang tua, tidak seperti mereka yang lulus tepat waktu. Sakit sekali saat di judge menghabiskan uang orang tua untuk kuliah lama-lama dan tidak kunjung bisa meringankan beban orang tua dengan bekerja. Biasanya kata-katanya kurang lebih seperti ini: "Cepat lulus, biar cepat kerja, bisa meringankan beban orang tua."

Kalau sudah mendengar yang seperti itu, kepala rasanya mendidih sudah siap meledak. Tapi saya orangnya malas berbicara panjang lebar. Biasanya hanya saya balas dengan senyuman, meski hati rasanya perih tak tertahankan, hahaha.

Why?

Pertama, saya tahu diri dengan membayar kuliah sendiri sejak semester 9. Tapi saya memang tidak pernah berkoar-koar tentang ini. Saya tidak pernah bilang soal ini ke mereka-mereka yang gemar tanya kapan lulus dan men-judge saya seenaknya. Saya hanya mengatakannya ketika saya curhat. Saya juga orang yang tidak mudah curhat secara langsung dengan orang lain. Salah tempat curhat yang ada malah tambah loyo bukannya tambah bersemangat.

Kedua, saya memang tidak kerja di tempat orang, tapi itu bukan berarti saya tidak berpenghasilan. Bukan berarti saya tidak pernah memberi bulanan ke orang tua saya. Bagi saya, kebutuhan saya dan ibu saya adalah tanggung jawab saya. Kebutuhan saya bukan tanggung jawab ibu saya.

Selain itu, saya juga sering sebal ketika saya sering diberi info-info lowongan pekerjaan. Lowongan pekerjaan apa pun, termasuk PNS. Meskipun niat mereka baik, namun hal seperti ini cukup menyakitkan bagi orang yang sudah mantap membesarkan bisnis sendiri seperti saya. Seolah-olah mereka bilang: bisnismu tidak prospektif, lebih baik melamar kerja disini saja. Hidupmu susah banget, kerja disini aja daripada bisnis, buktinya sampai sekarang hidupmu belum banyak berubah.

Seorang teman yang baik adalah teman yang menghargai keputusan temannya. Jika ada teman yang memutuskan untuk berbisnis dan tidak mencari kerja, ya hargailah. Buat saya, seorang entrepreneur itu bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang kebanyakan. Istilah ndesonya visioner. Tapi sebenarnya pebisnis yang baik memang seharusnya tidak mudah emosi ketika bisnisnya direndahkan atau dipandang sebelah mata. Seperti kata mbak Rachel Platten: "I don't really care if nobody else believe, cause I've still got a lot of fight left in me."

Tahu-tahu Semester 14

Menjadi seorang mahasiswa semester 14 tidak pernah ada di pikiran saya sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswa baru maupun ketika masih SMA. Ketika mulai memasuki semester belasan pun saya tidak pernah berencana dan tidak ada keinginan untuk menyandang status mahasiswa S1 sampai 7 tahun lamanya. Semuanya terjadi begitu saja. Waktu rasanya berlalu begitu cepat. Bagi seorang pemalas seperti saya. Waktu seperti pedang. Penundaan yang berlebihan akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Hahaha..



mahasiswa.jpg
https://erickparamata.files.wordpress.com/2014/08/mahasiswa.jpg?w=809


Semuanya berawal ketika saya berencana untuk lulus 5 tahun. Menurut saya masa kuliah adalah masa yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak peluang-peluang yang tidak akan kita dapatkan ketika kita sudah tidak menjadi seorang mahasiswa S1. Lulus 3,5 tahun sangat tidak menarik bagi saya.


Prinsip saya tidak seperti teman-teman saya yang ingin lulus dengan segera membuat saya memilih lebih suka menunda-nunda mengerjakan skripsi. Saya baru mengajukan judul di semester 10. Ini tidak sesuai rencana. Sebenarnya saya ingin mulai benar-benar mengerjakan skripsi di semester 9, kemudian selesai dan lulus di semester 10. Tapi memang sekalinya saya mencoba menunda, maka saya lebih enteng untuk melakukan penundaan berikutnya, begitu terus sampai tidak terasa sudah semester 14 #eh


Akhirnya sampai semester 10 berakhir dan saya baru bimbingan skripsi sekali. Padahal sudah membuat surat keterangan bebas teori. Lumayanlah kalau ditanya orang bisa jawab sudah tidak kuliah, kan memang sudah tidak kuliah di kelas, tinggal skripsi saja, haha. Tapi ya tetap saja. Saat akhirnya saya bayar SPP semester 11 rasanya down banget. Target saya lulus di semester 10 gagal sudah.


Semester 11 adalah saat dimana saya sudah mulai menghilang. Kalau ke kampus ya hanya numpang lewat atau mengurus pengesahan KTM di rektorat. Saya tidak pernah mengisi KRS manual sejak semester 11. Bahkan awal semester 14 ini, saya titip anak UNY semester 2 untuk mengurus pengesahan KTM saya di rektorat.


mta.jpg
ilustrasi: https://pbs.twimg.com/profile_images/2048182074/mta.jpg


Jarang bersentuhan dengan dunia kampus membuat saya jadi lebih mudah lalai dengan skripsi. Lebih mudah menunda-nunda skripsi. Selain memang sejak akhir semester 9 saya mulai tertarik dengan dunia bisnis online. Terlalu banyak hal menarik yang tak ada habisnya di dunia bisnis online. Sebelum bersentuhan dengan bisnis online saya masih bingung dengan passion saya. Setelah memulai bisnis online saya yakin inilah passion saya. Jika dulu ingin kerja di Telkom atau Departemen Keuangan, sekarang saya sudah tidak tertarik capek-capek cari kerja. Lebih bersemangat untuk membesarkan bisnis sendiri.


Mungkin karena dengan mengerjakan skripsi saya tidak dapat uang dan dengan berbisnis online saya dapat uang. Saya menjadi selalu mementingkan bisnis saya ketimbang skripsi. Lagipula orang-orang menyelesaikan skripsi untuk mendapatkan ijazah kemudian ijazah tersebut untuk mencari kerja. Disinilah kesesatan terparah dimulai, haha.


Apakah dengan mengabaikan skripsi dan lebih mementingkan bisnis rejeki kita akan menjadi lebih lancar? Kalau saya sih tidak. Skripsi yang tidak kunjung saya selesaikan menjadi penghambat serius dalam bisnis dan kehidupan saya. Penyesalan memang diakhir ya, haha.


Memasuki semester 11 adalah tamparan yang cukup keras untuk saya. Malu ke kampus? Iya. Saya membayangkan saya akan dicaci maki karena saya gagal lulus di semester 10. Niat sesat pun dimulai. Saya berniat baru mengerjakan skripsi setelah bisnis saya autopilot. Jadi skripsi jalan, bisnis jalan. Saya berniat mengumpulkan uang untuk biaya skripsi dulu baru menyelesaikan skripsi. Kalau saya lebih mengutamakan skripsi saya takut tidak mendapat penghasilan dan tidak ada biaya untuk mengerjakan skripsi. Jadilah saya lebih mengutamakan bisnis saya dulu.


Setiap pergantian semester saya selalu yakin, bahwa di semester ini bisnis saya segera autopilot dan saya bisa segera menyelesaikan skripsi. Setiap ditanya kapan lulus, saya jawab minta doanya semoga semester ini. Tapi ya itu, cuma yakin aja, usaha nyatanya nol. Hahaha.


alasan.jpg
ilustrasi: http://static.inilah.com/data/meme/alasan.jpg


Akhirnya saya sudah buang-buang uang SPP untuk 3 semester tanpa ke kampus sama sekali. Semester 11, 12, 13. Baru di penghujung semester 14 ini, mendadak rajin ke kampus karena takut di drop out, haha. Sayang banget kan, uang SPP tiga semester kalau dikumpulin lumayan, bisa buat beli gadget baru untuk memperlancar bisnis online saya. Takut kehilangan penghasilan malah jadi kehilangan uang jutaan. Hmm… Benar-benar kurang iman.


Apakah saya kembali ke kampus lagi karena bisnis saya sudah autopilot? Belum sih, posisi saya sekarang masih sedang menikmati proses. Lama banget ya prosesnya? Iya, bisnis itu tidak semudah bikin mie instant. Paling susah itu melawan diri sendiri. Mengendalikan emosi. Melawan rasa malas.


Dalam berbisnis, saya sudah jauh ketinggalan kereta dengan teman-teman sesama pebisnis online lainnya. Kenapa? Lebih ke diri saya sendiri sih. Usahanya kurang, rencana tinggal rencana, target tinggal target, ide tinggal ide, mudah badmood, sering menunda-nunda, kurang berani merealisasikan apa-apa yang sudah direncanakan, alon-alon waton kelakon, duh.


Tidak takut semakin ketinggalan kereta karena milih mengerjakan skripsi? Tidak. Yakin aja lah rejeki sudah diatur Allah SWT. Niatnya untuk membahagiakan orang tua. Saya tidak ingin ibu saya menangis gara-gara saya di drop out. Ibu saya pasti malu sekali kalau sampai saya di drop out. Kasihan ibu saya kalau harus mendapat komentar-komentar negatif dari orang-orang gara-gara saya di drop out. Inilah motivasi terbesar saya.


Jalan aja lah, utamakan skripsi, bisnis kemudian setidaknya sampai saya mendapat ijazah saya. Bisnis tetap jalan, otak diputar. Alhamdulillah saya berada diantara teman dan saudara yang baik yang bersedia membantu saya menjalankan bisnis selama saya skripsi. Pokoknya yakin rejeki ada yang ngatur. Setelah ijazah di tangan insyaallah bisnis lebih enteng dan lebih los. Insyaallah bisnis lebih lancar karena tidak terbebani skripsi yang belum selesai. Selama ini selama menjalani bisnis saya tidak tenang, karena kepikiran skripsi terus. Iya kepikiran aja, lol. Insyaallah sekarang sudah tobat, tidak hanya kepikiran tapi betul-betul dikerjakan dengan penuh niat tulus mau lulus.


Saya juga sayang sama masa kuliah teori yang sudah saya habiskan selama 4 tahun. Tidak pernah ada niatan untuk drop out maupun out dewe. Tidak cuma sayang kuliahnya, tapi juga sayang uangnya. Biaya masuk kuliah sampai 8 semester dibiayai almarhum bapak saya. Mulai semester 9 saya biaya sendiri. Semuanya bagi saya bukanlah jumlah yang sedikit dan sayang kalau hanya berakhir drop out.


Akhirnya pekan kemarin saya kuatkan mental untuk kembali ke kampus lagi. Masih ada keraguan saat mulai masuk kampus. Tapi saya tetap melangkah. Kembali bertemu para dosen dan ternyata tidak ada caci maki, yang ada hanyalah dukungan agar saya segera menyelesaikan skripsi saya.


Dosen-dosen pengurus jurusan dan fakultas tidak akan tinggal diam dan bersikap kaku bila mahasiswa ‘abadi’nya memutuskan berniat dan bersemangat untuk segera lulus.
Percayalah, kalau kamu ikhlas dan berniat untuk lulus, akan muncul solusi yang tak pernah kamu bayangkan. Pada prinsipnya, tak pernah terfikirkan sedikitpun di benak Bapak/Ibu dosenmu dulu menerimamu jadi mahasiswa untuk akhirnya di-D.O.”


Pesan saya untuk adik-adik angkatan. Menyandang gelar sebagai mahasiswa semester belasan itu tidak enak sekali. Beban di pikiran. Dapat caci maki dari teman, tetangga dan saudara. Jadi menghindar dari teman-teman sekolah, guru-guru sekolah, teman-teman kuliah juga, gara-gara belum siap mental ditanya kapan lulus dsb. Benar-benar menyiksa. Jangan coba-coba menunda-nunda skripsi lah jika tidak ingin bernasib sama dengan saya. Seorang sukses kaya raya tujuh turunan seperti Bill Gates pun menyesal dulu tidak menyelesaikan kuliah.

Selasa, 24 Mei 2016

Pameran, Such a Great Day

Aku habis pameran. Dan aku suka. Nertemu dg teman-teman baru. Aku suka berteman dg mereka.

Mereka punya karaktet yg berbeda-beda. Ada Pak Trilasanto dan keluarga yg pendiam dan paling sabar nunggu pembeli. Pak Tri ini bukan tipe pemasar yg agresif. Hanya bersuara kalau ada yg tanya barang jualannya. Kalau gak ada yg tanya ya diem aja. Gak ada usaha buat merayu pembeli. Begitu pula karakter putri beliau dan istrinya. Kalau istrinya sih masih mending, tadi sempat nawar-nawarin tapi salah orang, ke sesama penjual dalam satu stand yg sama, hehe. Pak Agus sama siapa tadi ya, Irham kayaknya, hehe.

Mbak Nura. Kakak satu ini juga gak agresif. Gak suka teriak-teriak nawarin barang kayak aku, fajar, sama Pak Agus. Hanya sekedar melayani kalau ada yg tanya.

Bu Agus. Ibu ini juga gak agresif, cuma agresif kalau disuruh suaminya ngejar ustadzah-ustadzah. Tapi ibu ini lumayan asik kok. Aku cukup akrab sama ibu ini dan putranya yg baru saja selesai UNAS SD. Bu Agus dan Mbak Nura jadi teman ngobrol yg asik di stand.

Pak Agus. Sesuai namanya, Pak Agus ini suaminya Bu Agus, yaiyalah, hehe. Bener-bener suami istri yg kompak. Pak Agus ini bener-bener kasih inspirasi ke aku buat semangat agresif ke pembeli. Bapak ini gak ada capeknya jemput bola. Salut abis aku. Bapak ini juga supel dan gampang membaur dg siapa aja. Lagi belajar jadi kayak gitu aku. Pak Agus ini bener-bener bikin aku belajar tentang berjualan di pameran. Teladannya nampol banget. Aku yg awalnya hopeless, galau, dan mau pasrah aja jadi super duper semangat, hehe.

Fajar. Tingkat keagresifitasa kami dalam berpromosi hampir sama sih. Dia lebih pede teriak-teriak drpd aku. Tapi dia gak pernah ndeketin peserta pameran satu persatu kayak aku, hehe. Dia juga beberapa kali ngajak ngomong sih. Jadi ya agak asik dan gak pendiem lah orangnya. Berani nawarin kita-kita para wanita buat makan di dalwm ballroom coba. Kita ditawarin pribadi loh. Jadi agal sik juga kan anaknya.

Irham. Baru jaga bareng-bareng sebentar sih . Orangnya ringan tangan. Seumuran, si fajar kayaknya juga seumuran. Soalnya Irham sama Fajar kalo panggil-panggilan gak pake embel-embel apa pun, lsg nama gitu aja. Kurang bisa menilai secara utuh sih, soalnya gak lama bareng-bareng di standnya. Agresifnya hampir sama kayak Fajar, tapi dia dibawahnya Fajar dikit, soalnya kita-kita bareng-bareng di standnya gak lama.

Pak Yanuar. Cuma ketemu pas rapat h-1 pameran. Tapi bapak ini baik, sempat nawarin mbantu bawa barang-barangku pakai kensaraan dia juga. Lumayan perhatian juga, maksudnya gak cuek dalam membalas wa. Sempat nanyain juga dpt space gak akunya, soalnya aku di hari pertama datang telat banget. Tapi aku gak pernah ketemu Pak Yanuar selama berada di stand.

Overall aku seneng abis selesai ikut. Meski ga bisa buka sampai peserta gak ada lagi yg dateng, aku tetep seneng. Gak kayak kemarin yg bikin galau, haha.

Pertama, jadi sales macam ini memang tantangan tersendiri buat aku yg introvert, pendiem, dan pemalu. Pengalaman ketika aku berhasil menjebol rasa malu seperti ini sangat berkesan. Ya kayak pas aku jualan es krim di sportorium umy waktu mbak eka wisuda.

Kedua, aku dpt byk teman baru. Dahagaku akan kerja bareng anak cowok lumayan terobati, dg adanya irham ma fajar. Hahaha. Maklum dah berumur nikah tapi masih jomblo. Mereka orangnya juga open dan ringan tangan. Agak gak punya malu juga dalam hal berpromosi di pameran, kayak aku, haha. Jujur, aku kangen anak2 pdd sama anak2 kkn.

Minggu, 17 April 2016

Sebab Musabab Parade Postingan Pendek Sekaligus

Kasih gambar yang lucu, biar pas dishare di google+ yg muncul bukan gambar iklan yg ada di blog ini.
Sumber gambar: open clip art di search creative commons.

Why aku nulis soal ini lagi kan sudah nulis ini: http://fenitriutami.blogspot.co.id/2016/04/tiba-tiba-posting-banyak-pendek-pendek.html Hmm.. belum semua sebab musabab sudah tertuang disitu sih. Kemarin malam beberapa saat setelah selesai parade, aku kok ya ingin menulis postingan ini ini, ya ini ini, hehe. Mau cerita kronologisnya. Tidak penting ya, tapi kalau tidak aku tulis nanti takut jadi kepikiran terus di aku nya, hehe

Jadi, hehe. Mmm.. Kemarin sebelum parade, aku ingin ikut semacam pendampingan bisnis via online gitu lah, hehe. Tapi ga ada duit buat ikut. Ada ide, sudah direalisasikan idenya, gagal.

Lagi online, buka socmed. Kok muncul akun socmed temen lama. Biasa lah kan kalo di socmed suka begitu ya, ada akun-akun yg disarankan untuk difollow atau dijadiin temen. Biasanya yang punya banyak mutual friends gitu. Iya, memang banyak mutual friendsku sama temen lama ini. Kita sih saling kenal baik, dulu kalau ketemu ya kadang ngobrol2 dikit lah, tapi tidak dekat. Main ke kost dia aja tidak pernah.

Iseng-iseng lah bukan akun socmed temen lama itu. Eh ternyata dia blogger juga. Iseng2 buka blog nya. Beberapa postingan teratas isinya curhatan semua, dah macam buku diary online nya dia. Trus liat total views, eh tidak jauh beda sama blog ku. Lebih banyak punyaku tapi selisihnya tidak terlalu banyak.

Aku penasaran, blog isi curhatan kayak gini kok bisa dapat views segitu ya. Terus aku lihat jumlah postingannya. Eladalah gila tenan. Aku kalah jauh. Setahun dia bisa posting sampai puluhan. Lah aku? setahun sudah menerbitkan 15 postingan saja dah bersyukur.

Jadi panas deh, mendadak ingin posting blog yang banyak sore itu. Biar jumlah views nya bisa melaju jauh lebih banyak, hehe. Tidak mau kalah. Sesama manusia biasa soalnya. Kalau sama blogger yang blog-nya dah keren abis, isi mangfaat semua, asik dibaca semua, punya pembaca setia yang buanyak. Aku sih tidak napsu untuk bersaing jumlah views nya, hehe. Apa sih ya, sumpah sebenarnya ini tidak penting sekali, tapi hanya untuk kepuasan diri. Dah terlanjur panas, ditambah galau, klop sudah. Kalau memang mau luapin emosi dengan cara posting pendek-pendek di blog ya lakuin aja biar puas, hehe.

Iya, parade kemarin hanya untuk kepuasan diri. Jadi tidak terlalu mempertimbangkan apakah enak dibaca atau tidak oleh pembaca. Hanya saja di postingan ini aku berusaha untuk mengurangi kata tidak baku, sebisa mungkin. Kalau memang dibutuhkan kata yang tidak baku juga tidak bakal aku tahan sih, tulis aja. Biar puas. Ingat manfaat menulis dengan bahasa baku seperti yang sudah aku tulis dulu disini: http://fenitriutami.blogspot.co.id/2015/01/pentingnya-pemakaian-bahasa-baku-di-blog.html. Tadi juga baca satu tweet guru bisnisku tentang manfaat penulisan sesuai EYD sih.

Sabtu, 16 April 2016

Gara-gara Socmed Jadi Pengen Cerita Terus

Sejak ada socmed pengen ceritaaaa teruuuus. Tiap ngerasa apa pengennya di twit atau bikin status di FB. Tiap habis dapet kejadian apa juga gitu. Saya sih lebih suka nge twit, soalnya kalau di FB komen-komen kapan lulus yang bermunculan langsung terlihat semua dengan jelas. Kalau nge twit lebih lepas aja. Gak ribet.

Ada baiknya ada buruknya sih.

Blog termasuk socmed gak sih? Saya tuh ya sebenernya setiap mendapatkan pencerahan, pengennya segera di tulis di blog. Eh biasanya gak langsung kelaksana juga. Soalnya takut jadi keasyikan terus online shopnya jadi kurang perhatian, takut uangnya jadi seret kalau kebablasan nulis di blog. Masih jauh dari terampil menghasilkan uang dari blogging soalnya. Fokus ig, marketplace, sama line@ dulu. Eh kok malah sampai mana-mana.

Setiap dapat pengalaman baru ada pengalaman yang menurut saya menarik utk diceritakan di blog. Juga pengennya ditulis di blog. Siapa tau menarik buat pembaca. Ya gitu deh. Tiap pergi-pergi, dapet pengalaman baru blog nya diinget-inget. Eh tapi pengalamannya gak ditulis-tulis di blog. Hehe. Kemana-mana suka keinget blog terus. "Ini bagus deh kayaknya kalau diceritain di blog" selalu mbathin gitu. Hmmm... Sehat nggak sih. Ada baik ada buruknya. Tapi tidak semua tentang kita harus diketahui semua orang dan di ceritakan di dunia maya kan. Harus ada kontrol.

Tiba-tiba Posting Banyak Pendek-pendek

Saya tu ya, kalau disuruh cerita pengennya cerita panjang kali lebar sampai sedetil-detilnya. Kalau berpendapat inginnya pakai fakta-fakta pendukung juga dari hasil yang terpercaya. Tapi ya gara-gara itu blog saya jadi sepi. Jadi males postingnya. Kalau sudah mulai menulis juga biasanya ditengah jalan terputus, tidak dilanjutkan.

Mendadak aja ini galau, terus pengen posting-posting di blog. Jadi ya cuma dikit-dikit. Daripada niatnya bikin panjang-panjang malah terus tidak jadi-jadi posting. Biar plong. Masih banyak yg pengen di posting tapi ya gak mungkin semuanya kan ya. Emang hidup hanya buat blogging?

Sudah sih itu aja, kenapa blog saya yang biasanya sepi jarang ada postingan baru tiba-tiba sore ini banyak postingan baru dan singkat-singkat :)

Semoga bermanfaat :)

Seandainya dan Pintu Syetan

Kenapa sih seandainya bisa jadi pintu syetan? yang saya pahami seperti ini:

Soalnya kalau bilang seandainya, kita jadi tidak mensyukuri keadaan. Padahal dengan apa yang kita punya saat ini ditambah banyak ciptaan Allah diluar sana banyak orang diluar sana. Kita juga bisa memikirkan bagaimana caranya untuk mencapai tujuan kita. Apalagi kalau badan kita sehat, akal kita sehat, tidak sakit jiwa.

Misal kita bilang seandainya2 terus. Yang ada cuma meratapi nasib, terus sedih. Atau malah berkhayal doang tak ada ujung, seandainya begini seandainya begitu. Bukannya melakukan aksi nyata untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Padahal kalau dengkul kita dibeli 100 juta kita juga tidak mau kan. Pernah baca pengalaman orang yang habis jual ginjal, badannya mudah sakit tidak se-fit dulu, aktivitasnya tidak bisa sebanyak dulu. Padahal dengan sehat kita bisa melakukan banyak hal. Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan ketika sakit.

Resume Hasil Perburuan Nasi Thiwul


Nasi thiwul. Nasi yang terbuat dari singkong, bukan dari beras padi. Sehat, cocok untuk yg diabetes karena kandungan gula yg rendah. Budidaya singkong juga lebih mudah dari padi, bisa ditanam di daerah subur maupun tandus seperti di Gunungkidul.

Makan nasi thiwul lauk tempe pakai oseng-oseng, menarik juga. #kalimatrandom

Mau makan nasi thiwul adalah hal yang mudah bagi masyarakat Gunungkidul. Mereka sudah ahli membuatnya. Tidak perlu bingung kesana kemari. Tinggal ambil singkong yang ditanam di dekat rumah. Buat kita yang tidak tinggal di Gunungkidul tidak mungkin kan tiba-tiba bertamu terus minta dibuatin nasi thiwul. Toh sekarang masyarakat Gunungkidul banyak juga yang lebih sering makan nasi padi dari pada nasi thiwul. Tapi kalau punya teman orang Gunungkidul bisa aja sih. Sekalian belajar bikin nasi thiwul sendiri. Beli singkongnya di Pasar Telo yang murah.

Kalau pengennya beli gimana? Apa harus mblusuk-mblusuk di perkampungan Gunungkidul cari warung makan yang jual nasi thiwul. Ada tidak saya juga tidak tahu. Berdasarkan keterangan dari teman saya yang orang Gunungkidul, keluarganya kalau mau makan apa-apa tinggal petik di sekitar rumah. Jadi sepertinya mencari warung makan di perkampungan Gunungkidul tidak semudah mencari warung makan di dekat kampus besar seperti UGM, UNY, UIN.

Terus gimana dong, nah ini dia hasil pencarian saya setelah 3 kali motoran ke Gunungkidul (belum berani nyepeda onthel kesana). Kalau mau makan nasi thiwul di rumah makan yang agak gede, lebih baik sehari sebelumnya pesan via telepon, sms, dll. Karena kebanyakan rumah makan yg agak gede tidak ready stock nasi thiwulnya. Kalau pun ada yg mau membuatkan kita harus nunggu lama. Katanya sih bisa setengah jam an gitu proses pembuatan nasi thiwulnya.

Kalau di destinasi2 wisata di Gunungkidul ada yang jual gak ya? Kalau di jalan raya mendekati pantai dan di pantai nya sendiri sih saya gak nemu. Jadi ya gak jaminan di lokasi wisata Gunungkidul ada yang jual nasi thiwul. Terus? Nah, yang banyak jual nasi thiwul ready stock itu di Curug Sri Gethuk. Pilihannya juga macam-macam, ada yg dibikin nashi thiwul goreng juga. Jadi kayak nasi goreng biasa, cuma nasinya berupa thiwul tanpa rasa alias hambar. Lalu dikashi bumbu-bumbu ala nasi goreng. Kalau saya sih dulu ngirit, cuma beli nasi thiwul bungkusan seharga 3rb. Lauk tempe sama sambel ijo. Enak. Meskipun ya emang agak gimana sih kalau kita biasa makan nasi beras padi. Tapi ya itu sensasi tersendiri, lumayan buat refreshing, mulut, biasaya makan nasi beras padi terus nyoba nasi thiwul. Beda tapi tetap enak kok. :)

Usaha dan Do'a

Hakikat do'a adalah meminta. Entah kenapa menurut saya hal terpenting ketika meminta bahwa menunjukkan bahwa kita betul-betul menginginkannya. Kita tunjukkan dengan pemilihan kata dalam doa yang benar-benar menunjukkan bahwa kita sangat mengharapkannya. Seperti diiringi memuji-muji Allah SWT serta meminta ampunan.

Usaha menurut saya juga merupakan pembuktian pada Allah bahwa kita benar-benar menginginkan yang kita minta. Jadi usaha merupakan bagian dari doa. Jika usaha kita kurang ya berarti sebenarnya kita tidak begitu menginginkan apa yang kita minta pada Allah.

Karena meminta maka keputusan tidak ada di tangan kita. Ya, semua yang terjadi di dunia ini tak akan terjadi tanpa kehendak Allah bukan? Dan setiap yang terjadi pada kita pasti ada dampaknya terhadap ciptaan Allah lainnya. Jadi banyak hal yang kita tidak tahu. Sedang Allah tahu semuanya. Jadi apa yang kemudian terjadi pada kita itulah yang terbaik.

Ketika do'a tidak terkabul. Maka evaluasinya adalah, apakah selama ini kita sudah 100% menunjukkan bahwa kita menginginkannya? Susah punya keiinginan yang kuat. Apakah kita sudah rela tidur 8 jam per minggu demi keinginan kita?

Dalam rangka merayu Allah agar mengabulkan keiinginan kita:
Apakah kita sudah bertaubat dari dosa-dosa kita.
Apakah kita sudah shalat hajat tiap hari dengan amat sangat khusyuk setiap harinya?
Apakah kita sudah memperbaiki dan menambah amalan-amalan kita.
Apakah dalam perbuatan sudah benar-benar menunjukkan bahwa kita rela menambah ketaatan dan mengurangi melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah.
Demi menunjukkan bahwa kita benar-benar menginginkan sesuatu.

#akungomongoposih
#buatdirisendiri

Senin, 01 Februari 2016

Mau Baju Baru Gratis?

Jaman sekarang ya, mau butuh apa-apa tinggal buka hp, barang-barang bisa berdatangan ke rumah kita. Selain itu promo-promo di dunia belanja online emang gak ada habisnya, terus sekarang ada lagi online shop yang nawarin baju baru gratis! :O :D

Nama online shop nya Sale Stock, lebih enak dibuka lewat hp, klik aja: http://www.openabout.com/SHtd Terus gimana caranya biar bisa mendapatkan baju gratis? Ini dia caranya:

  1. Daftar jadi member di Sale Stock, gratis kok, jadi tidak perlu ragu :) Klik j.mp/SaleStockDaftar untuk daftar.
  2. Log in, lalu pilih menu "Mau Baju Gratis" (http://www.salestockindonesia.com/baju-gratis).
Selain bisa mendapatkan baju gratis, kita juga langsung mendapatkan kode kupon yang bisa disebar ke teman-teman kita. Kode kupon ini berupa potongan harga Rp 20.000 untuk pembelian pertamanya. Kalau teman kita belanja dengan menyertakan kode kupon kita, kita juga bakal dapat 20 poin senilai Rp 20.000 yang bisa dipakai untuk belanja, kalau sudah sampai 500 poin (senilai Rp 500.000) bisa dicairkan ke rekening kita loh! :D

Mau tambahan kupon 20rb gratis? pakai aja kode kupon ini: GSMO waktu belanja di Sale Stock untuk pertama kalinya :)

Ga cukup itu aja, masih banyak kelebihan belanja di Sale Stock, yang bisa bikin megap2, hehe:

BOLEH BAYAR DI RUMAH 
Boleh bayar di rumah di 2400 kecamatan!

ONGKOS KIRIM GRATIS
Beli berapa banyakpun, tetap GRATIS ONGKIR tanpa syarat! 

GARANSI 30 HARI 
Kekecilan? Tidak cocok? Uang kembali! 

STANDBY 7x24 JAM 
Butuh bantuan? Customer service siap melayani 7x24 jam. 
BANJIR PROMO 
Banyak promo menarik tiap minggunya! 



DETAIL
Detail baju sampai ke jumlah kancing. Serasa beli langsung! 

BANYAK PIIHAN 
Ada puluhan kategori produk.





Rabu, 05 Agustus 2015

Asyiknya Punya Rekening BNI Taplus Muda


Saya mulai aktif menggunakan rekening BNI saat saya akan mengikuti Workshop Facebook Marketing. Salah satu syarat untuk mengikuti workshop tersebut adalah mempunyai kartu kredit atau paypal yang terverifikasi. Dengar-dengar proses aproval kartu kredit itu tidak mudah, apalagi statusnya masih mahasiswa.

Saya akhirnya membuat akun paypal dan mencari tahu bagaimana caranya bisa terverifikasi tanpa kartu kredit. Searching-searching saya dapat info tentang VCC (Virtual Credit Card). Beberapa anak muda yang merasa tidak bankable (baca: tidak akan di approve kalau apply kartu kredit) banyak yang memilih untuk membeli VCC, beberapa ada yang tidak kena masalah, tapi banyak yang akhirnya paypalnya kena limit.

Siapa pun Bisa Bertransaksi Online Lintas Negara

Selain VCC alternatif lainnya adalah VCN BNI. Dengar-dengar VCN BNI lebih aman dibanding VCC. Searching-searching lagi dapat info kalau VCN BNI bisa dipakai untuk membayar FB Ads. Padahal kan kenapa saat ikut workshop disuruh bawa kartu kredit atau punya akun paypal yang terverifikasi adalah agar bisa dipakai untuk bayar FB Ads. Kalau pakai VCN BNI saja bisa kenapa harus punya paypal yang terverifikasi? Lagipula saya sudah punya rekening BNI.

Sayangnya setelah tanya ke CS BNI ternyata jenis rekening BNI yang saya miliki tidak tersedia fitur VCN BNI. Ya iyalah, namanya juga cuma rekening gratisan karena kuliah di UNY. Saya terus buka rekening BNI Taplus.

Saya coba VCN BNI untuk membayar FB Ads dan taraaaa.... bisa! Seru juga, hihi. Tidak hanya untuk FB Ads, VCN BNI ini katanya sih bisa juga untuk transaksi bayar membayar kalau ingin beli produknya orang luar negeri yang mana bisanya cuma pakai kartu kredit atau paypal. VCN BNI seperti gantinya kartu kreditlah. Saya sih baru nyoba untuk FB Ads aja. Saya jadi sempat merasakan bagaimana mudahnya mencari likers dalam jumlah banyak dengan biaya minim dengan beriklan di FB.

Tidak hanya bisa digunakan untuk membayar FB Ads, jika kita butuh bertransaksi online lintas negara yang mana butuh akun paypal yang terverifikasi atau kartu kredit tapi kita tidak mempunyai dua alat pembayaran lintas negara tersebut, kita bisa menggunakan VCN BNI. Seperti dijelaskan sebelumnya, ini bisa terjadi karena dengan VCN BNI kita jadi mempunya nomor kartu kredit sementara yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Meskipun tidak semua website luar negeri bisa menerima VCN BNI, setidaknya masih ada beberapa web yang mau menerima dan bisa digunakan sementara sebelum kita memenuhi kualifikasi sebagai pebisnis muda yang approvable untuk mengajukan permohonan kepemilikan kartu kredit.

Rekening Khusus Anak Muda & Komunitas Pebisnis Muda BNI

Beberapa hari setelah Workshop FB Marketing saya dapat info kalau para pemegang Taplus Muda BNI bisa gabung di Campus Marketeers Club. Sebagai mahasiswa manajemen marketing sejati, entrepreneur muda sejati, aku harus ikut! Campus Marketeers Club (CMC) adalah komunitas mahasiswa yang tertarik dengan dunia marketing dari beberapa universitas di Indonesia. CMC dibentuk oleh majalah Marketeers dan BNI. Setiap pemegang BNI Taplus Muda bisa ikutan CMC. Buru-buru deh saya buka rekening BNI lagi, kalau dulu rekening saya jenis BNI Taplus Reguler, sekarang BNI Taplus Muda. Selain bisa gabung CMC, beberapa kali sempat ada promo voucher yang nilainya waw juga untuk pemegang Taplus Muda, hihi.

Seiring berjalannya waktu, online shop yang saya kelola makin laris. Pembeli bertambah, dan rekening mereka juga bermacam-macam. Saya akhirnya membuka rekening di bank lain juga. Saya jadi membanding-bandingkan antar Bank mana yang paling memenuhi kebutuhan pebisnis muda terutama yang go online, daaannnnn.... BNI Taplus Muda jadi juaranya!

Termasuk 4 Bank Terbesar di Indonesia

Selain punya Campus Marketeers Club, VCN, dan berbagai kelebihan yang pas sekali buat anak muda, BNI masih punya segudang kelebihan lain yang benar-benar pas bagi kebutuhan para kawula muda yang berbisnis. Pertama dan utama adalah BNI termasuk bank 4 besar di Indonesia. BNI, Mandiri, BRI, dan BCA adalah bank-bank yang sering ditanyakan oleh para pembeli di online shop saya. Tidak ada yang menanyakan selain keempat bank tersebut.

Menyediakan ATM & CDM yang Ramah dengan Lembaran Rp 20.000

Kedua adalah ATM dan CDM yang ramah dengan lembaran uang Rp 20.000. Harus disadari bahwa para pengusaha sukses tidak memperoleh kesuksesan secara instan. Berbisnis satu dua bulan, langsung meledak lalu produknya eksis hingga akhir zaman, tidak. Para pengusaha sukses pernah merasakan pahit getirnya perjuangan, sehingga lembaran uang  Rp 20.000 pun menjadi sangat berarti diawal perjuangan bisnis mereka.

Sebagai pebisnis pemula, lembaran Rp 20.000 juga sangat berarti di masa-masa sulit. Saat miskin-miskinnya dan uang di rekening tinggal Rp 20.000, hidup kita bisa terselamatkan dengan tarik tunai di ATM. Begitu juga ketika uang direkening tinggal Rp 30.000 dan kita butuh uang Rp 50.000 cash, kita bisa memasukkan lembaran Rp 20.000 ke CDM. Dalam sekejap Rp 20.000 tadi bisa berubah menjadi Rp 50.000 ketika kita tarik tunai di ATM.

Dari keempat bank terbesar di Indonesia yang sudah saya sebutkan sebelumnya, hanya BNI yang memiliki ATM Rp 20.000 sekaligus CDM yang menerima uang Rp 20.000. Mandiri mempunyai ATM Rp 20.000 tetapi mesin CDM-nya tidak menerima Rp 20.000. BCA mesin CDM -nya menerima lembaran Rp 20.000 tetapi tidak mempunyai ATM Rp 20.000. BRI justru mesin CDM -nya tidak menerima lembaran Rp 20.000 dan tidak mempunyai ATM Rp 20.000.

Aplikasi Mobile-nya Juara

Berikutnya, kelebihan BNI yang ketiga adalah aplikasi mobile-nya asyik, desain menarik, dan tidak pakai ribet. Tidak seperti bank lain yang untuk memanfaatkan aplikasi mobile bank yang bersangkutan harus mendaftar di CS, hanya bisa untuk operator tertentu saja, dan di awal harus melalui proses aktivasi aplikasi mobile yang ribet. BNI Experience dan BNI Internet Banking bisa langsung kita jalankan setelah mengunduh di play store (untuk hp android).

BNI Experience benar-benar bisa memberikan informasi yang kita butuhkan sebagai nasabah BNI. Misalnya saja lokasi kantor cabang terdekat, dsb. Cocok sekali kan untuk kita anak muda yang selalu mengikuti perkembangan teknologi, aplikasi mobile banking tentu sangat membantu kebutuhan kita dalam bertransaksi finansial, maupun sekedar untuk mengecek mutasi jika ada konsumen yang sudah mentransfer sejumlah dana ke rekening kita. Lebih penting lagi dengan BNI mobile kita bisa mengecek mutasi rekening secara gratis, sebenarnya di BCA & Mandiri juga gratis sih, tapi kalau BRI bayar. Lumayan kan, sebagai pebisnis muda kan kita butuh sering-sering cek mutasi dan butuhnya cepat dan aplikasi mobile banking BNI sangat mendukung itu.

Desain Tampilannya Juara

Keempat kelebihan BNI yang menurut saya paling menonjol dan sangat saya sukai adalah desain tampilannya. Anak muda kan suka mudah bosan ya, tetapi kalau desain tampilan yang kita lihat sedap dipandang mata tentu bisa meningkatkan mood kita. Salah satu desain tampilan milik BNI yang sangat bermanfaat adalah tampilan setelah kita selesai transfer via internet banking di hp. Informasinya lengkap, rapi, dan ciamik, jadi enak mengirim screenshot-nya ke orang yang habis kita transfer. Kita juga tidak perlu mengirimkan screenshot mutasi rekening lagi ke orang yang habis kita transfer. Berikut perbedaan tampilan laporan transfer berhasil dari 4 bank terbesar di Indonesia.

Tampilan setelah kita selesai transfer via mobile internet banking BNI.

Tampilan setelah kita selesai transfer via mobile internet banking BCA.
Jauh sekali kan tampilan keterangan sukses transfer via mobile internet banking BNI & BCA. Saya sendiri kalau ada yang bilang sudah transfer ke rekening BCA saya dengan hanya mengirim bukti transfer seperti diatas tentu saya tidak akan langsung percaya. Saya harus repot-repot cek mutasi. Begitu pula ketika saya transfer ke rekening BCA supplier saya, saya pernah hanya mengirim bukti transfer yang seperti gambar diatas. Respon supplier saya tidak cepat. Saya harus repot-repot buka mutasi rekening, screenshot barulah saya kirim ke supplier saya. Kalau di bukti transfer ada tulisan yang lebih jelas seperti berita transfer dan jumlah yang ditransfer, supplier saya responnya lebih cepat.

Tampilan mutasi mobile internet banking BCA yang hanya mencantumkan berita transfer dan jumlah nominal transfer.

Jumat, 31 Juli 2015

Melukis Masa Depan

Saya awalnya tidak mempunyai cita-cita yang jelas dan sulit menggambarkan masa depan tetapi semua itu berubah setelah saya menikmati proses berbisnis dagang tas via online. Saya berjualan melalui toko online saya yang bernama Tas Bergaransi. Toko Online Tas Bergaransi yang saya dirikan ini membuat saya yakin untuk tidak akan melamar kerja di suatu perusahaan. Saya yakin total 100% memilih menjadi seorang entrepreneur. Saya yakin dengan masa depan Toko Online Tas Bergaransi, yang selama ini terus bertumbuh.

Sesuai namanya, Toko Online Tas Bergaransi hanya menjual tas yang bergaransi. Saya bekerja sama dengan beberapa produsen tas dari berbagai kota besar di Jawa. Semua merek asli Indonesia. Saat ini banyak orang Indonesia yang memilih membeli tas dengan bermerek dari luar negeri. Padahal banyak produk tas bermerek dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan harga yang lebih murah, bahkan beberapa merek dalam negeri yang bekerjasama dengan Toko Online Tas Bergaransi berani memberikan garansi seumur hidup untuk produknya.


Banyak juga orang Indonesia yang memilih membeli produk berlabel merek luar negeri tetapi kw alias palsu, dengan harga sangat miring namun kualitas jelek. Daripada membeli produk palsu bukankah lebih baik membeli produk asli anak negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan produk bermerek dari luar negeri ditambah lagi harga produk tas bermerek dalam negeri lebih murah dibanding produk tas bermerek dari luar negeri. Salah satu merek yang menjadi supplier saya bahkan produknya jauh lebih laris di luar negeri dibanding di negeri sendiri. Itu karena orang luar negeri lebih mementingkan kualitas daripada merek sedangkan masih banyak sekali orang Indonesia yang lebih melihat merek daripada melihat kualitas. Mengapa tidak belajar mencintai produk dalam negeri mulai dari produk tas, sepatu, kemudian menyusul berbagai produk dalam negeri lainnya.


Garansi produk yang dijual di Toko Online Tas Bergaransi bermacam-macam, ada yang garansi retur, garansi 6 bulan, garansi 1 tahun, garansi 2 tahun, garansi 3 tahun, & garansi seumur hidup. Setiap merek mempunyai kebijakan garansi yang berbeda-beda. Saya hanya mau bekerja sama dengan merek yang bersedia memberikan garansi produk. Tidak semua tawaran menjualkan produk tas saya terima, saya tidak ingin pelanggan Toko Online Tas Bergaransi kecewa. Jika menemukan produk bagus bahkan saya akan menawarkan diri untuk menjualkan produknya. Sampai saat ini saya sudah bekerjasama dengan 10 merek dalam negeri yang mempunyai produk berkualitas dan bersedia memberikan garansi produk.

Tas yang lebih laris di luar negeri daripada di Indonesia
Mimpi saya untuk Toko Online Tas Bergaransi adalah kelak berbelanja tas di Toko Online Tas Bergaransi akan menjadi kebanggaan tersendiri oleh para pembeli online. Kalau sekarang mungkin seperti punya Iphone. Saya ingin kelak orang-orang kalau beli tas berusaha belinya di Toko Online Tas Bergaransi, karena kualitasnya sudah teruji. Kalau sudah belanja di Toko Online Tas Bergaransi bangga sekali. Kalau beli tas tapi tidak di Toko Online Tas Bergaransi rasanya ada yang kurang.


Bonjour, merek asal Bandung adalah merek tas paling laris di Toko Online Tas Bergaransi

Jika berbicara matriks BCG, Toko Online Tas Bergaransi merupakan sapi perah. Saya akan merawat sapi perah dan mengusahakannya agar segera auto pilot. Saya juga ingin membuka toko kantor kecil Toko Online Tas Bergaransi di Yogyakarta setelah mempunyai dana untuk membiayai karyawan dan lokasi kantornya.

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons
Selain Toko Online Tas Bergaransi saya juga mempunyai bisnis Kaligrafi Aksara Jawa namun sedang vakum. Saya akan fokus menjadikan Toko Online Tas Bergaransi menjadi mesin uang dahulu. Kapan Toko Online Tas Bergaransi bisa disebut sebagai mesin uang? Ketika Toko Online Tas Bergaransi sudah auto pilot dan memberikan keuntungan minimal puluhan juta per bulannya.

Bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya butuh edukasi pasar yang mana biayanya tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga saya memilih untuk fokus memelihara Toko Online Tas Bergaransi dahulu sampai Toko Online Tas Bergaransi mampu menopang pembiayaan yang dibutuhkan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Dalam matriks BCG bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya berada pada kuadran tanda tanya. Dengan menggunakan hasil dari Toko Online Tas Bergaransi ketika sudah auto pilot saya akan merawat bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya hingga masuk ke kuadran bintang pada matriks BCG.


Mengapa bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya tempatkan pada kuadran tanda tanya dan akan saya arahkan bergeser masuk ke kuadran bintang? Karena sampai saat ini belum ada bisnis yang mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa. Saya berniat mengangkat Kaligrafi Aksara Jawa karena Kaligrafi Aksara Jawa merupakan seni budaya warisan leluhur yang kini hampir punah. Saya ingin melestarikan Kaligrafi Aksara Jawa dengan mengangkatnya sebagai sesuatu yang khas dari Jawa.

Saya mempunyai merek untuk bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya. Kedua merek tersebut sudah saya daftarkan sejak tahun 2013 lalu, kini menunggu kabar tuntasnya proses pendaftaran merek dari Ditjen HAKI. Merek pertama saya adalah Rikswa, singkatan dari Relief Kaligrafi Aksara Jawa. Produk Rikswa adalah relief Kaligrafi Aksara Jawa yang terbuat dari limbah kertas.


Produk Rikswa sempat saya titipkan di Mirota Batik. Alhamdulillah laku, dan pihak Mirota Batik siap menerima produk Rikswa lagi. Namun karena proses pembuatan Rikswa cukup lama saya tidak lagi titip jual di Mirota Batik. Selain itu saat itu saya belum pandai menentukan harga, sehingga laba yang saya dapatkan dari penjualan Rikswa amat sangat sedikit sekali, tidak sebanding dengan tenaga, pikiran, dan waktu saya dalam proses pembuatannya.


Merek bisnis Kaligrafi Aksara Jawa yang kedua adalah Kalakswa, singkatan dari Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Sementara ini saya hanya punya dua desain Kaos Kaligrafi Aksara Jawa. Nantinya kalau bisnis Kaos Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah siap kembali berjalan tentunya desainnya akan bertambah, menerima pesanan custom juga seperti nama orang, nama instansi, kata ucapan, dsb. Saya juga akan menambah variasi produk, yaitu kaos dengan lukisan tangan Kaos Kaligrafi Aksara Jawa.



Mimpi saya untuk Kalakswa (Kaos Kaligrafi Aksara Jawa) adalah kalakswa akan jadi oleh-oleh wajib bagi siapapun yang berlibur ke Jogja. Mereka bisa pesan Kaligrafi Aksara Jawa nama mereka sebelum sampai di Jogja. Sesampainya di Jogja tinggal ambil kaos custom Kalakswa yang sudah mereka pesan.


 Mimpi saya untuk Rikswa (Relief Kaligrafi Aksara Jawa) sebagai berikut:
1. Setiap rumah di Jogja kelak akan memiliki Rikswa di rumah mereka, seperti halnya Pura yang ada setiap rumah warga Bali yang beragama Hindu. Kalau Kaligrafi Aksara Jawa tentu tidak hanya untuk agama tertentu saja, tapi untuk semuanya.
2. Setiap instansi di Jogja punya versi Kaligrafi Aksara Jawa nama instansi mereka.
3. Setiap instansi  memajang Rikswa di kantor mereka.
4. Setiap hotel memajang Rikswa, minimal satu di ruang utama.
5. Rikswa menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi mereka yang berkunjung ke Jogja. Mereka bisa memesan sebelum ke Jogja dan mengambilnya ketika sudah sampai Jogja.


Jika bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya sudah memberikan keuntungan minimal puluhan juta dan sudah auto pilot, selanjutnya saya ingin membuat komunitas bisnis online untuk anak muda sebagai tempat saya berbagi ilmu secara gratis. Setidaknya saya mulai mencicil bulan ini dengan membuka kelas gratis terbatas untuk kakak saya dan teman-temannya yang sudah lama ingin belajar berjualan online dengan saya. Komunitas ini rencananya saya beri nama “Muda Mandiri High Tech”. Saya sering sedih ketika ada anak muda yang sudah berusia diatas 17 tahun tapi masih suka minta-minta belas kasihan karena kondisi orang tua yang kurang mampu. Hidup hanya bergantung dari para donatur atau beasiswa.

Saya juga kurang setuju dengan anak muda yang marah kalau gagal mendapatkan beasiswa kurang mampu karena justru yang mendapatkan temannya sendiri yang ternyata lebih kaya. Apalagi mereka yang menuntut tersebut anak pintar namun berasal dari keluarga miskin. Menurut saya kalau memang mereka lebih pintar dibanding orang lain, berarti mereka punya potensi untuk mandiri lebih cepat dibanding orang lain.

Saya pernah marah tapi tanpa bersuara kemana-mana ketika mengikuti seleksi beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu (beasiswa yang tidak memandang IPK), dan saya tidak mendapatkannya. Justru teman saya yang jauh lebih kaya yang mendapatkannya. Tapi saya sekarang sudah bertobat. Saya mendapatkan hidayah setelah secara bertahap mengetahui makna mental kaya dan mental pengusaha. Proses masuknya hidaya adalah dengan cara memfollow akun-akun pengusaha sukses, favorit saya adalah Pak Jaya Setiabudi. Sebelum menemukan passion saya, saya rajin mencuci otak saya dengan tweet-tweet beliau.

Foto bersama Pak Jaya Setiabudi pakai handphone Nokia jadul (2013).
Saya ingin anak muda stop menghabiskan energi untuk menuntut. Daripada tenaga, pikiran, dan perasaan lelah karena menuntut beasiswa yang seharusnya diberikan kepada mereka lebih baik tenaga pikiran dan emosinya diarahkan ke hal positif untuk memulai berbagai macam bisnis tanpa modal. Cobalah buka mata, banyak anak muda usia belasan tahun kini berhasil bisnis tanpa modal dan beromset ratusan juta serta punya karyawan.

Saya ingin anak muda terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu segera berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa secepatnya membantu menaikkan taraf hidup orang tua mereka dengan tangan kalian sendiri, bukan dengan donasi atau beasiswa. Tidak harus menunggu lulus kuliah S1, S2, S3 atau mendapatkan pekerjaan mentereng untuk membantu menaikkan taraf hidup orang tua. Jika mereka memang berasal dari keluarga yang hidupnya susah, jika mereka bisa menaikkan taraf hidup orang tua mereka lebih cepat tanpa harus menunggu lulus kuliah atau mendapatkan pekerjaan mentereng kenapa tidak dilakukan.



Bahkan dengan menjadi seorang pengusaha sukses bisa jadi kita justru bisa menjadi pendonasi beasiswa, bukan lagi sebagai penerima beasiswa ketika masih kuliah. Namun juga bukan berarti tidak perlu kuliah atau kalau sudah kuliah harus keluar, karena banyak sekali tawaran modal bisnis untuk mahasiswa, mulai dari dana hibah hingga pinjaman tanpa bunga. Bahkan banyak juga kompetisi bisnis untuk mahasiswa.

Mengenai kompetisi bisnis mahasiswa, yang terjadi sekitar saya adalah para mahasiswa yang mental pengusahanya belum terbentuk & belum matang, mereka menjadikan kompetisi bisnis sebagai wahana menambah deretan gelar juara yang sudah mereka dapatkan. Sehingga ketika ada kompetisi baru, mereka membuat bisnis baru lagi, kompetisi baru bisnis baru, yang lama ditinggal. Bukannya memelihara bisnis yang sudah dimulai justru mengejar gelar juara dalam berbagai kompetisi. Harapannya kelak ketika melamar pekerjaan akan mendapatkan nilai tambah karena mempunyai banyak sertifikat kejuaraan. Berarti belum mantap memilih profesi sebagai pengusaha dong.

Mengapa saya tidak memilih bercita-cita membuka pelatihan untuk para pebisnis mikro yang usianya sudah lanjut, yang usianya sudah diatas 35 tahun atau bahkan yang sudah kakek nenek? Masalahnya, syarat awal menjadi pebisnis yang sukses menurut saya adalah mindset. Susah mengubah mindset mereka yang sudah berumur. Apalagi mengajari hal-hal baru kepada mereka yang sudah berumur, pasti susah. Mengusik kenyamanan mereka yang sebenarnya membuat mereka tidak nyaman (bisnis tidak maju-maju, tarafnya mikro terus sudah belasan tahun hingga puluhan tahun) tentu susah. Mereka yang sudah berusia lanjut sebaiknya istirahat dan menikmati masa tua, menjaga kesehatan, stop berpikir tentang biaya hidup. Biarlah anak cucu mereka yang berpikir untuk mencukupi kebutuhan mereka dan membahagiakan mereka.

Saya tidak ingin ada lagi anak muda, usia sudah diatas 17 tahun mengeluh karena kebutuhan mereka tidak tercukupi akibat orang tua mereka tidak mampu. Stop mengkambinghitamkan orang tua. Merekalah yang sebenarnya menjadi kambing hitam jika hidup keluarga mereka susah. Mereka yang otak dan badannya masih segar yang harus bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga mereka. Lagipula zaman sekarang cari uang untuk anak muda itu mudah sekali. Tinggal tahu bagaimana caranya berjualan online, rekening mereka bakal dinamis, uang jutaan masuk ke rekening setiap bulan bukan lagi sekedar mimpi.

Melalui komunitas “Muda Mandiri High Tech” saya ingin ilmu yang saya bagikan kelak turun temurun dan terus ter-update. Karena teknologi terus berubah, tentu mereka yang muda-lah yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Cara-cara pemasaran baru yang lebih efektif dan efisien. Saya ingin semua yang bergabung dengan komunitas ini mempunyai otot berbagi yang besar. Sehingga semua remaja, muda mudi Indonesia bisa mandiri. Mereka yang mendapatkan ilmu dari komunitas ini mengajak anak muda lainnya untuk membagi ilmu mereka dan kelak yang mendapat ilmu membagi lagi, dapat bagi, dapat bagi, ilmunya tidak harus sama, disesuaikan perkembangan teknologi terbaru.

Setelah Online Shop Tas Bergaransi dan bisnis Kaligrafi Aksara Jawa saya settleauto pilot, memberikan passive income yang mencukupi, rutin membiayai komunitas “Muda Mandiri High Tech” dan komunitas “Muda Mandiri High Tech” juga sudah auto pilot,  saya ingin fokus menjadi penulis. Saya ingin jadi penulis setelah semuanya auto pilot karena untuk menulis butuh waktu namun tidak untuk tenaga yang berlebihan. Tidak harus diterbitkan penerbit terkenal, bisa terbitkan sendiri atau membuat web khusus sendiri. Saya sering mempunyai pemikiran-pemikiran yang ingin saya tuliskan namun saya masih ingin fokus untuk memiliki bisnis yang auto pilot. Saya sering mempunyai ide-ide, saya takut jika saya menjadi penulis sekarang bisnis saya jadi tidak terawat.

Saya ingin menghabiskan masa tua saya dengan damai. Menjadi penulis bukan karena uang tapi karena ingin bermanfaat. Saya kelak ingin memakai nama pena agar tetap menjadi unknown person. Menjadi orang terkenal pasti tidaklah mudah dan saya tidak ingin menjadi orang terkenal. Cukup bisnis dan komunitas saya saja yang terkenal tapi saya tidak.

Setelah meninggal saya tidak ingin dikenang sebagai siapa-siapa, tidak ingin nama saya dikenang. Saya tidak ingin gagal masuk surga hanya karena riya' (berbuat baik karena mengharap pujian dari orang, bukan agar mendapat nilai plus di hadapan Allah). Saya pernah mendengar cerita orang dermawan yang gagal masuk surga karena ternyata dia dermawan hanya karena ingin disebut dermawan, dipuji orang-orang di sekitarnya, amalannya tidak untuk Allah. Saya tidak ingin itu saya.


Sepeninggal saya, saya ingin bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech” yang sudah dan nantinya akan saya dirikan tetap eksis hingga akhir zaman. Terus memberikan manfaat pada manusia dan dunia. Tanpa menyebut-nyebut nama saya sebagai pendiri. Saya ingin sepeninggal saya, saya dilupakan, cukuplah bisnis-bisnis saya dan komunitas komunitas “Muda Mandiri High Tech”  terus memberikan manfaat hingga akhir zaman.

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...