FeniFine's Motto

"Kesuksesan anda tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, melainkan dibandingkan dengan diri anda sebelumnya." ~Jaya Setiabudi

Kamis, 25 Juni 2015

Ing Pelabuhan

Judul postingan kali ini terinspirasi dari lagunya Didi Kempot yang reff nya diawali "Ing Pelabuhan" Gara-gara sering tidak sengaja dengar lagu itu, hahaha



Jadi, Sabtu malam tanggal 30 Mei 2015 kemarin aku baru saja sampai di Banyuwangi setelah duduk seharian lamanya di dalam kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kebayang capeknya kan, tapi aku tidak akan bahas tentang itu. Perjalanan ini sudah direncanakan jauh berbulan-bulan lamanya sejak awal tahun seingatku, dalam rangka hadir dalam acara ngunduh mantu saudaraku. Karena bertepatan dengan long weekend, rencananya juga mau sekalian nyebrang ke Bali main-main bentar... Tapi rencana tetap rencana, bisa menjadi kenyataan bisa juga hanya tinggal rencana.

Awalnya mau sewa 2 mobil buat ke Bali. Tapi rencana itu dibatalkan! Hmm... sedih jelas. Yaelah sudah capek-capek duduk 13 jam lebih di kereta ekonomi dari Jogja sampai di Banyuwangi tidak jadi main ke Bali. Akhirnya diputuskan yang ke Bali hanya keluarga Mbak Irum + Dea & Yasin + siapa lagi aku kurang tahu waktu itu. Mereka ke Bali dalam rangka menjemput Adib putra Mbak Irum yang besok pagi mendarat di Bali dari Tangerang, sekalian main bentar di Bali tentunya... Pengennnnn :'(

Gagal deh rencana jalan-jalan ke Bali sama ibuku. Mumpung sekalian gitu, jadi biayanya lebih murah, hehe. Meskipun sedih, tapi aku masih berharap bisa ikutan ke Bali. Siapa tahu aja besok pagi aku diajakin ke Bali karena masih ada tempat duduk di mobil #ngarep.com. Pokoknya besok harus bangun pagi-pagi banget sambil setrika baju-baju yang kubawa. Semoga aja ditawarin ikut ke Bali, hahaha

Minggu, 31 Mei 2015, Pagi-pagi buta
Namanya juga tidak di rumah sendiri, ya susah kalau mau tidur nyenyak. Alhamdulillah, meskipun semalaman aku tidur paling akhir diantara yang lain, paginya aku bisa bangun paling awal. Mulai lah aku setrika baju-baju yang aku bawa, sambil berharap nanti aku diajakin ke Bali sama rombongan Mbak Irum. Soalnya kemarin malam aku dengar mereka jam 5 pagi sudah harus siap berangkat. Toh aku tidurnya, setrikanya juga di dekat Dea sama Yasin, kalau mereka mau berangkat aku pasti tahu to, bahahah

Satu demi satu bajuku sudah aku setrika. Ndilalah Lik Inah bangun, lihat aku setrika, trus titip baju satu deh. Ya Allah semoga aku cuma dititipin baju satu aja buat disetrika, jangan sampai aku jadi petugas laundry disini :|. Eh belum habis baju-bajuku disetrika, Mbak Maming (ibunya Dea sama Yasin) nyuruh dua putrinya buat mandi, soalnya mau ke Bali. Ya Tuhan, aku juga pengen mandi, biar kalau diajakin ikut ke Bali juga sudah siap #masihngarep. Tapi bajuku belum selesai aku setrika #huwaaaa

Masih ngantuk, Dea sama Yasin tidak segera masuk-masuk ke kamar mandi. Baju yang harus ke setrika sudah tinggal dikit. Tiba-tiba datang Mas Iyat dari rumah sebelah. Ya, ternyata rombongan yang mau ke Bali terdiri dari: Keluarga Mbak Irum (3 orang + Adib, jadi 4), Keluarga Mas Iyat (2 orang, Mas Iyat + Vira), Dea & Yasin. Kapasitas mobil maksimal 8 orang.

Ternyata Vira, putri Mas Iyat tidak mau diajak ke Bali, akhirnya Mas Iyat tidak jadi ikut ke Bali. So, mobil masih muat untuk 2 orang lagi. Ya, Mas Iyat datang buat menawarkan space 2 orang ke para ibu-ibu yang ada. Karena yang ditawari para ibu-ibu jadi aku ya diam aja sambil menyelesaikan setrikaanku. Padahal dalam hati aku njerit-njerit "Mauuuuuuu...." Tapi ya sekadar jeritan dalam hati, hiks

Entah keberuntungan macam apa ini, tidak ada yang mau gantiin Mas Iyat dan Vira. Sedangkan si Agung, sepupuku yang juga sebelumnya pengen ikutan ke Bali masih mimpi indah. Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh di Banyuwangi saja. Sampai akhirnya keluarlah hitungan ongkos Mas Iyat. Kalau satu mobil tidak diisi 8 orang, nanti bayarnya jadi lebih mahal, kalau diisi 8 orang kan jadi lebih hemat sesuai perkiraan awal. Mbak Maming pun menyahut, "Ya sudah nanti kita tanggung bersama." Yah rugi dong, ikut bayar ongkos ke Bali tapi tidak ikutan main ke sana. Akhirnya aku langsung bilang, "Aku mau ikut!"

Ya Tuhan, akhirnya tidak sia-sia aku duduk 13 jam lebih di kereta api dari Jogja sampai Banyuwangi, hahaha.. Meskipun sedih juga karena ibuku lebih memilih acara belanja oleh-oleh di Banyuwangi sama bulik-bulikku dibanding ke Bali sama aku, hiks.. + yang gantiin Mas Iyat & Vira cuma aku. Ya gapapa lah dari pada tidak jadi ikut ke Bali kan? :D

Permasalahan pun selesai, tidak ada yang harus ikut nanggung ongkos ke Bali tanpa ikutan main ke Bali + aku jadi ikut ke Bali! Yeay! Habis itu aku langsung mandi, sholat Shubuh, menyiapkan tas yang mau dibawa ke Bali. Tapi... ternyata aku lupa bawa memori card buat kameraku! Lengkaplah sudah, tongsis rusak + bawa kamera, baterai, charger, tapi tidak bawa kartu memori, hiks. Tak apalah masih ada hp dengan mega piksel seadanya + kamera digital punya Dea, hahaha

Pagi itu Desa Tukangkayu Banyuwangi hujan rintik-rintik. Sebelum berangkat kami mampir dulu ke rumah Mbak Yani, tuan rumah yang akan menggelar hajatan ngunduh mantu besok Senin. Setelah pamit ke Mbak Yani, kami pun naik mobil otw ke Bali, hujan masih rintik-rintik. Aku kira Banyuwangi beda dengan Jogja, Mei masih sering hujan. Ternyata tidak, kata Pak Sopir mobil sewaan, kemarin-kemarin Banyuwangi panas, entah kenapa tadi malam dan pagi ini hujan.



Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Pelabuhan Gilimanuk. Aku yang baru pertama kali lihat pelabuhan langsung hebring. Foto-foto pemandangan sekitar dengan gadget seadanya + kemampuan ala kadarnya. Ya, aku kurang tertarik mendalami fotografi, tapi kalau pergi-pergi aku selalu ingin foto-foto apa yang menarik buatku. Cuma ingin loh ya, kadang ya sekedar ingin saja tidak semua yang ingin aku foto akhirnya aku foto. Apa yang menggerakkan aku buat foto-foto ya biasanya karena ingat blog. Setiap dapat pengalaman apa atau pergi ingin mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya dan semua diceritakan di blog, haha. Pada prakteknya, yang di foto cuma sedikit dan tidak kunjung diceritakan di blog ^^v

Tapi, sejak jalan-jalan yang ini aku mau bertekad untuk harus memfoto semua yang ingin aku foto. Tekadku sudah bulat, namun sayangnya tidak didukung dengan kapasitas baterai hp,kamera, & powerbank yang memadai, sehingga kalau tidak penting-penting banget aku tidak bakal foto-foto. Jangan sampai nanti tidak bisa memfoto objek yang paling menarik selama perjalanan gara-gara dikit-dikit foto dikit-dikit foto (wkwkwkwk saktenane podo wae dadi raiso koleksi foto-foto sepuasnya :( )

Yowislah, ini awalnya aku cuma mau upload foto-foto di pelabuhan dan selama di kapal aja. Tapi ya dasarnya aku dikit-dikit ingin cerita di blog, ya seperti inilah jadinya.. Teteeeppppp cerita panjaaannnngggg dan leeebaaaaaarrrrrr hahahah ^^v

by Dea

 


Sandal jepit swallow yg selalu menemani sepanjang perjalanan


Sayangnya aku lupa ngeset kamera ke mode sunrise, jadi hasilnya tidak ada warna oranye-oranyenya. Waktu di Tanah Lot juga sudah mendekati sunset, tapi lagi-lagi aku lupa ngeset kamera, jadi tidak ada warna oranye-oranyenya jugaaa :'(.

Maaf kalau bahasanya agak gimana gitu, soalnya baru belajar membiasakan diri blogging menggunakan bahasa yang baku. :')

Rabu, 14 Januari 2015

Membuat Blog Go International Tanpa Skill Bahasa Inggris

Kalo ngeblog buat seneng-seneng aja, rasanya males banget pake bahasa baku. Enaknya ya pakai bahasa yang kita pakai sehari-hari, ya gak? Toh blogger banyak yang gak pake bahasa baku tapi blog mereka tetep laris manis, rangking alexa-nya bagus.

Iya, sekarang tujuanku nge blog ya buat seneng-seneng aja. Seriiinngggg banget dikit-dikit pengen cerita di blog, dikit-dikit pengen share di blog. Pokoknya apa-apa pengen diceritain, pengen dishare. Karna udah pengen, kalo keturutan ya akhirnya jadi merasa lebih lega.

sumber gambar: wikipedia.org
Tapi suatu saat aku pernah nyoba translate blog-ku pake widget Google Translate yang udah tak pasang. Dan hasilnya taraaaa…. Gak karuan!! Banyak kata-kata yang gak baku gak bisa tertranslate. Mending kalo ditranslate ke Bahasa Inggris, meskipun banyak yang gak ketranslate tapi kan gak gitu keliatan soalnya tulisan latin semua. Nah, kalo dicoba ditranslate ke tulisan China. Kata-kata yang gak baku otomatis menonjol tetap berdiri tegak diantara tulisan-tulisan China di kanan-kirinya.

Ternyata selama ini aku pasang widget translate gak gitu berguna. Soalnya seingetku kebanyakan artikel yang ada di blog ini menggunakan Bahasa Indonesia yang gak baku. Kalo liat di statistik kadang ada traffic dari luar negri. Tapi kalo mereka baca/translate artikel-artikelku yang gak pake bahasa baku, ya agak percuma gitu. Lah gak semua ketranslate. Apa mungkin mereka mau balik mampir ke blog ini lagi? Orang yang orang Indonesia yang paham kata-kata Bahasa Indonesia yang gak baku aja belum tentu mau kesini lagi, hehe

Yaudahlah, tapi mau hapus widget translate sayang (padahal yo widget gratisan bawaan dari google, hapus ya gampang banget tinggal hapus). Mau pake Bahasa Baku juga rasanya jadi kurang nyantai, ini blog kan cuma buat asik-asik aja. Enaknya waktu nulis ya kayak pas ngobrol sama temen aja. Coba bayangin, tiap ngobrol sama temen kamu harus pake bahasa baku, kebayang kan anehnya? Kaku banget, membosankan, dan nggak lepas.

Tapi ya itu, kalo tetep pake Bahasa yang gak baku ya blog ini pembacanya jadi terbatas. Kecuali bikin artikelnya dengan Bahasa Inggris. Lah, aku belum pede buat bikin artikel full Bahasa Inggris.

Mmm.. akhirnya utk sementara ini mungkin aku kayaknya gak ninggalin begitu aja Bahasa sehari-hari (yang gak baku) buat bikin artikel blog. Gak menutup kemungkinan juga sih kalo ntar bakal ada beberapa artikel juga yang pake bahasa baku full.

Inti dari artikel ini:

Menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku menyebabkan artikel di blog tidak bisa ditranslate dengan baik oleh Google Translate.

Bahasa yang baku saja bisa diterjemahkan dengan kurang sesuai, apalagi tidak baku.

Bahasa yang tidak baku tidak fleksibel berubah-ubah Bahasa.

Padahal blog kita sangat mungkin dikunjungi visitor dari berbagai negara yang bahasanya berbeda.

Blog kita pun akhirnya menjadi susah go international.
Rugi banget, kan.

Netizen luar negri jadi malas baca blog kita, karena isinya kurang bisa dipahami, kata-kata yang ada banyak yang tidak bisa diterjemahkan menggunakan Online Translator semacam Google Translate.

Jika kita sudah banyak artikel di blog kita yang menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku, maka saat kita tobat ingin menggunakan Bahasa Indonesia yang baku maka kita akan kesulitan mengedit artikel-artikel yang sudah terlanjur menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku. *ini kalimat apa kereta? panjang banget* *mungkin kalimat ini juga tidak baku karena terlalu panjang*

Tapi karena saya posting di blog buat asik-asik aja, ya tidak menutup kemunginan saya masih akan menggunakan bahasa yang tidak baku untuk artikel tertentu atau kebanyakan artikel yang akan saya posting di blog.

~ Sekian dan Terimakasih ~
***************************

Selasa, 13 Januari 2015

Mencari Nasi Thiwul #3


Kalau penasaran sama perburuan nasi thiwul sebelumnya bisa baca disini >> Mencari Nasi Thiwul #1 dan #2
Halo halo 2015.. masih suasana tahun baru aja ya.. tapi akunya masih suka kasih cerita lama.. soalnya aku masih punya utang serial perburuan nasi thiwul yang belum selesai, hehe
Selain itu, twitku ke akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum di 1 April 2014 belum lama ini baru dibales sama miminnya tepatnya baru dibales tgl 7 Januari 2015!! :O Syukur alhamdulillah sih, daripada gak dibales hayoo..
berburu nasi thiwul partthree
berburu nasi thiwul partthree.
Pumpung inget segera bikin terusan serialnya ah.
****
Setelah denger penjelasan mbak-mbak Gatot Thiwul Yu Tum yang angkat telponku, aku punya banyangan kalo cabang Gathot Thiwul di Jln. Wonosari itu jelas masih jauh dari Kids Fun. Tapi kalo dari Pasar Piyungan gak jauh-jauh amat lah. Seenggaknya gak sampai bukit Indah yang selalu keliatan kalau kita berkendara di Jln. Wonosari ke arah timur. Paling ya ada naik turun tapi gak seekstrim waktu aku ke Gunung Kidul jaman SMA dulu (naik bis). Padahal mbak yg angkat telponku udah bilang kalo ntar lewat Bukit Pathuk. Tapi kan aku belum tau Bukit Pathuk itu mana. Entah kenapa bayanganku perjalanan kesana gak jauh beda kalo ke daerah Jln. Wonosari sekitaran Kids Fun/Pasar Piyungan. Ya itu karna waktu itu aku masih ngerasa kalo Pasar Piyungan itu jauhnya gak ketulungan.
Aku yakin banget sama bayanganku itu. Terus aku pun berangkat naik motor sama ibuku. Pagi-pagi. Soalnya pake motor mbakku dan motor mbakku mau dipake jemput anaknya habis jum’atan. Tidak lupa mampir rumah bulikku di deket Kids Fun.
Reaksi Bulik sama Omku pun kayak gini. “Kendel banget kowe Fen,” “Irung Petruk lewat loh, isih adoh. Aku ndhisik kerep rono, adoh banget,” dsb. Akhirnya bermuara kepada saran biar aku sama ibuku naik bis. “Numpak bis wae, paling kur 15 ewu.” “Iyo numpak bis wae piye?” tanya Ibuku. Aku pun mbathin segitunya ya. Mmm.. gimana yaa..
Naik bis 15rb per orang. 2 orang 30rb. Bolak balik 60rb. Buset mahal banget. Belum kalo dari tempat turun bis masih jalan jauh. Naik bis lagi, turun lagi, jalan lagi. Kalo naik taksi/becak/ojek jelas mahal. Apalagi kalo skripsi kan harus bolak balik kesana. Habis berapa sendiri coba cuma buat transport. Hmmm…
Akhirnya coba dulu deh naik motor. Orang tua kan suka over ya khawatirnya. Apalagi sama anak perempuan. Coba dulu pake motor kan gak ada salahnya. Wong aku jaman SMA pernah ke Solo naik motor sama mbak Ajeng, akunya cuma mbonceng sih. Tapi kan mbak Ajeng perempuan, dan nyatanya bisa sampai Solo dengan selamat :p
Setelah aku tetap memutuskan buat naik motor, Bulik sama Omku ngasih wejangan. “Ati-ati,” “Alon-alon wae,” “Gigi 2 wae,” kata Bulikku. “Gigi 3 yo rapopo,” kata Paklikku. Aku pun nggah nggih aja.
Dan perjalanan pun dimulai. Kids Fun lewat, Pasar Piyungan lewat. Sampai pertigaan jalan Jogja-Piyungan bukit Indah yang selalu terlihat selama perjalanan tampak semakin dekat. Tapi ya tak kira masih jauh, wong aku belum nemu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5.
Ealah lurus dari pertigaan itu kok ya, bukit Indah yg selalu keliatan itu tampak makin dekat. Dan tiba-tiba jalannya udah super nanjak!! Aku syok. Cuma kaget aja sih, hehe Gak ngira secepet ini masuk zona bukit Indah yang tadinya nampak sangat amat jauh. Eh ternyata gak terlalu jauh dari Pasar Piyungan.
Ibuku jelas langsung wanti-wanti, “Alon-alon wae.” Iya aku alon-alon, tapi makin masuk bukit, tips gigi 2 atau gigi 3 dari Bulik sama Omku kok ya gak pas ya.. Kalo naik motor itu emang masing-masing, si A enaknya gini si B belum tentu sama. Soal gigi fleksibel lah, gak jarang masuk gigi 4 juga. Tapi ya namanya baru pertama kali naik motor di daerah kayak gini ya kecepatan sekitar 30-50 km/jam. Lebih sering 40km/jam deh kayaknya pas itu.
Hutan demi hutan dilewati, tiap ada yang bentuk agak mirip toko atau rumah makan agak dicermati, itu Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari bukan. Lumayan sih, beberapa kali dapet bonus pemandangan indah di bawah sana. Sempet kepikiran juga kalo misal kehabisan bensin atau ban bocor di jalan kayak gini bahaya, lah langka pom bensin, orang jual bensin, sama tambal ban. Kebanyakan hutan-hutan gitu. Bisa-bisa menderita nuntun motor naik turun sampe jauh. Kalo mau lewat sini bensin harus diisi banyak dan cek ban. Pantes kalo Bulik sama Omku agak lebay gitu waktu tau aku mau ke Jln. Wonosari, Siyono.
Setelah melaju cukup jauuuuhhhhh…. dan laaammmmmaaaa… akhirnya sampai juga di dekat kantor “GCD FM, Bukit Pathuk Gunungkidul ning ning nang nung” –musik khas di tag line ini radio sejak jaman aku masih SD yg bener-bener nampol diingatan. Masa sih sampe sejauh ini belum sampe juga. Jangan-jangan kelewatan. Lurus dikit dari GCD FM aku tanya sama ibu-ibu di depan kantor sebuah bank (agak lupa, kalo gak BPD ya BRI). Aku tanya alamat Gatot Thiwul Yu Tum, Jln. Wonosari KM 3,5 Siyono. Tau gak jawaban ibu itu? “Tasih tebih, lurussss…. terussss…. mengkeh wonten air mancur, niku Siyono.” What? Ini udah jauh banget, okelah kalo begitu.
Naik motor pelan-pelan, dan ngikuti jalan nasional. Pokoknya jauuuhhh… bangettttt… perasaanku waktu itu. Sampai akhirnya aku dan ibuku nemu Gathot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari KM 3,5 Yogyakarta. Hmmm… ini sih udah Gunungkidul bangetttt… Alamat yg ada di web bener-bener php. Kenapa utk cabang ini gak dikasih akhiran Gunungkidul? Kenapa cuma dikasih akhiran Yogyakarta? Mana ada yang bikin denah super duper ngawur di Google Map lagi.
alamat-yu-tum-di-webnya_thumb2
Sudah, sudah. Syukur alhamdulillah sekarang udah nemu kan? Jadi bisa ngerasain naik motor di depan jarak jauh kan? Jadi gak kuper kan, mainnya cuma di Jogja bawah sana dan sekitarnya. Ya ya ya. Alhamdulillah :D Akhirnyaaa….
Wajah udah berseri-seri. Saatnya makan nasi thiwul nih, haha. Tengok depan belakang gak ada kendaraan mau lewat. Langsung nyebrang deh, ke cabang I Gatot Thiwul Yu Tum di kanan jalan sana.
Terus bilang deh sama mbak-mbak yg jaga. Mau beli nasi thiwul mbak, kalo ada yang instan juga boleh, tapi yang tawar, jadi bisa dimakan sama lauk pauk dan sayur. E tapi… ternyata disitu cuma jual yang camilan.. gak jual nasi thiwul dan lauk pauk :| “Yang ada tempat makannya di Gatot Thiwul Yu Tum pusat mbak” Yaelah sama aja. Kenapa aku dulu bahagia banget waktu tau ada Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari. Ya gpp kan, banyak orang mencari kebahagiaan, kenapa nyesel pernah bahagia? Meskipun berujung nggonduk, kecele’,  dan merasa di php sama petunjuk keberadaan Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari yg ada di internet.
Mbaknya pun ngasih ancer-ancer kesini kesana gitu lah. Katanya gak jauh dari sini. Aku sama ibuku pun melanjutkan perjalanan. Gak lama kemudian kami pun melewati gapura besar “Selamat Datang di “Kota” Wonosari” deket banget Gatot Thiwul Yu Tum Jln. Wonosari sama gerbang masuk “Kota” Wonosari ini.
Pemandagan pun berubah, gak lagi hutan hutan dan hutan. Tapi banyak toko, dan lumayan ramai. Dulu sempat aneh sama sebutan “Kota” utk sebuah ibukota “Kabupaten” Ya sekarang aku jadi mengerti. “Kota di dalam Desa” itu memang ada. Memang susah utk nyebut Wonosari aja tanpa “kota” setelah melewati hutan-hutan belantara dan menemukan keramaian kayak gini. Jalanannya juga landai gak naik turun. Otomatis aja keluar kalimat: “Yeay, sudah sampe kota” Meskipun ya “Kota” Wonosari masih kalah ramai sama Kota yang beneran Kota.
Lurus dikit aku nemu air mancur gede di tengah Jalan. Oalah.. yang dimaksud ibu tadi ini tho. Lurus terus nemu alun-alun Wonosari. Aku pun belok kiri dan tanya lagi ancer-ancer ke Gatot Thiwul Yu Tum pusat sama pedagang kelontong di dekat alun-alun. Ternyata Gatot Thiwul Yu Tum terkenal disini. Aku pun dikasih ancer-ancer, dan akhirnya aku sama Ibuku sampai di depan Gatot Thiwul Yu Tum Pusat. Yeay *berhasil berhasil berhasil horreeee *ala dora
Wajah pun sumringah.. Setelah masuk, aku pun bilang mau beli nasi thiwul. Ternyata eh ternyata.. “Kalau mau nasi thiwul nunggu dulu dibikin mbak, sekitar setengah jam, ini yang ada nasi putih sama nasi merah..”
Karena motornya keburu dipake njemput anaknya mbakku abis jum’atan dan jam sudah menunjukkan pukul 10.00 akhirnya aku pun milih beli nasi merah pake lauk pauk sama sayur. Sambil nunggu saijan untungnya mbakku telpon, terus aku jelasin aja kalo aku di Wonosari yang nunjauh banget banget dari Jogja, gak seperti bayangaku di awal. Kayaknya gak mungkin kekejar waktunya buat balikin motor dia buat njemput anaknya. Agak merasa bersalah sih, tapi kan ada motor suaminya alias kakak iparku, jadi ponakanku gak mungkin terlantar lah..
Aku juga tidak lupa tanya-tanya ke mbak penunggunya. Seberapa banyak orang yang beli nasi thiwul dalam sehari, hari biasa dan hari libur. Kira-kira memadai gak buat dijadiin respoden. Ternyata yang beli nasi thiwul itu jarang banget. Jadi Gatot Thiwul Yu Tum pusat gak selalu menyediakan nasi thiwul. Kalo mau ya bakal dibikinin, tapi ya agak lama.
Setelah makan dan beli cemilan thiwul aku sama ibuku pun pulang. Tentunya dengan hati-hati, pelan-pelan..
Aku sama ibuku pun mengambil kesimpulan. Emang sebaiknya naik motor, gak naik bis. Soalnya Gatot Thiwul Yu Tum Pusat masih jauh dari jalan yg dilewatin Bis Jogja-Wonosari. Toh ini pake motor selamet-selamet aja..
Dan aku menyadari betapa katroknya diriku yang baru pertama kali naik motor di depan dengan perjalanan sejauh ini dengan medan naik turun-naik turun diatas bukit. Bagiku jauh, tapi bagi banyak orang lain yang udah terbiasa ya deket kali yaa.. Contohnya bos blog mblusuk.com, Mas Wijna and the gank biasa main ke Gunungkidul naik sepeda, bahkan beberapa kali sampe pantai yang makin jauh lagi..
Alhamdulillah jadi tambah pengalaman, dan tau kalo bukit indah yg selalu keliatan dari Jogja kalo berkendara di Jln Wonosari itu namanya Bukit Pathuk. Dan irung petruk itu ternyata deket banget. Tiap mau ke Pantai Gunungkidul kan jalan yang dihebohin orang-orang itu irung petruk. Kalo udah mau nyampe irung Petruk itu pada heboh. Jadi tak kira itu kalo udah nyampe irung Petruk berarti Pantai dah dekat. Ternyata gak, jangankan pantai, dari Wonosari aja jauuuuhhhh.. bangetttttt….
E tapi aku tau tentang irung petruk itu deket setelah browsing2 sih, dan ternyata irung petruk sudah gak ada karena jalannya udah diperbaiki jadi belokannya gak gitu curam. Kalo menurutku sih belokan-belokan yang ada di Bukit Pathuk tetep aja banyak yg curam, hehe
Sayangnya aku masih gagal nyicip nasi thiwul ya, di perjalanan ketiga ini.. So, ceritanya masih bersambung. Di perjalanan selanjutnya aku hunting nasi thiwul bareng mbakku ^^

Kamis, 08 Januari 2015

Mendadak Diteriaki Orang di Jalan

Halo 2015, halo teman-teman, akhirnya aku bikin juga postingan pertama di 2015, hehe


Pengen nulis, tapi yang singkat aja. Aku cerita pengalamanku beberapa tahun yang lalu aja ya, waktu aku masih aktif kuliah. Sekarang masih mahasiswa sih, tinggal skripsi aja t̶a̶p̶i̶ ̶g̶a̶k̶ ̶t̶a̶k̶ ̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶-̶s̶e̶l̶e̶s̶e̶i̶n̶



Ceritanya itu dimulai pada suatu siang hari yang cerah. Aku berencana buat pergi kemana aku lupa, kayaknya sih ke perpusda soalnya rutenya melewati Tugu Jogja dan rumahku di deket UNY. Yaudah, anggap aja mau ke perpusda ya, hehe #maksa Tas udah siap, tinggal naik motor dan cusss.. Tidak lupa pamit sama bapakku (sekarang alm.) dulu yang sedang duduk-duduk di teras rumah.



Aku pun mulai melaju dengan motor bututku (keluaran 1981) dan tas ransel batikku yg jenis pake risleting gak pake tutup depan. Setelah melewati jalan kampung Samirono dan Iromejan aku belok kanan lewat Jln. Solo. Pas udah hampir nyampe di perempatan Galeria, sekitar di depan toko-toko kain itu lah, posisiku di tengah jalan tiba-tiba ada orang naik motor teriak-teriak dari jarak agak jauh ke aku, dia juga gak berhenti, sambil jalan gitu. Nggak jelas dia ngomong apa dan nggak jelas yang teriak-teriak juga siapa lha wong di tengah jalan, aku gak mungkin berhenti sejenak buat lihat orang yang teriak-teriak itu. Yang jelas sih bukan anak sekolahan yang teriak-teriak itu, agak berumur lah, sekitar 30an-40an tahun kayaknya.



Kenapa ya? What's wrong with me batinku. Mungkin risleting tasku kebuka kali ya. Tangan kiri ku pun meraba-raba tasku yang tak taruh dibelakang punggungku. Eh iya, risleting tasku kebuka. Langsung tak benerin.



Perjalanan menuju barat berlanjut, aku melewati RS. Bethesda dan perempatan Gramedia tanpa perasaan bersalah sedikitpun kalau aku sudah melanggar peraturan lalu lintas. Dan entah aku yang gak denger, gak tau atau emang gak ada yang neriakin aku lagi sampai aku terus ke arah barat. Berhenti di pertigaan Mc. Donald. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi.



Tapi itu tak berlangsung lama. Selepas melewati jembatan Gondolayu aku kembali dengar orang teriak-teriak. Beberapa saat kemudian aku sadar kalau ada seorang ibu-ibu naik motor teriak-teriak ke arah aku. Butuh waktu beberapa saat pula hingga aku menyadari isi teriakan ibu itu. Ya seperti orang naik motor di Jln. Solo tadi, teriak-teriaknya sambil melaju naik motor. Aku pun segera menepi, bengong sebentar, dan megang kepalaku sendiri. Iya ya, aku gak pake helm :3




Iya, ibu-ibu tadi teriak kayak gini: "Dek kok gak pake helm?" berkali-kali sampe aku nyadar. Memang baik banget ya ibu itu tadi, rela teriak berkali-kali cuma utk tanya kok aku gak pake helm. Aku pun belum sempat bilang terimakasih karena waktu nyadar aku gak pake helm ibu-ibu tadi sudah melesat jauh dengan motornya.



Gak kayak tadi yang pede-pede aja tanpa pake helm ngelewatin beberapa lampu merah dengan yang polisi penjaganya terkenal "galak." Temen-temenku pernah ditilang polisi di perempatan galeria sama gramedia, jadi image polisi yang disana itu galak alias suka nilang. Setelah nyadar gak pake helm aku gak berani kemana-mana. Aku minta tolong mbak ku yang kerja di Kota Baru buat nganterin pinjeman helm. 



Btw, kira-kira kalo aku nyadarnya kalo gak pake helm pas udah nyampe perpusda gimana ya. Pas mau nyopot helm mau ditaruh di motor, eh kok helmnya gak ada :O wkwkwkwk Terus kalo pede aja gitu ngerasa pake helm selama perjalanan sampe perpusda kira-kira ditilang polisi gak ya?

Selasa, 09 Desember 2014

Tengok-tengok Postingan Tahun 2014


logo1
Lagi pengen bikin postingan singkat, eh nemu acara GA Tengok-tengok Blog Berhadiah. Tugasnya asik sih, pilih postingan yang paling berkesan di blog masing-masing selama tahun 2014.

Buat blogger yang gak produktif kayak aku gampang banget milih postingan yang paling berkesan, hehe. Pilihan pun langsung jatuh ke cerita waktu aku jadi debt collector di Telkom :D. Mengapa pilihanku jatuh ke postinganku di awal Januari 2014 itu? Ceritanya ada di paragraf selanjutnya :D


Gak nyangka aja postingan itu jadi postingan paling laris kedua di blog ini. Aku bikin postingan itu karena udah janji sama beberapa pegawai Telkom Jogja yang dulu tak kasih kartu nama berisi alamat blogku. Aku bilang kalo bakal cerita tentang pengalaman magang di blog. Aku kan punya kebiasaan buruk suka nunda-nunda gitu, magangnya sih awal 2013. Share pengalamannya baru di awal 2014 ^^v Kalo dulu gak janji aku gak yakin bakal nulis pengalamanku itu di blog, hehe.

Coba deh share postingan yang udah tak bikin itu di grup fb Komunitas Emak-emak Blogger. Eh banyak yang komen. Anggota Emak-emak Blogger itu emang baik-baik, hehe

Selain itu, ternyata para mahasiswa yang mau magang dan nyari info magang di Telkom juga beberapa yang nyangkut di blog ini. Ada yang komen, ada yang pm, tanya-tanya. Seneng sih, jadi berwarna, hehe. Gak cuma posting komen, udah, tapi ada yang hub. via email/socmed. Para mahasiswa yang tanya-tanya pada ngira kalau susah gitu bisa diterima magang di Telkom, padahal mudah banget. Wong gak pake seleksi. Asal di Telkom lagi gak ada/sedikit mahasiswa/siswa magang aja insyaallah bakal diterima selama Telkom masih membuka diri buat para nerima mahasiswa/siswa buat magang disana :).

Dapet email/sapaan di socmed dari pembaca blognya adalah biasa bagi para blogger kelas paus. Tapi buat blogger kelas teri kayak aku, kalo ada pm/sapaan di socmed dari pembaca itu rasanya udah bahagiaaa… banget, hehe. Dari semua postinganku, cuma ada 3 postingan yang menghasilkan interaksi di luar blog (pm/sapaan di socmed dari pembaca).

Udah sih itu aja, takut kepanjangan. Kan niatnya cuma bikin postingan pendek :p. Lagi pula syarat ikut GA maksimal artikel terdiri dari 500 kata, hehe. Senangnyaa.. gara-gara GA ini blogku jadi tak update, :’)

Senin, 28 April 2014

Mencari Nasi Thiwul


Halo teman-teman!! :D Beneran gak nyangka nih, ternyata udah 2 bulan lebih aku gak nulis di blog. Yaudah deh, sekarang aku mau cerita tentang perburuan nasi thiwul yg udah aku lakuin :’)

Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil judul skripsi yang ada hubungannya dengan nasi thiwul. Meskipun begitu aku berharap gak perlu jauh-jauh ke Gunungkidul buat ambil data, pengennya di Kota Jogja aja biar gak gitu repot, haha. Terus aku cari info warung/rumah makan yang jual nasi thiwul di Kota Jogja, tapi hasilnya nihil. Dari info yang aku dapet, Rumah Makan nasi thiwul yg paling deket dari Jogja cuma RM Gubug Asri, alamatnya di Jl. Wonosari Km 11.

Pada saat itu aku sebenernya males banget kalau harus bolak balik Jogja-Jln Wonosari, saat itu menurutku KidsFun aja udah jauhhhhh bangettttttt... Tapi ya gimana lagi, aku gak dapet info RM atau Warung Makan yg jual nasi thiwul di Jogja, yaudah deh di Jln. Wonosari KM 11 gpp. Selain itu waktu tanya sama temennya mbakku malah dibilang, alahhh cuma Jln. Wonosari, saudaraku dulu sampai harus keluar kota karna skripsi. Iya sih.

image

Abis itu aku malah nyantai, soalnya dah dapet info RM yg jual nasi thiwul. Besok kalo udah mau ambil data kan tinggal kesana aja, pikirku. Tapi beberapa hari kemudian aku penasaran juga, pengen lihat langsung keberadaan RM. Gubug Asri tersebut. Biar besok kalau ambil data gak usah bingung nyari, bisa langsung to the point.

Siang itu dengan semangat 45 dan waktu yang mepet aku ke Jl. Wonosari. Sampai Jl. Wonosari diatas KM 11, Pasar Piyungan ke timur sedikit aku tidak juga menemukan RM Gubug Asri. Tanya ke Ibu-ibu yg sedang nunggu Toko Kelontong, malah dikasih petunjuk ke Warung Bu Sri, sekitar 1 KM barat Kids Fun. Padahal ibu-ibu itu semangat dan mantep banget njelasinnya.

Aku buka catetan alamat RM. Gubug Asri lagi, memastikan, aku gak salah baca emang di KM 11 deket Jembatan Kali Opak. Tapi disana gak ada RM. Gubug Asri. Aku tanya lagi ke masyarakat sekitar, malah dikasih petunjuk di selatan jalan samping toko bangunan. Gak ada juga. Akhirnya aku pulang. Coba telp RM. Gubug Asri gak nyambung. Browsing lagi aku baru nyadar, semua artikel di internet tentang RM. Gubug Asri terakhir ditulis di tahun 2010. Hmmm… mau gak mau harus ke Gunungkidul nih kayaknya..

Pencarian Kedua..
Aku cari-cari info lagi di internet, dapetlah Warung Makan Yu Tum di Wonosari. Jauh.. tapi ga apalah.. demi skripsi. Browsing-browsing lagi dapet info cabangnya Yu Tum di Jl. Wonosari KM 3,5 !! WOW lebih deket. Sumpah, aku saat itu bahagia tak terkira, akhirnya dapet tempat penelitian yg lebih deket. Ini malah lebih deket daripada RM. Gubug Asri yg sekarang udah gak ada. Aku sujud syukur. Aku cari akun twitter Gathot Thiwul Yu Tum, aku mensyen akun itu, aku luapkan kegembiraanku!

luapan kegembiraan nemu di km 3stengah
Apasih yang bikin aku yakin kalau Jl. Wonosari KM 3,5 itu deket Jogja? Pertama ya karena aku gak pernah naik motor maupun sepeda sampai Gunungkidul, kalau kesana pasti naik bis carteran, piknik rame-rame ke pantai atau baksos waktu SMA. Selama pengalamanku lewat Jl. Wonosari tu semakin ke timur KM nya semakin banyak, kalau KidsFun aja KM 10 berarti KM 3,5 jauh sebelumnya kan. Kedua, karena alamat Gathot Thiwul Yu Tum yang tidak ada embel-embel Gunungkidulnya ya cuma yang cabang Siyono, cuma ada embel-embel Yogyakarta, yang lain ada embel-embel Gunungkidulnya. Berarti kalaupun secara administratif mungkin cabang yg Siyono itu gak termasuk Kota Jogja, kemungkinan besar ya deket sama Kota Jogja. Ini tampilan alamat Gathot Thiwul Yu Tum pusat & cabangnya yang ada di web gathotthiwulyutum.com:
alamat yu tum di webnya
Ketiga, setelah mencari denah di google map aku dapet ini:
denah yutum siyono google map
Pada denah diatas tampak bahwa jarak Yu Tum dengan KidsFun hanya 2,5km. Tepatnya Yu Tum berada di barat KidsFun dan di timur Ringroad Timur.
waktu dan jarak kids fan ke yu tum yutum siyono masuk gang
Setelah denah diperbesar tampak bahwa kalau ingin ke Gathot Thiwul Yu Tum dari Jl. Wonosari perlu masuk gang dahulu, karena Gathot Thiwul Yu Tum tidak terletak di pinggir jalan raya. Aku pun ngomong sendiri, pantesan waktu aku pulang dari nyari RM. Gubug Asri dulu gak nemu Warung Makan Gathot Thiwul Yu Tum ini.

Akhirnya aku nyepeda motor kesana. Tapi anehnya, waktu belok kiri ke Jl. Wonosari (dari Ringroad timur arah utara), bangunan pertama di pinggir jalan yang aku temui bertuliskan Jl. Wonosari KM 6?? Ah mungkin salah tulis kali, kataku dalam hati. Aku lanjut terus, ternyata tadi tidak salah tulis. Setelah lurus terus aku melewati KM 7. Tak lupa pelan-pelan kalau menemui gang masuk, siapa tahu ada petunjuk keberadaan Gathot Thiwul Yu Tum atau jalan masuk gang yg bertipe seperti yang udah aku lihat di google map. Tapi aku tidak menemuinya sampai KM 7 abis. Ah siapa tahu di internet salah tulis, harusnya KM 8,5 ditulis KM 3,5 kan mirip tuh angka 8 dan 3. Tapi sampai KM 9 aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum.

Oke deh, mungkin google mapnya salah naruh Gathot Thiwul Yu Tum. Logikanya KM 3,5 itu kan harusnya barat Ringroad Timur, bukan timur Ringroad timur. Aku kemudian menyebrang Ringroad ke arah Gedong Kuning. Tapi sampai menyebrang perempatan Gedong Kuning pun aku tidak juga menemukan Gathot Thiwul Yu Tum. Padahal Jl. Wonosari KM 1 itu ada di perempatan Gedong Kuning. Akhirnya aku telpon Gathot Thiwul Yu Tum cabang Siyono. Kurang lebih perbincanganku sama mbak-mbak diseberang sana seperti ini:

Aku: Gathot Thiwul Yu Tum yang cabang Siyono itu barat Ringroad atau timur Ringroad?
Mbak yg angkat Telpon: dari Ringroad masih ke timur terus mbak, dari Pasar Piyungan juga masih naik, nanti lewat bukit Pathuk sama hutan.
Aku: Timur Ringroad persis kan udah KM 6 mbak, padahal di alamat KM 3,5?
Mbak yg angkat Telpon: Mbaknya dari Jogja ya, 3,5 km itu maksudnya dari Wonosari, bukan dari Jogja.
Aku: (Ooohh..) Aku lihat di google map letaknya masuk gang, nanti ada ancer2 apa mbak untuk masuk ke gangnya itu?
Mbak yg angkat Telpon: Lokasinya di pinggir jalan kok, nanti pasti kelihatan kalau udah sampai :).
Aku: Terimakasih mbak..

Hmmm… siapa sih yang bikin denah ngawur di google map itu. Setidaknya aku jadi tahu kalau google map belum tentu bisa diandalin. Maklum ya soalnya aku gak punya smartphone, hehe jadi ga bisa main GPS-GPS an. Alhamdulillah, lewat sini Allah ngasih tau aku. Soalnya dulu sempet takjub sama google map, waktu aku bantuin temenku yang sendirian pergi ke Bandung nyari jalan (akunya di Jogja). Dan ternyata valid. Eh lewat kejadian ini aku jadi tahu kelemahan google map. Alhamdulillah bgt sih :D Oiya kembali ke laptop, hehe. Beberapa hari setelahnya aku pun ke Gathot Thiwul Yu Tum itu, dan ceritanya ada di  Mencari Nasi Thiwul Part 2. Hahaha.. (daripada disini kepanjangan :’)

Buat teman-teman yg pernah beli nasi thiwul baik beli di Rumah Makan, Warung Makan, maupun beli yg instan di Supermarket/Toko Oleh-oleh tolong meninggalkan jejak komentar yaa :)
*) nasi thiwul rasanya hambar, biasanya dimakan sama lauk dan sayur.
kalo yg manis itu namanya cemilan thiwul, bukan nasi thiwul :)

Minggu, 26 Januari 2014

Cara Mematenkan Merek Secara Gratis


Belum banyak yang tahu kalau proses pendaftaran merek itu bisa gratis. Disperindagkop DIY memiliki Balai Bisnis yang terletak di dekat pertigaan Jalan Godean, dekat SMA 2 Jogja. Disana para pelaku UMKM bisa mendaftarkan mereknya secara gratis.

Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum kesana:
1. Pastikan merek yang akan anda daftarkan belum terdaftar. Untuk mengeceknya anda bisa klik >> http://www.wipo.int/branddb/en/index.jsp.
2. Buat logo. Sebaiknya tidak mencantumkan jenis produk pada logo. Pengalaman saya, tahun kemarin saya menyerahkan logo Kalakswa Cloths. Pihak Balai Bisnis menyuruh saya mengganti logo karena terdapat kata Cloths. Cukup Kalakswa saja, tidak perlu mencantumkan jenis produk, katanya.
3. Cetak logo dengan ukuran minimal 2x5 cm per logo, sebanyak 25 lembar.
4. Bawa fotokopi KTP yang masih berlaku 2 lembar.
5. Bawa contoh produk, karena dulu saat saya kesana tidak membawa contoh produk ditanyakan, katanya sebaiknya membawa contoh produk.
6. Bawa materai Rp 6.000 dua lembar.

Alamat lengkap Balai Bisnis Jogja:
Jl.HOS. Cokroaminoto No.162, Yogyakarta
Telp: 0274- 515 622
email: balaibisnis@yahoo.com
Hari Kerja:
Senin - Kamis 07.30 - 16.00
Jumat 07.30 - 14.30

Senin, 20 Januari 2014

Jasa Pengetikan


Karena kangen jadi tukang ketik kayak jaman semester 3 dulu, dengan ini saya menyatakan membuka jasa pengetikan, haha. Ini serius loh. Official akun twitternya ini >> @JasaKetikJogja silakan di follow untuk mendapat info-info promo terbaru :D.

Berikut tarif jasa pengetikan @JasaKetikJogja:
Untuk spasi 1,5 Rp 1.500/lembar jadi udah sama print
Untuk spasi 2 Rp 1.000/lembar jadi udah sama print

Tarif diatas berlaku untuk format umum sebagai berikut:
- Kertas A4, 70 gr, & diprint hitam putih.
- Margin: atas 4 bawah 3 kiri 4 kanan 3.
- Teks berbahasa Indonesia
- Isi hanya teks tidak ada tabel, rumus, dsb.

Untuk order ketikan diluar format umum yg sudah dijelaskan diatas, tarifnya bisa langsung ditanyakan melalui sms ke 085221811993. Contoh ketikan diluar format umum: dalam bahasa asing, terdapat rumus, tabel, spasi 1, kertas ukuran folio, kertas diprint warna, dsb.

Meskipun domisili saya di Jogja, saya juga menerima order ketikan dari seluruh Indonesia, hehe. Solusinya: scan/foto tulisan anda, terus kirim via email ke fenitriutami@gmail.com, jangan lupa sms setelah email terkirim :).

Contact:
SMS/Telp 085221811993
Alamat: Samirono, selatan Universitas Negeri Yogyakarta.

Jumat, 03 Januari 2014

Magang di Telkom Jogja

Jadi, angkatanku menjadi angkatan pertama yang merasakan kebijakan wajib magang dari Jurusan Manajemen UNY. Dan kewajiban magang tersebut harus dilakukan di semester 8. Untuk yg ingin cepat lulus itu masalah. Bagi aku yang tidak keburu ingin cepat-cepat lulus, masalah ada pada: menambah beban saja, hehe. Tapi setelah dijalani asik juga sih. Senang mendapat pengalaman baru.

Aku ingin magang di Telkom, dan kurang tertarik magang di tempat lain. Karena dulu aku punya keinginan untuk kerja di Telkom. Sekarang pengen jadi pengusaha sukses aja :’). Kalau diantara pembaca ada yang ingin magang di Telkom Jogja, berikut aku mau share langkah-langkahnya. Oh iya, yang harus diketahui sebelumnya, untuk mahasiswa manajemen, Telkom hanya menerima konsentrasi pemasaran. Selain jurusan manajemen, Telkom Jogja juga menerima magang jurusan Ilmu Komunikasi dan IT. Kalau jurusan lain kurang, tau, informasi selengkapnya bisa tanya ke satpam Telkom Jogja atau bagian front office.

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah bertanya kepada resepsionis apakah menerima mahasiswa magang dari jurusan dan konsentrasimu. Ada dua kemungkinan penyebab ditolak: pertama, ada beberapa mahasiswa yang sedang magang, jadi tidak butuh tambahan tenaga mahasiswa magang lagi atau kedua, karena pihak Telkom tidak menerima mahasiswa magang dari jurusan/konsentrasi tertentu.

Langkah kedua adalah bertemu Bu Sunarti, untuk memastikan apakah ada tempat tersedia untuk mahasiswa magang. Kalau tidak tersedia ada dua pilihan, menunggu dan menanyakan kira-kira kapan tersedia tempat lagi untuk mahasiswa magang. Kedua cari tempat magang lain :p. Kalau tersedia, langkah selanjutnya adalah membuat surat permohonan magang dari jurusan kalian masing-masing. Lalu menyerahkannya ke Bu Sunarti. Oh iya, beberapa mahasiswa ada yang disuruh membuat proposal dulu ada yang tidak. Kalau tidak disuruh oleh Bu Sunarti ya tidak usah buat, hehe. Kalau tidak disuruh juga tidak usah tanya apa perlu membuat proposal magang atau tidak. Daripada nanti mempersulit diri sendiri. Kalau sudah diterima magang tanpa disuruh membuat proposal ya alhamdulillah, syukuri saja :). Tapi kalau disuruh buat ya buat aja, gausah protes, hehe.

Langkah selanjutnya adalah membawa materai untuk menandatangani surat pernyataan yang sudah disiapkan oleh Telkom Jogja. Intinya jadi mahasiswa magang itu ada aturan yang harus dipatuhi. Kemudian nanti Telkom Jogja juga bakal ngasih surat jawaban ke Jurusan kamu bahwa kamu diterima magang disana. Surat ini harus kamu antar ke Jurusan kamu, biar kamu bisa segera dapet dosen pembimbing magang dari jurusan kamu.
Foto005
Kemudian, kamu tinggal menjalani proses magang disana. Jangan lupa sambil magang nyicil bikin laporan magang. Nanti pihak Telkom minta satu. Udah deh. :)

Oh iya, sedikit cerita, pegawai Telkom Jogja itu baik-baik, meskipun mayoritas usia nya sudah agak jauh diatas kita. Kalau aku dulu di bagian Consumer Service. Kebanyakan yang kerja ibu-ibu. Awal-awal sih mati gaya, seruangan yang magang cuma aku (belum ada mahasiswa magang masuk lagi), gak tau harus ngapain, semua sibuk sendiri, dan mau berinteraksi pun takut kalau ngganggu. Tapi lama-kelamaan bisa juga akrab sama ibu-ibu pegawai Telkom. Bahkan aku dikasih kenang-kenangan waktu aku pamitan. Ini dia kenang-kenangannya:


Ini kenang-kenangannya, yang atas tak foto pas antri beli pulsa di Plasa Telkom (sepulang pamitan), yang bawah tak foto pas sampai dirumah (isinya).
Foto008
Foto010
Diantara temen-temen sesama mahasiswa magang di Telkom cuma aku yang dapet kenang-kenangan. Gak tau kenapa. Mungkin karena dulu aku pindah-pindah meja, jadi bisa kenal semua ibu-ibu seruangan. Temen-temen yang lain gak pindah-pindah meja, jadi cuma kenal ibu-ibu pegawai yg meja-nya deket aja.

Trus kok aku pindah-pindah meja? Itu gara-gara netbookku rusak parah. Harddisknya kena, data ilang semua, casing rusak. Jadilah sejak pekan ketiga aku pindah-pindah meja, cari yang komputernya lagi gak dipakai. Tapi aku gak seenaknya pindah-pindah lah, aku pindah kemana itu dibawah komando Bu Peni, salah satu pembimbingku d Telkom Jogja. Sampai-sampai semua zona di ruang pegawai Consumer Service pernah aku tempati. Tengah, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat Laut, Utara, Timur Laut, haha *malah nyanyi lagu jaman SD –“ Yup, musibah juga bisa membawa hikmah, aku jadi mengenal ibu-ibu pegawai Telkom lebih banyak daripada teman-temanku yg juga magang disana.

Terus tugas yang paling aku sukai selama magang adalah menjadi debt collector!! hahah. Jangan bayangin aku dateng ke rumah-rumah nagih utang gitu. Selama disana tugas utamaku cuma nelpan nelpon promosiin Speedy. Diantara berbagai jenis promosi Speedy. Aku paling suka promosi ke pelanggan yang nunggak tagihan Speedy. Tugasku nagih mereka supaya melunasi, dan memberikan tawaran promo khusus untuk mereka.

Percaya atau tidak, lebih mudah promosi Speedy ke mereka yang nunggak tagihan Speedy daripada promosi ke mereka yang belum pernah pakai Speedy. Padahal mereka yang nunggak tagihan itu kan salah satu alasannya karena pernah kecewa dengan Speedy. Aneh tapi nyata, hehe.

Setelah merasa kalau magang itu ternyata cukup mengasyikkan aku pun jadi pengen magang lagi ditempat-tempat lain, yang aku pengen dapet ilmu baru, yang aku butuhin. Misal magang di YEA Indonesia, bisnis daur ulang sampah, yayasan pemberdayaan perempuan, yayasan pemerhati usaha mikro & kecil :3

Tapi itu dulu, sebenernya masih pengen sih. Melihat parahnya kemampuanku mengelola waktu. Jadi tak buang jauh-jauh dulu deh keinginan magang lagi. Skripsi diselesein dulu. Biar bisnis bisa lebih tenang, gak melulu ditanyain orang dah lulus belum? Skripsinya sampai mana? aku paling anti sama pertanyaan yang kedua, hehe >_<

Sabtu, 07 Desember 2013

Yubi Aff

Artikel ini aku buat spesial buat njawab pertanyaan @Phaaaay di twitter :) Jadi gini vay, kerja kita sebagai affiliate itu simpel, cuma pilih produk yang mau dipromosiin, copy link kita utk produk itu, terus promosiin deh.

Promosiinnya dimana?
Bisa di facebook, twitter, blog, forum-forum yang sesuai, iklan baris di internet, iklan di web-web yang ramai pengunjung juga bisa.

Caranya gimana biar iklannya efektif?
Ada 2 cara, gratisan sama berbayar. Kalau yang gratisan bisa pakai aplikasi-aplikasi yang diajarin di workshop. Menggunakan pict yang menarik, kata-kata yang menarik, pada waktu yang tepat, serta orang yang tepat. Kalau yang berbayar paling efektif dan murah pakai FB Ads. Cara pembayarannya bisa pakai paypal, kartu kredit atau VCN BNI.

VCN BNI
Buat yang belum punya kartu kredit, ga mau pake kartu kredit, atau belum memungkinkan diapprove jika mengajukan kartu kredit, bisa memilih pakai VCN BNI. Kalo aku pilih VCN BNI karena pakai paypal ribet. Untuk bisa dipakai, paypal harus diverifikasi dulu. Kalo ga punya kartu kredit harus beli VCC, harganya rata-rata 75ribu cuma berlaku setaun. Verifikasi paypal pake VCN BNI juga bisa. Kalau pake VCN BNI aja bisa langsung dipakai ngiklan via FB kenapa harus buat verifikasi paypal dulu baru ngiklan pakai paypal? Iya gak?
Aku sempet gagal pakai VCN BNI, awalnya aku bingung. Aku kira FB ku yang bermasalah. Sampai aku nyerah, mau cari temen yg punya kartu kredit aja buat bantu ngiklan fan page yang tak kelola. Ntar abis berapa tak ganti gitu. Buat ketemu temenku yg tak curigai punya kartu kredit ternyata juga susah, haha. Tapi repot juga kalo pake cara ini. Soalnya yang ngelola iklan otomatis juga harus temenku yang punya kartu kredit itu. Padahal kan aku pengen aku yg bikin iklan, yang mutusin pilih pake gambar yang mana, isi iklannya kayak gimana, pemilihan audiens iklan. Itu kan seninya dan aku udah diajarin di workshop yubi affiliate.
Padahal aku buka rekening di BNI cuma buat manfaatin VCN. Tapi untungnya belum lama ini di grup affiliate ada yang share klo punya masalah yang sama kayak aku. Ternyata dia gagal karena sisa saldo di rekeningnya ga cukup klo VCN dia beneran kepake. Dia request VCN utk FB Ads 100ribu.
Trus aku jadi kepikiran jangan-jangan punyaku ditolak gara-gara aku cuma request VCN 10ribu. Aku emang udah nyoba 3 kali masukin VCN ke sumber pendanaan. Tapi semuanya pakai nominal 10ribu. Abis kata mbak CS BNI kalo udah jadi VCN dana langsung hangus. Padahal enggak, mungkin mbak CS BNI itu ga pernah pake VCN --“.
Terus tak coba request VCN 50ribu, dan ternyataaa.. diapprove! *jingkrak2 tinggal nunggu seminggu kedepan deh buat mulai ngiklan di facebook :3 Nyesel deh dulu langsung nyerah nganggep FB ku yg bermasalah bukan VCN nya.. Jadi baru mulai ngiklan di FB skitar 1,5 bulan setelah workshop.. TT. Tapi gapapa lah daripada lebih telat lagi, buat pelajaran *pukpuk

Rabu, 16 Oktober 2013

Jurus PDF untuk Menghadapi Persaingan

Apa itu jurus PDF?

Jurus PDF adalah jurus yang bisa digunakan oleh seorang entrepreur untuk menghadapi persaingan. Apakah sebagai seorang entrepreneur kita harus mengganti format seluruh file di komputernya sehingga menjadi PDF? Tentu saja tidak harus. PDF yang penulis maksud disini bukan portable document format yang pertama kali diperkenalkan oleh Adobe System, bukan. Tetapi singkatan dari peluang, diferensiasi, dan fokus. Berikut penjelasan dari masing-masing komponen Jurus PDF tersebut:

Peluang
Kita bisa langsung bangkrut jika langsung membuat produk tanpa mencermati peluang yang ada terlebih dahulu. Meskipun produk kita merupakan sebuah inovasi baru dan sangat berkualitas. Misalnya produk kita adalah sepatu roda untuk bayi berkualitas tinggi, tahan banting, anti rusak. Kita langsung memproduksi besar-besaran produk sepatu roda bayi tersebut diawal bisnis kita. Bisa dipastikan kita akan langsung bangkrut besar-besaran, karena tidak ada yang membutuhkan produk kita, sepatu roda untuk bayi.
Kemudian, bagaimana cara agar kita bisa melihat peluang? Kita dapat mencermati kebutuhan pasar yang belum dipenuhi oleh produsen-produsen yang sudah ada. Misalnya adalah kebutuhan para pengguna laptop yang ingin praktis mencetak dokumen tanpa printer. Hasil cetak bisa dibutuhkan kapan saja, terkadang mendadak, mencari printer untuk mencetak dokumen tentu memakan waktu. Belum lagi proses pemindahan dokumen ke PC yang sudah tersambung dengan printer. Belum adanya laptop yang bisa langsung mencetak dokumen bisa menjadi peluang.
Contoh peluang yang lain bisa juga berupa ketimpangan jumlah produsen dengan konsumen. Misalnya di Kampung Samirono hanya ada 2 penjual sayur yang selama ini baru bisa melayani 30% kebutuhan penduduk Samirono. 70% pasar yang belum terlayani ini bisa menjadi peluang.

Diferensiasi
Awalnya bisnis kita mungkin laris, tetapi lama kelamaan pelanggan kita bisa jadi berkurang. Hal ini bisa disebabkan karena munculnya pesaing-pesaing baru. Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah diferensiasi, yaitu membuat perbedaan dibanding pesaing yang sudah ada, agar kita lebih dipilih oleh target pasar.
Untuk memilih strategi diferensiasi ini, kita harus memastikan bahwa diferensiasi yang sudah kita pilih tidak mudah ditiru oleh pesaing. Diferensiasi yang kita pilih sebaiknya merupakan sesuatu yang kita hanya kita miliki.
Misalnya penjual sayur di Kampung Samirono semakin banyak, tetapi diantara mereka tidak ada yang menjual sayur organik. Jika diantara penjual sayur tidak ada yang mengenal petani sayur organik dan hanya kita yang mengenal petani sayur organik satu-satunya di Yogyakarta.
Maka kita sebaiknya memililih melakukan diferensiasi dengan hanya menjual sayur organik. Penduduk Samirono akan lebih tertarik membeli produk kita karena bebas pestisida dan pupuk kimia. Pesaing kita sesama penjual sayur akan kesulitan bersaing dengan kita karena mereka tidak mempunyai pemasok sayur organik.

Fokus
Komponen jurus PDF yang terakhir adalah fokus. Coba bayangkan jika baru sebulan kita membuka usaha fotokopi, kemudian langsung membuka usaha potong bebek, sebulan kemudian membuka usaha baru lagi karena ada peluang baru yang juga menggiurkan. Jika hal tersebut yang terjadi. Kita tidak akan fokus dan tidak akan ada satu pun usaha kita yang bisa besar. Meskipun kita sudah melakukan diferensiasi.
Peluang selalu ada, sangat banyak bertebaran di sekitar kita, jika kita sadari. Namun, apakah semuanya harus kita tangkap? Tentu tidak. Ketika sudah menangkap satu peluang bisnis, kita bisa memenangkan persaingan dengan diferensiasi, maka langkah selanjutnya adalah kita harus fokus.
Fokus disini bukan berarti kita harus menjalankan satu macam bisnis hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, bukan. Fokus disini berarti tidak melirik bisnis lain sebelum bisnis yang sudah kita pilih sebelumnya sudah cukup besar, sudah cukup stabil, sudah siap kita tinggalkan untuk fokus pada bisnis lain Untuk menangkap peluang lain. Misalnya kita mencoba bisnis properti setelah usia bisnis dagang sayur organik kita sudah berada di tahun kelima, ketika sudah siap kita tinggalkan untuk lebih fokus ke bidang bisnis yang lain.
Satu hal lagi yang cukup penting adalah selama fokus membesarkan bisnis kita, sebaiknya kita meminimalisir trial and error. Untuk meminimalisir biaya. Kita sempurnakan proses learning by doing kita dengan banyak-banyak membaca buku/artikel mengenai bisnis. Jika kita tidak mempunyai cukup dana atau waktu untuk ke toko buku, kita bisa mengunjungi web www.ciputraentrepreneurship.com. Kita bisa mendapatkan ilmu bisnis secara gratis, lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya. Artikel-artikel di web milik Ir. Ciputra ini cocok sekali untuk para entrepreneur. Tidak lain karena Ir. Ciputra ingin kita mengikuti jejaknya menjadi seorang pengusaha sukses, di bidang kita masing-masing.

Sabtu, 14 September 2013

Daun-daun Waru di Samirono


Ini sekarang aku mau share cerpen karangan N.H. Dini yang berjudul “Daun-daun Waru di Samirono.”

Intro:
Kenapa sih aku tiba-tiba posting cerpen ini, hehe. Jadi suatu ketika aku iseng search kata samirono di google. Terus salah satunya muncul cerpen ini, yang pernah dimuat di Kompas tahun 2004 lalu. Jadi tertarik. Jadi inget dulu di halaman rumahku ada pohon waru yang gede banget. Tapi sekarang udah gak ada. Sengaja ditumbangin gitu. Udah lama sih ditumbanginnya. Dulu inget suka main-main sama temen2 di bawah pohon waru itu. Halah, jadi nostalgila. Yaudah deh, cekidot nih cerpennya :)

**********************************************************************************************
Matahari bersinar lembut.

Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah…. Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.

Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.

Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.

Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.

“Mana galahnya, Mak?” seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.

Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.

Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.

Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.

Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.

Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.

“Berangkat cari daun waru, Lik Jum?”

“Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?”

“Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!”

Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?

Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.

Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.

Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.

Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.

Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.

Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.

“Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah,” katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.

“Nuwun, Mas, nuwun,”14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.

Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.

Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.

“Sebentar lagi panas terik, Mbah,” kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, “ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering.”

“Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah,” kata kuli yang lain.

Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.

Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.

Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.

“Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?” kuli bangunan bersuara lagi.

Kali itu Mbah Jum menyahut,

“Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas.”

“Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!”

“Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu,” kuli lain membantah temannya.

“Ya jauh kalau dari Ndemangan,” kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.

“Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?”

Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.

“Di, lepaskan paculmu. Kemari!”

“Ini adukan kedua! Nanti mengering!”

“Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!”

“Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!”

Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.

Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.

Sendowo September 2004

Catatan:
1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. kekacauan
3. bangsawan, petinggi
4. Yang Dipertuan
5. pulang
6. jungkir balik
7. rakyat biasa
8. orang-orang bangsawan
9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. Lurah, kepala kawasan
11. sekretaris kelurahan
12. menimba dan mengusung air
13. SD
14. terima kasih
15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. musim kemarau

Kompas Minggu, 24 September 2004

**********************************************************************************************
Btw kok ndeso banget ya kayaknya Samirono itu, hehe. Sebenernya nggak gitu gitu banget kok, hehe. Buktinya disini sejak aku kecil dulu udah nggak ada sawah kok. Di Timoho yang dekat Balai Kota malah masih banyak sawah. Hehe, Entahlah, hidup Samirono!! Hahaha.

 

Subvokalisasi


Dulu itu waktu SMA di pelajaran Bahasa Indonesia ada materi tentang membaca cepat. Bagus sih, kalau mau dipraktekin terus menerus setiap baca. Meskipun bisa dibilang aku jarang banget baca buku, aku suka internetan. Googling hal-hal yang ingin aku ketahui misalnya. Seperti cari tahu arti kata "feni," dsb. Selama internetan itu aku suka lupa menerapkan metode baca cepat.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/pustovit/24139911466
Terus sekarang mau skripsi bingung. Liat buku, waduh kalo gak pake baca cepat, buang-buang waktu deh kayaknya. Soalnya katanya, kalo asal baca aja, udah lama, nanti abis baca gak ada yang nyantol. Isi buku kan banyak, nggak mungkin kan kita apalin kata per kata di buku itu. Yang penting kan kita paham. Kalo pake baca cepat itu bisa langsung nangkep yang penting-penting aja, hapal yang penting-penting aja. Baca buku pun jadi nyantol ilmunya. Efisien dan efektif.

Aku sendiri punya masalah kebiasaan buruk saat baca yang susah banget diilangin. Yaitu subvokalisasi, termasuk saat ngetik gini. Meski mulutku tertutup, tapi hatiku bersuara, wkwkwk. Ya gitu, susah kalo mau nulis atau baca tanpa mbathin (membaca dalam hati). Aku sebel banget, hatiku ini cerewet banget, wkwkwk. Susah disuruh diem kalo aku lagi baca maupun nulis. Ngganggu banget. Jadi ngurangi efisiensi dan efektivitas saat membaca & menulis.

Kalo temen2 juga suka subvokalisasi gak ketika baca atau nulis? Gimana ya cara ngilangin kebiasaan ini?

Saya atau Aku ?


Bingung, sebaiknya kalau blogging pakai kata “saya” atau “aku”?

Awalnya sih kayaknya lebih baik pakai kata “saya” setelah googling. Tapi setelah buka blog-blog orang lain ternyata banyak juga yang pakai kata “aku”. Terutama yang isi blog nya cerita-cerita aja kayak diary. Di artikel yang cenderung gak resmi.

Ada juga blogger yang bilang pakai kata “saya” atau “aku” itu tidak masalah semuanya. Yang penting konsisten, kalau pilih pakai kata “saya,” ya pakai kata “saya” terus, kalau sudah pilih pakai kata “aku” ya pakai kata “aku” terus.

Terus coba deh pakai kata “saya”. Kalau lihat gaya bicara orang-orang yang dah sukses itu kayaknya mayoritas pakai kata “saya”. Kalau ikut lomba yang artikelnya dituntut untuk resmi juga mau tidak mau, atau lebih baik kan pakai kata “saya”. Berarti tidak bisa lari dari penggunaan kata “saya.” Mengikuti saran lebih baik kalau nulis di blog itu konsisten, kalau pakai kata “saya” ya saya terus. Kalau pakai kata “aku” ya “aku” terus. Jadi pilihan jatuh pada pemakaian kata “saya.”

Tapi tu rasanya aneh kalau kata “saya” dicampur-campur dengan kata-kata yang kurang resmi seperti: “nggak,” “banget,” dll. Jadi, akhirnya diputuskan bahwa di blog ini akan digunakan dua-duanya. Yaitu kata “saya” akan digunakan pada saat-saat tertentu, untuk tulisan yang dituntut berbahasa resmi. Sedang kalau acaranya cuma cerita-cerita, atau yang gak dituntut harus berbahasa resmi ya pakai kata “aku.” Soalnya sehari-hari kalau ngobrol sama temen-temen juga pakai kata “aku.”

Nggak penting banget ya. Hahaha.

Pengen Blogging Terusss

Sebenarnya, sejak tahun 2012 lalu, semangat saya untuk blogging bertambah. Setelah mencoba ikut lomba menulis resolusi di tahun 2012. Kemudian berlanjut ingin menceritakan pengalaman saya menjadi panitia seminar internasional. Sebelumnya saya pelit buat nulis di blog, hehe. Jadi wajar saja jika sejak tahun 2008-2011 tulisan saya amat sangat sedikit sekali. 4 tahun cuma 5 kali posting coba. Ck ck ck.

Nyoba-nyoba ikut lomba blog ternyata bisa bikin semangat blogging bertambah pesat, hehe. Saya udah coba ikut lomba blog 5 kali. Tahun 2012 empat kali, 2013 satu kali. Hasilnya cuma sekali jadi peserta terfavorit di akhir tahun 2012.

Tahun 2012, semester 7, saya KKN. Saat itu keinginan saya untuk berbagi cerita mulai menjadi amat sangat tinggi. Hehe. Gara-gara baca mblusuk.com. Saya cari info tentang Desa Kebondalem Kidul tempat KKN saya. Ternyata banyak banget artikelnya di mblusuk.com itu. Mas Wijna pemilik mblusuk.com cerita banyak soal KKN UGM disana di tahun 2008 dulu. Dari mulai kuliner disana sampai tentang program-program KKN disana.

Habis buka-buka mblusuk.com terutama di bagian KKN, jadi pengen cerita-cerita juga. Kayaknya asyik cerita-cerita di blog. Berbagi di blog. Tapi karena keterbatasan waktu dll, akhirnya selama KKN saya tidak pernah posting cerita pengalaman KKN di blog. Tapi rasanya itu masih ngganjel. Serasa hutang, hehe. Kapan-kapan ingin share apa yang ingin saya tulis di blog sejak 2012 lalu. Sejak semangat blogging saya mulai muncul. Saat saya mulai tidak pelit nulis di blog, hehe.

Dan di 2013 ini, semangat blogging saya semakin menggelora, haha. Di otak itu sudah ingin sekali nulis beberapa artikel di blog ini. Berbagi cerita, pengalaman, informasi, pemikiran, pendapat, dll. Tetapi, karena ada yang lebih saya prioritaskan dibanding nulis blog. Padahal hal yang lebih saya prioritaskan itu juga saya kerjakan kurang maksimal. Bahkan kemarin Agustus bisa dibilang vakum. Meskipun begitu saya juga tidak menulis di blog. Kalau ada hal yang lebih penting dari nulis blog yang harus segera saya selesaikan. Saya tidak mau nulis blog. Takut membuat apa yang lebih saya prioritaskan jadi terlantar gara-gara nulis blog. Yah, karena saya emang pemalas (tapi sekarang sedang berusaha untuk berubah #^o^)9 jadi ya pekerjaan yang seharusnya segera saya selesaikan tidak kunjung saya selesaikan, akibatnya juga harus menunda juga untuk menulis di blog.

Jadi artikel-artikel yang ingin saya tumpahkan di blog, terkumpul di otak semakin banyak dan mendesak ingin segera keluar. Semakin hari semakin banyak saja artikel yang ingin saya tulis disini. Semakin ngganjel rasanya, karena tidak kunjung tertumpahkan di blog.

Aaaaaakkkk.. rasanya pengen nulis terus di blog sebenernya. Tapi kalau semua yg ingin saya share sejak 2012 lalu segera saya tulis semua, skripsi saya kapan selesai? Hmmm… banyak sekali yang ingin saya share di blog ini soalnya.

Ya, saya harus FOKUS skripsi dulu. Kalau nyambi bisnis sama kuliah (masih ngulang 2 mata kuliah) gpp sih. Tapi kalau nyambi ngeluarin seluruh yang ingin saya share di blog ini, yang sudah berdesak-desakan di otak ingin keluar. Kayaknya ntar dulu deh.

Kalau udah selesai skripsi saya baru tenang. Baru deh, ngeluarin semua yang ingin saya keluarin dari otak saya disini, hehe. POKONYA HARUS SELESAI SKRIPSI DULU.

Nanti setelah selesai skripsi kayaknya bakal kejadian sebulan minimal 5 kali posting, hehe. Soalnya ngeluarin apa yang sudah ditahan sejak 2012 lalu. Setelah mengeluarkan semua yang sudah ditahan. Minimal tiap bulan kayaknya bakal ada postingan. Selama saya masih bisa blogging, hehe.

Saya harus segera menyelesaikan skripsi saya. Agar apa-apa yang saya ingin share sejak 2012 lalu, yang sudah berdesak-desakan di otak saya, bisa segera keluar, semuanya. Hohoho. Pengennya 1 bulan skripsi bisa selesai! Minta doanya yaa… Aaamiiin. Biar artikel di blog ini tidak hanya itu itu terus, hehe. Aaamiiin Aaaamiiiin. Skripsi selesai selesai selesai!

Btw saya ini sekarang masih mikir judul buat skripsi, wuahahahaha. Parah! Pokoknya pekan besok proposal sudah harus jadi! Senin/Selasa ngadep Bu Dyna.

Surga Dunia yang Baru

ilustrasi: istockphoto.com  Weh dah lama gak update disini aku. Update ah. Gara-gara Tiktok sama Podcast aku jadi menemukan cara baru yang k...